“Sekitar 50 menit saya tertimbun reruntuhan rumah. Mata, hidung, mulut, dan telinga saya sudah tertutup debu dan pasir. Saya bernapas pelan sekali melalui hidung karena takut debunya semakin masuk terlalu dalam. Puji Tuhan, saya bisa bertahan sampai akhirnya anak saya yang kecil melihat tangan saya yang keluar dari reruntuhan rumah,” ujar Yolenta.
Ingatan tentang pagi itu masih melekat dalam benaknya. Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Saat gempa terjadi sekitar pukul lima pagi, Yolenta sedang tertidur di kamar rumahnya di Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah.
Guncangan yang terjadi tiba-tiba membuatnya terbangun. Suami dan kedua anaknya yang berada di kamar lain berhasil keluar lebih dahulu. Namun, Yolenta tidak sempat menyusul. Lantai yang dipijaknya bergoyang, sementara sebagian bangunan rumah mulai runtuh.
“Waktu itu saya sedang tidur, terus terbangun gara-gara gempa. Suami dan anak saya yang tidur di kamar lain sudah bisa keluar. Saya coba mencari jalan keluar yang lain, tetapi tidak berhasil. Bahkan, ada bagian rumah yang sudah jatuh. Saya terjebak di dalam rumah dan akhirnya tertimpa reruntuhan,” katanya.
Di bawah reruntuhan, Yolenta mulai kesulitan mempertahankan kesadarannya. Namun, ia terus berusaha mencari cara agar keluarganya mengetahui bahwa dirinya masih hidup. Hampir 50 menit ia mengayunkan lengan kanannya. Hanya bagian tubuh itu yang masih terlihat dari balik reruntuhan. Hingga kemudian, perlahan terdengar suara sang anak memanggil namanya.
“Pelan-pelan saya mendengar suara anak memanggil nama saya. Waktu itu anak saya yang sedang digendong suami langsung melompat menuju tangan saya. Puji Tuhan, saya sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk bangkit lagi,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Yolenta, keselamatan keluarganya menjadi alasan untuk terus melangkah. Meski rumah rusak dan sebagian besar barang miliknya tidak lagi dapat digunakan, ia tidak ingin berlama-lama larut dalam keadaan.

Menata Kembali yang Dimiliki
“Saya bersyukur suami dan kedua anak saya masih diberi kesehatan. Kami bisa berusaha untuk bangkit kembali, memulai semuanya kembali. Meskipun sementara kami tinggal di tenda, tetapi kami akan berusaha untuk terus maju,” ujarnya dengan nada optimistis.
Kini, Yolenta perlahan mulai menata kembali kehidupannya bersama keluarga. Salah satunya dengan memanfaatkan sumber penghidupan yang masih bisa mereka kelola, termasuk kebun cengkeh dan hasil kebun lainnya.
“Sekarang saya mengelola cengkeh dan hasil kebun lainnya bersama saudara. Kalau pohon cengkeh punya saya, sekarang masih belum bisa dimanfaatkan dan butuh waktu untuk menghasilkan keuntungan,” imbuhnya.
Cengkeh menjadi salah satu komoditas yang diusahakan masyarakat di Kabupaten Nagekeo. Bagi Yolenta, kebun bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga menjadi salah satu harapan untuk kembali membangun kehidupan setelah gempa.
Di sisi lain, kehidupan sehari-hari Yolenta dan keluarganya masih jauh dari kondisi sebelum gempa. Banyak barang di rumah yang rusak, mulai dari peralatan dapur, pakaian, hingga kebutuhan lainnya.
“Banyak barang yang sudah tidak bisa dipakai lagi. Seperti baju, yang tersisa hanya yang saya pakai waktu itu. Sekarang saya dan keluarga tinggal sementara di tenda di halaman rumah saudara,” tuturnya.
Di tengah kondisi tersebut, peralatan dan barang-barang sederhana untuk menjalani aktivitas sehari-hari menjadi penting. Yolenta pun lega ketika ia menerima CARE Package for Emergency (CP4E) di Desa Ngera.
Menurutnya, berbagai perlengkapan di dalam paket tersebut membantu keluarganya memenuhi kebutuhan dasar selama berada dalam situasi darurat. Peralatan memasak menjadi salah satu yang paling ia rasakan manfaatnya.
“Terima kasih. Ini sangat berguna bagi kami. Kami jadi bisa memasak lebih mudah karena ada kompor, piring, gelas, sendok dan lainnya. Ada juga terpal dan tali untuk dipakai membuat tenda yang lebih besar lagi,” pungkasnya.
Bagi Yolenta, bangkit setelah bencana bukan berarti langsung kembali seperti sebelumnya. Ada rumah yang harus diperbaiki, barang-barang yang perlu diganti, dan sumber penghidupan yang kembali dibangun perlahan.
Namun, seperti tangannya yang terus ia gerakkan dari balik reruntuhan pagi itu, Yolenta memilih untuk terus berusaha. Dari apa yang masih tersisa, ia bersama keluarganya kembali menata kehidupan, satu langkah demi satu langkah.
Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika