Search
Close this search box.

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: Suara #SayaBerani Mengembalikan Ruang Aman Bebas Kekerasan Bagi Perempuan Digaungkan

Galeri

Lebih dari 1.500 partisipan program, anggota mitra dan komunitas perempuan bersama CARE Indonesia dari Jakarta, Kab. Sukabumi, Kab. Demak, Kab. Purwakarta, dan Kab. Bandung serta publik umum menyuarakan #SayaBerani Mengembalikan Ruang Aman Bebas Kekerasan bagi Perempuan. Berbagai kegiatan secara daring dan luring dilakukan mendukung kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP).

Kegiatan kampanye digital, jalan santai, games, diskusi publik, dan webinar dilakukan CARE dengan dukungan para mitra seperti IFI, Tirto.id dan Diajeng Tirto (25/11-14/12). Rangkaian kegiatan menjadi ruang bagi komunitas, termasuk perempuan, untuk membangun kesadaran bersama, memperkaya pemahaman, menyebarkan informasi edukasi untuk tanpa henti mencegah kekerasan berbasis gender, pemberdayaan perempuan termasuk pemberdayaan ekonomi serta bisa hidup tanpa rasa takut.

#SayaBerani Turut Andil Kembalikan Ruang Aman Bebas Kekerasan Berbasis Gender

Galeri

Mengembalikan ruang aman tanpa kekerasan berbasis gender, khususnya terhadap perempuan disuarakan CARE Indonesia dalam 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP).

Bersama perwakilan Jaringan Pemberdayaan untuk Perempuan Tangguh (JEKATA) dari Kab. Sukabumi dan kab. Purwakarta, Satgas penanganan dan pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Kekerasan Seksual (KBG-KS) dari pabrik garmen di Kab. Sukabumi, CARE Indonesia mengajak publik menyuarakan ruang aman bagi perempuan dan menolak Kekerasan Berbasis Gender di Car Free Day Sudirman – Thamrin, Jakarta (30/11), didukung Tirto.id & Diajeng.

Diskusi juga dilakukan bersama perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Komnas Perempuan, serta perwakilan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mendukung ruang aman bagi perempuan di komunitas dan tempat kerja. Peserta pun berpartisipasi mempelajari bahasa isyarat BISINDO hingga mengikuti berbagai permainan di stan CARE Indonesia bersama Institute Francais Indonesia (IFI).

#SayaBerani Kisah Kelompok Perempuan Mengembalikan Ruang Aman Bebas Kekerasan Berbasis Gender

Cerita

Data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) menunjukkan terdapat 2.808 kasus kekerasan di Jawa Barat pada tahun 2025, dengan 2.340 orang perempuan yang menjadi korbannya. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat masih banyak korban kekerasan yang enggan melaporkan pengalaman mereka karena merasa belum memiliki tempat yang aman.

Kondisi yang tidak aman dan tidak adil bagi perempuan korban kekerasan ini mendorong perempuan di Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Sukabumi untuk aktif dalam kelompok bernama Jaringan Pemberdayaan dan Perempuan Tangguh (JEKATA) yang menjadi bagian dari kerja kolaborasi CARE Indonesia bersama mitra dalam menguatkan kesetaraan gender di tingkat komunitas. Kehadiran kelompok JEKATA di dua kabupaten menjadi angin segar bagi perempuan untuk semakin dekat dengan hak-haknya.

Mariana, anggota JEKATA Sukabumi, menjelaskan bahwa kelompok ini terbentuk karena kurangnya ruang aman bagi perempuan. Akibatnya, korban sering kali tidak berani melapor ketika terjadi kekerasan terhadap perempuan maupun anak. Menurut Mariana, JEKATA hadir sebagai wadah bagi perempuan untuk berjuang bersama membela hak-hak mereka.

“Di JEKATA, kami bisa berkumpul dan belajar tentang berbagai hal seperti wirausaha dan pelatihan pendampingan kasus kekerasan. Maka dari itu, JEKATA menjadi wadah untuk memperjuangkan hak-hak perempuan,” ujarnya.

Mariana menyampaikan bahwa JEKATA pernah mendampingi seorang perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kasus ini terungkap setelah kelompok menerima laporan dari klinik tempat korban bekerja. Menindaklanjuti kejadian itu, JEKATA berkolaborasi dengan Lembaga Kerja Sama (LKS) Bipartit dan Satgas penanganan kekerasan berbasis gender – kekerasan seksual (KBG-KS) tempat korban bekerja untuk menangani laporan dan memberikan pendampingan baik secara psikologis maupun jalur legal.

Berdasarkan laporan tersebut, Mariana dan anggota JEKATA lainnya mendampingi korban untuk melapor ke pemerintah desa dan kepolisian setempat. Korban juga dibawa ke RSUD Pelabuhan Ratu, Sukabumi untuk melakukan visum. Setelah proses pendampingan, kasus tersebut akhirnya dimediasi oleh pihak kepolisian dan berakhir damai.

Mariana menambahkan bahwa perjuangan kelompoknya tidak mudah dan kerap menemui kendala, seperti keterbatasan biaya operasional saat pendampingan, respons dari instansi terkait yang kurang cepat, serta lokasi korban yang jauh dari sekretariat JEKATA.

“Kami menyadari bahwa perjuangan ini tidaklah mudah dan memiliki banyak tantangan. Meski begitu, kami terus berusaha mengampanyekan pesan-pesan kesadaran untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan. Biasanya kami sampaikan lewat kumpul-kumpul atau brosur yang dibagikan ke masyarakat,” jelasnya.

Semangat serupa juga tumbuh di Kabupaten Purwakarta. Misrawati, anggota JEKATA Purwakarta, menjelaskan bahwa JEKATA terus mengupayakan terwujudnya ruang aman dengan melibatkan masyarakat secara lebih luas.

“Kami sering mengadakan sosialisasi tentang kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak kepada masyarakat,” ujarnya.

Namun, menurut Misrawati, perjuangan mereka tidak selalu berjalan mulus. Kendala bisa datang baik dari korban maupun dari instansi terkait yang memiliki wewenang.

“Terkadang ada korban yang tidak mau terbuka untuk bercerita karena takut. Selain itu, tidak ada fasilitas perlindungan bagi korban dan pendamping di tingkat desa. Peran instansi terkait untuk menindaklanjuti kasus kekerasan juga masih minim,” imbuhnya.

Meski masih banyak kendala, semangat Mariana, Misrawati, dan anggota JEKATA lainnya dalam mewujudkan ruang aman bagi perempuan tidak pernah surut.

“Saya dan teman-teman selalu merasa terpanggil untuk terus membantu perempuan lain, terutama mereka yang menjadi korban kekerasan,” ujar Mariana.

“JEKATA akan terus berusaha menciptakan keadilan dan kesetaraan bagi perempuan, baik di bidang politik, ekonomi, hukum, kesehatan, pendidikan, agama, sosial budaya, maupun lingkungan hidup,” pungkas Misrawati.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Pelatihan remaja anggota PIK-R dari 3 sekolah di Kab. Pangalengan untuk cegah pernikahan usia anak

Galeri

Pemahaman tentang kesehatan alat reproduksi, pencegahan stunting, hingga bahaya pernikahan usia anak didapatkan oleh 65 anggota Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang merupakan siswa dari 3 SMP di Kecamatan Pangalengan(18/11). Dukungan dari Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kab. Bandung diberikan saat pelatihan sebagai narasumber bagi para peserta.

Pelatihan bagi para remaja jadi bagian dari program kolaborasi Lembaga Penjamin Simpanan(LPS) Peduli Bakti Bagi Negeri bersama CARE Indonesia untuk pencegahan pernikahan usia anak yang jadi salah satu penyebab anak beresiko stunting.

Pelibatan remaja menjadi implementasi pendekatan peer-to-peer dalam mencegah pernikahan usia anak. Selanjutnya, seluruh peserta dapat menyebarkan pengetahuan yang mereka dapatkan dan menjadi edukator sebaya bagi teman-temannya di sekolah dan lingkungan sekitar.

The Paris Agreement Turns 10: COP 30 as the People’s COP

Publikasi

Gender Integration in NDC 3.0

Publikasi

Kolaborasi upaya penurunan prevalensi stunting di Kecamatan Pangalengan tunjukan progres baik dan apresiasi

Galeri

Upaya percepatan penurunan prevalensi stunting di Kecamatan Pangalengan diapresiasi Dinas Kesehatan Kab. Bandung yang dikemukakan saat kegiatan pemantauan dan penyampaian progres pelaksanaan program di Aula Kantor Desa Margamukti (6-7/11). Kerja bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Peduli Bakti Bagi Negeri dan CARE Indonesia ini hingga Oktober 2025 menunjukan, 100% anak mengalami kenaikan tinggi badan dan 86,3% anak mengalami kenaikan berat badan.

Pengembangan ekonomi sirkular pengelolaan sampah organik dengan budidaya maggot dan bioflok di kebun gizi desa juga membuahkan hasil. Kunjungan ke kebun gizi di 2 desa dan penyampaian progres program dilakukan CARE Indonesia bersama LPS yang turut dihadiri lebih dari 80 peserta dari perwakilan instansi Pemerintah Kab. Bandung, pemerintah Desa Margamukti dan Desa Sukamanah, Forkopim Kecamatan Pangalengan, serta para peserta program.

Komitmen CARE Indonesia Merespon Kebencanaan Melalui Peningkatan Kapasitas Tim

Galeri

Komitmen CARE Indonesia untuk merespon kebencanaan dan situasi darurat ditunjukan dengan peningkatan kapasitas tim CARE Indonesia dalam memahami standar minimum respon kemanusiaan sesuai dengan standar Sphere (4-5/11).

25 tim CARE Indonesia mendapat pemahaman secara teoritis, diskusi kelompok, simulasi, dan praktik penerapan respon terkait Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) serta hunian.

Perempuan Pejuang Mangrove: Jaga Mangrove dan Harapan untuk Pesisir Berakit

Galeri

Cerita baik dan pembelajaran dari upaya perlindungan ekosistem mangrove di Desa Berakit, Kab. Bintan melalui pemberdayaan perempuan disampaikan sebagai hasil kerja bersama CARE Indonesia (Yayasan CARE Peduli/YCP) dan Yayasan Ecology dengan dukungan Traveloka, melalui seminar umum (3/11) di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang. Lebih dari 100 peserta mengikuti seminar umum, yang merupakan perwakilan dari instansi pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Kab. Bintan, akademisi, mahasiswa dan perwakilan masyarakat dan kelompok perempuan. Paparan dari empat narasumber yakni dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kepri, Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) UMRAH, CARE Indonesia dan Yayasan Ecology yang dilanjutkan sesi diskusi, menyampaikan manfaat langung yang didapat masyarakat, termasuk kelompok perempuan di Desa Berakit serta menginspirasi implementasi kerja bersama serupa di desa pesisir lainnya.

Beberapa produk hasil dari Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Melati dan Tenggiri dari Desa Berakit ditampilkan di area seminar umum. Produk seperti kain dengan pewarnaan alami (ecoprint), berbagai keripik, dodol dan sirup dari mangrove serta berbagai olahan ikan seperti kerupuk dan bakso, menjadi bukti nyata pengembangan ekonomi anggota kelompok perempuan yang bisa dicicip dan dibeli langsung oleh peserta seminar. Kedepannya, KUEP akan mengembangkan jumlah produksi produk dan memperluas pemasaran melalui kemitraan lokal.

Kolaborasi Anak Muda di Kab. Sigi Wujudkan Komunitas yang Lebih Tangguh

Cerita

Menurut kajian UNFPA berjudul Indonesian Youth in the 21st Century (2014), anak muda merupakan aset penting yang menjadi modal pembangunan negara. Namun, kelompok ini masih jarang dilibatkan dalam partisipasi publik. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa upaya pemberdayaan, terwujudnya kesetaraan gender, dan partisipasi aktif anak muda menjadi hal penting dalam pengembangan generasi muda.

Aldyzar, pemuda Desa Rarampadende, menyadari bahwa saat ini masih cukup sulit mengajak rekan-rekan sebayanya untuk selalu aktif dalam organisasi kepemudaan di tingkat desa. Namun, menurutnya, hal itu bisa diatasi secara perlahan melalui kegiatan olahraga bersama yang juga dapat mempererat keakraban antar-muda-mudi setempat.

“Sepak bola, voli, sepak takraw, dan olahraga lainnya bisa menjadi ajang berkumpul bagi anak muda agar lebih aktif lagi. Namun, kami juga berharap dilibatkan dalam lebih banyak kegiatan pendampingan dan penguatan kapasitas,” ujarnya.

Aldyzar menambahkan, bahwa pelatihan yang pernah ia ikuti, salah satunya pelatihan kepemimpinan, kesetaraan gender, dan komunikasi, sangat bermanfaat karena menjadi ajang berkumpul bagi anak muda dari dua desa. Ia juga menyampaikan bahwa melalui pelatihan yang ia dapat dari program kolaborasi CARE Indonesia (Yayasan CARE Peduli/YCP) dan KARSA Institute, dengan dukungan dari UN Women dan pendanaan dari KOICA, mengajarkan cara memanfaatkan media sosial sebagai alat kolaborasi dan penyebaran pesan kebersamaan.

“Kami sangat senang bisa berkumpul di sini untuk belajar bersama karena kami sudah jarang sekali punya waktu untuk kegiatan seperti ini. Kami juga sadar bahwa anak muda sekarang sangat dekat dengan media sosial. Jadi, anak-anak Desa Pesaku dan Rarampadende berkolaborasi membuat konten bersama,” katanya.

Siti Utami, Facilitator Officer KARSA Institute, menyampaikan bahwa pelibatan remaja di desa bertujuan memperkuat ketangguhan anak muda dan perempuan di Kabupaten Sigi dalam menghadapi kondisi krisis. Menurut Tami, pelatihan peningkatan kapasitas yang melibatkan 30 anak muda dari Desa Pesaku dan Rarampadende (7/10) di Kantor Desa Rarampadende, menjadi salah satu upaya mewujudkan tujuan tersebut.

Lebih lanjut menurut Utami, pelibatan aktif anak muda di dua desa tersebut diharapkan mendorong mereka mengambil peran lebih besar dalam membentuk komunitas yang inklusif dan tangguh. Tak hanya itu, pendampingan dan pelatihan yang dilakukan KARSA bersama CARE ini juga bermaksud untuk mewujudkan kesetaraan gender di masyarakat.

“Harapannya, anak-anak muda di Desa Rarampadende dan Pesaku dapat menumbuhkan semangat kolaborasi sehingga terwujud masyarakat yang tangguh dan menjadi tempat yang nyaman bagi semua,” ujar Utami.

Upaya peningkatan kapasitas anak muda menurut Utami, akan dilanjutkan dengan kegiatan lain seperti kemping di alam terbuka agar mempererat hubungan antar-anak muda dari berbagai desa serta melatih mereka memahami potensi krisis dan langkah pencegahannya.

“Kami ingin anak muda semakin memahami pentingnya toleransi, dialog, dan perdamaian sosial; membangun jejaring lintas desa melalui kegiatan kolaboratif; mengasah kemampuan resolusi konflik serta komunikasi tanpa kekerasan; dan yang terpenting, menumbuhkan rasa kebersamaan, saling menghargai, serta tanggung jawab sosial di antara mereka,” pungkas Utami.

Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika