Search
Close this search box.

AMMAN dan CARE Indonesia Paparkan Capaian Program Penurunan Stunting di Sumbawa Barat

Galeri

CARE Indonesia (Yayasan CARE Peduli/YCP) berkolaborasi dengan AMMAN menyelenggarakan kegiatan diseminasi program percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2022–2023, yang dilaksanakan di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumbawa Barat pada Jumat, 17 Oktober 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk memaparkan hasil dan capaian dari pelaksanaan program penurunan stunting yang telah dijalankan oleh CARE Indonesia bersama AMMAN selama dua tahun terakhir. Diharapkan, hasil dan praktik baik dari program ini dapat menjadi pembelajaran sekaligus direplikasi dalam program serupa yang dijalankan oleh pemerintah daerah.

Acara diseminasi ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain Kepala Bappeda Kabupaten Sumbawa Barat, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A), Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Sosial, serta para Camat dari Kecamatan Maluk, Jereweh, dan Sekongkang. Selain itu, hadir pula kader DASHAT serta perwakilan dari Kelompok Usaha Ekonomi Mandiri Perempuan (KUMP) yang turut berbagi pengalaman mengenai kontribusi mereka dalam mendukung perbaikan gizi dan ketahanan ekonomi keluarga di wilayahnya.

Semangat Baru Kelompok Perempuan untuk Lestarikan Mangrove dan Tambah Pendapatan Keluarga

Galeri

Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Rhizopora, Desa Sarawet, Kab. Minahasa Utara kini lebih mudah mencari kepiting sebagai sumber pendapatan keluarga, dengan memanfaatkan bantuan perahu dan alat tangkap dari program kolaborasi CARE Indonesia bersama Yayasan Bumi Tangguh (YBT) dengan pendanaan dari Asian Venture Philantrophy Network (AVPN) dan dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.

Komitmen KUEP Rhizopora semakin kuat untuk menjaga kawasan mangrove sebagai area pembesaran kepiting sehingga memenuhi standar berat jual.

Kelompok Nelayan Perempuan Desa Serawet, Minahasa Utara: Semangat Menjaga Mangrove Sebagai Sumber Pendapatan

Cerita

Ombak kecil berkejaran di pesisir Desa Sarawet, Kecamatan Likupang Barat, Sulawesi Utara. Di antara riuh suara laut, Wisye Sambangu bersiap mendayung sampan ke area penanaman mangrove. Hal ini dilakukan Wisye untuk menjaga kawasan mangrove yang menjadi tempat hidup kepiting dan ikan yang menjadi sumber penghasilannya. Bersama delapan perempuan lainnya, Wisye aktif merawat mangrove di pesisir, sambil mengelola usaha kelompok yang mereka bangun secara mandiri.

“Kami ingin penghasilan bertambah, tapi juga menjaga laut agar tetap lestari. Maka dari itu kami bergabung dengan KUEP (Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan) untuk belajar tentang pengelolaan keuangan dan mencari peluang usaha lainnya,” ujar Wisye dengan senyum hangat.

Menurut Wisye, dukungan yang ia dapat dari KUEP memberi mereka kesempatan untuk belajar, berorganisasi, dan berdaya. Sejak bergabung dalam KUEP Rhizopora aktivitas Wisye tidak hanya berkisar pada urusan rumah tangga, ia juga menjadi bagian penting dalam menjaga alam sekaligus memperkuat ekonomi keluarganya.

Wisye menambahkan, sebelum bergabung dengan KUEP, perempuan di desanya sudah sering menanam mangrove secara sukarela tanpa dukungan dana. Dengan semangat yang lebih tinggi, kini KUEP Rhizopora menurut Wisye, mulai membangun sistem simpan pinjam. Mereka sepakat untuk patungan sehingga terkumpul Rp 4 juta sebagai modal awal, sambil menunggu dukungan dana dari KUEP, yang jadi bukti kemandirian lahir dari kemauan kuat, bukan sekadar bantuan luar. 

Wisye menuturkan, semakin baik kondisi mangrove, semakin melimpah hasil laut yang mereka peroleh. Menurutnya, menanam mangrove bukan hanya tentang menjaga alam. Ini tentang menanam harapan akan laut yang lestari, keluarga yang sejahtera, dan masa depan perempuan pesisir yang lebih tangguh.  “Kami ini nelayan perempuan, kalau mangrove rusak, kepiting dan ikan juga makin sulit didapat,” tuturnya.

Semangat yang sama disampaikan Yeni Ahad, rekan Wisye di KUEP Rhizopora. Yeni menyampaikan, kelompoknya kini telah memiliki satu unit perahu dan alat tangkap kepiting hasil dukungan program. Perahu itu mereka gunakan untuk mencari bibit mangrove, membawa mangrove untuk ditanam, dan melaut mencari kepiting serta ikan di dekat ekosistem mangrove.

“Dulu kami harus pinjam perahu orang lain, sekarang tidak lagi karena sudah ada bantuan perahu untuk kelompok. Bantuan ini sangat membantu aktivitas kami, karena kami tidak perlu lagi meminjam perahu milik orang lain untuk membawa bibit mangrove, mencari ikan, dan kepiting. Harapannya, dengan adanya bantuan alat tangkap dan perahu, hasil tangkapan kami saat melaut bisa meningkat. Nantinya, hasil tangkapan kelompok ini akan dijual ke pengepul untuk dikirim ke Kota Manado,” ujar Yeni dengan bangga.

Renee Picasso Manopo, Climate Resilience and Humanitarian Portofolio Manager CARE Indonesia menejelaskan, program pemberdayaan perempuan pesisir dan perlindungan ekosistem mangrove ini merupakan bagian dari upaya CARE Indonesia dan Yayasan Bumi Tangguh, dengan dukungan Asian Venture Philanthropy Network (AVPN), untuk memperkuat ketangguhan masyarakat di kawasan pesisir Minahasa Utara. 

“Targetnya akan ada 50.000 bibit mangrove ditanam di tiga desa yakni Desa Palaes, Sarawet, dan Minaesa untuk memulihkan ekosistem pesisir dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pelibatan dan penguatan kelompok perempuan dalam program ini kami harapkan tidak hanya mampu memperkuat peran perempuan dalam pelestarian kawasan mangrove tapi juga meningkatkan ekonomi dan mengurangi beban perempuan sehingga mereka bisa turut membantu menambah pendapatan rumah tangga dari lokasi sekitar rumah mereka,” pungkas Renee.

 

Penulis: Kukuh A. Tohari

Editor: Swiny Adestika

Bawang Merah, Harapan Kelompok Perempuan Desa Ngatabaru Tambah Pendapatan Keluarga

Galeri

Tahun 2023 konsumsi bawang merah di Indonesia mencapai 2.861kg/kapita/tahun*. Bawang Merah Palu, salah satu varietas unggulan dari Sulawesi Tengah yang sangat cocok dijadikan bawang goreng. Budidaya bawang merah jadi harapan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) di Desa Ngatabaru, Kab. Sigi tambah pendapatan rumah tangga dan mendukung ketahanan pangan.

*Sumber: analisis kinerja perdagangan bawang merah Volume 14 Nomor 1 Tahun 2024, Kementerian Pertanian RI

Analisis Awal Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim di Industri Garmen Indonesia dari Perspektif Manajer dan Pekerja

Publikasi

Pendampingan tim LKS-Bipartit dan Satgas KBG-KS untuk wujudkan lingkungan kerja aman dan nyaman

Galeri

23 anggota Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Gender dan Kekerasan Seksual (Satgas KBG-KS) dari PT Dasan Pan Pacific Indonesia ikuti pendampingan dalam peningkatan keterampilan teknis untuk divisi penerimaan pengaduan, divisi penanganan kasus, hingga divisi publikasi dan kampanye(26-27/09). Upaya ini merupakan dukungan CARE Indonesia bersama para mitra, mendukung lingkungan kerja yang aman dan nyaman, khususnya bagi pekerja perempuan melalui penguatan kapasitas Satgas di LKS Bipartit.

Sesi dilakukan interaktif melalui pemberian materi, simulasi penerimaan kasus untuk divisi penerimaan pengaduan dan penanganan kasus, perencanaan dasar publikasi di media sosial untuk divisi publikasi dan kampanye, serta penyusunan timeline dan topik edukasi bagi pekerja untuk divisi pendidikan dan pencegahan.

25 anggota Satgas KBG-KS di PT Glory Industrial Semarang Demak turut mendapatkan pendampingan dari CARE Indonesia untuk tingkatkan kinerja setiap divisi (03/10). Melalui pendampingan ini, seluruh divisi mendapatkan penguatan seperti memetakan dan pemilahan aduan yang masuk hingga penyusunan rencana kegiatan sosialisasi bagi pekerja untuk mencegah kekerasan di lingkungan kerja.

Pelatihan Pemilahan sampah organik dan Anorganik di Depok

Galeri

96 masyarakat dan staff Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta 45 siswa SDN 3 Cilangkap dan SDN 8 Cilangkap, Kota Depok ikuti pelatihan pemilahan sampah (22,23,27/09). Kegiatan yang merupakan bagian dari kolaborasi CARE Indonesia bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan dukungan Pemerintah Kota Depok ini diadakan sebagai bagian dari upaya pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga.

Berbagai inisiatif dari peserta ditunjukkan dengan rencana tindak lanjut untuk pemilahan sampah organik dan anorganik. Hasil pemilahan sampah organik kemudian akan dikirimkan sebagai pakan maggot, di pusat budidaya maggot yang sedang dibangun di 2 lokasi di kota Depok.

Aplikasi SIKEBAS Jadi Andalan Monitoring Program PMT di Pangalengan

Galeri

Sebanyak 393 kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) Kecamatan Pangalengan mengikuti sosialisasi penggunaan aplikasi SIKEBAS (Sistem Informasi Keluarga Sehat Bahagia Tanpa Stunting) untuk memonitoring program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di sana pada Selasa, (30/9) di GOR Sorga, Desa Margamekar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Aplikasi SIKEBAS yang digunakan oleh CARE Indonesia (Yayasan CARE Peduli/YCP) dalam program percepatan penurunan stunting yang didukung oleh LPS di Kecamatan Pangalengan, mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Kecamatan Pangalengan.

Aplikasi itu dinilai mampu menjadi solusi dalam memonitoring perkembangan penerima PMT. Berkat inilah, Pemerintah Kecamatan Pangalengan meminta mitra lain yang juga melakukan program PMT di sana untuk menggunakan SIKEBAS. Selanjutnya, para kader TPK akan dipilih dan dilatih untuk menggunakan SIKEBAS untuk memonitoring perkembangan penerima PMT.

Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) di Desa Pombewe Dorong Usaha Anggota Melalui Lapak KUEP

Galeri

Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Sintuvu Mpasanggani Pombewe di Desa Pombewe, Kab. Sigi membentuk lapak KUEP (25/09) untuk menampung usaha dari anggotanya. Dengan dampingan dari CARE Indonesia bersama Karsa Institute dengan dukungan UN Women dan pendanaan dari Korea International Cooperation Agency (KOICA), lapak KUEP diharapakan dapat meningkatkan pendapatan dari anggota KUEP.

Berbagai usaha seperti makanan ringan, kue pasar, hingga masakan ditampung di lapak KUEP. Selain menampung usaha anggota, lapak KUEP juga dimanfaatkan sebagai tempat edukasi bagi masyarakat terkait kesetaraan gender saat berbelanja.

Perubahan Iklim Jadi Tantangan Pekerja Perempuan di Pabrik Garmen

Cerita

Penelitian yang dikeluarkan Global Labor Institute, Cornell University tahun 2024 menjelaskan, perubahan iklim mendorong kenaikan suhu yang menyebabkan cuaca panas ekstrem. Penelitian tersebut menyebutkan Bangladesh, Vietnam, dan Pakistan mengalami suhu panas terik di atas 30,5 derajat Celsius, melonjak hingga 42% pada tahun 2020–2024 dibandingkan dengan tahun 2005–2009. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyatakan, lebih dari 2,4 miliar pekerja terpapar panas berlebih secara global. Akibatnya, lebih dari 22,85 juta orang mengalami cedera seperti kelelahan, dehidrasi, pingsan, dan lainnya setiap tahun.

Kondisi serupa juga membayangi para pekerja perempuan di pabrik garmen di Indonesia. Menyadari tantangan ini, CARE Indonesia (Yayasan CARE Peduli/YCP) bersama dengan CARE USA dan CARE Impact Partners (CIP) mengembangkan Gather, Exchange & Navigate (GEN) Network untuk mempertemukan perusahaan garmen di Indonesia guna membahas dan mencari jalan keluar bersama mengenai dampak perubahan iklim bagi pekerja perempuan.

Yohana Tantria, Project Manager CARE Indonesia, mengatakan bahwa perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem, banjir, hujan yang tidak menentu, dan kelangkaan air menjadi tantangan perempuan yang bekerja di industri garmen.

“Industri garmen di Indonesia mempekerjakan sekitar 3,5 juta orang dengan mayoritas pekerjanya adalah perempuan, yakni sebanyak 80 persen. Oleh karena itu, penerapan langkah adaptasi perubahan iklim menjadi penting dilakukan agar pekerja perempuan mendapatkan ruang aman,” katanya.

Yohana menambahkan, sembilan perusahaan anggota GEN yang menghadiri pertemuan, menyebutkan, panas ekstrem menjadi permasalahan yang paling mendesak. Dijelaskan, pada beberapa area produksi, suhu sering kali melebihi 30 derajat Celsius, bahkan ada laporan yang mengatakan suhu di departemen pengepakan pernah mencapai 38 derajat Celsius. Bagi para pekerja, terutama yang bertugas menjahit, finishing, dan menyetrika, panas ini menyebabkan pusing, sakit kepala, kelelahan, dan mual.

“Gejala ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan individu tetapi juga mengurangi konsentrasi, memperlambat produksi, dan meningkatkan ketidakhadiran. Ketika kehadiran dan target pekerja tidak terpenuhi, bisa saja terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Bagi perempuan yang sudah menikah dan tidak memiliki kemandirian ekonomi, hal ini semakin meningkatkan risiko terjadinya kekerasan berbasis gender dalam rumah tangga,” imbuh Yohana.

Yohana juga menjelaskan dari pertemuan, sebagai langkah adaptasi perubahan iklim bagi pekerja di pabrik garmen, jaringan GEN akan berupaya secara bertahap meningkatkan ventilasi sebagai saluran udara, mengganti seragam pekerja dengan bahan yang lebih sejuk, menyampaikan peringatan dehidrasi bagi pekerja, dan menyediakan wadah minum gratis. Beberapa perusahaan menurut Yohana juga telah memperkenalkan protokol di tempat kerja untuk mengatasi stres panas, lengkap dengan pelatihan bagi tim pertolongan pertama dan hotline darurat.

“Inisiatif untuk menggunakan ‘water man’ yang bertugas berkeliling memberikan air minum bagi para pekerja satu per satu juga telah dilakukan oleh beberapa perusahaan. Upaya ini bisa mengurangi risiko dehidrasi bagi pekerja dan mengurangi waktu pekerja meninggalkan meja kerja, sehingga produktivitas meningkat sekaligus memperkuat budaya kepedulian terhadap kesejahteraan pekerja,” ujarnya.

Yohana menambahkan, agar upaya adaptasi perubahan iklim bagi pekerja pabrik garmen berjalan dengan baik, CARE Indonesia bersama dengan perusahaan garmen yang menjadi anggota GEN Network secara rutin mengadakan diskusi sebulan sekali. Diharapkan progres dan kendala yang sedang terjadi dapat tersampaikan dan dimonitor. Pada bulan Agustus 2025 lalu, para perusahaan anggota GEN Network mengadakan kampanye tentang perubahan iklim dan pencegahan kekerasan berbasis gender di lingkungan pabriknya masing-masing.

 

Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika