Search
Close this search box.

Cerita Perempuan Penjaga Mangrove Sulawesi Utara ke Publik Australia Perjalanan Wisye di Women Deliver Forum 2026

Share it with others

Tidak pernah terbayang oleh Wisye Sahambangung, nelayan perempuan dari Desa Serawet, untuk naik pesawat terbang dan pergi ke Australia. Ia masih tidak menyangka dirinya terpilih untuk berbicara di konferensi internasional seperti Women Deliver Forum dan mewakili puluhan nelayan dan pegiat perempuan lain di desa-desa pesisir di Kabupaten Minahasa Utara. 

Perjalanan Wisye adalah untuk berbagi bercerita tentang keseharian dirinya dan perempuan lain di beberapa desa di Sulawesi Utara dalam melestarikan habitat mangrove yang berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi melalui perannya sebagai Ketua Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Rhizopora, serta peningkatan kesetaraan gender berbasis masyarakat.

“Saya tidak menyangka dan merasa sangat bangga bisa berbicara tentang aktivitas pelestarian mangrove dan pemberdayaan ekonomi yang kami lakukan. Partisipasi ini membuktikan bahwa perempuan pesisir pun bisa tampil di ruang besar jika diberi kepercayaan,” katanya sembari tersenyum bercerita pada tim CARE Indonesia, sesampainya ia di Jakarta, sembari menunggu jadwal penerbangan ke Melbourne esok harinya.

Ibu dua anak itu menjelaskan, terpilihnya dirinya membuat ia harus belajar berbagai hal baru. Mulai dari berlatih pidato hingga mempelajari materi tentang mangrove secara lebih mendalam.

“Supaya lancar berbicara, saya berlatih di depan cermin atau di hadapan anggota kelompok untuk menyampaikan tentang KUEP, mangrove, dan aktivitas ibu-ibu. Dari Yayasan Bumi Tangguh dan CARE Indonesia, saya juga dibantu untuk belajar lebih dalam tentang mangrove, karena selama ini kami hanya belajar dari pengalaman di lapangan,” imbuhnya.

Wisye menyampaikan, di sana ia bercerita tentang peran perempuan dalam proses adaptasi perubahan iklim di Desa Serawet. Bahkan, pelestarian mangrove yang dilakukannya juga selaras dengan peningkatan ekonomi oleh kelompok perempuan.

“Di forum yang penting seperti ini saya menyampaikan tentang aktivitas ibu-ibu untuk mencari bibit dan menanam mangrove. Saya juga menyampaikan kegiatan usaha yang kami jalankan bersama. Menurut saya hal ini sangat penting untuk disampaikan, karena membuktikan perempuan pesisir juga mampu untuk tampil. Waktu saya berbicara, banyak sekali orang yang melihat, ada dari banyak negara seperti Australia, Filipina, Kamboja, terus ada negara dari Afrika,” imbuhnya sembari tersenyum.

Selain berbicara di podium, Wisye juga mengikuti berbagai rangkaian konferensi yang dilaksanakan di sana. Menurutnya, perbedaan bahasa tidak menjadi tembok penghalang untuk terus menyimak informasi yang disampaikan.

“Waktu di Australia, saya dibantu rekan dari CARE Indonesia dengan cara diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dari situ saya bisa mengerti dan memahami hal-hal yang dibicarakan, seperti tentang peran penting perempuan di masyarakat. Nantinya, materi-materi ini yang akan saya bagikan kepada teman-teman di desa,” tuturnya.

Wisye mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga. Ia berkesempatan berbicara di hadapan banyak orang, bahkan diwawancarai oleh media internasional. Dari situ, ia menyadari, perempuan pesisir juga mampu tampil dan menyampaikan pendapat di ruang publik.

“Perjalanan saya di Women Deliver membuat saya sadar bahwa perempuan juga bisa tampil dan berbicara. Saya juga percaya bahwa perempuan dapat memberikan dampak positif terhadap pelestarian mangrove di desa kami,” tambahnya.

Ia juga berharap dapat membagikan pengalaman yang didapatkan selama berada di Australia, baik kepada rekan-rekan di KUEP maupun pemerintah setempat.

“Pengalaman ini sangat berharga, sehingga saya ingin berbagi dengan teman-teman di KUEP. Jika memungkinkan, saya juga ingin berdiskusi dengan pemerintah daerah agar dapat mendukung upaya kami dalam menjaga mangrove,” tuturnya.

Apa yang disampaikan oleh Wisye di Women Deliver mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Fatema Johora, delegasi CARE Bangladesh, yang menyampaikan kekagumannya terhadap upaya Wisye dalam adaptasi perubahan iklim yang dimotori oleh kelompok perempuan.

“Saya sangat kagum dengan aktivitas yang dilakukan oleh Wisye dan kelompoknya dalam melakukan adaptasi perubahan iklim yang selaras dengan pemberdayaan ekonomi. Pertemuan ini sangat menginspirasi, dan saya berharap kita dapat saling bertukar ide serta terus terhubung di masa mendatang,” ujarnya.

Tanggapan positif juga disampaikan oleh Prutha Kulkarni, dari Melbourne Convention Bureau, yang mendapatkan perspektif baru mengenai keterlibatan perempuan pesisir dalam pelestarian lingkungan, khususnya mangrove.

“Mendengarkan cerita Wisye sangat menyentuh dan memberikan perspektif berharga tentang peran perempuan, bahkan di wilayah terpencil, dalam menjaga ekosistem mangrove di Indonesia. Hal ini sangat menginspirasi. Saya berharap masyarakat di seluruh dunia dapat mengambil pelajaran dari upaya yang dilakukan oleh CARE Indonesia, baik dalam pelestarian mangrove maupun dalam memberikan ruang bagi perempuan untuk berkembang,” ujarnya.

Sembari menutup diskusi, Wisye berharap dan juga berpesan kepada perempuan di mana pun, khususnya di Desa Serawet untuk memunculkan keberaian. Menurutnya, keberanian itu menjadi kunci untuk bisa tampil dan bersuara.

“Buat teman-teman pesisir, jangan takut untuk tampil. Percaya diri harus ada, keberanian adalah modal untuk kita bisa tampil di mana pun untuk menyuarakan tentang perempuan,” pungkasnya.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Cerita Terkait Lainnya