Search
Close this search box.

Ketika Penerangan Dari Energi Baru Terbarukan Membantu Memulihkan Rasa Aman Pascabencana

Share it with others

Ketika bencana datang, yang hilang bukan hanya rumah, jalan, atau harta benda. Ada satu hal yang sering luput dari perhatian, padahal dampaknya terasa setiap malam, yakni cahaya. Di Kabupaten Aceh Tamiang, bencana banjir bandang yang melanda wilayah ini November 2025 lalu, tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga melumpuhkan jaringan listrik dan penerangan jalan. Tiang-tiang lampu roboh, kabel putus, dan pasokan listrik sempat terganggu. Begitu malam tiba, desa-desa yang dulunya terang benderang berubah menjadi gelap gulita.

Akses menuju tempat pengungsian, fasilitas umum, dan layanan darurat terhambat. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan perempuan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya, karena minimnya penerangan kerap membuka celah bagi risiko keamanan dan tindak kekerasan di area publik dan area pengungsian yang gelap dan sepi.

Mariyam, salah satu penyintas bencana banjir di Aceh Tamiang, menceritakan bagaimana ia dan keluarganya menjalani hari-hari pascabencana tanpa penerangan yang memadai. “Setelah bencana, banyak kondisi yang berubah. Jalan bisa rusak, akses menjadi terbatas, dan pada malam hari lingkungan menjadi jauh lebih gelap serta sulit untuk dilalui,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketegangan itu semakin terasa bila sewaktu-waktu keluarganya harus kembali mengungsi. “Apalagi kalau sewaktu-waktu kami harus melakukan evakuasi bersama keluarga apabila kondisi kembali memburuk. Dalam situasi seperti itu, penerangan menjadi kebutuhan yang sangat penting,” katanya.

Kisah Mariyam jelas menunjukkan bahwa ketika malam tiba setelah bencana, aktivitas sederhana pun bisa terasa lebih sulit. Akses listrik dan fasilitas penerangan permanen tidak selalu dapat segera dipulihkan, sementara keluarga harus tetap menjalani keseharian di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih. Dalam kondisi seperti ini, sarana penerangan yang cepat tersedia dan mudah dipindahkan bukan sekadar soal cahaya, melainkan membantu keluarga beraktivitas.

Cahaya Menghadirkan Kembali Rasa Aman

Penyediaan akses dan sarana penerangan menjadi perhatian utama dalam respons bencana di Aceh Tamiang oleh CARE Indonesia bersama mitra. Lampu tenaga surya dipilih menjadi bagian dari bantuan respon kebencanaan. Setelah bencana, jaringan listrik utama sering kali tidak bisa diandalkan sepenuhnya, apalagi jika pemadaman berlangsung lama akibat kerusakan infrastruktur. Dengan sumber energi mandiri dari matahari, lampu-lampu ini tetap bisa menyala setiap malam, terlepas dari kondisi jaringan listrik milik negara.

Di Kabupaten Aceh Tamiang, bantuan pascabencana melalui pemasangan 2,500 unit lampu tenaga surya di sepanjang ruang jalan utama di kabupaten tersebut langsung dirasakan manfaatnya oleh keluarga terdampak becana.

Menurut Maryam, dengan adanya lampu di ruas jalan bisa memberikan rasa aman ketika berkegiatan di malam hari. Baik lampu yang ada di jalan raya atau di jalan perkampungan. Bahkan, dengan adanya lampu di lokasi pengungsian

“Ya, saya merasa lebih aman dan lebih tenang. Sebelumnya, ketika malam tiba, beberapa lokasi terasa sangat gelap sehingga kami khawatir ketika harus bepergian atau melakukan aktivitas di luar rumah,” ungkapnya.

Cahaya yang Sampai ke Dalam Rumah

Penerangan dengan lampu tenaga surya yang memiliki berbagai ukuran dan bentuk ini pun bisa menjangkau hingga ke rumah-rumah keluarga penyintas bencana. Dengan 1 panel surya kecil dan 2 bola lampu, dapat dengan mudah didistribusikan pada keluarga penyintas, untuk memastikan cahaya tetap menyala di dalam rumah, untuk perlahan mengembalikan rumah menjadi ruang aman bagi anggota keluarga.

Melalui paket bantuan 425 CARE PACKAGE® for Emergency (CP4E) yang didistribusikan ke Kabupaten Aceh Tamiang, Sigi, dan Nagekeo, lampu darurat bertenaga surya menjadi bagian dari alat bantuan yang dibagikan kepada keluarga-keluarga yang terdampak bencana.

Ariyanto, salah satu penyintas banjir di Aceh Tamiang yang menerima CP4E, mengatakan jika lampu menjadi bagian dari kebutuhan dasar yang paling mendesak setelah bencana terjadi. Di tengah rumah yang rusak dan listrik yang belum sepenuhnya pulih, lampu kecil ini memberi keluarga sumber cahaya yang bisa diandalkan untuk beraktivitas di malam hari, menjaga anak-anak tetap merasa aman, dan mempermudah persiapan bila sewaktu-waktu harus mengungsi kembali.

“Setelah banjir datang, rumah kami bergeser beberapa meter dari tempat semestinya. Listrik juga terputus, otomatis kami gelap gulita. Lampu darurat yang ada di CP4E sangat membantu kami untuk melihat di malam hari. Lampu tenaga surya ini juga mempermudah untuk mengisi dayanya kembali,” pungkasnya.

Lampu portabel bertenaga surya yang diterima Fransiska di Kabupaten Nagekeo dalam CP4E, menurutnya juga menjadi salah satu alat yang paling berguna karena bisa menjadi solusi saat hari sudah gelap.

“Lampu ini sangat membantu saya dan keluarga untuk berakhtivitas di tenda saat mengungsi. Kami juga tidak perlu repot untuk mengisi batre kalau habis, karena tinggal diletakkan saja di luar agar terkena matahari,” imbuhnya.

Senada dengan Fransiska, Siti, salah satu penerima CP4E di Kab. Sigi, juga merasa sangat terbantu dengan adanya lampu portabel bertenaga surya. Menurutnya lampu ini bisa menjadi solusi bagi anaknya yang tidak bisa tidur dalam kondisi gelap.

“Alhamdulillah kami dapat bantuan ini. Barangnya banyak, ada tempat air, kelambu, lampu, alat masak. Lampunya itu saya langsung jemur, karena anak saya difabel jadi malam itu lampu harus terus menyala,” jelas Siti.

Pengalaman di Kabupaten Aceh Tamiang, Sigi, dan Nagekeo menunjukkan, penerangan berbasis energi baru terbarukan bukan sekadar solusi sementara, melainkan kebutuhan mendasar dalam respons kebencanaan. Ketergantungan pada jaringan listrik yang rentan rusak saat bencana membuat lampu tenaga surya menjadi pilihan yang lebih andal, mandiri, dan cepat dihadirkan bagi masyarakat terdampak. Ke depan, integrasi penerangan EBT sejak fase tanggap darurat perlu terus didorong agar rasa aman bagi penyintas bencana dapat pulih lebih cepat.

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Cerita Terkait Lainnya