Bumi sedang berhadapan dengan ancaman peningkatan suhu global dan perempuan menjadi salah satu kelompok paling rentan terhadap dampak perubahan iklom. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change, suhu rata-rata permukaan bumi telah meningkat sekitar 1,1°C di atas tingkat pra-industri dan berpotensi mencapai 1,5°C dalam beberapa dekade mendatang jika emisi gas rumah kaca tidak ditekan. Peningkatan ini berisiko menyebabkan berbagai dampak serius seperti cuaca ekstrem yang lebih sering, kenaikan permukaan air laut, serta ancaman terhadap ketahanan pangan dan sumber air (IPCC, 2023).
Dalam kajian United Nations, perempuan termasuk dalam kelompok rentan yang paling terdampak perubahan iklim karena ketimpangan akses terhadap sumber daya, keterlibatan dalam pekerjaan berbasis alam, serta tanggung jawab domestik yang lebih besar dalam mengelola air, pangan, dan energi. Meski begitu, keterlibatan perempuan dalam upaya pelestarian lingkungan tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang gerakan lingkungan hidup. Menurut catatan dalam studi United Nations Environment Programme, peran perempuan dalam pelestarian alam telah berlangsung sejak gerakan lingkungan berbasis komunitas berkembang pada tahun 1970-an, salah satunya melalui gerakan Chipko di India yang dipelopori oleh perempuan desa untuk melindungi hutan dari penebangan.
Wisye, Ketua Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Rizophora di Desa Serawet, Kecamatan Likupang, Provinsi Sulawesi Utara yang juga merupakan seorang nelayan, mengatakan hidupnya sangat bergantung pada pesisir dan hutan mangrove. Di sela-sela aktivitasnya, ia bersama anggota perempuan lainnya yang didampingi CARE Indonesia dan Yayasan Bumi Tangguh, rutin melakukan pembenihan, perawatan benih, penanaman mangrove, merawat dan memantau tanaman magrove yang berasal dari varietas lokal desanya tersebut.
“Kami ingin membangun desa dengan melestarikan hutan mangrove untuk anak cucu ke depannya. Makanya kita juga sampaikan ke masyarakat untuk tidak merusak mangrove. Ya karena tanaman itu bermanfaat untuk mencegah bencana tsunami dan banjir serta rumah bagi ikan dan kepiting untuk pendapatan kita,” ujarnya.
Mewujudkan keadilan iklim bagi perempuan tidak hanya bertumpu pada aktivitas pelestarian lingkungan, tetapi juga perlu mendorong kemandirian ekonomi. Pendekatan ini juga sejalan dengan laporan World Bank yang menekankan, pemberdayaan ekonomi perempuan menjadi kunci dalam meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.
Hal tersebut sejalan dengan yang dilakukan Titin, anggota Kelompok Usaha Perempuan Sejahtera (KUPAS) Cimone Sejahtera, Kota Tangerang, yang didampingi CARE Indonesia dan Yayasan Mahija. Ia menjelaskan, aktivitas pemilahan sampah yang ia lakukan tidak hanya berkontribusi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi alternatif sumber penghasilan bagi dirinya dan rekan-rekan perempuannya.
“Memilah sampah ini penting sekali untuk kebersihan lingkungan, kemudian juga bisa kami manfaatkan sebagai tambahan penghasilan. Kami memilah sampah seperti botol dan kardus, karena bisa dijual kembali,” tuturnya.
Upaya memanfaatkan limbah hingga memiliki nilai tambah juga dilakukan oleh Nasagita Murtiwi, anggota KUEP Sumber Agung, Kabupaten Musi Banyuasin. Bersama kelompoknya yang terus didampingi CARE Indonesia, ia memanfaatkan limbah pelepah sawit tua yang diambil lidi dari batang pelepah dan mengubahnya menjadi kerajinan anyaman bernilai ekonomi.
“Lewat KUEP, kami jadi mengetahui kalau pelepah sawit bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan dan menghasilkan uang. Sekarang kami menjadi lebih percaya diri untuk membuat piring dan kerajinan lainnya dari lidi sawit,” pungkasnya.
Masih di Kabupaten Musi Banyuasin, Winarni, seorang rumah tangga memanfaatkan tandan sawit kosong (tankos) yang menumpuk dan tidak terpakai di perkebunan sebagai media budidaya jamur merang. Lewat tangan cekatan dan melihat potensi pasar dari kegemaran konsumsi jamur merang di desanya, Winarni yang juga seorang anggota Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Simpati Kencana dari Desa Bumi Kencana mendapatkan pundi-pundi rupiah dari usaha mengolah benda yang tergolong ‘sampah’ menjadi budidaya jamur merang.
“Saya bersama dua orang anggota KUEP lainnya memulai budidaya ini karena melihat banyak sekali tandan sawit kosong tidak terpakai. Jadi kami coba budidaya jamur dan memakai tandan sawit kosong ini sebagai media tanamnya. Syukurnya usaha ini bisa berkembang karena kami mendapatkan bantuan dana sebagai modal usaha dari KUEP,” imbuhnya.
Pelestarian lingkungan yang melibatkan dan memberdayakan perempuan terbukti menjadi solusi yang berkelanjutan. Ketika perempuan memiliki akses pada pengetahuan dan peluang ekonomi, mereka tidak hanya menjaga alam, tetapi juga memperkuat ketahanan keluarga dan komunitas. Dengan pendekatan ini, pelibatan perempuan menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus membangun masa depan keluarga dan masyarakat yang lebih tangguh.
Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika