Search
Close this search box.

KUEP Diapresiasi dapat Meningkatkan Ekonomi dan Keluar dari Kemiskinan Ekstrem

Cerita

Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) di Kabupaten Musi Banyuasin mendapatkan apresiasi dari Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) karena dinilai mampu menjadi solusi dalam pemberdayaan ekonomi perempuan di desa. KUEP dinilai menjadi contoh program pengentasan kemiskinan di berbagai daerah di Indonesia.

Dikutip dari insight.kontan.co.id, Pemerintah Republik Indonesia melalui BP Taskin menargetkan penurunan kemiskinan dari 9,03% di tahun 2024, menjadi 4,5% – 5% di tahun 2029. Pemberdayaan menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Upaya pemberdayaan dilakukan CARE Indonesia (Yayasan CARE Peduli/YCP) berkolaborasi dengan PT. Cargill yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, melalui penguatan ekonomi bagi perempuan, termasuk petani perempuan yang tinggal disekitar wilayah perkebunan sawit. Pendampingan dan pembentukan kelompok ekonomi berbasis perempuan dan masyarakat di tingkat desa dilakukan untuk meningkatkan pendapatan keluarga ditengah tantangan masa peremajaan perkebunan sawit.

Novrizal Tahar, Deputi 2 Deputi Bidang Percepatan Pemberdayaan Kapasitas dan Penyediaan Akses BP Taskin menyebutkan, pemberdayaan ekonomi perempuan yang mendorong terbentuknya usaha-usaha dilakukan secara kolektif mampu membuat ekonomi masyarakat naik kelas. Hal ini disampaikan Novrizal setelah mengunjungi dua KUEP yang ada di Desa Cipta Praja dan Tegal Mulyo di Kecamatan Keluang, Musi Banyuasin, Sabtu (20/9).

“Konsep pemberdayan ekonomi yang diterapkan di KUEP ini menjadi salah satu cara untuk keluar dari kategori kemiskinan ekstrem, dengan mendorong munculnya usaha-usaha yang dijalankan oleh anggotanya. Sehingga konsep ini sangat bagus untuk diterapkan di daerah lain,” katanya.

Saat berdiskusi dengan anggota KUEP Perempuan Tangguh Peduli di Desa Tegal Mulyo, Novrizal mengatakan konsep melalui simpan pinjam yang dijalankan terbukti menjadi instrument efektif dalam memperkuat ketahanan ekonomi perempuan di desa itu. Hal ini bisa terjadi karena anggota KUEP menggunakan uang pinjaman tanpa bunga dari KUEP untuk digunakan mengembangkan usaha yang telah dibangun.

Seperti yang dilakukan KUEP Perempuan Mandiri Sejahtera di Desa Cipta Praja dalam mengembangkan usaha kerajinan anyaman lidi sawit. Dalam kunjungan Novrizal ke Sekretariat KUEP Perempuan Mandiri Sejahtera, ia menyampaikan bahwa usaha yang dijalankan kelompok ini bisa menjadi salah satu upaya untuk menambah penghasilan, karena produk yang dibuat sangat beragam dan memiliki motif serta bentuk yang menarik.

“Usaha simpan pinjam yang dilakukan oleh ibu-ibu ini sangat luar biasa, karena dengan bantuan dana awal 50 juta rupiah, hanya dalam tiga tahun, dana bergulir itu tumbuh menjadi lebih dari 220 juta rupiah. Demikian juga dengan usaha kerajinan lidi sawit yang bisa menjadi alternatif tambahan pemasukan. Bahkan kerajinan anyaman lidi sawit sudah masuk e-katalog pemerintah daerah,” jelas Novrizal.

Menyebarluaskan Konsep KUEP

Tidak hanyak mengunjungi KUEP di Musi Banyuasin, Novrizal bersama CEO CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang menghadiri sesi diskusi dengan enam orang jurnalis sebagai upaya mengamplifikasi hasil baik dari pemberdayaan ekonomi perempuan melalui KUEP, pada Minggu (21/9) di Roemah Demang, Kota Palembang. Novrizal menyampaikan, upaya pengentasan tidak cukup dengan memberikan bantuan sosial berupa uang tunai. Tetapi juga harus diiringi dengan upaya pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan dan disesuaikan dengan kondisi sosial serta potensi lokal.

“Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan anggaran pemerintah. Saya menyaksikan langsung bagaimana program CSR dari PT Cargill ini berdampak nyata dan berkelanjutan. Ini adalah praktik baik yang layak dijadikan role model secara nasional,” ujarnya kepada jurnalis.

Abdul menyampaikan, KUEP mampu membuat ekonomi rumah tangga menjadi naik kelas dengan perempuan sebagai aktor utamanya. Di Musi Banyuasin, terdapat 13 KUEP yang mengembangkan usaha skala rumahan berupa pengrajin lidi sawit, toko sembako, kuliner, hingga usaha berbasis daring.

“Melalui KUEP, perempuan diberi ruang untuk mengorganisir diri, memperoleh modal usaha tanpa bunga, hingga belajar mengelola simpanan, tabungan, dan laporan keuangan. Berkat usaha yang dijalankan, kini mereka bisa mendapatkan rata-rata pendapatan anggota mencapai Rp8,84 juta dari berbagai jenis usaha,” ujarnya.

Lebih lanjut, Abdul juga mendorong sektor privat untuk turut berperan dalam upaya pemberdayaan ekonomi perempuan melalui program CSR yang berkelanjutan. “Kita siap berbagi pengalaman dan desain program. Jadi tidak perlu memulai dari nol. Tinggal ada kemauan dan keterbukaan dari pelaku usaha di daerah lain. Kami turut mendorong sejumlah pelaku usaha, di Sumsel dengan menjelaskan apa yang telah kami dilakukan di Musi Banyuasin mengenai program dan konsep yang telah berjalan di KUEP. Harapannya, para pelaku usaha bisa berkolaborasi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan mengentaskan kemiskinan,” pungkasnya.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Pengelolaan KUEP Diapresiasi BP Taskin atas Keberhasilan dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan Ekstrem

Galeri

Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) di Desa Tegal Mulyo dan Desa Cipta Praja yang menjadi bagian dari program kolaborasi PT Cargill, CARE Indonesia dan Pemkab. MUBA mendapat apresiasi dari Deputi Bidang Percepatan Pemberdayaan Kapasitas dan Penyediaan Akses, BP Taskin, Novrizal Tahar, saat lakukan kunjungan ke desa (Sabtu, 20/9). Apresiasi atas upaya KUEP lakukan simpan pinjam serta produk yang dihasilkan disampaikan karena dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga bagi anggotanya, sekaligus mendorong masyarakat desa keluar dari kategori kemiskinan ekstrem.

Banyaknya variasi produk yang dihasilkan KUEP, salah satu nya kerajinan anyaman dari lidi sawit berupa piring, keranjang, mangkok, bingkai cermin, dan lainnya berhasil terjual hingga ke Lampung. Selain itu, apresiasi terhadap tata kelola KUEP untuk simpan pinjam dinilai sangat baik dengan pencatatan yang detail dan rapi. Apresiasi juga disampaikan saat berdiskusi bersama media nasional dan lokal pada Minggu, (21/9) di Kota Palembang. Menurut Novrizal, konsep pemberdayaan ekonomi perempuan yang dilakukan di KUEP bisa menjadi salah satu solusi dalam pengentasan kemiskinan.

“Konsep pemberdayan ekonomi yang diterapkan di KUEP ini menjadi salah satu cara untuk keluar dari kategori kemiskinan ekstrem, dengan mendorong munculnya usaha-usaha yang dijalankan oleh anggotanya. Sehingga konsep ini sangat bagus untuk diterapkan di daerah lain. BP Taskin akan mendorong pelaku usaha lain di Indonesia untuk menggunakan konsep KUEP dalam pengembangan penyaluran CSR, agar bukan sekedar menjadi charity,” Novrizal Tahar, Deputi Bidang Percepatan Pemberdayaan Kapasitas dan Penyediaan Akses, BP Taskin.

DASHAT: Kekuatan Komunitas Berbasis Perempuan untuk Pemenuhan Gizi dan Penguatan Keluarga

Cerita

Di Desa Sukamanah yang ada di Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, terdapat sebuah dapur kecil yang menjadi harapan besar: Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT). DASHAT merupakan program yang digagas oleh BKKBN yang bertujuan menurunkan angka stunting di Indonesia dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Wadah ini dimanfaatkan dengan baik oleh kelompok perempuan untuk bergerak dalam upaya medukung penurunan stunting.

Dapur ini dijalankan oleh satu kelompok DASHAT yang beranggotakan enam orang kader perempuan yang merupakan gabungan dari posyandu, KB, dan PKK, yang bahu-membahu membagi tugas dalam menjalankan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan kepada anak dengan kondisi stunting, wasting dan underweight serta ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronik (KEK). Berbagai tugas dibagi dengan rata, seperti ada yang membeli bahan, mengelola dana, memasak, mengantar makanan ke  penerima. Bahkan ada yang memantau dan meastikan penerima PMT benar-benar menghabiskan makanannya. Mereka juga melakukan pencatatan dan evaluasi rutin agar perkembangan anak dan ibu hamil dengan kondisi KEK penerima PMT dapat terpantau dengan seksama serta detail.

Para kader perempuan bekerja tidak sendirian. Mereka mendapat dukungan kuat dari pemerintah desa, baik dalam hal fasilitasi maupun legitimasi kegiatan. Para suami mereka pun turut mendukung, membantu dari belakang layar agar para kader bisa fokus menjalankan tugas di dapur. Kombinasi dukungan keluarga dan desa ini membuat DASHAT berjalan dengan lancar dan berkelanjutan.

Kader dashat tidak hanya memahami perihal resep dan komposisi makanan. Tetapi mereka juga mengenal satu per satu anak dan ibu hamil dengan KEK yang menerima menu PMT. Menu tidak dibuat seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi masing penerima, seperti anak yang alergi makanan laut atau ibu hamil yang membutuhkan tambahan protein. Bahkan, terkadang ada keluarga yang meminta variasi rasa agar anak lebih lahap. Semua itu dikerjakan dengan satu tujuan sederhana, makanan sehat benar-benar dimakan dan dihabiskan, bukan sekadar dibagikan.

Kader juga memantau dinamika sosial. Jika ada anak lain yang mencoba ikut makan menu PMT, kader akan memberi penjelasan kepada keluarganya jika menu itu khusus diberikan kepada anak yang membutuhkan karena telah disesuaikan dengan kebutuhan gizinya. Dengan cara ini, DASHAT bukan hanya menjadi dapur, tetapi juga ruang pendidikan sosial yang menumbuhkan kesadaran dan solidaritas keluarga.

DASHAT di Pengalengan tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan kebun gizi untuk sayuran, budidaya ikan untuk protein, dan pengelolaan sampah organik dengan maggot dari lalat Black Soldier Fly yang kemudian digunakan sebagai pakan ayam. Telurnya kembali masuk ke menu sehat. Inovasi ini memberi kebanggaan tersendiri bagi para kader. Mereka bahkan tampil dalam lomba makanan sehat, memperkenalkan hidangan yang memadukan standar gizi dengan kearifan pangan lokal.

Cerita serupa terlihat di Kabupaten Sumbawa Barat di Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Nagekeo di Nusa Tenggara Timur. Di sana, DASHAT juga dikaitkan dengan kelas pengasuhan, kelas gender, dan kelas keterlibatan laki-laki. Ayah ikut belajar peran mereka dalam mendukung gizi keluarga, ibu-ibu berdaya mengelola usaha kecil berbasis pangan, sementara anak-anak belajar pola makan sehat. Di Nagekeo, pangan lokal dari kebun sekolah dan kelompok tani perempuan memperkaya menu DASHAT, sehingga keluarga tidak hanya bergizi, tetapi juga mandiri.

Sering muncul asumsi bahwa skala besar lebih mudah dikontrol dan lebih terstandar. Namun pengalaman ini membuktikan bahwa standar gizi tetap terjaga meski berbasis komunitas. Menu empat bintang yang terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayuran atau buah-buahan dalam satu hidangan disusun sesuai standar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia. Menu yang disajikan tetap disesuaikan dengan selera dan budaya lokal agar PMT benar-benar habis dimakan. Kontrol dilakukan bukan dari jauh, melainkan langsung oleh kader perempuan yang mengenal setiap sasaran dengan baik.

Pendekatan ini adalah inovasi CARE Indonesia yang memodifikasi konsep yang telah ada di pemerintah, dengan menggabungkan kerangka kader PKK, posyandu, dan KB dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPA) dengan pedoman gizi dari Kemenkes.

Melalui dukungan dan kolaborasi dari LPS Berbagi, BNI, AMMAN program ini berjalan dengan baik. Dukungan dan keterlibatan aktif dari pemerintah daerah, pemerintah desa, para suami kader, dan mitra lokal membuat upaya ini menjadi model intervensi yang tidak hanya sesuai regulasi nasional, tetapi juga efektif di tingkat masyarakat.

Pelajaran penting dari pengalaman ini, pemberian makanan tambahan tidak cukup diukur dari jumlah porsi, melainkan dari dampak nyata pada anak dan keluarga. Dengan pendekatan komunitas yang dipimpin perempuan, DASHAT menjadi pintu masuk perubahan perilaku, inovasi pangan lokal, dan pemberdayaan ekonomi keluarga. Sehingga hal ini menjadi sebuah jalan efektif menuju graduasi kemiskinan.

Penulis: CEO CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang

Kelompok Perempuan bersama masyarakat tanam 7.340 mangrove

Galeri

5 Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) dari Desa Minaesa, Desa Serawet, dan Desa Palaes, Kabupaten Minahasa Utara tanam 7.340 dari 50.000 bibit selama bulan Agustus untuk dorong pelestarian alam, khususnya di wilayah pesisir. kegiatan ini merupakan inisiasi CARE Indonesia bersama Yayasan Bumi Tangguh, dengan dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan pendanaan dari Asian Venture Philantrophy Network (AVPN).

Terdapat 3 jenis mangrove yang ditanam, yakni Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Ceriops tagal. seluruh bibit mangrove yang ditanam nantinya akan dirawat dan dipantau oleh anggota KUEP untuk meningkatkan tingkat keberhasilan mangrove yang ditanam.

Pelatihan Pengelolaan Usaha dan Pemasaran Dorong Kelompok Perempuan JEKATA Tingkatkan Usaha Komunitas

Galeri

40 anggota Jaringan Pemberdayaan untuk Perempuan Tangguh (JEKATA) di Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Sukabumi ikuti penguatan bisnis komunitas (30-31/08 & 6-7/09). Kegiatan yang menjadi bagian dari program kolaborasi CARE Indonesia bersama mitra ini mendorong JEKATA menggali potensi bisnis skala rumah tangga berbasis komunitas.

Pelatihan teoritis dan teknis mengenai pengelolaan usaha kecil, pemasaran melalui media sosial, pengemasan produk dan pembuatan foto produk sederhana menggunakan telepon genggam diterima peserta.

Apresiasi Pemkab Bandung untuk Kerja Kolaborasi bersama CARE Indonesia

Galeri

Dua penghargaan diterima CARE Indonesia dari Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Bandung pada penyelenggaraan Puncak Perayaan Hari Anak dan Hari Keluarga Nasional se-Kabupaten Bandung (28/8).

CARE Indonesia sangat bersyukur atas penghargaan sebagai Mitra Pembangunan yang Responsif Gender dan Berkelanjutan serta sebagai Penyumbang PMT Terbaik di Kabupaten Bandung. Penghargaan ini tidak terlepas dari dukungan dan kerja bersama semua pihak, termasuk instansi pemerintah, dalam mendorong ruang aman dan setara bagi perempuan serta upaya pemenuhan gizi generasi Indonesia.

Perempuan Penggerak Ketahanan Ekonomi Keluarga

Publikasi

Cerita Nyai Sunarsih: Sebarkan Suara Kecil yang Semakin Membesar di Perkebunan Teh

Cerita

Setiap pagi sebelum langit benar-benar terang, Nyai Sunarsih, perempuan pemetik teh asal Desa Sukaluyu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung sudah beranjak menuju perkebunan tempatnya bekerja. Satu jam lamanya, kaki tangguh perempuan berusia 51 tahun ini berjalan lincah melintasi medan perkebunan teh Pasir Malang yang tidak rata sembari membopong mesin petik teh dan waring, atau wadah untuk menampung daun teh yang berhasil dipetik.

Menyusuri gelap dan dinginnya pagi perkebunan teh Pasir Malang dengan jarak yang mencapai sekitar enam kilometer dengan medan yang terjal dan tidak rata, membuat perempuan yang akrab disapa Narsih ini memilih berangkat lebih awal agar tidak tertinggal dari rombongan. Menurutnya jika ia terlambat, ia bisa tidak kebagian lahan petik yang layak.

“Saya menjadi pemetik teh sudah lebih dari sepuluh tahun. Meski hujan, saya tetap jalan ke kebun di waktu yang sama, kalau terlambat ya nanti akan dapat blok teh yang medannya susah, seperti di lereng atau bagian bawah,” katanya saat ditemui di sela-sela istirahatnya di kebun teh.

Penggerak Perubahan di Lingkungan Kerja

Narsih bercerita, meski pekerjaan itu telah lama digelutinya, baru dalam dua tahun terakhir, ia merasa benar-benar menjadi bagian dari sistem kerja yang adil. Katanya, dulu pembagian lahan panen cenderung tak merata. Para pekerja laki-laki sering mendapat bagian yang dekat dan mudah dijangkau, sementara perempuan harus berjalan lebih jauh, ke daerah yang lebih sulit.

“Dulu saya dan pemetik perempuan yang lain cuma manut saja kalau diberikan jatah lokasi yang susah oleh atasan. Saat itu kami cuma saling curhat ke sesama pemetik saja, tidak berani untuk sampaikan ke atasan (mandor),” ujarnya.

Tetapi segalanya berubah sejak ia mengikuti program Community Development Forum (CDF), sebuah inisiatif program yang didampingi oleh CARE Indonesia bersama mitra, mengajarkannya tentang kesetaraan gender, komunikasi di dalam forum, dan pengelolaan keuangan keluarga. Bahkan, saat ini Narsih aktif tergabung sebagai anggota forum yang di dalamnya juga terdapat manajemen perusahaan, pemerintah desa, dan pekerja lapangan di perkebunan. Meski banyak pihak yang tergabung dalam kelompok itu, Narsih sama sekali tidak merasa rendah diri, justru ia mampu bekerja sama dengan penuh percaya diri.

“Awalnya saya ikut kegiatan CDF karena disuruh mandor, karena di situ saya mendapatkan banyak pelajaran, makanya saya bertahan sampai sekarang. Di CDF juga membuat saya mengerti kalau kami, para pemetik sama seperti reka di bagian yang lain berhak diperlakukan adil dan harus bersuara supaya dapat hak yang sama dengan orang lain. Makanya sekarang saya berani untuk menyuarakan pendapat ke mandor,” katanya sembari tersenyum.

Narsih menjelaskan, ia memberikan usul agar sistem pembagian lahan panen yang berbasis kelompok dikaji ulang, agar tiap kelompok mendapatkan hasil yang setara. Usulan ini membuat beberapa kelompok pemetik tidak mendapatkan lokasi yang terjal melulu, karena telah diberi jadwal dan lokasi yang cukup landai secara bergiliran.

“Saya sempat takut dan gugup untuk menyampaikan usulan, takutnya saya dianggap melawan dan tidak sopan. Tapi ini demi kebaikan saya dan teman-teman, makainya saya berani. Ternyata, usulan saya diterima sama mandor dan atasan yang lain, bahkan disambut baik. Jadi sekarang hasil daun yang saya petik jadi meningkat dan penghasilan saya dan teman-teman juga ikut bertambah juga,” ujarnya sambil tersipu.

Sebelum menyampaikan usulannya kepada mandor, Narsih terlebih dahulu berbicara dengan rekan-rekan kerjanya tentang kendala yang ada. Setelah berhasil menghimpun usulan, barulah Narsih menyampaikannya kepada mandor tempatnya bekerja. “Yang saya sampaikan ini adalah masalah kami semua. Jadinya saya pastikan dulu ke teman-teman kalo kita harus satu suara supaya apa yang kita keluhkan ini dirasakan oleh semuanya,” ujarnya.

Suara yang Berdampak Positif

Perubahan yang dialami oleh Narsih ini juga disadari oleh Saeful Hidayat yang merupakan mandor perkebunan Malabar, Unit Pasir Malang, PT Perkebunan Nasional (PTPN) 1 Regional 2 yang merupakan atasan dari Nyai Sunarsih. “Saya melihat sekarang pemetik teh di sini sudah ada perubahan yang baik. Kalau dulu mereka cenderung tertutup dan kalau mau bicara cenderung mengandalkan orang lain. Tetapi sekarang mulai percaya diri untuk ngobrol ke mandor dan rekan-rekan yang lain. Saya rasa, Ibu Narsih itu yang paling menonjol perubahannya,” kata Saeful.

Menurut Saeful, keberanian para pemetik teh dalam menyampaikan pendapat sama sekali tidak membuatnya tersinggung atau pun marah. Justru ia merasa senang dengan perubahan itu, karena para pemetik teh bisa langsung berdiskusi tentang kendala yang sedang terjadi. “Saya semakin senang ketika mereka (pemetik teh), terutama pekerja perempuan, berani berbicara ke saya atau atasan yang lain. Misalnya kalau ada masalah di mesin petik teh, bisa langsung diselesaikan lebih cepat karena disampaikan ke atasan. Masalah yang cepat selesai ini juga berpengaruh positif dengan daun teh yang berhasil dipetik tiap harinya,” jelasnya.

Lebih lanjut, menurut Saeful, perubahan ini dimotori oleh Narsih yang berhasil mengajak pemetik teh perempuan lainnya untuk lebih berani menyampaikan pendapat dan usulan. “Saya melihat sekarang Bu Narsih seperti “penyambung lidah” para pekerja lainnya untuk menyampaikan usulan dan masukan ke atasan. Selain itu, dia juga berhasil untuk mengajak ibu-ibu pemetik teh untuk lebih berani bersuara. Mungkin sekarang masih beberapa, tetapi saya yakin hal ini akan terus berkembang dan semakin banyak orang yang menjadi lebih berani,” ujarnya dengan tegas.

Makin Terlibat Aktif di Masyarakat

Perubahan itu tidak hanya terjadi di tempat kerja. Narsih juga mulai aktif menyampaikan ide-ide di lingkungan tempatnya tinggal, seperti sistem pengelolaan sampah bersama Karang Taruna. Meski usulannya belum terlaksana dan memerlukan musyawarah lebih lanjut, tetapi ia merasa senang bisa ikut memberikan usulan. Ia turut menyampaikan, jika dirinya semakin percaya diri dengan kemampuan komunikasi yang dimilikinya. Berbekal itu, ia sering menjadi pembawa acara pada berbagai acara pertemuan seperti pengajian kampung, kegiatan forum, dan agenda perkumpulan lainnya.

“Dulu saya kalau ngomong tidak beraturan, bikin orang susah paham. Tetapi sekarang karena ikut CDF, saya lebih tertata dan terstruktur saat menyampaikan pendapat. Jadinya sekarang saya sedikit-sedikit mulai berani jadi MC (pembawa acara) kalau ada pertemuan. Pokoknya sekarang saya akan terus belajar supaya bisa memperjuangkan hak-hak saya dan perempuan lainnya agar mendapatkan perlakuan yang adil,” ujar Narsih.

Di akhir perbincangan, Narsih menyampaikan jika partisipasinya dalam CDF juga membuatnya semakin yakin dengan keputusan dan pemikirannya yang ia lakukan dulu, bahwa perempuan harus bisa maju. Karena itu dulu ia selalu berusaha semaksimal mungkin mengatur keuangan keluarga agar bisa menyekolahkan anak perempuannya hingga perguruan tinggi, agar bisa maju dan dapat kesempatan lebih. Pasalnya menurut Narsih, perempuan yang menempuh pendidikan tinggi merupakan hal yang jarang terjadi, bahkan terkesan tidak wajar di lingkungan tempatnya tinggal. Sehingga dulu ia dipandang sebagai orang yang aneh karena mengambil keputusan itu oleh sekitarnya.

Alhamdulillah anak saya bisa lulus kuliah meski kondisi saya seperti ini. Saya itu cuma pingin anak perempuan saya dapat kehidupan yang lebih baik dari orang tuanya. Karena ikut CDF juga saya sadar kalau keputusan yang saya ambil ini sudah benar,” pungkasnya sembari tersenyum lebar.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Mendorong Ketangguhan Perempuan di Kondisi Krisis Melalui Pemberdayaan Ekonomi

Cerita

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, perempuan memiliki potensi besar untuk terlibat dalam penanggulangan krisis, mulai dari tahap prabencana, saat bencana, hingga pascabencana. Bahkan, menurut UNDRR (United Nations Office for Disaster Risk Reduction), pelibatan perempuan dalam perencanaan kebencanaan dapat meningkatkan efektivitas respons hingga 30 persen. Nahasnya, realitas di lapangan masih timpang. BNPB mencatat pada 2022, hanya sekitar 20 perempuan yang aktif dalam struktur relawan kebencanaan di tingkat desa. Minimnya pengalaman dan kapasitas seringkali membuat perempuan tidak mendapat ruang partisipasi yang memadai.

Penguatan kapasitas perempuan dalam penanganan bencana menjadi kebutuhan mendesak. Selain sebagai langkah perlindungan, hal ini juga strategis untuk menekan potensi kekerasan berbasis gender yang kerap meningkat di tengah krisis. Laporan UNFPA (2019) mengungkapkan, saat bencana Palu, Sigi, dan Donggala, kasus KDRT, pelecehan, hingga percobaan perkosaan ikut meningkat. Pelibatan perempuan secara aktif adalah kunci untuk memastikan keamanan dan ketangguhan komunitas.

Perempuan di Garda Depan Ketangguhan

CARE Indonesia (Yayasan CARE Peduli/YCP) berkolaborasi bersama berbagai mitra dan dengan dukungan dari pemerintah daerah setempat berupaya memperkuat ketangguhan kelompok perempuan di berbagai daerah.

Di Kabupaten Sigi, melalui pembentukan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) di enam desa, para perempuan mendapat pelatihan, dukungan usaha, hingga ruang untuk meningkatkan kapasitas. Pembentukan dan penguatan KUEP bagi para kelompok perempuan tidak hanya memberi tambahan pendapatan keluarga, tetapi juga membekali mereka dengan kemandirian ekonomi yang terbukti menjadi penopang ketika krisis melanda.

Upaya serupa juga hadir di Berakit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, serta di Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Di sana, perempuan terlibat langsung dalam rehabilitasi kawasan mangrove mencari bibit, menyemai, menanam, hingga memantau pertumbuhan. Lebih dari 100 ribu pohon mangrove kini telah berdiri, melindungi pesisir sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Dari hasil laut, kelompok perempuan mengolah ikan menjadi kerupuk. Di Berakit, kelompok perempuan memanfaatkan mangrove, untuk menciptakan batik dengan pewarna alami membuktikan konservasi bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi.

Di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, terdapat 13 KUEP yang menjalankan lebih dari 190 jenis usaha, mulai dari simpan pinjam, kerajinan lidi sawit, hingga kuliner. Program ini menyasar komunitas pekerja perkebunan sawit, termasuk pekerja perempuan, yang berpotensi menurun pendapatannya saat proses peremajaan sawit berlangsung. Pemberdayaan khususnya pada pekerja perempuan yang berdomisili di sekitar perkebunan sawit dilakukan agar ketangguhan ekonomi terbentuk meski dalam masa itu. Melalui usaha yang dijalankan oleh kelompok perempuan, total keuntungan usaha kelompok mencapai Rp88,2 juta, dengan pengelolaan simpan-pinjam yang berhasil mengumpulkan modal hingga Rp1,2 miliar.

Pemberdayaan ekonomi kelompok perempuan di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat melalui 16 Kelompok Usaha Mandiri Perempuan (KUMP), memanfaatkan sumber daya lokal seperti kerang dan ikan untuk membentuk usaha kuliner yang menopang perekonomian keluarga. Kelompok usaha ini berdiri sebagai salah satu upaya dalam menurunkan prevalensi stunting di daerah itu. Dengan perempuan sebagai aktor utama dalam menggerakkan ekonomi keluarga dan komunitas, sejalan dengan peningkatan gizi anak, kemandirian rumah tangga, serta penguatan jejaring sosial di tingkat masyarakat.

Lebih dari Sekadar Ekonomi

Pemberdayaan ekonomi hanyalah satu sisi dari upaya ini. Di berbagai KUEP dan KUMP, perempuan juga mendapat pelatihan tentang kesetaraan gender, kepemimpinan, serta mitigasi risiko bencana. Tujuannya jelas, membangun ketangguhan yang menyeluruh. Dengan kapasitas yang lebih kuat, perempuan tidak hanya bisa menghidupi keluarga, tetapi juga memimpin komunitas dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan risiko bencana.

Laporan World Bank (2021) menekankan, perempuan dengan kondisi ekonomi rentan memiliki risiko kematian lebih tinggi saat bencana karena keterbatasan akses informasi, sumber daya, dan dukungan sosial. Sebaliknya, ketika perempuan memiliki kemandirian ekonomi dan suara dalam pengambilan keputusan, daya tahan komunitas meningkat signifikan. Mereka bisa membangun jejaring usaha mikro tangguh bencana, mengelola dana darurat, bahkan menjadi pelatih atau pendamping komunitas lain.

Kolaborasi untuk Masa Depan yang Tangguh

Semua inisiatif ini tidak mungkin berjalan tanpa kerja bersama. Program-program CARE Indonesia terlaksana berkat dukungan pemerintah daerah, lembaga mitra, dan masyarakat setempat. Kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi agar perempuan mendapat akses setara, perlindungan, dan ruang kepemimpinan dalam setiap situasi, termasuk di tengah krisis.

Ketika perempuan diberi kesempatan, mereka bukan hanya bertahan, tetapi juga memimpin perubahan. Dengan semangat #ActForHumanity dalam peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia kali ini, perempuan kini berdiri di garda depan, membangun sistem kebencanaan yang lebih inklusif, adil, dan bebas kekerasan sekaligus meneguhkan harapan bahwa komunitas tangguh berawal dari ketangguhan perempuan.

 

Penulis: Kukuh Akhfad

Editor: Swiny Adestika