Search
Close this search box.

Suarakan Ruang Aman Bagi Pekerja Perempuan di Industri Garmen

Galeri

Tim Lembaga Kerja Sama (LKS) Bipartit dan tim satuan tugas penanganan Kekerasan Berbasis Gender dan Kekerasan Seksual (KBG-KS) di PT. Glory Industrial Semarang Demak, Kabupaten Demak ajak sekitar 150 pekerja untuk wujudkan lingkungan kerja aman bagi pekerja perempuan, merayakan semangat Hari Buruh Internasional.

Dengan dukungan CARE Indonesia bersama mitra, seluruh peserta didorong untuk berani bersuara jika melihat kasus kekerasan di lingkungan kerja. Tim satuan tugas penanganan KBG-KS juga kembali mensosialisasikan tahapan pengaduan kekerasan kepada seluruh peserta.

Cegah Kekerasan pada Perempuan dan Anak di Keluarga

Galeri

Lebih dari 300 peserta yang terdiri dari masyarakat dan tokoh masyarakat di Desa Bumi Kencana dan Desa Sri Gunung, Kab. Musi Banyuasin mengikuti sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta menghentikan bullying (13 & 14/05). Kegiatan ini merupakan inisiasi dari CARE Indonesia dengan dukungan mitra.

Melalui sosialisasi dari tim posko pendamping Kekerasan Berbasis Gender dan Kekerasan Seksual (KBG-KS), peserta mendapat pemahaman tentang bagaimana mencegah kekerasan. Tim posko pendamping KBG-KS juga memperkenalkan anggota dan menyampaikan program kerja yang akan dilakukan kepada seluruh peserta sosialisasi. Diharapkan masyarakat dapat berani melapor jika mengetahui kasus kekerasan, khususnya pada perempuan dan anak.

Menumbuhkan Kesadaran Gender di Pabrik Garmen: Strategi Mewujudkan Ruang Kerja Aman

Cerita

Isu kesetaraan gender dalam dinamika dunia industri di Indonesia masih menjadi hal yang terus digalakan. Tingkat Kekerasan Berbasis Gender (KBG) pada pekerja pabrik di Indonesia masih cukup tinggi. Menurut data yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan, sepanjang tahun 2024 Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan (CATAHU) mencatat telah terjadi KBG sebanyak 2.702 kasus kekerasan terhadap perempuan pekerja. Studi yang dikeluarkan oleh UN Women dan Organisasi Ketenagakerjaan Internasional (ILO) pada tahun 2019 menunjukkan, pekerja yang tidak memahami konsep kesetaraan gender cenderung tidak menyadari atau menormalisasi Kekerasan Berbasis Gender dan Kekerasan Seksual (KBG-KS) maupun diskriminasi lainnya di lingkungan kerja.

Yohanna Tantria, Project Manager Yayasan CARE Peduli (YCP) mengatakan, salah satu penyebab kurangnya pemahaman para pekerja pabrik tentang kesetaraan gender karena minim mendapatkan peningkatan kapasitas pemahaman tentang isu-isu gender di tempat kerja dan pentingnya menciptakan ruang aman di lingkungan kerja.

“Isu gender belum menjadi hal prioritas yang penting ditangani di tempat kerja karena kuatnya budaya patriarki. Sehingga perempuan pekerja masih bekerja dalam lingkungan yang tidak mendukung kepemimpinan perempuan, normalisasi kekerasan berbasis gender,” ujarnya.

Lebih lanjut Yohanna menjelaskan, dukungan dari manajemen perusahaan untuk meningkatkan pemahaman kesetaraan gender bagi pekerja menjadi hal yang harus dilakukan. Bahkan, menurut penelitian yang disampaikan oleh ILO, perusahaan yang menghormati hak-hak pekerja termasuk kesetaraan gender akan meningkatkan profit perusahaan sebesar lima sampai sepuluh persen.

“Praktik bisnis yang menghormati hak asasi manusia, termasuk kesetaraan gender dan kondisi kerja yang adil, dapat meningkatkan produktivitas pekerja, mengurangi pergantian karyawan, dan meningkatkan loyalitas serta reputasi perusahaan. Selain itu, perusahaan yang menerapkan standar HAM cenderung lebih dipercaya oleh konsumen dan investor,” imbuhnya.

Yohana menegaskan membangun kesetaraan gender bagi pekerja pabrik menjadi hal yang sangat penting. Menurutnya, kesetaraan gender di tempat kerja bisa dilakukan dengan pendekatan yang holistik mulai dari penguatan dan membangun kesadaran individu, membangun kesadaran dan aksi kolektif, hingga menguatkan kebijakan atau regulasi perusahaan.

“Mengubah budaya dan pola pikir di tempat kerja bukanlah hal yang mudah. Namun, perusahaan dapat mengambil beberapa langkah konkret untuk menciptakan tempat kerja yang lebih responsif gender dan aman dari kekerasan berbasis gender dengan rutin mengadakan pelatihan dan edukasi tentang kesetaraan gender, membentuk kebijakan yang responsif gender, dan mendukung kepimimpinan perempuan,” tambahnya.

Senada dengan itu, Muhammad Zainudin, Quality Control PT. Glory Industrial Semarang Demak mengatakan, memberikan pemahaman tentang kesetaraan gender kepada pekerja pabrik menjadi hal yang sangat penting untuk meniadakan Kekerasan Berbasis Gender dan Kekerasan Seksual (KBG-KS). “Pelatihan dan pemberian materi tentang kesetaraan gender itu sangat penting. Dari pelatihan yang kami terima, salah satunya pelatihan dari CARE Indonesia, para pekerja di sini semakin paham jika mewujudkan ruang aman bagi pekerja perempuan sangat penting. Dulu ada pekerja laki-laki yang menganggap mencolek pekerja perempuan adalah hal biasa, tapi sekarang kami semua tahu jika itu bisa mengarah pada kekerasan berbasis gender,” katanya.

Menurut Zainudin, dukungan dari pekerja dan manajemen kepada korban menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan jika terjadi kasus KBG-KS. “Kita mencoba untuk menerapkan aturan zero tolerance. Jadi ketika ada kejadian kekerasan, tidak boleh ada toleransi untuk pelaku. Kemudian menyediakan dan menginformasikan kepada pekerja perempuan untuk saluran pelaporan,” tegasnya.

Kemudian, menurut Dayat, Supervisor Produksi PT. Dasan Pan Pasific Indonesia menjelaskan, adanya Lembaga Kerja Sama (LKS) Bipartit dan satuan tugas (Satgas) penanganan KBG-KS menjadi salah satu upaya untuk menciptakan ruang aman bagi pekerja perempuan. Hal ini dapat memberikan kesempatan pagi pekerja perempuan untuk terus berkembang lebih jauh lagi. “Saya sebagai bagian dari LKS-Bipartit dan juga tim satgas penanganan KBG-KS selalu mendukung pekerja perempuan yang ada di tim saya untuk maju. Dengan pendampingan dari CARE, saya menyadari pentingnya memberikan support dan kesempatan bagi pekerja, khususnya pekerja perempuan. Dari 42 orang pekerja perempuan yang ada di tim saya, saat ini ada tiga yang kini sudah menjadi leader dan supervisor. Selama mereka punya kemampuan, saya selalu memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkembang,” pungkas Dayat.

Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika

Dukung tingkatkan akuntabilitas 3 mitra di Kabupaten Mimika

Galeri

34 peserta perwakilan dari Yayasan Ekologi Papua (YEP), Yayasan Papua Lestari (YAPARI), dan Yayasan Rumsram mengikuti peningkatan kapasitas penggunaan laporan sebagai bahan pembelajaran untuk dukung kegiatan dan implementasi program lembaga (28-29/04).

Kegiatan ini merupakan inisiasi Yayasan CARE Peduli sebagai pendamping para mitra bersama Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) untuk dorong peningkatan akuntabilitas para mitra lokal pada program kampung sehat di Kabupaten Mimika.

Pelatihan Kepemimpinan Bagi Anggota Forum Pemberdayaan Masyarakat di 3 Desa di Kabupaten Bandung

Galeri

49 anggota Community Development Forum (CDF) yang merupakan perwakilan pemerintah desa, manajemen perkebunan teh dan masyarakat di Desa Margaluyu, Desa Banjarsari, dan Desa Indragiri, Kabupaten Bandung ikuti pelatihan kepemimpinan dan komunikasi (11-14/04 & 30/04-01/05).

Pelatihan yang diselenggarakan Yayasan CARE Peduli dengan dukungan para mitra untuk dukung ketangguhan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan teh, khususnya di Kabupaten Bandung. Melalui studi kasus, peserta diajak untuk penyelesaian masalah di lingkungan sekitar hingga pelibatan masyarakat, termasuk perempuan dan anggota lainnya dalam membuat keputusan.

Perempuan Jadi Salah Satu Kelompok Paling Rentan Saat Bencana. Lalu Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

Cerita

Indonesia menjadi salah satu negara dengan risiko terjadi bencana alam tertinggi di dunia. Menurut data yang dikeluarkan oleh World Risk Report (WRI) tahun 2023 menyebutkan indeks risiko bencana sebesar 43,4 persen yang menempatkan Indonesia sebagai negara paling berisiko bencana nomor dua di dunia. Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik sehingga rentan terhadap gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi. Komnas Perempuan pada 2024 menyebutkan, perempuan menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami kekerasan berbasis gender saat bencana. Bahkan, menurut studi yang dilakukan UNDP pada 2010 menunjukkan perempuan lebih berisiko menjadi korban bencana dibandingkan laki-laki.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang tahun 2024 terjadi 2.107 bencana yang terjadi di Indonesia. Pada 2018, BNPB mengemukakan perempuan memiliki risiko 14 kali lebih tinggi menjadi korban bencana dibandingkan laki-laki dewasa. Hal ini disebabkan insting perempuan untuk menyelamatkan keluarga serta anak-anaknya dan mengabaikan keselamatan dirinya sendiri.

Perempuan rentan mendapatkan tindak kekerasan berbasis gender saat bencana bencana. Menurut Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Andy Yentriyanin, perempuan menjadi kelompok yang mengalami kerentanan berlapis seperti pelecehan seksual, kekerasan seksual, ketidaksetaraan saat mengkases bantuan, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di lokasi bencana. Dilansir melalui News.republika.co.id, terjadi setidaknya 12 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di tenda pengungsian korban gempa Palu pada tahun 2019. Kekerasan berbasis gender bisa terjadi karena faktor-faktor di antaranya lokasi tidur yang tidak tertutup, tempat untuk mandi cuci kakus (MCK) yang terbuka dan tidak memadai, serta terputusnya akses ekonomi bagi korban bencana. Sehingga, hal-hal ini imanfaatkan oleh pelaku untuk melakukan tindak kekerasa kepada perempuan.

Sejatinya, Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan aturan yang mengatur untuk melindungi perempuan dan anak saat bencana terjadi melalui Peraturan Menteri PPPA Nomor 13 Tahun 2020 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak dalam Situasi Bencana. Selain itu, pemberdayaan perempuan harus menjadi prioritas utama dalam program pengurangan risiko bencana. Pelibatan aktif perempuan dalam proses perencanaan dan pelatihan kebencanaan akan memperkuat kapasitas mereka dalam merespons bencana, sekaligus menjadikan mereka sebagai agen perubahan di komunitas masing-masing.

Data dari UNDRR (United Nations Office for Disaster Risk Reduction) menyatakan bahwa pelibatan perempuan dalam perencanaan kebencanaan meningkatkan efektivitas respons hingga 30%. Sayangnya, menurut laporan BNPB 2022, hanya sekitar 20% perempuan terlibat aktif dalam struktur relawan kebencanaan di tingkat desa. Peningkatan kapasitas bagi perempuan melalui pelatihan untuk menghadapi jika nantinya bencana datang menjadi aspek yang penting.

Penguatan ekonomi dan kepemimpinan perempuan adalah strategi vital dalam upaya mengurangi kerentanan perempuan terhadap bencana serta memperkuat ketahanan masyarakat secara menyeluruh. Perempuan yang memiliki kemandirian ekonomi dan kepercayaan diri lebih siap menghadapi situasi darurat.

Pada 2021, laporan World Bank yang berjudul Gender Dimensions of Disaster Risk and Resilience – Existing Evidence mengemukakan, perempuan dengan keadaan ekonomi yang tidak kuat memiliki tingkat risiko kematian yang lebih tinggi akibat bencana alam. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan akses mereka terhadap informasi, sumber daya, dan dukungan sosial yang diperlukan untuk mempersiapkan, merespons, dan pulih dari bencana. Ketika perempuan memiliki sumber daya ekonomi dan suara dalam pengambilan keputusan, ketahanan komunitas meningkat secara signifikan. Keterlibatan perempuan dalam hal ini bisa membangun jejaring usaha mikro tangguh bencana, lalu dapat mengelola dana darurat komunitas, dan menjadi pelatih atau pendamping komunitas lain. Laporan UNDRR menyebutkan, partisipasi aktif perempuan dalam manajemen risiko bencana dapat mengurangi dampak kerugian hingga 20–30%.

Meningkatkan kapasitas dan pemberdayaan perempan dalam penanggulangan bencana tidak hanya melindungi perempuan, tetapi juga mengurangi risiko kekerasan berbasis gender yang sering meningkat dalam situasi krisis. Dengan memperkuat kapasitas perempuan melalui pelatihan, penguatan ekonomi, dan kepemimpinan, mereka tidak hanya mampu menghadapi bencana, tetapi juga mencegah kekerasan dan menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Bencana yang kita ketahui terjadi di Kabupaten Sigi dan Kota Palu di Sulawesi Tengah pada tahun 2018. Tahap pemulihan dan penguatan masyarakat terutama perempuan terus dilakukan. Upaya nyata salah satunya dilakukan Yayasan CARE Peduli (YCP) bersama Karsa Institute, didukung oleh UN Women dengan pendanaan melalui KOICA, untuk penguatan ketangguhan bagi kelompok perempuan dan pemuda di Kabupaten Sigi. Pemberdayaan ekonomi perempuan, peningkatan kapasitas dan partisipasi perempuan di tingkat desa dilakukan. Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) diinisiasi sebagai wadah pemberdayaan disamping penguatan pemahaman terkait kesetaraan gender yang dilakukan di Desa Ngata Baru, Pesaku, Rarampadende, Pombewe, Ramba, dan Wisolo. Pelibatan berbagai pihak termasuk instansi pemerintah terkait menjadi faktor penting dalam implementasi di Kabupaten Sigi.

Upaya kerja bersama perlu terus dilakukan untuk memastikan perempuan mendapat kesempatan, dukungan dan akses setara dalam segala kondisi, termasuk saat kondisi krisis dan bencana. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, masyarakat serta pihak terkait lain sangat penting untuk memperkuat peran aktif perempuan sebagai agen perubahan dalam sistem kebencanaan yang lebih adil dan bebas kekerasan.

Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika

Sinergi Percepatan Penurunan Stunting di Sumbawa Barat: Dari PMT hingga Kebun Gizi

Cerita

Pemerintah Indonesia terus berupaya mengatasi stunting. Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukan pada bulan Januari 2025, prevalensi stunting masih berada di angka 21,5 persen. BKKBN menargetkan prevalensi stunting sebesar 18 persen pada tahun 2025.

Sejalan dengan itu, di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), upaya penurunan prevalansi stunting menuju arah yang baik. Dikutip melalui Antaranews.com, Dinas Kesehatan KSB menyampaikan, angka stunting di KSB pada tahun 2024 berada di 7,37 persen. Jumlah ini menurun jika dibandingkan tahun 2023 sebesar 10,3 persen. Masih dari Antaranews.com, Pj. Bupati Kabupaten Sumbawa Barat Julmansyah mengatakan, perempuan menjadi salah satu faktor menurunnya angka stunting di daerah tersebut. Menurutnya, program DASHAT (dapur sehat atasi stunting) yang dipelopori oleh perempuan tangguh dan terintegrasi dengan ekonomi, ketahanan pangan, dan usaha mandiri perempuan menjadi salah satu upaya untuk melindungi perempuan dan anak.

Hal yang disampaikan oleh Julmansyah menjadi komponen program yang dilakukan oleh Yayasan CARE Peduli (YCP) dalam program percepatan penanganan stunting di KSB. Muhammad Ikraman, Project Manager Yayasan CARE Peduli di KSB menjelaskan program percepatan penurunan stunting dilakukan YCP secara holistik. “Program ini tidak hanya menyentuh aspek nutrisi, tetapi juga menyasar perubahan perilaku, edukasi orang tua, dan ketahanan pangan berbasis lokal. Secara umum, semua orang tua anak yang diintervensi mengikuti kelas parenting agar mereka mampu memberikan penilaian tentang tumbuh kembang anak mereka. Termasuk juga dengan memberikan pemahaman kepada remaja tentang risiko menikah muda,” ujar Ikraman.

Ikraman menjelaskan, pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan menjadi komponen utama dalam penanganan stunting. Sejak 2023 hingga 2024, sebanyak 372 anak dengan kondisi stunting, 47 anak dengan kondisi wasting, dan 17 anak dengan kondisi underweight telah menerima PMT pemulihan selama 90 hari tiap periodenya tanpa jeda yang berjalan pada bulan Desember 2023 sampai Maret 2024 dan Juni sampai September 2024. Tidak hanya menyasar anak, PMT pemulihan juga diberikan pada 85 ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK) selama 30 hari dalam dua periode. “Hasilnya cukup signifikan. Sebanyak 30% anak yang mendapatkan intervensi PMT pemulihan keluar dari status stunting, dan 87% lainnya mengalami peningkatan berat badan lebih dari 200 gram per bulan. Untuk ibu hamil dengan kondisi KEK, 70% berhasil keluar dari status KEK dan melahirkan bayi dengan berat badan normal,” jelas Ikraman.

Yang menarik, PMT pemulihan yang diberikan bukan makanan instan atau mahal. Justru sebaliknya, menu yang digunakan mengikuti panduan Kementerian Kesehatan dan berbahan baku lokal, sehingga bisa penyiapan menu bisa ditiru oleh keluarga. “Keterlibatan kader dapur sehat atasi stunting (DASHAT) dalam program ini sangat penting. Tidak hanya menyiapkan menu PMT pemulihan, tetapi juga mengantarkan makanan dan memonitoring menu tersebut kepada anak yang mendapatkan PMT pemulihan. Saat makanan diberikan, orang tua dari sang anak juga diberi pemahaman tentang menyipkan menu bergizi seimbang dari sumber lokal. Menu dari lokal ini menjadi pendekatan edukatif yang dilakukan YCP, bahwa makanan sehat itu terjangkau dan mudah disiapkan di rumah,” tambah Ikraman.

Perubahan Sikap Orang Tua dan Peran Kader DASHAT

Perubahan kondisi anak yang signifikan membawa dampak psikologis yang positif pada orang tua. Antusiasme mereka tumbuh seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya gizi dan pola asuh. Memang, ada sebagian orang tua yang semula ragu menerima PMT pemulihan karena merasa bisa menyediakan sendiri. Namun melalui pendekatan edukatif dan kelas parenting, mereka akhirnya menerima pentingnya makanan dengan komposisi gizi seimbang. “Semua orang tua yang anaknya diintervensi mengikuti kelas parenting. Mereka belajar mengenai tumbuh kembang anak, pola asuh, dan menu makanan bergizi. Belajar pun dilakukan secara partisipatif, dengan pendekatan berbasis kasus nyata yang mereka alami,” tutur Ikraman.

Hayatun, orang tua dari Anugrah Wilka yang berusia 4 tahun dari Desa Bukit Damai yang menerima PMT pemulihan mengatakan ia cukup kesulitan dalam membuat dan memberikan makanan pada anaknya yang mengalami disabilitas down syndrome. “Dengan adanya PMT, bisa membantu anak saya makan. Saya sangat berterima kasih. Biasanya dia sulit sekali makan, sekarang dia minta makan terus. Kalau sebelumnya dia tidak bisa duduk atau berdiri tegak, dan lesu, sekarang sudah mulai lincah dan bisa duduk dengan baik,” katanya.

Perempuan berusia 44 tahun itu juga menuturkan, dirinya senang belajar bersama kader DASHAT yang berada tak jauh dari rumahnya untuk membuat menu makanan dengan gizi seimbang. “Sekarang saya sudah bisa membuat makanan seperti yang diberikan oleh DASHAT. Sekarang berat dan tinggi badan anak saya sudah sesuai dengan anak seusiannya,” ujarnya.

Kebun Gizi: Solusi Penanganan Stunting Berbasis Komunitas

Lebih lanjut, Ikraman menjelaskan, dalam rangka memastikan keberlanjutan PMT pemulihan, pelaksanaan kebun gizi yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi inovasi dalam upaya penurunan prevalansi stunting. Pembuatan kebun gizi dilaksanakan di semua desa yang didampingi oleh YCP di Kecamatan Sengkokang. Pengelolaan kebun gizi di Desa Talongang Baru menjadi salah satu yang paling menonjol.

“Kebun gizi yang ada di Talonang Baru kini berhasil memenuhi kebutuhan sayur mayur untuk PMT yang dibuat oleh kelompok DASHAT desa tersebut. Keberadaan kebun gizi sangat membantu produksi PMT, karena mendapatkan sayur yang segar dengan harga yang lebih murah. Karena desa ini keberadaannya cukup jauh dan terisolir, selama ini bahan baku untuk sayur banyak dipasok dari Kecamatan Lunyuk yang masuk dalam Kabupaten Sumbawa, jadi harganya cukup mahal,” jelasnya.

Ikraman menambahkan, berkat kolaborasi yang baik antara kebun gizi dan kelompok DASHAT, saat ini Talonang Baru mengalami penurunan angka stunting yang cukup signifikan. “Kami melihat dari data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPBGM) yang dikelola oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat pada Februari 2023, angka stunting di Talonang Baru sebesar 15,38%, kemudian pada tahun Februari 2025 turun menjadi 6,29%,” jelasnya.

Peran Aktif Pemerintah Desa: Dari Anggaran hingga Regulasi

Menurut Ikraman, seluruh pemerintah desa yang menjadi area program sangat mendukung program percepatan penurunan stunting di wilayahnya masing-masing. Hal ini terbukti melalui peningkatan anggaran untuk kegiatan layanan dasar bidang kesehatan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDES). “Pada tahun 2024, dana untuk kesehatan APBDES pada 16 desa mengalami peningkatan dengan total kenaikan sebanyak 34 persen, yakni menjadi sekitar Rp. 5,5 miliar, dibandingkan pada tahun 2023. Khusus untuk PMT pemulihan, anggaran naik dari Rp520 juta menjadi Rp775 juta,” jelas Ikraman.

Lebih lanjut, Ikraman mengemukakan, dukungan pemerintah desa juga tidak hanya melalui pengalokasian anggaran saja, tetapi juga dengan regulasi. Salah satunya melalui pembentukan Desa Ramah Anak Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) melalui peraturan desa (perdes). “Pembentukan DRPPA bertujuan untuk memastikan kebutuhan hak asuh anak sesuai dengan peratuan perundang-undangan perlindungan anak, sehingga bisa memenuhi hak-hak yang didapatkan anak dalam tumbuh kembangnya,” imbuhnya.

Upaya kolaboratif yang dilakukan di Sumbawa Barat menunjukkan bahwa penanganan stunting perlu dilakukan dengan pendekatan holistik: dari pemenuhan nutrisi, edukasi, partisipasi komunitas, hingga dukungan regulatif. “Dukungan dan kerja bersama dari berbagai pihak seperti masyarakat, pemerintah desa dan daerah setempat, serta dari mitra YCP yakni AMMAN Mineral, menjadikan program percepatan penurunan stunting di KSB bisa menjangkau partisipan luas dan memiliki hasil serta perubahan yang baik,” pungkas Ikraman.

Penulis: Kukuh A. Tohari

Editor: Swiny Adestika

Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Kabupaten Nagekeo Mulai Dilaksanakan

Galeri

Yayasan CARE Peduli mulai melaksanakan program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi anak 50 orang anak dengan status stunting, underweight, dan wasting di Desa Jawapogo dan Kelurahan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Progrm PMT ini juga menyasar 15 orang ibu hamil yang berstatus Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia, serta 10 orang ibu menyusui yang berpotensi atau berisiko kekurangan gizi dari riwayat selama kehamilan.

Program yang didukung oleh BNI Berbagi ini telah dilaksanakan sejak bulan Maret 2025 di Kelurahan Mauponggo dan bulan April 2025 di Desa Jawapogo. Pemerintah kedua desa tersebut mendukung penuh pelaksanaan program PMT ini untuk berjalan dengan baik dalam kurun waktu 90 hari. Menu PMT yang dibuat oleh kelompok Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) juga diawasi secara langsung oleh ahli gizi yang bertugas di Puskesmas setempat.

Memperkuat Peran Perempuan dalam Konservasi dan Peningkatan Ekonomi Lokal

Galeri

CEO CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang, menjadi salah satu pembicara pada sesi High-level Discussion: Tourism Policy on Circular Economy dalam acara  Joint Commission Meeting untuk Komisi UN Tourism untuk Asia Timur dan Pasifik (CAP) dan Komisi UN Tourism untuk Asia Selatan (CSA) ke-37 (CAP-CSA ke-37)(16/4) di Hotel Mulia, Jakarta. Acara dibuka oleh Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana serta dihadiri anggota UN Tourism, anggota afiliasi UN Tourism, dan organisasi internasional dan regional, serta para pakar pariwisata dunia.

CARE Indonesia membagikan pandangan mengenai pentingnya memastikan circular economy yang mendukung pemberdayaan dan penguatan ketangguhan masyarakat lokal, termasuk kelompok perempuan dan anak-anak, dalam pengembangan investasi pada sektor pariwisata di Indonesia. Sejalan dengan program Pemerintah Indonesia pada 11 Zona Ekonomi Khusus di Indonesia, CARE mendukung dan bekerja bersama, salah satunya melalui program Women Mangrove Warrior yang didukung oleh Traveloka. Pembelajaran baik dari program konservasi ekosistem mangrove melalui pemberdayaan kelompok perempuan ini membagikan salah satu hasil pemberdayaan ekonomi yang dilakukan yakni pembuatan usaha mikro dengan batik ecoprinting yang menggunakan pewarnaan alami dari pohon mangrove. CARE & Traveloka memandang, pelibatan masyarakat lokal termasuk kelompok perempuan sangat krusial untuk memastikan penguatan masyarakat serta berjalannya circular economy yang berkelanjutan.

Sutilah: Perempuan Tangguh Penggerak Pemberdayaan Perempuan dari Sungai Petai

Cerita

Di sebuah dusun terpencil di Kabupaten Musi Banyuasin, bernama Sungai Petai, berdirilah sebuah kelompok ekonomi perempuan yang merupakan cabang dari Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Persatuan Kaum Sukses Desa Dawas yang menjadi harapan baru bagi perempuan di sana. Jauh dari akses jalan layak, listrik yang terbatas, dan kehidupan serba sederhana, sekelompok perempuan yang dipimpin oleh Sutilah menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mandiri dan saling menguatkan.

Sutilah memulai cerita, KUEP Desa Dawas membuka cabang di Dusun Sungai Petai sejak awal tahun 2024. Akses yang jauh dan sulit bagi para anggota KUEP yang berdomisili di Dusun Sungai Petai untuk bepergian ke Desa Dawas menjadi faktor utama Sutilah berinisiatif membuka cabang KUEP di dusunnya. Menurut Sutilah, perjalanan dari Sungai Petai ke pusat Desa Dawas bisa memakan waktu dua sampai tiga jam, bahkan bisa sampai empat atau lima jam jika hujan mengguyur area tersebut dan membuat jalanan berlumpur.

“Kami punya 17 anggota di KUEP Dusun Sungai Petai, yang benar-benar aktif dan bisa dipercaya kami seleksi lagi. Saat ini hanya ada empat orang yang juga menjadi anggota KUEP Desa Dawas, karena mayoritas warga tidak memiliki kendaraan ataupun kemampuan untuk mengendarainya dari Sungai Petai ke Desa Dawas. Namun, semangat warga, terutama para perempuan di Sungai Petai, sangat tinggi,” cerita Sutilah, yang kini menjadi penanggung jawab KUEP cabang Sungai Petai.

Empat orang dari Sungai Petai—termasuk Sutilah—menjadi anggota resmi di KUEP Dawas. Mereka dipercaya karena bisa berkendara dan memiliki waktu luang untuk bepergian. Mewakili anggota lain di KUEP Sungai Petai, Sutilah dan 3 orang anggota KUEP Desa Dawas lainnya berinisiatif mengajukan pinjaman total Rp. 20 juta ke KUEP Persatuan Kaum Sukses Dawas. Menurut Sutilah, pinjaman yang mereka dapatkan digunakan untuk mulai mengembangkan usaha simpan pinjam dan tabungan sembako yang bisa dimanfaatkan 17 anggota KUEP Sungai Petai.

“Dari uang modal ini kami memutarnya untuk pinjaman produktif seperti bertanam ubi, potong karet, hingga produksi makanan tradisional seperti tiwul dan eyek-eyek,” jelasnya.

KUEP Sungai Petai memang masih fokus pada simpan pinjam karena kondisi geografis tidak memungkinkan untuk membuat usaha besar. Meski demikian, sistem simpan pinjam tertata baik. Untuk meminjam, anggota harus mendaftar satu bulan sebelumnya, kecuali ada kebutuhan mendesak seperti pengobatan. “Menjual barang dari sini itu sulit, bisa rusak di jalan. Sistem simpan pinjam yang dikelola dengan jujur dan tertib menjadi tulang punggung kegiatan ekonomi di sini,” ujar Sutilah.

Kisah Bu Sutilah bukan hanya soal ekonomi, tapi juga tentang bagaimana perempuan bisa jadi motor penggerak perubahan di sekitarnya. “Kami harus kreatif, perempuan harus kuat. Saya juga turut terdaftar sebagai relawan di Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Dawas dan setiap dapat pelatihan dari Yayasan CARE Peduli, pasti saya sampikan ke ibu-ibu yang lain di kampung,” ujarnya.

Kiprah Sutilah tak berhenti di ekonomi. Ia juga menjadi pendamping KBG (Kekerasan Berbasis Gender) di desanya. Dengan cara yang hati-hati dan pendekatan sosial yang akrab, ia dan tiga pendamping lain menyelipkan edukasi gender saat pengajian, hajatan, hingga obrolan santai antar ibu. “Saya bilang ke bapak-bapak, di rumah saya itu suami yang masak kalau saya sibuk. Mereka awalnya kaget, tapi akhirnya mikir juga,” katanya sambil tertawa kecil. Perubahan kecil seperti ini ternyata berdampak besar. Ia juga mengedukasi warga tentang cara membuka lahan tanpa membakar yang ia pelajari dari pelatihan bersama CARE.

Bu Sutilah juga menjadi penghubung warga dengan pemerintah desa. Urusan kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga (KK), akta kelahiran hingga menghadirkan Disdukcapil ke Sungai Petai, semua ia perjuangkan sendiri. Dengan wajah sumringah Sutilah brcerita pernah ditawari oleh Camat Kecamata Keluang untuk menjadi Kepala Dusun. “Pernah saya ditawarkan menjadi kepala dusun (kadus) Sungai Petai, tetapi saya tolak karena merasa tidak bisa menemban tugas tersebut. Jadi urusan seperti itu terlalu berat untuk saya,” katanya rendah hati.

Kini, KUEP Sungai Petai sudah mulai berjalan mandiri. Tabungan sembako saat Ramadan membuat anggota bisa menyambut Lebaran dengan lebih tenang dan berkecukupan. Uang pinjaman dari KUEP Desa Dawas sudah bisa dikembalikan sepenuhnya dan mereka mulai dari nol lagi. Namun semangat tak pernah pudar.
Dengan segala keterbatasan, Bu Sutilah tetap percaya bahwa perubahan dimulai dari langkah kecil. Dari rumah yang jadi tempat mengaji, dari kebun pekarangan yang ditanami cabai, hingga dari pengajian yang bisa juga menjadi tempat berdiskusi membahas pemenuhan ekonomi dan kesetaraan gender. “Kalau diniati ibadah, semua ada pahalanya,” tutupnya sambil tersenyum.

Di Sungai Petai, perempuan tak sekadar bertahan. Mereka melangkah maju, pelan tapi pasti. Dan di barisan terdepan, berdirilah Bu Sutilah—seorang perempuan luar biasa yang menyemai harapan dari tengah hutan.

Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika