Search
Close this search box.

Catatan Perjalanan Respon Sumatera Bangkit: Penyediaan Akses Air Bersih Melalui Rehabilitasi Sumur untuk Air di Aceh Tamiang

Cerita

Di tengah genangan banjir yang melanda Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, satu kebutuhan paling mendasar tiba-tiba menghilang dari kehidupan warga, yakni air bersih. Dalam situasi bencana, penyediaan air bersih menjadi prioritas utama karena berhubungan langsung dengan keselamatan dan kesehatan masyarakat. Jumlah dan mutu air yang tidak memadai merupakan penyebab utama berbagai masalah kesehatan masyarakat dalam situasi krisis.

Banjir tidak hanya merendam rumah dan jalan, tetapi juga mencemari hampir seluruh sumber air warga. Sumur-sumur yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan berubah menjadi kubangan lumpur bercampur limbah dan tak lagi layak digunakan, apalagi diminum. Kondisi ini disaksikan langsung oleh Renee Manoppo, Humanitarian & Emergency Response Manager CARE Indonesia, saat melakukan penilaian kebutuhan cepat dalam respons banjir di Aceh Tamiang (10-18/12).

“Sebanyak 76 persen warga mengalami kesulitan akses air bersih. Masyarakat kesulitan mendapatkan air karena sumur-sumur mereka tertutup lumpur yang terbawa banjir. Dalam kondisi bencana, air itu bukan sekadar kebutuhan, tetapi sumber kehidupan,” ujar Renee menceritakan perjalanannya  dari Aceh Tamiang.

Ia menjelaskan, bahkan pada banjir dengan skala yang tidak terlalu besar, sumber air warga hampir pasti tercemar. Namun kondisi di Kuala Simpang jauh lebih parah. Hampir 100 persen sumur warga tercemar lumpur, kotoran, dan limbah dari saluran pembuangan yang tercampur menjadi satu.

“Kondisi inilah yang membuat bantuan pompa lumpur menjadi sangat krusial. Bukan untuk mengambil air minum secara instan, melainkan sebagai langkah awal menyelamatkan sumur-sumur warga agar kembali layak digunakan,” jelasnya.

Kesadaran akan urgensi air bersih membuat persiapan dilakukan bahkan sebelum tim berangkat ke lokasi. Renee menuturkan, sebelum keberangkatannya ke Kuala Simpang pada 10 Desember 2025, ia berkoordinasi dengan berbagai pihak, salah satunya Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (KAGAMA Care). Renee mendapat informasi bahwa KAGAMA Care berenana memberikan bantuan penyediaan akses air bersih dengan membawa water treatment unit (WTU). Namun menuurt Renee, pihak KAGAMA Care masih kekurangan alat untuk menyedot lumpur dari sumur.

“Karena ada kekurangan alat pompa penyedot itu, kita sediakan dua unit pompa khusus untuk lumpur. Prosesnya tidak sederhana. Air kotor dan lumpur harus dikeluarkan sepenuhnya dari sumur. Setelah itu, sumur direhabilitasi menggunakan tawas dan klorin agar kotoran mengendap dan bakteri mati. Barulah air yang mulai jernih bisa diproses lebih lanjut,” paparnya.

Renee menceritakan, setelah sumur dibersihkan, barulah alat penyedot air dan sistem penyaringan bisa digunakan. Air dari sumur yang telah direhabilitasi kemudian disaring dan melewati proses sterilisasi ultraviolet (UV) untuk membunuh mikroorganisme. Serangkaian pengujian pun dilakukan, mulai dari uji visual, bau, rasa, hingga pengukuran pH dan total dissolved solids (TDS). Uji coba ini dilakukan di Pondok Pesantren Ibnu Hasan, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang yang menjadi posko dari KAGAMA Care.

“Pada saat pengujian, tidak ada yang bersedia meminum langsung air yang telah diolah. Saya memahami kekhawatiran mereka untuk tidak mengambil risiko terkena penyakit. Maka dari itu, berbekal hasil uji yang positif, saya memberanikan diri mencoba air tersebut. Hasilnya, saya tidak merasakan gangguan pencernaan sama sekali,” ujar Renee sembari tersenyum.

Lebih lanjut, Renee menjelaskan, pompa penyedot lumpur ini dapat digunakan secara bergantian dari satu sumur ke sumur lainnya. Setelah satu sumur selesai dibersihkan, pompa dipindahkan ke titik berikutnya di berbagai wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang, seperti Kampung Lando di Kecamatan Rantau, Kampung Sukajadi di Kecamatan Karang Baru, dan Kampung Kuala Simpang di Kecamatan Kota Kuala Simpang. Proses rehabilitasi satu sumur membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam, tergantung kedalaman sumur dan tingkat pencemarannya.

Renee turut menjelaskan, jumlah air bersih yang dihasilkan mencapai 24.000 liter setiap harinya. Menurut perhitungan standar Sphere, jumlah air bersih yang dihasilkan ini bisa mencukupi kebutuhan minimum air bersih sekitar 1.600 orang.

“Hingga Kamis, 18 Desember 2025, mesin ini telah digunakan untuk merehabilitasi empat sumur yang akhirnya bisa dimanfaatkan oleh sekitar 450 orang di berbagai wilayah Aceh Tamiang. Saat ini, pompa penyedot lumpur tersebut kami serahkan kepada tim KAGAMA Care agar proses pembersihan sumur warga dapat terus berlanjut. Kami berharap kedepannya semakin banyak masyarakat yang mendapatkan air bersih dengan akses yang lebih mudah,” pungkasnya.

 

Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika

Menggaungkan Suara Perempuan: #SayaBerani Mengembalikan Ruang Aman Bebas Kekerasan Berbasis Gender

Cerita

Mewujudkan ruang aman bagi perempuan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, baik di ranah keluarga, komunitas, ruang publik, maupun tempat kerja. Kekerasan berbasis gender kerap muncul dalam berbagai bentuk dan situasi, dipengaruhi oleh relasi kuasa yang timpang, norma sosial yang diskriminatif, serta keterbatasan akses terhadap perlindungan dan keadilan. Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP) tahun 2025 menjadi momentum penting untuk menyuarakan upaya mengembalikan ruang aman yang bebas dari kekerasan bagi perempuan di Indonesia. Melalui kampanye ini, CARE Indonesia bersama mitra dan kelompok masyarakat, termasuk kelompok perempuan, menyampaikan praktik baik dan hasil kerja bersama dalam menciptakan ruang aman bebas kekerasan berbasis gender mulai dari lingkup keluarga, komunitas, hingga ruang publik dan tempat kerja.

Urgensi upaya ini tercermin dari Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2024 yang mencatat peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan sebesar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total 330.097 kasus. Kekerasan yang dialami perempuan, baik di rumah, lingkungan sosial, maupun dunia kerja, berdampak luas terhadap kualitas hidup, rasa aman, serta partisipasi perempuan dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Di tempat kerja, kekerasan dan pelecehan yang dialami pekerja perempuan juga berdampak pada produktivitas. Studi ILO (2021) menunjukkan kekerasan di tempat kerja dapat menurunkan produktivitas hingga 11 persen, sementara peningkatan kesejahteraan pekerja terbukti mampu meningkatkan produktivitas sebesar 6 hingga 9 persen (INDEF, 2022).

Melalui kampanye #SayaBerani, CARE Indonesia mengajak semua pihak untuk terlibat dalam mengembalikan ruang aman dan meningkatkan kualitas hidup perempuan, termasuk pekerja perempuan, agar dapat hidup tanpa rasa takut, berdaya secara ekonomi, dan bebas dari kekerasan. Pesan utama kampanye ini menegaskan setiap perempuan Indonesia berhak atas rasa aman, kesempatan yang setara, serta lingkungan yang menghormati martabatnya baik di rumah, di komunitas, maupun di tempat kerja yang inklusif. Dengan memastikan perempuan didengar, dihargai, dan dilindungi, kita membuka jalan bagi generasi mendatang untuk tumbuh dalam masyarakat yang adil, setara, dan penuh peluang.

Tantangan Mengembalikan Ruang Aman Bagi Perempuan

Upaya mengembalikan ruang aman bagi perempuan terkadang menemui kendala. Hal inilah yang juga dialami oleh komunitas Jaringan Pemberdayaan untuk Perempuan Tangguh (JEKATA) selaku paralegal di Kabupaten Purwakarta dan Sukabumi.  Sehingga, momen diskusi bersama dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komnas Perempuan, dan Kementerian PPPA pada Minggu (30/11) dimanfaatkan dengan baik untuk menjelaskan kondisi yang dialami oleh JEKATA.

Ketua JEKATA, Misrawati menyampaikan kesulitan yang dialami oleh kelompoknya saat mendampingi kasus kekerasan terhadap perempuan pada acara Fun Walk di Sudirman-Thamrin, Jakarta kepada perwakilan lembaga yang hadir.

“Kami dari desa dan tidak tahu harus melapor kemana dan ke siapa untuk mendapatkan perlindungan terhadap korban dan saksi kasus kekerasan. Diskusi ini juga membuka ruang bagi kami sebagai paralegal untuk mendapatkan akses dalam menghadapi kasus kekerasan,” tuturnya.

 

Sementara itu Ketua JEKATA Sukabumi, Malasari menyebutkan ketidaktahuan masyarakat di sekitarnya tentang tentang hak-hak perempuan dan bentuk kekerasan terhadap perempuan membuat upaya penyadartahuan dan kolaborasi dengan berbagai pihak terus dilakukan.

“Sejak saat itu saya terus mendalami serta memahami jika perempuan harus bisa mencegah dan melaporkan apapun itu tindak kejahatan terhadap perempuan. Kami juga membangun kolaborasi dengan pemerintah desa, perusahaan, dan lembaga terkait lainnya untuk mengkampanyekan anti kekerasan terhadap perempuan,” ujarnya.

Menanggapi statmen dua Ketua JEKATA, Wakil Ketua LPSK, Sri Nurherwati sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh kedua komunitas itu. Menurutnya, keberadaan JEKATA memberikan akses pendampingan untuk saksi dan korban, bahkan memberikan akses keadilan untuk mendekatkan pada persoalan mengenai bagaimana saksi dan korban ini mendapatkan perlindungan dan keadilan.

“JEKATA memiliki potensi untuk mewujudkan ruang aman karena sesama perempuan bisa saling memberikan dukungan. Kemudian, pelibatan peran masyarakat yang lebih luas termasuk kepada laki-laki untuk bisa turut melakukan kampanye aksi hentikan kekerasan terhadap perempuan. Saya kira LPSK mempunyai peluang untuk bekerja sama dengan JEKATA untuk dapat memberikan perlindungan kepada saksi dan korban, terutama untuk kasus kekerasan terhadap perempuan,” tegasnya.

Komisioner Komnas Perempuan, Daden Sukendar juga menjelaskan jika pencegahan kekerasan terhadap perempuan sehingga terwujudnya ruang aman bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan langkah bersama. “Gerakan ini memerlukan kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari kelompok tingkat desa, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media massa, dan akademisi. Ini menjadi harapan ke depannya, agar penghapusan segala bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan akan tercapai dengan kolaborasi semua pihak,” jelasnya.

Dengan terwujudnya ruang aman bagi perempuan sejatinya bisa menumbuhkan keberanian bagi perempuan untuk semakin berdaya secara ekonomi dan meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan di masyarakat.

Hal ini juga yang disampaikan oleh Asisten Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Pekerja dan Tindak Pidana Perdagangan Orang Kemen PPPA, Priyadi Santosa menyampaikan, perempuan sudah seharusnya mendapatkan ruang aman untuk berekspresi dan berkembang. Hal inilah yang terus diupayakan olehnya selaku bagian dari pemerintah.

“Perempuan harus dipastikan untuk mendapatkan ruang aman. Sehingga itu menjadi tugas kami untuk mewujudkan itu. Kami juga akan selalu mengajak berbagai pihak serta instansi terkait untuk bekerja sama dalam menciptakan ruang aman bagi perempuan. Kami juga sangat setuju dan kami sangat mendukung upaya yang dilakukan oleh JEKATA,” imbuhnya.

Masyarakat turut menyampaikan harapan dan suara melalui statmen daring di website CARE Indonesia serta pohon harapan yang ada pada kegiatan Fun Walk. Sekitar 200 harapan disampaikan oleh masyarakat, mereka juga berharap bisa terlibat aktif dan mendapatkan ruang aman untuk berekspresi dan beraktivitas.

Mengembalikan Ruang Aman Menjadi Investasi Penting Meningkatkan Produktivitas Pekerja Perempuan

Ruang aman bebas kekerasan tidak kalah penting adanya di lingkungan kerja, terutama bagi pekerja perempuan. Penulis dan Aktivis Perempuan, Kalis Mardiasih menyampaikan dalam sesi webinar, jika budaya patriarki yang ada di dunia kerja sudah cukup mengakar. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya kasus kekerasan berbasis gender di tempat kerja. Sehingga keterlibatan laki-laki untuk terlibat aktif di pelatihan gender menjadi hal yang penting.

“Relasi kuasa yang timpang sering dimanfaatkan oleh atasan untuk melakukan kekerasan seksual, sementara stigma terhadap perempuan justru membuat kondisi ini semakin subur. Kultur seksisme yang masih lestari juga menempatkan pekerja perempuan pada posisi yang jauh lebih rentan. Karena itu, pelibatan laki-laki dalam pelatihan kesetaraan gender menjadi sangat penting, agar perubahan budaya dan perlindungan di tempat kerja dapat terwujud secara menyeluruh,” ujar Kalis pada webinar #SayaBerani Turut Andil Mengembalikan Ruang Aman Bagi Perempuan Pekerja Sebagai Wujud Perlindungan Hak Asasi Manusia, (10/12), yang diselenggarakan CARE Indonesia dan Diajeng Tirto.

Menanggapi hal itu, Direktur Bina Pemeriksaan Norma Ketenagakerjaan Kemnaker, Rinaldi Umar menyampaikan, pemerintah telah menetapkan mandat kepada perusahaan untuk membentuk Tim Satuan Tugas (satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di tempat kerja melalui Kepmenaker No. 88 Tahun 2023.

“Sejak regulasi ini diterapkan, sudah ada 44 perusahaan yang membentuk Satgas. Iya, kalau melihat angkanya memang masih minim. Namun, kita juga harus melihat fungsi-fungsi kementerian lain yang berjalan beriringan, seperti pembentukan Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan (RP3). Keduanya saling melengkapi, ada perusahaan yang sudah membentuk Satgas meski belum memiliki RP3, dan ada pula yang mulai membangun RP3 meski Satgas belum terbentuk,” ujarnya.

CEO CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang menjelaskan, upaya untuk mewujudkan ruang aman bagi perempuan terus dilakukan, bukan hanya sebagai pemenuhan aspek sosial, tetapi juga menjadi investasi penting bagi korporasi untuk memastikan produktivitas dan kualitas hidup para pekerja, termasuk pekerja perempuan. Menurut Abdul, upaya mengembalikan ruang aman dengan mencegah dan menangani kasus kekerasan berbasis gender di tempat kerja, dilakukan pada salah satunya program bersama pabrik garmen serta pada perkebunan teh (Community Development Forum (CDF)).

“Pada industri garmen, CARE Indonesia mendampingi mitra pabrik garmen, yakni PT. Glory Industrial Semarang dan PT. Dasan Pan Pasifik. Bersama, kami memperkuat satgas pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender, yang melibatkan manajemen dan pekerja untuk membangun tempat kerja yang aman bagi perempuan. Kemudian pada perkebunan teh di Jawa Barat, kami menghadirkan kolaborasi multi pihak melalui pembentukan dan penguatan Community Development Forum. Forum ini menjadi wadah bagi pemetik teh, pemerintah desa dan kecamatan, serta perusahaan perkebunan teh untuk memperkuat kolaborasi, pembentukan lingkungan kerja yang aman bebas kekerasan, kesetaraan akses, pemberdayaan sekaligus meningkatkan pendapatan perempuan melalui pembentukan kelompok usaha,” ujar Abdul.

Komitmen untuk memberikan ruang aman bagi pekerja perempuan juga disampaikan oleh Anggota Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Gender-Kekerasan Seksual dari PT Dasan Pan Pasific Sukabumi, Ima Trisnawati yang berkomitmen untuk selalu berpihak pada korban. “Hentikan normalisasi kekerasan berbasis gender dan kekerasan seksual di tempat kerja. Kami, Satgas Bipartit, siap menerima, menindaklanjuti, dan menangani setiap pengaduan dengan serius, aman, dan berpihak pada korban,” tegasnya.

Senada dengan itu, Asisten Afdeling Perkebunan PTPN I, Unit Malabar, Yadi Hariyadi mewakili perusahaan juga menyampaikan komitmennya untuk memberikan ruang aman bagi para pemetik teh perempuan. Menurutnya, komitmen perusahaan untuk memberikan kesempatan yang antara pekerja perempuan dan laki-laki harus terus dilaksanakan.

“Kami akan terus menjunjung nilai-nilai kesetaraan, rasa aman, dan kehormatan kepada setiap hak pekerja, terkhusus kepada pekerja perempuan. Kami juga menyampaikan komitmen perusahaan untuk menguatkan dan mendorong untuk pencegahan kekerasan berbasis gender,” tegasnya.

Pemetik teh dan anggota CDF Perkebunan Malabar, Entin turut menyampaikan harapannya saat mengikuti rangkaian kampanye 16 HAKTP, agar komitmen yang disampaikan oleh perusahaan bisa terlaksana dengan baik dan menjadikan tempat yang aman bagi perempuan untuk bekerja. “Saya sangat senang bisa belajar banyak tentang gender dan semakin mengerti kalau perempuan juga bisa melakukan apa yang laki-laki kerjakan. Saya juga berharap perempuan bisa mendapatkan perlindungan dari kasus kekerasan berbasis gender baik di tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan,” harapnya.

Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika

Catatan Perjalanan Respon Sumatera Bangkit: Kebutuhan Air Bersih, Tempat Tinggal dan Peralatan Kebersihan Bagi Penyintas di Aceh Tamiang

Cerita

Lebih dari dua minggu pasca banjir dan longsor yang terjadi di 3 provinsi di Sumatera, kebutuhan air bersih, peralatan kebersihan dan obat-obatan semakin mendesak. Perjalanan tim respon kedaruratan CARE Indonesia saat melakukan Rapid Needs Assessment (RNA) dan Rapid Gender Assessment (RGA) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh memperlihatkan akses jalan yang masih sulit dilewati bahkan jalanan terputus. Kerusakan rumah dan fasilitas umum, listrik yang masih padam, sisa puing, kayu-kayu besar dan sampah yang terserak terlihat disepanjang perjalanan. Masih tidak beroperasinya saluran air minum ke rumah-rumah membuat para penyintas, termasuk perempuan dan anak, sulit melakukan aktivitas sehari-hari.

Walking together, the CARE team and Sufika visited the land where her house once stood

Renee Manoppo, Humanitarian & Emergency Response Manager, CARE Indonesia menggambarkan, jalanan yang ia lalui dari Medan menuju Kabupaten Aceh Tamiang (10/12)  masih terdapat sisa lumpur di jalan-jalan utama, seperti di jalanan Kuala Simpang, yang mempersulit akses ke banyak desa. “Batas lumpur akibat banjir bandang kemarin bisa mencapai 5 meter disini. Terlihat dari tanda di pohon-pohon besar sepanjang jalan,” ujar Renee. Ia menambahkan, masih padamnya listrik di Aceh Tamiang mempersulit aktivitas penilaian dan dokumentasi yang sedang ia lakukan.

A survivor in Teluang Hemlet washed his hands using makeshift stored water collected from the nearby river

Dusun Teluang, Desa Sungai Liput, Kabupaten Aceh Tamiang menjadi lokasi pertama yang dikunjungi tim respon di Provinsi Aceh. Renee berkesempatan berdisuksi dengan Kepala Dusun Teluang, Bapak Sayuti. Kepada Renee, Sayuti menceritakan saat banjir melanda dusunnya, ia mengevakuasi 50 Kepala Keluarga yang ada di dusunnya selama 12 jam. “Kita evakuasi dengan peralatan seadanya. Ada sampan kayu dan drum besi untuk membawa warga keluar dusun. Rumah semua rusak berat dan sampai saat ini tidak ada air bersih,” ujar Sayuti.

Hasil pengamatan Renee di Dusun Teluang, warga desa sudah kembali ke dusun. Sejalan dengan penjelasan Sayuti, warga Dusun Teluang saat ini tinggal di tenda karena 30 Kepala Keluarga mengalami kerusakan berat dari bangunan rumahnya sehingga tidak layak huni. Kekurangan air bersih juga menjadi kendala utama. Warga menyimpan air dari sungai dan mengendapkannya untuk dipakai kebutuhan keseharian seperti MCK, masak dan mencuci.

The remains of Abdullah’s house in Pahlawan Hemlet, left behind after the flood

Mendesaknya kebutuhan peralatan higenitas dan air bersih juga disampaikan Abdullah, relawan dari lembaga sosial masyarakat, Yayasan Bale Jurong yang juga menjadi penyintas bencana banjir bandang. Kepada tim CARE, Abdullah menceritakan masyarakat di desa nya sangat memerlukan air bersih serta obat-obatan. Jumlah pengungsi menurutnya diperkirakan mencapai ratusan orang, termasuk ia dan keluarga karena rumahnya hanyut terbawa arus banjir bandang. Menurut Abdullah, para penyintas di desanya sementara ini menempati rumah-rumah warga lain atau keluarga yang tidak mengalami kerusakan serta membangun tenda-tenda seadanya.

“Untuk saat ini warga butuh rumah bagi yang rumahnya hancur. Serendahnya tenda pun bisa. Saat ini listrik mati di sebagian wilayah,” ujar Abdullah melalui pesan singkat yang ia kirimkan ke tim CARE Indonesia (7/12).

Abdullah menambahkan, tempat penampungan sementara sudah ada, namun para pengungsi masih tercampur antara anak-anak, orang dewasa perempuan dan laki-laki serta lansia. Bantuan yang berasal dari wilayah lain di Sumatera sudah mulai berdatangan seperti beras, mi instan dan air bersih, tetapi jumlahnya masih sangat terbatas. “Kalau masalah obat-obatan masih minim kali. Semuanya masih minim kali, pak,” ungkap Abdullah.

Sufika stood at the empty site of her former home

Terbatasnya air bersih, sarana sanitasi dan peralatan rumah tangga juga disampaikan Ibu Sufika (46), penyintas di Dusun Citra, Desa Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Kepada tim CARE, Sufika menceritakan kejadian banjir bandang yang menghanyutkan rumah nya terjadi pukul 04.00 dini hari tanggal 26 November 2025. Menurutnya, air datang dan naik dengan cepat sampai rumahnya terbawa arus.

Ia bersama suami dan anak laki-lakinya kini tinggal di area pengungsian di Jembatan Baru Kuala Simpang. Suami nya pun membuat tenda dari terpal di dekat lokasi rumah lamanya untuk area beristirahat dan menghindari debu dari lumpur yang sudah mengering di area pengungsian.

“Ada lebih dari 10 rumah di dekat rumah saya, sekarang sudah tidak ada lagi. Harapan saya bisa ada bantuan bangunan rumah untuk kami. Air bersih disini juga payah. Kami menggunakan air mineral dari bantuan yang ada untuk minum. Kebutuhan seperti tilam juga perlu. Banyak anak kecil dan orang tua disini,” ujar Sufika.

Sufika menjelaskan keterbatasan sarana sanitasi seperti toilet juga dirasakan. Menurutnya, toilet hanya ada di area pengungsian namun tidak ada air yang cukup. Jumlah yang terbatas membuat ia harus mengantri bisa lebih dari 1 jam jika ingin menggunakan toilet.

Meski dalam keterbatasan harapan Sufika untuk bangkit kembali tetap ada. Ia berharap bisa kembali berjualan seperti sebelum bencana terjadi dan kembali ke kondisi seperti sediakala. “Mudah-mudahan bisa jualan seperti dulu lagi. Meskipun keadaan bencana begini, kita harus tetap semangat dan selalu untuk berjuang dari awal sampai akhir. Allah selalu mendukung kita semua. Kita sebagai perempuan harus kuat dan tegar hadapi cobaan yang datang ini,” kata Sufika.

Irma from Dalam Village recounts her experience as a flood survivor to CARE

Sama seperti Sufika, Irma di Desa Dalam, Kab. Aceh Tamiang, menceritakan, meski belakang rumahnya jebol diterjang banjir bandang hingga membuat lokasi rumah bergeser hingga 30 meter, ia tetap merasa bersyukur peralatan yang ia pakai untuk membuat kripik sebagai jualan masih ada dan banyak tetangga yang saling membantu. “Alhamdulillah, mesin buat cari uang masih ada. Tetangga juga banyak bantu kasih alat masak, meski kondisi seadanya. Ada juga yang kasih baju dan pakaian dalam sampai pembalut, walaupun tidak banyak,” ujarnya. Keterbatasan air bersih, toilet serta tidak adanya tempat tinggal yang layak yang menjadi tantangan bagi Irma. Ia berharap bantuan terutama akses air bersih dan adanya toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan bisa segera tersedia untuk kebutuhan sehari-hari.

Urgensitas kebutuhan air bersih, peralatan kebersihan, ketersediaan toilet, serta peralatan rumah tangga yang merata dari hasil penilaian cepat kebutuhan berbasis gender di Kabupaten Aceh Tamiang menurut Renee akan menjadi landasan pendistribusian bantuan dari CARE. Bersama mitra lembaga sosial masyarakat lokal, CARE akan mendistribusikan bantuan yang responsif gender ke lebih dari 1,200 Kepala Keluarga di 2 kecamatan meliputi peralatan rumah seperti matras, sarung, hygiene kit, pasokan air bersih dengan truk, toilet sementara yang terpisah untuk perempuan dan laki-laki, dukungan konseling serta edukasi pencegahan kekerasan berbasis gender sebagai respon jangka pendek hingga 6 bulan paska bencana.

Penulis: Swiny Adestika
Sumber Foto: Renee P. Manoppo

CARE Indonesia dan PMI Distribusikan Paket Kebersihan dan Asesmen Cepat Berbasis Gender Bagi Penyintas di Sumatera

Berita

Statmen dari Dr. Abdul Wahib Situmorang, CEO Yayasan CARE Peduli (CARE Indonesia)

Hujan ekstrem dengan intensitas tinggi yang terjadi berulang selama beberapa hari telah memicu bencana hidrometeorologi berskala besar. Banjir bandang, tanah longsor, dan erosi tepi sungai beserta dengan material kayu melanda Aceh (18 kabupaten/kota), Sumatra Utara (17 kabupaten/kota), dan Sumatra Barat (15 kabupaten/kota). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 8 Desember 2025 pukul 17:30 WIB, tercatat sekitar 961 orang meninggal dunia, 293 orang masih hilang, dan 5.000 orang mengalami luka-luka. Gangguan luas pada jalur transportasi memperlambat akses menuju wilayah terdampak.

Yayasan CARE Peduli (YCP) terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan Indonesia Humanitarian Country Team (IHCT) untuk melakukan penilaian kebutuhan bersama. Operasi kemanusiaan cepat bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dan mitra lain dengan memprioritaskan bantuan penyelamatan nyawa, program responsif gender, serta aksi pemulihan awal berdasarkan bukti lapangan yang telah tervalidasi.

CARE bersama PMI Sumatera Barat telah mendistribusikan bantuan pada 7 Desember 2025, berupa paket kebersihan sebanyak 115 paket kepada 115 kepala keluarga (KK) ke Desa Pancuang Taba, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Paket kebersihan terdiri dari ember, sabun, pasta gigi, sikat gigi dewasa, sampo, detergen bubuk, pembalut, dua unit jerigen ukuran 5L, dan gayung. Bantuan tanggap darurat tambahan juga akan didistribusikan di Sumatera Barat, meliputi 550 paket kebersihan dan makanan, 450 paket keluarga, serta layanan pengiriman air dengan kapasitas harian 15.000 liter.

Pengumpulan data lapangan secara langsung terkait kebutuhan berbasis gender agar tepat sasaran, akan dilakukan CARE melalui Rapid Needs Assessment (RNA) dan Rapid Gender Assessment (RGA) di Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatra Barat untuk meninjau eskalasi dampak bencana yang terjadi di lokasi tersebut. Bantuan untuk fase pemulihan jangka pendek dan menengah dalam periode 60-90 hari akan dilakukan CARE, bekerja bersama pemerintah daerah dan para mitra sesuai hasil penilaian cepat berbasis gender yang dilakukan.

Statmen Penyintas

“Meski rumah hanyut disapu banjir, saya bersuyukur kelima orang anak-anak saya semuanya selamat. Saya mengucapkan banyak terima kasih untuk CARE Indonesia dan PMI sudah memberikan bantuan alat kebersihan yang bisa digunakan untuk membersihkan diri.”

Afri Yeni (49), Warga ke Desa Pancuang Taba, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: Suara #SayaBerani Mengembalikan Ruang Aman Bebas Kekerasan Bagi Perempuan Digaungkan

Galeri

Lebih dari 1.500 partisipan program, anggota mitra dan komunitas perempuan bersama CARE Indonesia dari Jakarta, Kab. Sukabumi, Kab. Demak, Kab. Purwakarta, dan Kab. Bandung serta publik umum menyuarakan #SayaBerani Mengembalikan Ruang Aman Bebas Kekerasan bagi Perempuan. Berbagai kegiatan secara daring dan luring dilakukan mendukung kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP).

Kegiatan kampanye digital, jalan santai, games, diskusi publik, dan webinar dilakukan CARE dengan dukungan para mitra seperti IFI, Tirto.id dan Diajeng Tirto (25/11-14/12). Rangkaian kegiatan menjadi ruang bagi komunitas, termasuk perempuan, untuk membangun kesadaran bersama, memperkaya pemahaman, menyebarkan informasi edukasi untuk tanpa henti mencegah kekerasan berbasis gender, pemberdayaan perempuan termasuk pemberdayaan ekonomi serta bisa hidup tanpa rasa takut.

#SayaBerani Turut Andil Kembalikan Ruang Aman Bebas Kekerasan Berbasis Gender

Galeri

Mengembalikan ruang aman tanpa kekerasan berbasis gender, khususnya terhadap perempuan disuarakan CARE Indonesia dalam 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP).

Bersama perwakilan Jaringan Pemberdayaan untuk Perempuan Tangguh (JEKATA) dari Kab. Sukabumi dan kab. Purwakarta, Satgas penanganan dan pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Kekerasan Seksual (KBG-KS) dari pabrik garmen di Kab. Sukabumi, CARE Indonesia mengajak publik menyuarakan ruang aman bagi perempuan dan menolak Kekerasan Berbasis Gender di Car Free Day Sudirman – Thamrin, Jakarta (30/11), didukung Tirto.id & Diajeng.

Diskusi juga dilakukan bersama perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Komnas Perempuan, serta perwakilan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mendukung ruang aman bagi perempuan di komunitas dan tempat kerja. Peserta pun berpartisipasi mempelajari bahasa isyarat BISINDO hingga mengikuti berbagai permainan di stan CARE Indonesia bersama Institute Francais Indonesia (IFI).

#SayaBerani Kisah Kelompok Perempuan Mengembalikan Ruang Aman Bebas Kekerasan Berbasis Gender

Cerita

Data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) menunjukkan terdapat 2.808 kasus kekerasan di Jawa Barat pada tahun 2025, dengan 2.340 orang perempuan yang menjadi korbannya. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat masih banyak korban kekerasan yang enggan melaporkan pengalaman mereka karena merasa belum memiliki tempat yang aman.

Kondisi yang tidak aman dan tidak adil bagi perempuan korban kekerasan ini mendorong perempuan di Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Sukabumi untuk aktif dalam kelompok bernama Jaringan Pemberdayaan dan Perempuan Tangguh (JEKATA) yang menjadi bagian dari kerja kolaborasi CARE Indonesia bersama mitra dalam menguatkan kesetaraan gender di tingkat komunitas. Kehadiran kelompok JEKATA di dua kabupaten menjadi angin segar bagi perempuan untuk semakin dekat dengan hak-haknya.

Mariana, anggota JEKATA Sukabumi, menjelaskan bahwa kelompok ini terbentuk karena kurangnya ruang aman bagi perempuan. Akibatnya, korban sering kali tidak berani melapor ketika terjadi kekerasan terhadap perempuan maupun anak. Menurut Mariana, JEKATA hadir sebagai wadah bagi perempuan untuk berjuang bersama membela hak-hak mereka.

“Di JEKATA, kami bisa berkumpul dan belajar tentang berbagai hal seperti wirausaha dan pelatihan pendampingan kasus kekerasan. Maka dari itu, JEKATA menjadi wadah untuk memperjuangkan hak-hak perempuan,” ujarnya.

Mariana menyampaikan bahwa JEKATA pernah mendampingi seorang perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kasus ini terungkap setelah kelompok menerima laporan dari klinik tempat korban bekerja. Menindaklanjuti kejadian itu, JEKATA berkolaborasi dengan Lembaga Kerja Sama (LKS) Bipartit dan Satgas penanganan kekerasan berbasis gender – kekerasan seksual (KBG-KS) tempat korban bekerja untuk menangani laporan dan memberikan pendampingan baik secara psikologis maupun jalur legal.

Berdasarkan laporan tersebut, Mariana dan anggota JEKATA lainnya mendampingi korban untuk melapor ke pemerintah desa dan kepolisian setempat. Korban juga dibawa ke RSUD Pelabuhan Ratu, Sukabumi untuk melakukan visum. Setelah proses pendampingan, kasus tersebut akhirnya dimediasi oleh pihak kepolisian dan berakhir damai.

Mariana menambahkan bahwa perjuangan kelompoknya tidak mudah dan kerap menemui kendala, seperti keterbatasan biaya operasional saat pendampingan, respons dari instansi terkait yang kurang cepat, serta lokasi korban yang jauh dari sekretariat JEKATA.

“Kami menyadari bahwa perjuangan ini tidaklah mudah dan memiliki banyak tantangan. Meski begitu, kami terus berusaha mengampanyekan pesan-pesan kesadaran untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan. Biasanya kami sampaikan lewat kumpul-kumpul atau brosur yang dibagikan ke masyarakat,” jelasnya.

Semangat serupa juga tumbuh di Kabupaten Purwakarta. Misrawati, anggota JEKATA Purwakarta, menjelaskan bahwa JEKATA terus mengupayakan terwujudnya ruang aman dengan melibatkan masyarakat secara lebih luas.

“Kami sering mengadakan sosialisasi tentang kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak kepada masyarakat,” ujarnya.

Namun, menurut Misrawati, perjuangan mereka tidak selalu berjalan mulus. Kendala bisa datang baik dari korban maupun dari instansi terkait yang memiliki wewenang.

“Terkadang ada korban yang tidak mau terbuka untuk bercerita karena takut. Selain itu, tidak ada fasilitas perlindungan bagi korban dan pendamping di tingkat desa. Peran instansi terkait untuk menindaklanjuti kasus kekerasan juga masih minim,” imbuhnya.

Meski masih banyak kendala, semangat Mariana, Misrawati, dan anggota JEKATA lainnya dalam mewujudkan ruang aman bagi perempuan tidak pernah surut.

“Saya dan teman-teman selalu merasa terpanggil untuk terus membantu perempuan lain, terutama mereka yang menjadi korban kekerasan,” ujar Mariana.

“JEKATA akan terus berusaha menciptakan keadilan dan kesetaraan bagi perempuan, baik di bidang politik, ekonomi, hukum, kesehatan, pendidikan, agama, sosial budaya, maupun lingkungan hidup,” pungkas Misrawati.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Pelatihan remaja anggota PIK-R dari 3 sekolah di Kab. Pangalengan untuk cegah pernikahan usia anak

Galeri

Pemahaman tentang kesehatan alat reproduksi, pencegahan stunting, hingga bahaya pernikahan usia anak didapatkan oleh 65 anggota Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang merupakan siswa dari 3 SMP di Kecamatan Pangalengan(18/11). Dukungan dari Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kab. Bandung diberikan saat pelatihan sebagai narasumber bagi para peserta.

Pelatihan bagi para remaja jadi bagian dari program kolaborasi Lembaga Penjamin Simpanan(LPS) Peduli Bakti Bagi Negeri bersama CARE Indonesia untuk pencegahan pernikahan usia anak yang jadi salah satu penyebab anak beresiko stunting.

Pelibatan remaja menjadi implementasi pendekatan peer-to-peer dalam mencegah pernikahan usia anak. Selanjutnya, seluruh peserta dapat menyebarkan pengetahuan yang mereka dapatkan dan menjadi edukator sebaya bagi teman-temannya di sekolah dan lingkungan sekitar.

The Paris Agreement Turns 10: COP 30 as the People’s COP

Publikasi

Gender Integration in NDC 3.0

Publikasi