Search
Close this search box.

Dukung tempat kerja aman dan nyaman dengan penerapan HRDD dan GRDD di perusahaan

Galeri

20 staf perwakilan manajemen PT Gunung Salak Sukabumi di Ka. Sukabumi ikuti pelatihan Gender Responsive Due Diligence (GRDD) dan Human Rights Due Diligence (HRDD) (19/01). Dengan dukungan dari CARE Indonesia bersama para mitra, manajemen perusahaan mendapatkan pemahaman tentang penerapan prinsip responsif gender dan hak asasi manusia di perusahaan.

Pelatihan berlangsung interaktif melalui pemaparan materi, permainan dan studi kasus untuk membantu peserta memahami peran HRDD dan GRDD dalam mendorong pemberdayaan pekerja, termasuk pekerja perempuan, menciptakan tempat kerja yang aman dan bebas kekerasan berbasis gender, serta mendukung keberlanjutan usaha. Setelah pelatihan, manajemen berkomitmen menyusun rencana tindak lanjut dalam memperkuat penerapan HRDD dan GRDD pada kebijakan serta praktik perusahaan.

Catatan Perjalanan: Upaya Scale-Up Usaha Kelompok Perempuan, Dari Musi Banyuasin Mencari Ilmu Hingga ke Pulau Jawa

Cerita

Di Kabupaten Musi Banyuasin, produk kerajinan anyaman dari lidi sawit dikatakan menjadi salah satu produk unggulan kabupaten yang telah masuk dalam katalog eleoktronik milik Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin. Para perempuan yang menjadi pengrajin anyaman lidi sawit tersebut berasal dari beberapa desa, dan masing-masing dari sosok pengrajin tersebut adalah anggota dari Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP).

Iswandi Gunata, Field Officer CARE Indonesia yang bertugas di Kabupaten Musi Banyuasin menjelaskan, anyaman dari lidi sawit dipilih menjadi usaha yang paling banyak dijalankan oleh KUEP karena kemudahan bahan baku yang berasal dari pelepah sawit tidak terpakai, sehingga membantu mengelola limbah yang biasanya menumpuk di area perkebunan sawit dan diubah menjadi produk seni yang juga bernilai ekonomi karena banyak diminati pembeli.

Tidak hanya mengembangkan usaha dari sisa pelepah sawit, menurut Iswandi, anggota KUEP pun ada yang berinisiatif membuat usaha yang memanfaatkan limbah lain seperti tandan buah kosong sawit untuk budidaya jamur merang, hingga budidaya maggot dari Black Flies Soldiers (BSF) untuk mengurai sampah organik rumah tangga. Tingginya antusiasme anggota KUEP mengembangkan usaha yang ramah lingkungan dan menerapkan prinsip ekonomi sirkular ini menurut Iswandi mendapat dukungan dan apresiasi banyak pihak, salah satunya pihak perusahaan perkebunan sawit yakni PT Hindoli serta dari Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin.

“Pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga bisa menjadi sumber penghidupan bagi kelompok perempuan. Hal inilah yang diharapkan bisa mendapatkan dukungan serta kolaborasi dari berbagai pihak seperti pemerintah setempat dan PT Hindoli yang selama ini selalu mendukung pemberdayaan perempuan,” ujarnya.

Lebih lanjut menurut Iswandi, besarnya potensi pengembangan usaha kerajinan dan pengelolaan limbah dengan prinsip ekonomi sirkular yang dilakukan KUEP, memperkuat dukungan multipihak sehingga dilakukan studi ajar dan pelatihan untuk menambah tidak hanya pemahaman kelompok perempuan tapi juga dukungan replikasi dan scale-up usaha yang berkelanjutan.

Selama Januari 2026, perjalanan mencari ilmu ke dua lokasi di pulau Jawa pun dijalankan. “Perjalanan pertama dengan studi ajar ke Maggot Center di Kota Depok. Kami dapat dukungan dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Musi Banyuasin Oktarizal, Staf Khusus Bupati Musi Banyuasin Mualimin Pardi Dahlan, dan Manager CSR PT Hindoli untuk meihat langsung bangaimana penerapan ekonomi sirkular di maggot center ini,” katanya.

Tanggapan positif disampaikan baik dari perwakilan Pemerintah Kabupaten Muba maupun dari pihak perusahaan. Menurut Iswandi, kesempatan melihat langsung bagaimana Maggot Center yang bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Beji Timur berhasil melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik, memberikan perspektif baru pada peserta yang ikut studi ajar.

“Pembelajaran dari Depok membuka perspektif kami bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga bisa menjadi sumber penghidupan bagi kelompok perempuan. Hal inilah yang kemudian akan dirumuskan kembali secara bersama dan lintas sektor serta memberi keyakinan bahwa upaya yang dilakukan bersama berbagai pihak terkait dapat berjalan lebih terintegrasi, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya perempuan. Salah satu anggota KUEP di Muba sudah mengembangkan usaha budidaya maggot tapi memang belum dibuat terintegrasi. Harapannya, akan ada dukungan multipihak untuk mengembangkan usaha pengelolaan maggot ini, yang bisa terintegrasi dengan kebun gizi dan ternak yang dikelola oleh kelompok maupun perseorangan,” ujarnya.

Perjalanan mencari ilmu kedua dikisahkan Iswandi tidak kalah seru, yakni mendampingi 10 pengrajin anyaman lidi sawit perempuan dari 5 desa ke Kabupaten Kulon Progo.

Perjalanan para pengrajin perempuan dari Desa Karya Maju, Desa Sumber Agung, dan Desa Cipta Praja di Kecamatan Keluang, serta Desa Banjar Jaya dan Desa Sri Mulyo di Kecamatan Tungkal Jaya dikatakan Iswandi tidak mengenal lelah. Para pengrajin perempuan digambarkan Iswandi bahkan tidak ada kekhawatiran sedikitpun menaiki pesawat melintasi pulau, demi meningkatkan kualitas dan variasi produk anyaman yang selama ini sudah mereka produksi serta bisa menjangkau pasar lebih luas.

“Ini adalah momen yang sangat kami tunggu. Saya melihat ibu-ibu pengrajin sangat antusias dalam mengikuti setiap instruksi dan sangat teliti saat praktik. Di sana kami melihat beragam produk anyaman dengan variasi bahan dasar seperti rotan, serat gedebong pisang, pandan, dan eceng gondok,” tuturnya.

Antusiasme para pengrajin perempuan anggota KUEP ini dikatakan Iswandi selalu tinggi di setiap sesi pelatihan. Ketika jari-jari perempuan pengrajin bergerak lincah menyelipkan material ke setiap celah hingga menghasilkan kerajinan yang indah, senyum dan canda diantara mereka tidak henti dilontarkan, menambah semangat sesi praktik.

“Saya memperhatikan dengan saksama bagaimana ibu-ibu pengrajin ini sangat serius dalam belajar. Selama pelatihan mereka tidak pernah mengeluh, justru selalu penasaran dengan materi selanjutnya yang akan dipelajari. Tidak hanya kemampuan yang diharapkan terasah, tetapi juga kepercayaan diri pengrajin untuk terus berkarya,” tuturnya.

Tak terasa, lima hari waktu belajar di Kulon Progo pun usai dan rombongan harus kembali ke Musi Banyuasin. Iswandi menjelaskan, setelah pelatihan ini para pengrajin perempuan dari anggota KUEP akan mulai mengolah lidi sawit yang dipadukan dengan rotan, serat gedebong pisang, pandan, maupun eceng gondok.

Perjalanan menuntut ilmu kali ini tidak hanya menambah pemahaman, namun juga menginspirasi untuk membuat hasil baik yang sudah berjalan di desa dari upaya kelompok perempuan lebih besar dan lebih berdampak.

“Ketika perempuan diberi ruang, keterampilan, dan dukungan, mereka mampu menciptakan perubahan serta dampak ekonomi yang positif. Dukungan multipihak dan kegigihan kelompok perempuan pasti bisa membuat usaha yang ramah lingkungan jadi berkelanjutan dengan prinsip ekonomi sirkular. Bagi saya, proses ini bukan hanya soal hasil akhir berupa produk, tetapi tentang bagaimana perempuan saling belajar, saling menguatkan, dan membangun kemandirian ekonomi bersama, serta diperkuat dengan adanya lingkungan yang suportif,” pungkasnya.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Siaran Pers: Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dan Penguatan Jejaring Pemuda Perkuat Ketangguhan di Enam Desa Kabupaten Sigi

Berita

Upaya membangun perdamaian dan ketangguhan masyarakat termasuk kelompok perempuan dan pemuda dilakukan CARE Indonesia bersama KARSA Institute, didukung UN Women dengan pendanaan dari KOICA, di enam desa, yakni Desa Ngatabaru, Pombewe, Pesaku, Rarampadende, Wisolo dan Ramba, Kabupaten Sigi. Pemberdayaan ekonomi melalui pembentukan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) berhasil memperkuat peran dan kepemimpinan perempuan di desa sekaligus menambah pendapatan keluarga. Selain itu, pendekatan kesetaraan gender yang diimplementasikan di enam desa tersebut dikatakan berhasil memperkuat kesetaraan relasi dan akses di tingkat rumah tangga, komunitas bahkan di tingkat desa yang ditandai dengan ditetapkannya enam desa tersebut ditambah dua desa tetangga, yakni Desa Launca dan Desa Moa, menjadi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA). Tidak hanya itu, penguatan jejaring pemuda lintas desa berhasil menjadikan pemuda sebagai aktor pencipta perdamaian yang mencegah terjadinya konflik.

Dr. Abdul Wahib Situmorang, CEO CARE Indonesia menjelaskan, upaya mendorong ketangguhan dan perdamaian di masyarakat kerap kali luput melibatkan perempuan dan pemuda. Menurutnya, perempuan hadir sebagai penyangga ketangguhan sosial namun sering kali tidak diakui secara formal, sementara pemuda kerap dianggap sebagai aktor di dalam konflik, dengan energi, kerentanan, dan ambiguitas peran.

“CARE bersama KARSA dan mitra melihat, penguatan dan pelibatan perempuan serta pemuda menjadi kunci untuk mendorong resiliensi masyarakat terutama di Kabupaten Sigi yang kita ketahui merupakan wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam dan dinamika konflik sosial. Pendekatan dengan perspektif kesetaraan gender diimplementasikan, yang diselaraskan juga dengan praktik desa, tata kelola lokal serta pemanfaatan ruang-ruang informal dan digital. Hasil baik ini diharapkan dapat memperkaya kerangka Humanitarian–Development–Peace (HDP) Nexus serta bisa terus berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Mutmainah, anggota Badan Permusyawarahan Desa (BPD) Ramba mengatakan edukasi dan pendampingan mengenai kesetaraan gender yang ia dan suami dapatkan membawa perubahan baik pada pelaksanaan peran domestik di rumah mereka. Menurutnya, pemahaman tentang kesetaraan gender pun menjadi pertimbangan yang ia sampaikan sebagai pengurus BPD dalam membuat perencanaan dan penganggaran desa.

“Pengingkatan kapasitas yang saya ikuti seperti kepemimpinan dan berbicara di publik ini berpengaruh terhadap peran saya sebagai BPD Ramba. Edukasi kesetaraan gender yang melibatkan saya dan suami pun memperkuat kesetaraan terutama dalam pembagian peran dan tugas di rumah ya. Saya juga menjadi lebih memahami tentang tentang kebutuhan perempuan dan laki-laki dalam pembangunan desa,” ujarnya saat mengikuti Workshop Pembelajaran Implementasi Program We Nexus, pada Kamis (29/1) di Hotel Best Western Coco Palu, Kota Palu.

Mutmainah menambahkan, penguatan peran perempuan di desa semakin ia rasakan setelah ia tergabung menjadi anggota KUEP di Desa Ramba. Menurutnya, KUEP membuat perempuan di Desa Ramba tidak hanya belajar pengelolaan keuangan, tapi juga mendapat tambahan modal untuk usaha dari simpan-pinjam yang diberlakukan di KUEP yang bisa menambah pendapatan keluarga.

“Keberadaan KUEP juga menjadi solusi simpan-pinjam bagi saya. Kami merasa terbebas dari tekanan tanggung renteng, karena sistem dan desain simpan pinjam di KUEP disepakati bersama. Bahkan di KUEP di Desa Ramba, pada siklus ke-2 ini modal nya sudah mencapai 46.850.000 Rupiah,” ujar Mutmainah.

Senada dengan Mutmainah, Sandi, Perwakilan Pemuda dari Desa Rarampadende turut menyampaikan kegembiraannya terlibat dalam upaya memperkuat perdamaian dan ketangguhan masyarakat di desanya. Menurut Sandi, pemuda jarang sekali dilibatkan secara intensif dalam dialog atau forum-forum di desa, sehingga ia senang bisa mendapatkan edukasi terkait kesetaraan gender, penciptaan perdamaian serta ikut serta dalam kegiatan kepemudaan lintas desa.

“Kegiatan kemah pemuda dan forum-forum diskusi informal yang dilakukan membuat saya jadi lebih mengenal teman-teman dari desa lain. Sebelumnya saya lebih sering bergaul dengan teman-teman satu desa saja, tapi sekarang kami punya grup untuk bisa saling berbagi informasi. Pertemanan kami pun bertambah ya di media sosial. Dari grup dan medsos itulah kami membuat pekan olahraga antar desa agar pertemanan kami semakin kuat dan tidak ada lagi konflik antar desa kedepannya,” ujarnya.

Rahmat Saleh, Ketua Dewan Pengurus Karsa Institute menuturkan, pelibatan pemuda dan pemberdayaan ekonomi kelompok perempuan telah mendapat dukungan dari pemerintah desa setempat serta lembaga terkait lainnya. Menurutnya, operasional dari KUEP, kelanjutan DRPPA serta kegiatan kepemudaan telah masuk dalam perencanaan desa.

“Pemerintah desa, termasuk dinas terkait turut memandang penting keberlanjutan dalam pelibatan pemuda dan pemberdayaan kelompok perempuan di enam desa ini untuk resiliensi masyarakat. Kelompok pemuda dan perempuan yang sudah terbentuk, seperti usaha kelompok serta model simpan-pinjam di KUEP, Kelompok Siaga Bencana (KSB), satgas untuk posko PPA di desa, forum kepemudaan desa serta implementasi DRPPA kedepannya akan juga didukung dari perencanaan desa serta pendampingan teknis dari dinas terkait,” ujarnya.

Mohamad Rizal Intjenae, Bupati Kabupaten Sigi menyambut baik perubahan dan ketangguhan yang terbentuk di masyarakat desa, terutama pemuda dan peremuan. Ia menyampaikan, hasil dari kerja kolaborasi yang sudah berjalan di enam desa ini sejalan dengan aspek pencegahan yang menjadi fokus Pemerintah Kabupaten Sigi, dalam menangani situasi krisis.

“Pemkab Sigi berfokus pada tiga aspek, yakni pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi yang berkelanjutan terkait situasi krisis. Mitigasi yang kami lakukan melibatkan berbagai pihak termasuk kalangan muda dan perempuan. Kolaborasi CARE Indonesia dan Karsa di enam desa ini sudah sangat baik dan sejalan dengan fokus kami. Ini menjadi pembelajaran yang sangat baik. Pemkab menyambut baik dan mendukung untuk terus memperkuat pemberdayaan perempuan dan penguatan ketangguhan jejaring pemuda tidak hanya di enam desa ini tapi juga untuk seluruh desa di Sigi,” katanya.

Kebun Gizi: Mewujudkan Pola Makan Sehat dari Pangan Lokal untuk Keluarga

Cerita

Memenuhi kebutuhan gizi anak bukan hanya tentang menyediakan makanan, tetapi juga tentang memastikan setiap keluarga memiliki akses terhadap pangan bergizi yang aman, berasal dari lokasi setempat, dan dikelola secara berkelanjutan. Di Indonesia, tantangan pemenuhan gizi masih nyata, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 prevalensi stunting nasional turun menjadi sekitar 19,8 persen tahun 2024, namun masih merupakan isu serius yang perlu diatasi.

Upaya pemenuhan gizi keluarga dilakukan CARE Indonesia bersama mitra melalui pembuatan kebun gizi berbasis komunitas yang dikelola kelompok perempuan. Pengelolaan kebun gizi telah dilakukan di Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Kabupaten Nagekeo. Kebun gizi adalah lahan yang dikelola secara kolektif oleh kelompok masyarakat sering kali difasilitasi oleh perempuan untuk menanam berbagai jenis pangan lokal bergizi seperti sayuran, buah-buahan, umbi, dan tanaman protein nabati. Hasil kebun ini menjadi sumber asupan gizi yang bisa langsung dimanfaatkan untuk keluarga dan komunitas, serta sisa panen kerap dijual yang hasil penjualannya menjadi tambahan pendapatan keluarga anggota kelompok perempuan yang mengelola.

Pangan Lokal untuk Gizi Seimbang

Pangan lokal yang segar dan beragam membantu memenuhi standar pemenuhan gizi anak yang dianjurkan pemerintah Indonesia melalui pola makan beragam, bergizi seimbang, dan aman. Dengan mengolah bahan-bahan dari kebun gizi, keluarga dapat menyajikan makanan yang kaya vitamin, mineral, dan serat. Sesuai dengan anjuran menu empat bintang yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kebun ini secara langsung menjawab kebutuhan nutrisi anak dengan menyediakan bahan makanan bergizi di lingkungan terdekat. Dari sisi ekonomi, kebun gizi mendukung kemandirian keluarga melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang menghasilkan manfaat nyata dalam konsumsi dan pendapatan.

Lebih penting lagi, kebun gizi membantu membangun kesadaran bersama bahwa pemenuhan gizi adalah hasil kolaboratif antara akses pangan yang baik, pendidikan gizi keluarga, serta dukungan komunitas. Dengan menanam, memanen, mengolah, dan mengonsumsi pangan dari kebun sendiri, keluarga Indonesia dapat melangkah menuju kehidupan yang lebih sehat, kuat, dan produktif.

Kebun Gizi dan Ekonomi Sirkular

Lebih dari itu, kebun gizi juga mendukung ekonomi sirkular di komunitas: hasil panen yang tidak langsung dikonsumsi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah atau dijual untuk meningkatkan pendapatan kelompok. Limbah organik dari konsumsi rumah tangga pun dapat dijadikan kompos untuk memperkaya tanah, menciptakan siklus produksi yang efisien dan ramah lingkungan.

Kebun gizi yang dikelola, diintegrasikan dengan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk menguraikan sampah organik rumah tangga. Maggot yang dikelola oleh kelompok perempuan ini diolah menjadi pupuk, pakan ternak, dan budi daya ikan.

Perempuan memainkan peran sangat penting dalam memastikan kebutuhan gizi keluarga terpenuhi. Dalam banyak komunitas, perempuan tidak hanya bertanggung jawab menyiapkan makanan, tetapi juga menjadi pengelola kebun gizi, pembelajar utama tentang praktik gizi, serta katalis bagi perubahan perilaku makan yang lebih sehat. Partisipasi perempuan dalam kebun gizi juga membuka ruang bagi mereka untuk memperkuat kapasitas organisasi, mengambil keputusan, serta memperluas jejaring sosial dan ekonomi.

Implementasi kebun gizi berbasis komunitas sangat relevan dengan tema Hari Gizi Nasional: “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”. Masyarakat, termasuk kelompok perempuan tidak hanya semakin berdaya dengan penambahan kemampuan pengelolaan kebun gizi terintegrasi, juga dapat memaksimalkan potensi pangan yang tumbuh di sekitar, sekaligus menjadi tambahan pendapatan rumah tangga.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Kelompok Perempuan dalam KUBE Perkenalkan Produk Olahan Rumahan di gelaran UMKM Kec. Pangalengan

Galeri

Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Community Development Forum (CDF) perkebunan Pasir Malang dan Malabar turut meramaikan gelar UMKM pada Peringatan Hari Desa Nasional yang diselenggarakan Pemerintah Kab. Bandung di Desa Banjarsari (23/01). Dalam kesempatan ini, KUBE yang menjadi bagian dari program kolaborasi CARE Indonesia bersama para mitra memperkenalkan berbagai produk olahan, seperti buah kering, teh, dan aneka camilan hasil usaha kelompok.

Melalui kegiatan ini, KUBE mulai memperluas jangkauan pasar ke luar desa, langkah ini diharapkan dapat mendorong penjualan dan meningkatkan ekonomi anggota, terutama perempuan. Ke depannya, pemasaran akan diperkuat melalui kanal toko online serta kerja sama dengan pengelola rest area di sekitar Kec. Pangalengan, Kab. Bandung.

Kelompok Wanita Tani di Kab. Musi Banyuasin Siap Dukung Pasokan Dapur MBG

Galeri

Kelompok Wanita Tani (KWT) di 13 desa di Kab. Musi Banyuasin dipersiapkan sebagai pemasok dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), upaya ini dapat mendorong pendapatan anggota kelompok sekaligus menjamin kualitas pangan untuk menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Persiapan dilakukan melalui lokakarya integrasi kebun KWT sebagai penyedia komoditas pangan dapur SPPG (20/01), kegiatan ini merupakan kerja bersama PT Cargill, CARE Indonesia, dan Pemerintah Kab. Musi Banyuasin.

Selain KWT, Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) di 13 desa juga dilibatkan dalam mendukung pasokan dapur SPPG melalui usaha peternakan ayam, budidaya ikan dan budidaya jamur merang agar bahan pangan lebih beragam. Kedepannya lahan kebun KWT akan ditambah bersamaan dengan persiapan lainnya seperti peningkatan kapasitas anggota KWT dan persiapan kerja sama antara KWT, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta SPPG.

Studi Ajar Pengembangan Usaha Ekonomi Sirkular di Musi Banyuasin

Galeri

Mendorong replikasi dan pengembangan skala usaha berbasis ekonomi sirkular dari usaha kelompok perempuan di Kab. Musi Banyuasin terus dilakukan CARE Indonesia bersama PT. Cargill dan Pemerintah Kab. Musi Banyuasin. Studi ajar diikuti perwakilan Pemerintah Kab. Musi Banyuasin dan perwakilan PT. Hindoli ke maggot center dari program CARE Indonesia bersama mitra di Kota Depok (13-14/01), untuk meningkatkan pemahaman tentang integrasi pengelolaan sampah organik dengan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) serta pengelolaan ternak dan kebun nutrisi pekarangan dengan maggot sebagai pakan dan pupuk.

Kunjungan melihat integrasi usaha di Maggot Center ini ditargetkan dapat diimplementasikan pada usaha berbasis ekonomi sirkular yang sudah dijalankan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) di Kab. Musi Banyuasin sebagai peningkatan pendapatan rumah tangga.

Kolaborasi Lintas Sektor Dorong Kepemimpinan Perempuan dalam Pemulihan Mangrove

Galeri

Perkuat peran, kapasitas, dan jejaring perempuan dalam pemulihan lanskap mangrove, sejalan dengan arah kebijakan Ekonomi Biru dan prioritas nasional dalam rehabilitasi ekosistem pesisir pesisir dan mangrove. Kick-off Program PERISAI Mangrove (PERempuan Sebagai Agen dan Inisiator Pemulihan Landskap Mangrove) yang dilaksanakan CARE Indonesia dengan dukungan Ford Foundation (13/1) dihadiri perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pemerintah Kabupaten Tojo Una-una,Direktur Regional Ford Foundation dan lembaga sipil (CSO), dan komunitas perempuan.

Kedepannya, jejaring PERISAI Mangrove akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memperkuat kerja sama dalam perlindungan mangrove yang dilakukan oleh kelopok perempuan.

Catatan Perjalanan Respon Sumatera Bangkit: Penyediaan Akses Air Bersih Melalui Rehabilitasi Sumur untuk Air di Aceh Tamiang

Cerita

Di tengah genangan banjir yang melanda Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, satu kebutuhan paling mendasar tiba-tiba menghilang dari kehidupan warga, yakni air bersih. Dalam situasi bencana, penyediaan air bersih menjadi prioritas utama karena berhubungan langsung dengan keselamatan dan kesehatan masyarakat. Jumlah dan mutu air yang tidak memadai merupakan penyebab utama berbagai masalah kesehatan masyarakat dalam situasi krisis.

Banjir tidak hanya merendam rumah dan jalan, tetapi juga mencemari hampir seluruh sumber air warga. Sumur-sumur yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan berubah menjadi kubangan lumpur bercampur limbah dan tak lagi layak digunakan, apalagi diminum. Kondisi ini disaksikan langsung oleh Renee Manoppo, Humanitarian & Emergency Response Manager CARE Indonesia, saat melakukan penilaian kebutuhan cepat dalam respons banjir di Aceh Tamiang (10-18/12).

“Sebanyak 76 persen warga mengalami kesulitan akses air bersih. Masyarakat kesulitan mendapatkan air karena sumur-sumur mereka tertutup lumpur yang terbawa banjir. Dalam kondisi bencana, air itu bukan sekadar kebutuhan, tetapi sumber kehidupan,” ujar Renee menceritakan perjalanannya  dari Aceh Tamiang.

Ia menjelaskan, bahkan pada banjir dengan skala yang tidak terlalu besar, sumber air warga hampir pasti tercemar. Namun kondisi di Kuala Simpang jauh lebih parah. Hampir 100 persen sumur warga tercemar lumpur, kotoran, dan limbah dari saluran pembuangan yang tercampur menjadi satu.

“Kondisi inilah yang membuat bantuan pompa lumpur menjadi sangat krusial. Bukan untuk mengambil air minum secara instan, melainkan sebagai langkah awal menyelamatkan sumur-sumur warga agar kembali layak digunakan,” jelasnya.

Kesadaran akan urgensi air bersih membuat persiapan dilakukan bahkan sebelum tim berangkat ke lokasi. Renee menuturkan, sebelum keberangkatannya ke Kuala Simpang pada 10 Desember 2025, ia berkoordinasi dengan berbagai pihak, salah satunya Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (KAGAMA Care). Renee mendapat informasi bahwa KAGAMA Care berenana memberikan bantuan penyediaan akses air bersih dengan membawa water treatment unit (WTU). Namun menuurt Renee, pihak KAGAMA Care masih kekurangan alat untuk menyedot lumpur dari sumur.

“Karena ada kekurangan alat pompa penyedot itu, kita sediakan dua unit pompa khusus untuk lumpur. Prosesnya tidak sederhana. Air kotor dan lumpur harus dikeluarkan sepenuhnya dari sumur. Setelah itu, sumur direhabilitasi menggunakan tawas dan klorin agar kotoran mengendap dan bakteri mati. Barulah air yang mulai jernih bisa diproses lebih lanjut,” paparnya.

Renee menceritakan, setelah sumur dibersihkan, barulah alat penyedot air dan sistem penyaringan bisa digunakan. Air dari sumur yang telah direhabilitasi kemudian disaring dan melewati proses sterilisasi ultraviolet (UV) untuk membunuh mikroorganisme. Serangkaian pengujian pun dilakukan, mulai dari uji visual, bau, rasa, hingga pengukuran pH dan total dissolved solids (TDS). Uji coba ini dilakukan di Pondok Pesantren Ibnu Hasan, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang yang menjadi posko dari KAGAMA Care.

“Pada saat pengujian, tidak ada yang bersedia meminum langsung air yang telah diolah. Saya memahami kekhawatiran mereka untuk tidak mengambil risiko terkena penyakit. Maka dari itu, berbekal hasil uji yang positif, saya memberanikan diri mencoba air tersebut. Hasilnya, saya tidak merasakan gangguan pencernaan sama sekali,” ujar Renee sembari tersenyum.

Lebih lanjut, Renee menjelaskan, pompa penyedot lumpur ini dapat digunakan secara bergantian dari satu sumur ke sumur lainnya. Setelah satu sumur selesai dibersihkan, pompa dipindahkan ke titik berikutnya di berbagai wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang, seperti Kampung Lando di Kecamatan Rantau, Kampung Sukajadi di Kecamatan Karang Baru, dan Kampung Kuala Simpang di Kecamatan Kota Kuala Simpang. Proses rehabilitasi satu sumur membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam, tergantung kedalaman sumur dan tingkat pencemarannya.

Renee turut menjelaskan, jumlah air bersih yang dihasilkan mencapai 24.000 liter setiap harinya. Menurut perhitungan standar Sphere, jumlah air bersih yang dihasilkan ini bisa mencukupi kebutuhan minimum air bersih sekitar 1.600 orang.

“Hingga Kamis, 18 Desember 2025, mesin ini telah digunakan untuk merehabilitasi empat sumur yang akhirnya bisa dimanfaatkan oleh sekitar 450 orang di berbagai wilayah Aceh Tamiang. Saat ini, pompa penyedot lumpur tersebut kami serahkan kepada tim KAGAMA Care agar proses pembersihan sumur warga dapat terus berlanjut. Kami berharap kedepannya semakin banyak masyarakat yang mendapatkan air bersih dengan akses yang lebih mudah,” pungkasnya.

 

Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika

Menggaungkan Suara Perempuan: #SayaBerani Mengembalikan Ruang Aman Bebas Kekerasan Berbasis Gender

Cerita

Mewujudkan ruang aman bagi perempuan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, baik di ranah keluarga, komunitas, ruang publik, maupun tempat kerja. Kekerasan berbasis gender kerap muncul dalam berbagai bentuk dan situasi, dipengaruhi oleh relasi kuasa yang timpang, norma sosial yang diskriminatif, serta keterbatasan akses terhadap perlindungan dan keadilan. Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP) tahun 2025 menjadi momentum penting untuk menyuarakan upaya mengembalikan ruang aman yang bebas dari kekerasan bagi perempuan di Indonesia. Melalui kampanye ini, CARE Indonesia bersama mitra dan kelompok masyarakat, termasuk kelompok perempuan, menyampaikan praktik baik dan hasil kerja bersama dalam menciptakan ruang aman bebas kekerasan berbasis gender mulai dari lingkup keluarga, komunitas, hingga ruang publik dan tempat kerja.

Urgensi upaya ini tercermin dari Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2024 yang mencatat peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan sebesar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total 330.097 kasus. Kekerasan yang dialami perempuan, baik di rumah, lingkungan sosial, maupun dunia kerja, berdampak luas terhadap kualitas hidup, rasa aman, serta partisipasi perempuan dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Di tempat kerja, kekerasan dan pelecehan yang dialami pekerja perempuan juga berdampak pada produktivitas. Studi ILO (2021) menunjukkan kekerasan di tempat kerja dapat menurunkan produktivitas hingga 11 persen, sementara peningkatan kesejahteraan pekerja terbukti mampu meningkatkan produktivitas sebesar 6 hingga 9 persen (INDEF, 2022).

Melalui kampanye #SayaBerani, CARE Indonesia mengajak semua pihak untuk terlibat dalam mengembalikan ruang aman dan meningkatkan kualitas hidup perempuan, termasuk pekerja perempuan, agar dapat hidup tanpa rasa takut, berdaya secara ekonomi, dan bebas dari kekerasan. Pesan utama kampanye ini menegaskan setiap perempuan Indonesia berhak atas rasa aman, kesempatan yang setara, serta lingkungan yang menghormati martabatnya baik di rumah, di komunitas, maupun di tempat kerja yang inklusif. Dengan memastikan perempuan didengar, dihargai, dan dilindungi, kita membuka jalan bagi generasi mendatang untuk tumbuh dalam masyarakat yang adil, setara, dan penuh peluang.

Tantangan Mengembalikan Ruang Aman Bagi Perempuan

Upaya mengembalikan ruang aman bagi perempuan terkadang menemui kendala. Hal inilah yang juga dialami oleh komunitas Jaringan Pemberdayaan untuk Perempuan Tangguh (JEKATA) selaku paralegal di Kabupaten Purwakarta dan Sukabumi.  Sehingga, momen diskusi bersama dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komnas Perempuan, dan Kementerian PPPA pada Minggu (30/11) dimanfaatkan dengan baik untuk menjelaskan kondisi yang dialami oleh JEKATA.

Ketua JEKATA, Misrawati menyampaikan kesulitan yang dialami oleh kelompoknya saat mendampingi kasus kekerasan terhadap perempuan pada acara Fun Walk di Sudirman-Thamrin, Jakarta kepada perwakilan lembaga yang hadir.

“Kami dari desa dan tidak tahu harus melapor kemana dan ke siapa untuk mendapatkan perlindungan terhadap korban dan saksi kasus kekerasan. Diskusi ini juga membuka ruang bagi kami sebagai paralegal untuk mendapatkan akses dalam menghadapi kasus kekerasan,” tuturnya.

 

Sementara itu Ketua JEKATA Sukabumi, Malasari menyebutkan ketidaktahuan masyarakat di sekitarnya tentang tentang hak-hak perempuan dan bentuk kekerasan terhadap perempuan membuat upaya penyadartahuan dan kolaborasi dengan berbagai pihak terus dilakukan.

“Sejak saat itu saya terus mendalami serta memahami jika perempuan harus bisa mencegah dan melaporkan apapun itu tindak kejahatan terhadap perempuan. Kami juga membangun kolaborasi dengan pemerintah desa, perusahaan, dan lembaga terkait lainnya untuk mengkampanyekan anti kekerasan terhadap perempuan,” ujarnya.

Menanggapi statmen dua Ketua JEKATA, Wakil Ketua LPSK, Sri Nurherwati sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh kedua komunitas itu. Menurutnya, keberadaan JEKATA memberikan akses pendampingan untuk saksi dan korban, bahkan memberikan akses keadilan untuk mendekatkan pada persoalan mengenai bagaimana saksi dan korban ini mendapatkan perlindungan dan keadilan.

“JEKATA memiliki potensi untuk mewujudkan ruang aman karena sesama perempuan bisa saling memberikan dukungan. Kemudian, pelibatan peran masyarakat yang lebih luas termasuk kepada laki-laki untuk bisa turut melakukan kampanye aksi hentikan kekerasan terhadap perempuan. Saya kira LPSK mempunyai peluang untuk bekerja sama dengan JEKATA untuk dapat memberikan perlindungan kepada saksi dan korban, terutama untuk kasus kekerasan terhadap perempuan,” tegasnya.

Komisioner Komnas Perempuan, Daden Sukendar juga menjelaskan jika pencegahan kekerasan terhadap perempuan sehingga terwujudnya ruang aman bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan langkah bersama. “Gerakan ini memerlukan kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari kelompok tingkat desa, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media massa, dan akademisi. Ini menjadi harapan ke depannya, agar penghapusan segala bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan akan tercapai dengan kolaborasi semua pihak,” jelasnya.

Dengan terwujudnya ruang aman bagi perempuan sejatinya bisa menumbuhkan keberanian bagi perempuan untuk semakin berdaya secara ekonomi dan meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan di masyarakat.

Hal ini juga yang disampaikan oleh Asisten Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Pekerja dan Tindak Pidana Perdagangan Orang Kemen PPPA, Priyadi Santosa menyampaikan, perempuan sudah seharusnya mendapatkan ruang aman untuk berekspresi dan berkembang. Hal inilah yang terus diupayakan olehnya selaku bagian dari pemerintah.

“Perempuan harus dipastikan untuk mendapatkan ruang aman. Sehingga itu menjadi tugas kami untuk mewujudkan itu. Kami juga akan selalu mengajak berbagai pihak serta instansi terkait untuk bekerja sama dalam menciptakan ruang aman bagi perempuan. Kami juga sangat setuju dan kami sangat mendukung upaya yang dilakukan oleh JEKATA,” imbuhnya.

Masyarakat turut menyampaikan harapan dan suara melalui statmen daring di website CARE Indonesia serta pohon harapan yang ada pada kegiatan Fun Walk. Sekitar 200 harapan disampaikan oleh masyarakat, mereka juga berharap bisa terlibat aktif dan mendapatkan ruang aman untuk berekspresi dan beraktivitas.

Mengembalikan Ruang Aman Menjadi Investasi Penting Meningkatkan Produktivitas Pekerja Perempuan

Ruang aman bebas kekerasan tidak kalah penting adanya di lingkungan kerja, terutama bagi pekerja perempuan. Penulis dan Aktivis Perempuan, Kalis Mardiasih menyampaikan dalam sesi webinar, jika budaya patriarki yang ada di dunia kerja sudah cukup mengakar. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya kasus kekerasan berbasis gender di tempat kerja. Sehingga keterlibatan laki-laki untuk terlibat aktif di pelatihan gender menjadi hal yang penting.

“Relasi kuasa yang timpang sering dimanfaatkan oleh atasan untuk melakukan kekerasan seksual, sementara stigma terhadap perempuan justru membuat kondisi ini semakin subur. Kultur seksisme yang masih lestari juga menempatkan pekerja perempuan pada posisi yang jauh lebih rentan. Karena itu, pelibatan laki-laki dalam pelatihan kesetaraan gender menjadi sangat penting, agar perubahan budaya dan perlindungan di tempat kerja dapat terwujud secara menyeluruh,” ujar Kalis pada webinar #SayaBerani Turut Andil Mengembalikan Ruang Aman Bagi Perempuan Pekerja Sebagai Wujud Perlindungan Hak Asasi Manusia, (10/12), yang diselenggarakan CARE Indonesia dan Diajeng Tirto.

Menanggapi hal itu, Direktur Bina Pemeriksaan Norma Ketenagakerjaan Kemnaker, Rinaldi Umar menyampaikan, pemerintah telah menetapkan mandat kepada perusahaan untuk membentuk Tim Satuan Tugas (satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di tempat kerja melalui Kepmenaker No. 88 Tahun 2023.

“Sejak regulasi ini diterapkan, sudah ada 44 perusahaan yang membentuk Satgas. Iya, kalau melihat angkanya memang masih minim. Namun, kita juga harus melihat fungsi-fungsi kementerian lain yang berjalan beriringan, seperti pembentukan Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan (RP3). Keduanya saling melengkapi, ada perusahaan yang sudah membentuk Satgas meski belum memiliki RP3, dan ada pula yang mulai membangun RP3 meski Satgas belum terbentuk,” ujarnya.

CEO CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang menjelaskan, upaya untuk mewujudkan ruang aman bagi perempuan terus dilakukan, bukan hanya sebagai pemenuhan aspek sosial, tetapi juga menjadi investasi penting bagi korporasi untuk memastikan produktivitas dan kualitas hidup para pekerja, termasuk pekerja perempuan. Menurut Abdul, upaya mengembalikan ruang aman dengan mencegah dan menangani kasus kekerasan berbasis gender di tempat kerja, dilakukan pada salah satunya program bersama pabrik garmen serta pada perkebunan teh (Community Development Forum (CDF)).

“Pada industri garmen, CARE Indonesia mendampingi mitra pabrik garmen, yakni PT. Glory Industrial Semarang dan PT. Dasan Pan Pasifik. Bersama, kami memperkuat satgas pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender, yang melibatkan manajemen dan pekerja untuk membangun tempat kerja yang aman bagi perempuan. Kemudian pada perkebunan teh di Jawa Barat, kami menghadirkan kolaborasi multi pihak melalui pembentukan dan penguatan Community Development Forum. Forum ini menjadi wadah bagi pemetik teh, pemerintah desa dan kecamatan, serta perusahaan perkebunan teh untuk memperkuat kolaborasi, pembentukan lingkungan kerja yang aman bebas kekerasan, kesetaraan akses, pemberdayaan sekaligus meningkatkan pendapatan perempuan melalui pembentukan kelompok usaha,” ujar Abdul.

Komitmen untuk memberikan ruang aman bagi pekerja perempuan juga disampaikan oleh Anggota Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Gender-Kekerasan Seksual dari PT Dasan Pan Pasific Sukabumi, Ima Trisnawati yang berkomitmen untuk selalu berpihak pada korban. “Hentikan normalisasi kekerasan berbasis gender dan kekerasan seksual di tempat kerja. Kami, Satgas Bipartit, siap menerima, menindaklanjuti, dan menangani setiap pengaduan dengan serius, aman, dan berpihak pada korban,” tegasnya.

Senada dengan itu, Asisten Afdeling Perkebunan PTPN I, Unit Malabar, Yadi Hariyadi mewakili perusahaan juga menyampaikan komitmennya untuk memberikan ruang aman bagi para pemetik teh perempuan. Menurutnya, komitmen perusahaan untuk memberikan kesempatan yang antara pekerja perempuan dan laki-laki harus terus dilaksanakan.

“Kami akan terus menjunjung nilai-nilai kesetaraan, rasa aman, dan kehormatan kepada setiap hak pekerja, terkhusus kepada pekerja perempuan. Kami juga menyampaikan komitmen perusahaan untuk menguatkan dan mendorong untuk pencegahan kekerasan berbasis gender,” tegasnya.

Pemetik teh dan anggota CDF Perkebunan Malabar, Entin turut menyampaikan harapannya saat mengikuti rangkaian kampanye 16 HAKTP, agar komitmen yang disampaikan oleh perusahaan bisa terlaksana dengan baik dan menjadikan tempat yang aman bagi perempuan untuk bekerja. “Saya sangat senang bisa belajar banyak tentang gender dan semakin mengerti kalau perempuan juga bisa melakukan apa yang laki-laki kerjakan. Saya juga berharap perempuan bisa mendapatkan perlindungan dari kasus kekerasan berbasis gender baik di tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan,” harapnya.

Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika