Search
Close this search box.

Menabung dan Memulai Usaha Kelompok di Tengah Keterbatasan, Perempuan Pinus Elok Membangun Kemandirian Ekonomi

Cerita

Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, menyisihkan uang untuk tabungan bukan perkara mudah.  Kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran mendadak kerap membuat uang yang sudah dikumpulkan harus digunakan kembali. Kondisi ini juga dialami Rusmiati dan Surtinah, anggota Kelompok Usaha Perempuan Sejahtera (KUPAS) yang juga bekerja sebagai waste pickers perempuan di Rusun Pinus Elok, Jakarta.

Namun, selama menjadi anggota KUPAS yang didampingi CARE Indonesia dan Mahija Parahita Nusantara, bagi keduanya, kebiasaan menabung kini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan usaha. Menurut Rusmiati sebelum bergabung dengan KUPAS, ia tidak terbiasa menabung karena penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Melalui kelompok ini, ia mulai memiliki kesempatan mengakses pinjaman modal dan mengembangkan usaha gorengan.

“Saya menabung supaya bisa meminjam untuk tambahan modal usaha karena tidak ada bunga. Menabung di KUPAS mudah dan terpercaya. Ada pembimbingnya dari CARE, anggotanya terpercaya, dan kotak untuk menyimpan uang juga aman,” katanya.

Dengan tambahan modal, Rusmiati dapat meningkatkan produksi dan memperluas pemasaran. Dagangannya tidak hanya dijual secara langsung, tetapi juga dititipkan di warung-warung sekitar.

“Awalnya gorengan saya cuma pisang goreng, tahu isi, dan bakwan. Setelah ada KUPAS, saya mendapatkan tambahan pinjaman modal. Jadi, saya bisa menitipkan gorengan ke warung-warung,” imbuhnya.

Menurut Rusmiati, pemberdayaan melalui kelompok yang ia ikuti di KUPAS tidak hanya meningkatkan ekonomi pribadi, tapi juga membawa peningkatan ekonomi dan kapasitas lebih luas ke komunitas waste pickers di sekitarnya.

Selain berjualan gorengan, Rusmiati mengembangkan budi daya sayuran hidroponik bersama dua rekannya dalam KUPAS. Mereka menanam pakcoy dan kangkung, lalu menawarkan hasil panen melalui grup percakapan warga dan berkeliling di lingkungan rusun. Pendapatan dari panen awal menurutnya, belum dibagikan sebagai keuntungan karena masih digunakan untuk membeli bibit dan perlengkapan tanam.

“Kami mulai menanam sayur sejak Juli dan sekarang sudah satu kali panen dengan total pendapatan Rp100.000. Hasilnya kami putar lagi untuk modal membeli bibit. Kira-kira pada panen ketiga nanti kami sudah bisa mendapat keuntungan yang dibagi bertiga,” ujarnya.

Peningkatan pendapatan juga dirasakan Surtinah. Sebelumnya Surtinah hanya bisa menyimpan sebagian uang hasil usaha warungnya di rumah. Namun, simpanannya tersebut sering terpakai ketika muncul kebutuhan mendadak, seperti membayar listrik atau biaya sekolah.

Ketika Surtinah menjadi anggota KUPAS, ia pun memiliki tabungan yang lebih konsisten serta mendapat ilmu baru untuk mencatat keuangan baik untuk keuangan rumah tangga maupun keuangan kelompok. Surtinah mendapat tanggung jawab untuk mengelola rekening kelompok dan menyetorkan uang ke bank ketika simpanan sudah terkumpul. Menurut Surtinah, kepercayaan anggota KUPAS juga ditopang oleh pengelolaan tabungan yang tercatat dan transparan dari serial pelatihan yang ia ikuti.

Surtinah menambahkan, pencatatan dilakukan dalam tiga buku, sementara kotak penyimpanan dilengkapi sistem kunci yang dipegang beberapa pengurus. Melalui KUPAS, ia berusaha mempertahankan kebiasaan menabung dengan menyisihkan Rp10.000 setiap minggu.

“Uangnya kami kumpulkan, lalu dicatat dalam pembukuan. Pembukuannya bukan cuma satu, tetapi tiga. Setelah itu uang disimpan di brankas dan kuncinya dipegang bertiga. Kalau uangnya sudah banyak, tugas saya menyetorkannya ke bank. Walaupun satu minggu Rp10.000, saya usahakan harus menabung,” jelasnya.

Kepercayaan yang dibangun melalui KUPAS turut membuka kesempatan bagi Surtinah dan anggota lainnya mengembangkan usaha bersama. Sejak Agustus, ia mengelola budi daya lele dan nila bersama tiga anggota lainnya dengan modal kelompok sebesar Rp4,5 juta. Usaha tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum memasuki panen pertama. Dalam pengelolaannya, Surtinah bersama suaminya memberi pakan ikan pada pagi dan sore hari.

“Dulu saya sempat beternak lele sendiri di rumah. Setelah berkumpul di KUPAS, kami membentuk kelompok usaha dan mencoba budi daya lele bersama. Usaha ini juga dibantu suami saya, terutama untuk membeli bibit dan pakan,” tuturnya.

Dukungan suami juga terlihat dalam pembagian pekerjaan rumah tangga. Menurut Surtinah, pelibatan suaminya dalam pelatihan terkait kesetaraan gender yang dilakukan CARE, membuat suaminya mau lebih sering terlibat dan bekerja sama mengurus kebutuhan warung, termasuk berbelanja dan mengangkut barang.

Surtinah menambahkan, keterlibatan suaminya pun meningkat dalam membantu pekerjaan domestik, seperti mencuci piring dan pakaian terlebih ketika kondisi tubuhnya kurang sehat. Kerja sama ini membantunya menjalankan kegiatan ekonomi sekaligus tetap mengurus rumah tangga.

“Kalau badan sedang enak, pekerjaan rumah saya kerjakan sendiri. Tapi kalau kondisi saya kurang enak badan, suami jadi lebih memahami dan membantu, seperti mencuci piring dan pakaian. Pada dasarnya, tugas di rumah tetap kami kerjakan bersama,” kata Surtinah.

Bagi Rusmiati dan Surtinah, pendampingan dan keterlibatan dalam kelompok perempuan seperti KUPAS, termasuk upaya penguatan ekonomi melalui menabung, bukan sekadar usaha untuk konsisten menyimpan uang, melainkan langkah untuk membuka akses terhadap ilmu baru, koneksi baru, tambahan modal dan kesempatan mengembangkan usaha baik individu maupun usaha bersama. Melalui dukungan kelompok, pengelolaan keuangan yang lebih teratur, serta kerja sama di rumah, keduanya berupaya membangun ketahanan ekonomi keluarga secara bertahap.

Penulis: Kukuh Akhfad

Editor: Swiny Adestika

Tumbuhkan Peluang Usaha dan Kemandirian Ekonomi dari Tabungan Kelompok

Galeri

Penguatan ekonomi perempuan dapat dimulai dari langkah sederhana, membangun kebiasaan menabung, mengelola keuangan secara teratur, dan mengembangkan usaha bersama. Inisiatif ini tumbuh melalui Kelompok Usaha Perempuan Sejahtera (KUPAS) bagi perempuan pemilah sampah di Rusun Pinus Elok, Jakarta, dengan pendampingan CARE Indonesia dan mitra.

Melalui KUPAS, anggota kelompok memperoleh akses terhadap tabungan bersama dan pinjaman modal tanpa bunga untuk mengembangkan usaha. Inisiatif ini mendorong tumbuhnya beragam kegiatan ekonomi, mulai dari penjualan gorengan dan budi daya sayuran hidroponik hingga usaha bersama budi daya lele dan nila dengan modal kelompok sebesar Rp4,5 juta.

Selain membuka peluang pendapatan, KUPAS memperkuat kapasitas perempuan dalam mengelola keuangan melalui pembukuan yang teratur dan transparan. Sistem pengelolaan tabungan yang dibangun bersama membantu menumbuhkan kepercayaan antar anggota sekaligus menjadi fondasi untuk mengembangkan usaha secara kolektif.

Upaya pemberdayaan ini juga mendorong perubahan dalam lingkup keluarga. Pemahaman mengenai kesetaraan gender membantu memperkuat keterlibatan suami dalam pekerjaan domestik, sehingga tanggung jawab rumah tangga dapat dibagi dengan lebih baik.

Melalui penguatan kapasitas, akses permodalan, dan solidaritas kelompok, KUPAS menunjukkan bagaimana inisiatif berbasis komunitas dapat membuka peluang ekonomi yang lebih inklusif. Langkah-langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian perempuan, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, dan menciptakan peluang untuk tumbuh bersama.

Dari Temanggung untuk Dunia: Memperkuat Usaha dan Kepemimpinan Petani Kopi Perempuan

Cerita

Kunjungan The Big Heart Foundation (TBHF) bersama NAMA Women Advancement (NAMA) ke komunitas petani kopi di Desa Kaloran, Kabupaten Temanggung, pada 17 September 2026 membuka ruang bagi perempuan untuk menyampaikan harapan tentang masa depan usaha mereka. Peningkatan keterampilan, pengolahan hasil panen, dan akses pasar yang lebih luas menjadi bagian penting dari aspirasi tersebut.

Kunjungan yang didampingi CARE Indonesia itu berlangsung di tengah upaya anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Makmur Lestari memperkuat kemampuan budi daya, pengelolaan keuangan, dan kelembagaan kelompok. Bagi ketua kelompok, Nartiyah, dukungan ini memberikan bekal untuk mengembangkan potensi kopi sekaligus memperkuat peran perempuan dalam usaha keluarga.

Nartiyah dan anggota kelompok selama ini terlibat dalam pekerjaan kebun, mulai dari pemupukan hingga panen dan penjemuran. Pengalaman tersebut menjadi modal penting, tetapi mereka masih membutuhkan pengetahuan dan peralatan yang lebih memadai untuk meningkatkan kualitas hasil panen.

“Selama ini kami terlibat di perkebunan kopi, mulai dari pemupukan, panen, hingga penjemuran biji kopi. Semua ini kami lakukan berdasarkan pengetahuan turun-temurun dari pendahulu. Sehingga, kami merasa perlu adanya pelatihan tentang budi daya kopi agar mendapatkan pengetahuan yang terkini dan inovasi lainnya,” katanya.

Melalui pendampingan, anggota kelompok memperoleh pembelajaran tentang budi daya kopi, pengelolaan keuangan, kesetaraan gender, dan penguatan kelompok. Nartiyah merasakan manfaatnya dalam merencanakan kebutuhan keluarga dan menjalankan usaha.

“Kami bersyukur dapat pendampingan seperti dari CARE Indonesia untuk budidaya, juga pelatihan lain termasuk budidaya kopi, pengelolaan keuangan, gender dan penguatan kelompok,” ujarnya.

“Sekarang saya semakin memahami tentang perencanaan keuangan, baik dalam bisnis dan juga di keluarga berkat pelatihan yang kami dapatkan. Selain itu, kami juga semakin mengerti tentang bisnis di industri kopi, sehingga anggota kami semakin banyak yang terlibat langsung di perkebunan kopinya masing-masing,” imbuh Nartiyah.

Kehadiran TBHF dan NAMA juga memberikan kesempatan bagi kelompok untuk membicarakan harapan pengembangan pengolahan kopi. Menurut Nartiyah, rencana fasilitas pengolahan dapat membuka peluang bagi petani untuk menjual produk pada tahap yang lebih lanjut dan memperoleh nilai tambah dari hasil kebun mereka.

“Selama ini petani menjual ceri merah jenis robusta dengan harga sekitar Rp 15 ribu per kilogram. Jika nantinya akan ada pabrik pengolahan, petani dapat menjual greenbean bahkan roastbean dengan harga sekitar Rp60 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram tergantung pasar. Tambahan nilai jual ini akan sangat menguntungkan masyarakat, termasuk petani perempuan,” katanya.

Peluang peningkatan pendapatan tersebut tetap bergantung pada mutu produk, biaya pengolahan, dan akses pembeli. Karena itu, pengembangan fasilitas perlu berjalan bersama peningkatan keterampilan petani dan kesiapan kelompok mengelola usaha.

Nartiyah berharap para petani dapat memahami pasar kopi secara lebih luas, termasuk pasar internasional. Selama ini, informasi harga yang mereka ketahui terutama berasal dari tengkulak. Akses informasi dan hubungan dengan calon pembeli diharapkan dapat memperluas pilihan pemasaran, seiring upaya meningkatkan kualitas kopi.

“Menurut kami, pelatihan budi daya dan pascapanen sangat diperlukan bagi petani agar mendapatkan pengetahuan baru dan inovasi tentang pengembangan kopi. Sehingga kualitas kopi yang kami hasilkan juga berstandar internasional,” tuturnya.

Harapan tentang keberlanjutan usaha kopi juga disampaikan Prilia, petani kopi muda sekaligus sekretaris KUB Makmur Lestari. Ia melihat pendampingan sebagai kesempatan untuk menarik lebih banyak perempuan muda dan generasi berikutnya ke dalam usaha kopi. Menurutnya, kesiapan masyarakat mengoperasikan peralatan dan memahami proses kerja perlu dibangun sebelum fasilitas pengolahan hadir.

“Saya kalau di kebun itu bantu memupuk, memetik, dan kalau sudah dipanen saya juga bantu menjemur. Menurut saya, pendampingan dan pelatihan yang diberikan juga menarik anak muda dan ibu muda untuk terjun ke perkebunan kopi. Selama ini anak muda masih jarang yang mau ikut kerja di kebun, karena menurut mereka hasilnya kurang terlihat cepat, tapi dengan pelatihan dan pendampingan ini, saya yakin anak muda akan mau lebih banyak terlibat di kebun. Saya berharap sebelum adanya pabrik, masyarakat terlebih dahulu diberikan peningkatan kapasitas dalam menjalankan alat, sistem kerja di pabrik, dan juga budi daya kopi,” imbuhnya.

Perubahan yang dirasakan Prilia juga menyentuh kehidupan rumah tangga. Ia menuturkan bahwa pembelajaran kesetaraan gender yang melibatkan laki-laki mulai mendorong pembagian pekerjaan domestik yang lebih baik di keluarganya dan keluarga anggota kelompok.

“Selama saya ikut dalam berbagai pelatihan dan pendampingan dari NAMA dan CARE ini, saya dan anggota lainnya banyak mendapat ilmu baru, seperti tentang pengelolaan keuangan, baik untuk bisnis dan juga keluarga. Bahkan, suami saya dan ibu-ibu anggota kelompok ikut mendapatkan pelatihan tentang kesetaraan gender yang membuat suami-suami ikut mengerjakan tugas domestik rumah tangga seperti menyapu dan tidak lagi meminta istri menyiapkan makanan saat sudah beristirahat,” jelasnya sambil tersenyum.

Pengalaman Prilia memperlihatkan pentingnya menghubungkan penguatan usaha dengan dukungan di rumah tangga. Pembagian tanggung jawab domestik yang lebih setara dapat memberi perempuan ruang untuk mengikuti pelatihan, mengelola usaha, dan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok.

Bagi Nartiyah dan Prilia, langkah selanjutnya adalah memperkuat keterampilan, menjaga kualitas kopi, dan mempersiapkan kelompok untuk memanfaatkan peluang pengolahan serta pemasaran. Harapan menjangkau pasar yang lebih luas tumbuh bersama keyakinan bahwa perempuan dan anak muda dapat mengambil peran lebih besar dalam pengembangan usaha kopi di desanya.

“Terima kasih pada semua pihak seperti NAMA, The Big Heart dan CARE. Sampai saat ini kami masih tidak percaya jika kopi yang ada di desa kami bisa menarik minat pihak dari luar negeri. Sehingga mereka menunjukkan kepedulian dan komitmen untuk ikut mengembangkan komunitas petani kopi, khususnya petani kopi perempuan di sini,” pungkas Nartiyah.


Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Merajut Harapan, Membuka Peluang: Perempuan Musi Banyuasin Membawa Produk Lokal ke Pasar yang Lebih Luas

Galeri

Di tengah tantangan ekonomi saat peremajaan kebun kelapa sawit (replanting), perempuan di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, membangun peluang usaha melalui kekuatan kelompok. Bersama CARE Indonesia, PT Hindoli–Cargill, dan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, mereka mengembangkan usaha rumahan, mengolah potensi lokal, dan memperluas jangkauan pasar.

Sejak November 2022, melalui program PROSPER III, CARE Indonesia mendampingi pembentukan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP), memperkuat keterampilan kewirausahaan, serta menyediakan akses modal usaha. Hingga April 2026, sebanyak 505 perempuan tergabung dalam 13 KUEP di 13 desa dan mengembangkan 18 kelompok usaha rumahan. Pendapatan usaha mencapai Rp75,9 juta, sementara tabungan simpan-pinjam kelompok mencapai Rp1,9 miliar.

Berbekal pengetahuan dan modal, perempuan mengubah potensi sekitar menjadi sumber penghasilan. Pelepah sawit yang sebelumnya tidak terpakai diolah menjadi kerajinan anyaman lidi, sedangkan tandan kosong sawit dimanfaatkan sebagai media budidaya jamur merang. Upaya ini menunjukkan bagaimana inovasi berbasis sumber daya lokal dapat membuka peluang ekonomi baru.

Melalui koperasi produsen, seperti Sekawan Perempuan Mandiri, Srikandi Tungkal Mandiri, dan Perempuan Tangguh Berjaya, produk mereka mulai menjangkau toko-toko di Palembang. Hingga September 2026, sebanyak 397 unit dari 31 jenis produk makanan serta dua paket anyaman lidi telah didistribusikan ke berbagai toko di kota tersebut. Potensi penjualan produk diperkirakan mencapai sekitar Rp5 juta.

Lebih dari sekadar meningkatkan pendapatan, inisiatif ini memperkuat kemampuan perempuan dalam mengelola keuangan, memimpin kelompok, dan mengambil keputusan bersama. Dengan dukungan pemerintah, mitra swasta, dan pelaku usaha, langkah mereka menuju pasar yang lebih luas menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi perempuan, keluarga, dan komunitas secara berkelanjutan.

Perempuan Perkebunan Sawit Musi Banyuasin Membangun Kemandirian Ekonomi, Berawal dari Simpanan Kelompok Hingga ke Rak Berbagai Toko

Cerita

Di sekitar perkebunan kelapa sawit Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, ada ratusan perempuan yang menolak berhenti pada peran sebagai penonton. Saat masa peremajaan kebun (replanting) membuat pendapatan keluarga tersendat, tetapi mereka memilih untuk terus bergerak. Melalui program PROSPER III, CARE Indonesia bersama PT Hindoli–Cargill dan dukungan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin mendampingi mereka membangun usaha dari tingkat komunitas hingga menjangkau pasar di Palembang.

Potensi itu sebenarnya sudah lama ada. Namun, keterbatasan informasi, akses modal dan pasar, serta tanggung jawab domestik kerap menjadi tantangan. Sejak November 2022, dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, program ini membentuk Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP), melatih kewirausahaan, dan memberikan modal usaha. Kerja kolaborasi yang dilakukan membuahkan hasil. Hingga April 2026, 13 KUEP di 13 desa telah melibatkan 505 perempuan dan membentuk 18 kelompok usaha rumahan, mulai dari makanan olahan, kerajinan, peternakan, hingga budidaya. Total pendapatan usaha mencapai Rp75,9 juta, sementara tabungan simpan-pinjam kelompok menembus Rp1,9 miliar.

Fondasinya adalah kekuatan kelompok. Lewat simpan-pinjam berbasis komunitas dengan menerapkan pendekatan Village Savings and Loan Associations/VSLA dan dimplementasikan melalui KUEP, perempuan belajar menabung, mengelola keuangan, memimpin, dan mengambil keputusan bersama. Hasilnya terasa hingga ke dapur rumah tangga.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Musi Banyuasin, Zulkarnain S.P., menilai pendampingan CARE Indonesia memberi dampak nyata bagi kelompok perempuan hingga ke tingkat keluarga. “Kami melihat pendampingan yang dilakukan oleh CARE Indonesia kepada perempuan dan ibu-ibu ini sangat terasa hasilnya sehingga bisa mengangkat pendapatan rumah tangga,” katanya.

Cerita ini terasa makin istimewa, usaha mereka tumbuh dari apa yang ada di sekitar. Pelepah sawit yang tak terpakai disulap menjadi anyaman lidi. Nasagita Murtiwi, anggota KUEP Sumber Agung, mengaku pelatihan membuka matanya soal nilai pelepah sawit sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri.

“Lewat KUEP, kami jadi mengetahui kalau pelepah sawit bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan dan menghasilkan uang. Sekarang kami menjadi lebih percaya diri untuk membuat piring dan kerajinan lainnya dari lidi sawit,” ujarnya.

Limbah lain pun menemukan nilai baru. Winarni, anggota KUEP Simpati Kencana di Desa Bumi Kencana, menjelaskan ia dan dua anggota lain mulai membudidayakan jamur merang karena melihat banyak tandan kosong sawit terbuang, dan usaha itu berkembang berkat modal dari KUEP.

“Saya bersama dua orang anggota KUEP lainnya memulai budidaya ini karena melihat banyak sekali tandan sawit kosong tidak terpakai. Jadi kami coba budidaya jamur dan memakai tandan sawit kosong ini sebagai media tanamnya. Syukurnya usaha ini bisa berkembang karena kami mendapatkan bantuan dana sebagai modal usaha dari KUEP,” tuturnya.

Di balik semua itu, CARE dengan dukungan mitra, membekali para anggota kelompok perempuan dengan literasi keuangan, manajemen usaha, pemasaran, dan pengembangan produk, serta menanamkan perspektif kesetaraan gender dan pencegahan serta penanganan kekerasan berbasis gender baik di lingkungan kerja maupun di dalam masyarakat.

Namun, produk yang bagus belum cukup jika hanya berputar di desa. Penguatan untuk pemasaran produk dilakukan dengan penguatan kelembagaannya melalui pembentukan koperasi yang juga dikelola oleh para perempuan anggota KUEP. Salah satunya Koperasi Sekawan Perempuan Mandiri di Sungai Lilin.

Lisa, Ketua Koperasi Sekawan Perempuan Mandiri, menyebut usaha kelompoknya sudah berjalan tiga tahun dan berharap produk lokal mereka bisa masuk ke banyak toko hingga pasar provinsi. “Usaha kami sudah berjalan tiga tahun namun perputarannya masih terbatas di desa. Harapannya produk abon dan aneka camilan berbahan baku lokal dari beberapa desa ini bisa menarik kerjasama dengan banyak toko dan merambah pasar di tingkat provinsi,” ujarnya.

Harapan itu mulai dijawab. Penguatan kualitas dan kuantitas produksi beberapa jenis usaha kelompok, serta penguatan akses pasar dilakukan dengan pendampingan CARE dan dukungan PT Hindoli. Kesiapan usaha dan produk dari 13 KUEP dinilai untuk menentukan prioritas produk dan calon pembeli (offtaker), lalu digelar temu bisnis dengan perusahaan. Anyaman lidi sawit bahkan telah tampil di beberapa pameran provinsi seperti MUBA Expo dan Andalas Expo, serta masuk dalam katalog elektronik Pemkab Musi Banyuasin.

Manager CSR PT Hindoli, Riska Wahyuni, berharap para calon mitra terus memberi masukan agar produk anyaman lidi semakin dikenal luas. “Para calon mitra bisa terus memberi masukan kepada KUEP, agar produk-produk yang semula terkesan hanya anyaman dari lidi, bisa dikenal luas hingga ke Kota Palembang bahkan luar provinsi,” ujarnya.

Kini, lewat koperasi produsen tingkat kecamatan, yakni Sekawan Perempuan Mandiri (Sungai Lilin), Srikandi Tungkal Mandiri (Tungkal Jaya), dan Perempuan Tangguh Berjaya (Keluang), produk KUEP mulai mengisi rak-rak toko di Palembang. Ada produk camilan seperti kembang goyang, kue bawang, keripik pare, rempeyek, abon ayam, kriuk jengkol, sambal pecel. Selain itu produk olahan anyaman lidi sawit serta produk segar seperti jamur merang. Beragam mitra mendukung perluasan pemasaran variasi produk KUEP ini dari hasil temu bisnis, antara lain Amanda Brownies, King’s Bakery, Agam Shop, Many CAKE, Toko Kerupuk 301, dan Kriya Sriwijaya, dengan skema konsinyasi maupun pembelian langsung.

Hingga September 2026, terdapat 31 jenis produk makanan dengan total 397 unit dan dua paket anyaman lidi dengan berbagai jenis barang yang didistribusikan ke berbagai toko di Kota Palembang. Diperkirakan, produk-produk tersebut bisa mendapatkan total penjualan sekira lima juta Rupiah.

Perjalanan ini baru permulaan. Keberlanjutan KUEP bergantung pada kemampuan kelompok dan koperasi menjaga pasokan, kualitas, dan kepercayaan pembeli. Karena itu, dukungan multipihak, yakni pemerintah daerah, CARE Indonesia, PT Hindoli–Cargill, dan mitra usaha, serta kolaborasi yang terus-menerus masih sangat penting, terutama ketika produksi dan distribusi mulai berskala lebih besar. Jika kapasitas terus dibangun bertahap dan akses pasar diperkuat bersama, peluang ekonomi yang dulu terbatas akan tumbuh menjadi fondasi kemandirian yang berkelanjutan bagi perempuan, keluarga, dan komunitasnya.

Penulis: Widia Afrianti

Editor: Kukuh Akhfad

Kekuatan Tabungan Perempuan di Tengah Krisis

Cerita

Laporan Women Respond dari CARE mengungkap peran kelompok simpan pinjam dalam menghadapi tekanan ekonomi dan memberi pelajaran penting bagi penguatan perempuan

Kelompok berbasis komunitas yang menerapkan sistem menabung dan mengelola dana pinjaman bagi anggotanya, tetap menjadi tempat mencari dukungan para perempuan di berbagai lokasi, ketika krisis menekan penghasilan dan kebutuhan keluarga. Namun, pulihnya kegiatan kelompok belum selalu berarti kehidupan anggotanya ikut pulih.

Temuan ini mengemuka dalam laporan CARE, Women Respond: What Women Told Us in 2025, yang diterbitkan pada 30 September 2026. Bagi Indonesia, temuan tersebut relevan untuk memahami peran kelompok simpan-pinjam perempuan dan dukungan yang mereka perlukan agar dapat terus berkembang.

“Meski di bawah tekanan sebesar ini, saya tetap menabung setiap bulan di kelompok. Bagi saya, kelompok tabungan adalah satu-satunya jaring pengaman,” pernyataan seorang partisipan perempuan di Kolombia yang menggambarkan arti kelompok tabungan bagi anggotanya.

Pendekatan Village Savings and Loan Association (VSLA) yang dijalankan CARE di berbagai negara, membuka akses para anggota yang mayoritas adalah perempuan untuk bisa menabung, mengakses pinjaman, dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Kepercayaan dan kesepakatan bersama menjadi dasar pengelolaan dana tersebut.

Women Respond merupakan inisiatif CARE untuk mendengarkan pengalaman perempuan menghadapi guncangan dan krisis serta memastikan prioritas mereka menjadi dasar program. Putaran pertama survei pada 2025 menjangkau 3.560 anggota VSLA di Burundi, Kolombia, Etiopia, Mali, Niger, Suriah, dan Vietnam; 85 persen di antaranya perempuan. Putaran kedua menjangkau 3.069 anggota di enam negara. Pemberdayaan kelompok simpan-pinjam yang digerakkan oleh perempuan di Indonesia belum termasuk dalam survei ini, tetapi pengalaman kelompok dampingan CARE Indonesia memberikan konteks lokal untuk membaca temuannya.

Laporan tersebut memperlihatkan tekanan yang berat terhadap penghidupan. Tiga dari empat perempuan yang disurvei kesulitan memperoleh penghasilan yang cukup. Banyak yang mengurangi makan untuk menghadapi kesulitan ekonomi. Di Burundi, rata-rata pendapatan bulanan perempuan turun dari 39 dolar AS sebelum krisis menjadi 18 dolar AS pada 2025.

Dalam kondisi itu, tabungan membantu anggota memenuhi kebutuhan, sementara kelompok menyediakan dukungan yang dapat menjangkau masyarakat sekitar lain, di luar keanggotaannya. Seorang anggota di Suriah menceritakan, “Kami saling meminjamkan uang, berbagi makanan, dan membantu siapa pun yang membutuhkan. Kami juga memakai sebagian uang kami untuk menolong warga sekitar kami, bahkan yang bukan anggota kelompok.”

Ada tanda membaiknya aktivitas kelompok. Proporsi kelompok yang dilaporkan bertemu secara rutin meningkat dari 47 persen pada putaran pertama menjadi 60 persen pada putaran kedua. Namun, pada periode yang sama, proporsi anggota yang meminjam untuk kebutuhan dasar, seperti pangan dan kesehatan, meningkat dari 36 persen menjadi 47 persen. Angka ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan rumah tangga di tengah keterbatasan sumber daya kelompok.

Temuan ini menjadi cara penting memahami ketangguhan. Kelompok yang tetap berjalan dapat menjadi sumber pertolongan bagi anggotanya yang masih membutuhkan dukungan untuk memulihkan penghasilan. Menurunnya kemampuan menabung atau meningkatnya pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari perlu dibaca sebagai tanda tekanan yang harus direspon.

Di Indonesia, pengalaman Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) dampingan CARE Indonesia, memperlihatkan bagaimana prinsip simpan-pinjam bersama diterapkan dalam kehidupan anggota. Pada 2025, tercatat 48 kelompok di Musi Banyuasin, Pangalengan, Likupang, Sigi, Bintan, dan Sumbawa Barat. Dari 1.140 anggota, sebanyak 1.096 orang atau lebih dari 96 persen adalah perempuan.

Selain modal awal sekitar Rp1,06 miliar, kelompok di enam wilayah tersebut menghimpun tabungan anggota sekitar Rp858 juta. Pinjaman tersalurkan mencapai sekitar Rp1,63 miliar sepanjang 2025. Kelompok juga menghimpun dana sosial sekitar Rp18,46 juta untuk membantu menghadapi kebutuhan darurat. Angka-angka ini menggambarkan sumber daya yang dikelola bersama dan dapat diakses anggota untuk berbagai keperluan.

Bagi Supriatin, anggota KUEP Mombine Sintuvu Maroso di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, manfaatnya terasa melalui pinjaman tanpa bunga yang dapat digunakan untuk usaha rumahan. Kedekatan kelompok juga memudahkan anggota mengakses dana.

“Kami sebagai anggota sangat terbantu dengan adanya fasilitas simpan pinjam yang ada di KUEP. Hal ini dimanfaatkan oleh anggota kami sebagai tambahan modal usaha rumahan bagi sebagian anggota KUEP. Karena dekat dengan rumah jadi kami tidak perlu jauh ke kota untuk mengambil uang,” jelas Supriatin.

Di Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Lisa, Ketua Koperasi Sekawan Mandiri, menjelaskan bagaimana modal KUEP mendukung usaha camilan dari para anggota kelompoknya seperti abon ikan, abon ayam, dan keripik. Dengan bahan baku yang berasal dari komoditas unggulan empat desa, dukungan KUEP menghubungkan usaha anggota dengan sumber daya ekonomi setempat.

“Semua bahan baku produk camilan ini dari 4 desa yang ada di Kecamatan Sungai Lilin, sehingga dijamin kesegarannya. Sebelumnya kami hanya menjual disekitaran desa dan dengan dukungan modal dari kelompok juga dampingan dari CARE Indonesia dan mitra, kami dapat mengembangkan variasi produk dari usaha kelompok,” ujar Lisa.

Pengalaman Lisa menunjukkan pentingnya mempertemukan akses modal dengan pendampingan usaha. Dana yang tersedia memberi ruang untuk mengembangkan produk, sementara dukungan lanjutan diperlukan agar usaha dapat menjangkau pasar dan menghasilkan pendapatan yang lebih stabil.

Di Desa Serawet, Sulawesi Utara, Wisye, anggota KUEP Rhizopora, menghubungkan harapan meningkatkan penghasilan dengan upaya menjaga pesisir. Ia bersama anggota kelompok memanfaatkan dana pinjaman KUEP untuk memperkuat usaha mencari dan menjual hasil tangkapan ikan dan kepiting, sekaligus kegiatan kelompoknya dalam menanam dan menjaga mangrove di sekitar desanya.

“Kami ingin penghasilan bertambah, tapi juga menjaga laut agar tetap lestari. Maka dari itu kami bergabung dengan KUEP untuk belajar tentang pengelolaan keuangan dan mencari peluang usaha lainnya,” ujar Wisye.

Senada dengan Wisye, Yeni yang juga anggota KUEP Rhizopora menyampaikan, “Dulu kami harus pinjam perahu orang lain, sekarang tidak lagi karena sudah ada bantuan perahu untuk kelompok. Bantuan ini sangat membantu aktivitas kami, karena kami tidak perlu lagi meminjam perahu milik orang lain untuk membawa bibit mangrove, mencari ikan, dan kepiting. Harapannya, dengan adanya bantuan alat tangkap dan perahu, hasil tangkapan kami saat melaut bisa meningkat. Nantinya, hasil tangkapan kelompok ini akan dijual ke pengepul untuk dikirim ke Kota Manado.”

Women Respon menyimpan temuan yang patut dicermati. Ketika krisis menekan, isu kepemimpinan dan kesetaraan perempuan cenderung bergeser ke urutan bawah karena kebutuhan mendesak lebih dulu dipenuhi. Karena itu, kelompok seperti KUEP dengan pendekatan VSLA, penting bukan hanya sebagai tempat menabung. Di sana perempuan belajar mengelola keuangan, mengambil keputusan bersama, dan berani bersuara. Itu adalah modal yang tidak tercatat di buku kas, tetapi menentukan seberapa kuat sebuah keluarga menghadapi guncangan berikutnya.

Anggota perempuan VSLA di Vietnam merangkumnya dengan tajam, “Orang sering berkata laki-laki membangun rumah dan perempuan membangun rumah tangga, tetapi ketika krisis datang, beban rumah tangga itu menjadi sangat berat. Kelompok simpan pinjam adalah cara perempuan berbagi beban itu bersama-sama.”

Baca lengkapnya Women Respond di https://www.care.org/resources/women-respond-report-2025/ 

 

Penulis: Swiny Adestika

Editor: Dr. Abdul Wahib Situmorang

Daeng Alang dan Perempuan di Kabupaten Takalar Menopang Ekonomi Keluarga Lewat Tabungan

Cerita

Bagi keluarga nelayan dan pembudidaya rumput laut di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, kebutuhan ekonomi ditopang dan tak pernah lepas dari laut. Di balik setiap siklus tanam, perempuan ikut menggerakkan roda ekonomi keluarga.

Salah satunya Daeng Alang, warga Kabupaten Takalar. Usaha rumput laut telah ia jalani sejak menikah. Proses panennya bergantung pada jenis yang ditanam. Hasil panen dikeringkan lalu dijual ke pengepul yang disebut punggawa di kampung.

“Sehari-hari saya sebagai ibu rumah tangga, petani rumput laut, ibu dari 2 anak. Rumput laut yang kami budi daya biasanya kadang umur 10 atau 15 hari, tergantung dari kesuburan dan pertumbuhan rumput laut yang ditanam. Kalau jenis Kotoni antara 20 sampai 25 hari,” tutur Daeng Alang.

“Harganya sekarang 6.000 rupiah per kilogram, sementara Kotoni 22.000 per kilogram,” katanya.

Persoalannya, bibit pun kerap dipinjam dari punggawa, sehingga keluarga sulit lepas dari lingkaran utang. Situasi itu mulai bergeser ketika ia bergabung dengan kelompok perempuan yang didampingi CARE Indonesia melalui proyek POWERE (Participation of Women in Renewable Energy). Sejak Desember 2025, anggota bertemu setiap pekan dan menabung Rp5.000 hingga Rp10.000, nominal kecil agar semua anggota bisa ikut. Saldo dihitung terbuka di hadapan anggota.

“Karena saya tertarik dengan cara menabungnya yang terbuka, dan ingin belajar menabung. Saya belajar menyisihkan uang untuk dapat digunakan untuk usaha mata pencaharian rumput laut,” ujarnya.

Menurutnya, selama mengikuti kelompok ia merasakan manfaat berupa kebiasaan menyisihkan uang. Selain itu, kelompok ini juga membuka ruang yang sebelumnya tak ada di dusunnya.

“Saya mendapatkan pengetahuan seperti membicarakan keputusan secara bersama-sama, karena sebelumnya di dusun kami tidak pernah ada kelompok perempuan yang bertemu setiap minggu,” ungkapnya.

Menurutnya, uang dari tabungan akan digunakan untuk membeli bibit rumput laut agar ia tidak selalu meminjam dari punggawa. Daeng juga menjelaskan jika mendapat pengetahuan tentang usaha, membuat catatan keuangan kelompok yang tertib, dan motivasi untuk menabung. Bahkan, ia turut mendapatkan ilmu baru tentang pengolahan rumput laut. Melalui agenda itu ia jadi tahu jika rumput laut juga bisa dijadikan bahan tambahan untuk membuat kue.

“Waktu pelatihan mengolah rumput laut, kami belajar menggunakan bahan rumput laut sebagai tambahan untuk membuat makanan dan minuman seperti bakso, cendol, tahu isi rumput laut, bakwan isi rumput laut,” pungkasnya.

Daeng juga menjelaskan, jika keterlibatannya dalam kelompok tidak hanya menambah pengetahuannya tentang   pengolahan rumput laut. Tetapi juga informasi tentang pemanfaatan energi terbarukan yang seperti sampan bertenaga listrik. Menurutnya, pengetahuan baru ini bisa bermanfaat baginya dan perempuan lain dalam budi daya rumput laut.

“Kami mendapatkan berbagai pengetahuan baru, seperti menabung dan pembuatan makanan yang berbahan dasar rumput laut yang sebelumnya tidak kami mengerti. Di sini kami juga jadi mengerti ada perahu yang bertenaga listrik. Kami tentunya berharap hal ini bisa menunjang  usaha kami dan tidak terlalu bergantung pada minyak untuk bahan bakar perahu,” pungkasnya.

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Kolaborasi untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan dengan Maggot Center

Galeri

Upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok perempuan melalui ekonomi sirkular dilakukan melalui peresmian Pusat Budidaya Maggot (Maggot Center) oleh Yayasan CARE Peduli bersama PT Hindoli – Cargill dengan dukungan Pemerintah Kab. Musi Banyuasin (24/09).

Hadirnya Pusat Budidaya Maggot mendorong ekonomi masyarakat sekitar perkebunan sawit sekaligus untuk mengurangi sampah organik yang dihasilkan. Nantinya kelompok perempuan akan bersama masyarakat sekitar akan mengelola fasilitas ini dengan target hingga 2 ton sampah organik yang dapat diolah setiap harinya.

“Sampah di Kecamatan Sungai Lilin ini bisa mencapai sekitar 20 ton per hari, termasuk sampah dari SPPG. Adanya fasilitas seperti ini jadi inovasi yang sangat baik untuk mengolah sampah organik sehingga dapat mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Hasil dari maggot juga jadi produk bernilai ekonomi, sekaligus mengurangi emisi dan memperbaiki kualitas lingkungan”
M. Thabrani Rizki, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kab. Musi Banyuasin

“Kami berharap Maggot Center dapat memperkuat partisipasi perempuan dalam mengelola usaha ramah lingkungan, mulai dari produksi hingga pemasaran. Melalui pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan, inisiatif ini dirancang untuk membantu usaha tersebut beroperasi secara mandiri dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan di Sungai Lilin.”
Rizka Wahyuni, Manajer CSR Cargill di Hindoli

Siaran Pers: Maggot Center Musi Banyuasin Siapkan Perempuan Memimpin Usaha Hijau

Berita,  Uncategorized

Kolaborasi Pemkab Musi Banyuasin, DLH, PT Hindoli, dan CARE Indonesia menargetkan pengolahan 2 ton sampah organik per hari

Musi Banyuasin, 24 September 2026 — Kelompok perempuan di Sungai Lilin disiapkan menjadi pengelola utama Pusat Budidaya Maggot (Maggot Center), yang ditargetkan mengolah hingga 2 ton sampah organik per hari menjadi produk bernilai ekonomi. Fasilitas ini diresmikan di kompleks TPA DLH Simpang B2, Kelurahan Sungai Lilin Jaya, Kecamatan Sungai Lilin, yang dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Musi Banyuasin, M. Thabrani Rizki; Estate Manager PT Hindoli, Kasmer Pasaribu; CSR Manager PT Hindoli, Riska Wahyuni dan CEO Yayasan CARE Peduli, Dr. Abdul Wahib Situmorang.

“Kami ingin perempuan memimpin usaha ini dan memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pengelolaannya. Dukungan PT Hindoli, Pemkab Musi Banyuasin, dan DLH Kab. Musi Banyuasin, bersama pendampingan CARE Indonesia, menjadi fondasi untuk membangun usaha yang dapat dikelola dan dikembangkan masyarakat,” kata CEO Yayasan CARE Peduli, Dr. Abdul Wahib Situmorang dalam sambutannya saat peresmian Maggot Center.

Abdul menambahkan, Pembangunan pusat budidaya maggot ini didukung pendanaan PT Hindoli, pelaksanaan dan pendampingan masyarakat oleh CARE Indonesia, serta dukungan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin melalui DLH yang menempatkan kelompok perempuan sebagai penggerak usaha, dengan peran dalam pengelolaan produksi, keuangan, pemasaran, dan pengambilan keputusan.

Lebih lanjut menurut Abdul, melalui budidaya larva lalat Black Soldier Fly (BSF) di fasilitas ini, sampah organik diolah menjadi maggot segar maupun kering yang dapat dipasarkan sebagai bahan pakan ternak dan ikan. Sisa penguraiannya dapat diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik.

Menurut Abdul, dengan asumsi setiap keluarga menghasilkan sekitar 2 kilogram sampah organik per hari, target pengelolaan sampah organik di fasilitas ini setara dengan pengelolaan sampah organik dari sekitar 1.000 keluarga.

“Model ini dirancang dengan biaya operasional terjangkau dan membuka pekerjaan di sepanjang rantai usaha, dari pengumpulan dan pemilahan sampah hingga budidaya, pengolahan, dan pemasaran. Penjualan maggot dan pupuk organik diharapkan dapat mendukung biaya operasional serta pendapatan pengelola. Manfaatnya juga bisa dirasakan peternak, pembudidaya ikan, dan petani di sekitar Sungai Lilin,” ujar Abdul.

Kelompok perempuan bersama warga sekitar, menurut Abdul, akan menjadi fokus dalam rangkaian penguatan kapasitas tim pengelola Maggot Center. Pelatihan mencakup siklus budidaya, pengoperasian sarana produksi, keselamatan kerja, pencatatan keuangan, dan pemasaran. Pendampingan yang dilakukan CARE Indonesia diarahkan agar pengelola mampu menjaga mutu produk, membangun hubungan dengan pembeli, dan mengembangkan usaha secara mandiri.

Pemberdayan dan penguatan partisipasi perempuan dalam pelestarian lingkungan yang mendorong usaha ramah lingkungan melalui maggot center ini juga mendapat dukungan penuh dari Cargill.

Rizka Wahyuni, Manajer CSR Cargill di Hindoli menyatakan, “Cargill menyambut baik Pembangunan Maggot Center ini melalui kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, Dinas Lingkungan Hidup, dan CARE Indonesia. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana kemitraan yang kuat dapat membantu mengubah tantangan pengelolaan dan pemanfaatan limbah menjadi peluang yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Kami berharap Maggot Center dapat memperkuat partisipasi perempuan dalam mengelola usaha ramah lingkungan, mulai dari produksi hingga pemasaran. Melalui pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan, inisiatif ini dirancang untuk membantu usaha tersebut beroperasi secara mandiri dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan di Sungai Lilin.”

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Musi Banyuasin, M. Thabrani Rizki, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, Maggot Center dapat membantu menjawab persoalan sampah di Sungai Lilin sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Sampah di Kecamatan Sungai Lilin ini bisa mencapai sekitar 20 ton per hari, termasuk sampah dari SPPG. Adanya fasilitas seperti ini jadi inovasi yang sangat baik untuk mengolah sampah organik sehingga dapat mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Hasil dari maggot juga jadi produk bernilai ekonomi, sekaligus mengurangi emisi dan memperbaiki kualitas lingkungan,” ujarnya.

Abdul menjelaskan, berdiri di atas lahan berukuran 20 × 10 meter, Maggot Center dilengkapi 53 bak pembesaran larva, fasilitas pembibitan, peralatan pengolahan sampah, panel surya, sarana air dan sanitasi, serta perlengkapan keselamatan kerja. Fasilitas tersebut disiapkan untuk mendukung kegiatan produksi dan pembelajaran bagi pengelola.

“Dalam pengembangan selanjutnya, potensi kredit karbon dari pengurangan emisi pengelolaan sampah organik dapat dikaji. Peluang kredit biodiversitas juga dapat dijajaki apabila usaha ini terhubung dengan pemulihan ekosistem yang memberikan manfaat keanekaragaman hayati yang terukur dan terverifikasi. Keduanya masih memerlukan kajian kelayakan dan pemenuhan standar yang relevan,” pungkas Abdul.

Belajar Mengelola Keuangan, Nurhayati Kini Bisa Menambah Pendapatan Keluarga dari Tabungan Usaha Sampingan dan Hasil Memulung

Cerita

Menurut survei yang dilakukan oleh GoodStats yang berjudul Perilaku Mengelola Keuangan Masyarakat 2024 menyebut tujuh dari sepuluh orang Indonesia tidak memiliki tabungan. Salah satu penyebabnya adalah perilaku impulsif dalam membelanjakan uang untuk kebutuhan prioritas dan keinginan semata.

Nurhayati, salah satu anggota Kelompok Usaha Perempuan Sejahtera (KUPAS) Bintara Jaya Sejahtera di Kota Bekasi mengatakan, dirinya sempat mengalami kesulitan dalam menabung. Bahkan, meski memiliki usaha di menjual makanan, dirinya tetap tidak bisa menyisihkan pendapatannya untuk menabung. Menurutnya, keanggotaan di KUPAS memberikan dampak positif pada dirinya dan usaha makanan yang dikelolanya.

“Dulu itu saya susah sekali untuk menabung, walaupun saya bekerja dan punya usaha jualan seblak di rumah saya tetap sulit untuk menabung dan punya uang simpanan yang bisa dipakai saat keadaan mendesak. Tapi setelah saya ikut KUPAS, menjalankan usaha dan kemampuan saya mengelola keuangan jadi lebih baik,” kata Nurhayati.

Ia bercerita, selama mengikuti KUPAS, Nurhayati mendapatkan pembelajaran tentang literasi keuangan dan fasilitas pinjaman untuk modal usaha di kelompok. Berkat mengikuti beberapa pelatihan, dirinya bisa mengembangkan usaha makanan yang dilakukan.

“Saya meminjam uang di KUPAS untuk beli kulkas yang dipakai buat simpan bahan-bahan seblak. Sehingga, bahan saya bisa tahan lama dan varian isinya lebih beragam yang membuat orang jadi makin suka. Berkat tabungan dan pinjaman ini, usaha yang bisa semakin berkembang. Sekarang, kalau sedang ramai sekali saya bisa dapat keuntungan sampai 500 ribu Rupiah,” ujarnya lagi.

Berbagai pelatihan yang diikuti selama menjadi anggota KUPAS juga membuat Nurhayati lebih memahami cara mengelola keuangan dan mengembangkan usaha. Pengetahuan yang sebelumnya belum banyak ia dapatkan kemudian mulai diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Baginya, belajar bersama anggota kelompok membuat proses mengelola usaha terasa lebih mudah karena ia dapat bertukar pengalaman dan mendapatkan masukan dari anggota lainnya.

“Di KUPAS saya diajarkan mencatat pemasukan dan pengeluaran uang yang dimiliki. Ilmu ini saya terapkan untuk usaha dan pemasukan yang saya punya. Maka dari itu, sekarang saya bisa memantau keuangan yang ada di keluarga,” ujarnya.

Perubahan tersebut juga dirasakan dalam kehidupan keluarganya. Nurhayati mengaku, pada awalnya suaminya tidak percaya bahwa ia mampu memiliki tabungan sekaligus memberikan tambahan bagi keuangan keluarga. Namun, setelah melihat usahanya berkembang dan kemampuan menabungnya meningkat, pandangan tersebut mulai berubah. Kegiatan di KUPAS membuat Nurhayati memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa usaha yang dijalankannya dapat memberikan kontribusi terhadap kebutuhan keluarga.

“Suami saya dulu tidak percaya kalau saya bisa menabung dan membantu keuangan keluarga. Setelah ikut KUPAS dan usaha saya berkembang, sekarang dia bisa melihat sendiri hasilnya. Saya bisa punya tabungan dan dari usaha seblak juga bisa membantu kebutuhan keluarga. Suami saya kalau pulang kerja sering membantu di warung, kadang angkat barang atau siapkan pesanan pembeli,” pungkasnya.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika