Search
Close this search box.

Pertukar Gagasan, Membangun Aksi: GEN In-Person Perkuat Perlindungan Pekerja Perempuan dari Dampak Perubahan Iklim

Galeri

Sebanyak 17 peserta dari 9 perusahaan yang tergabung dalam Gather Exchange Navigate (GEN) dari Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mengikuti kegiatan GEN In-Person: Penguatan Pencegahan KBG dan Ketahanan Iklim di Industri Garmen pada Jumat–Minggu (6–8/2) di Hotel Oria, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antarperusahaan untuk bertukar gagasan dan praktik baik dalam mencegah kekerasan berbasis gender (KBG) di tempat kerja sekaligus merespons dampak perubahan iklim, seperti pemberian subsidi vitamin bagi pekerja perempuan guna menjaga daya tahan tubuh dan sirkulasi udara yang baik di pabrik. Pada kegiatan itu, peserta kegiatan beradu gagasan  dengan menyusunan roadmap pencegahan dan penanganan KBG serta respons perubahan iklim yang berorientasi pada kesejahteraan pekerja dan keberlanjutan bisnis di dalam ruangan. Rangkaian kegiatan ditutup dengan aksi di ruang publik melalui pembagian bibit dan tanaman gratis kepada masyarakat saat Car Free Day di kawasan Sudirman–Thamrin, Jakarta. Sebagai upaya tindak lanjut, anggota GEN juga sepakat menggelar pertemuan daring mingguan sebagai ruang evaluasi dan diskusi berkelanjutan.

Kegiatan ini menghadirkan Agni Pratistha, seorang aktris yang membawakan materi tentang pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah serta pentingnya keterlibatan publik dalam mengantisipasi perubahan iklim. Turut hadir sebagai narasumber Priadi Santosa dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Franky Zamzani dari Kementerian Lingkungan Hidup, dan Yenny Anggraeni dari Kementerian Ketenagakerjaan yang menyampaikan peran lintas kementerian dalam memperkuat kebijakan perlindungan perempuan, pencegahan KBG, serta integrasi perspektif gender dalam respons perubahan iklim dan praktik kerja yang berkelanjutan.

Pemberdayaan Perempuan dan Pemuda Perkuat Ketangguhan masyarakat di Enam Desa di Kabupaten Sigi

Galeri

Upaya kolaboratif untuk membangun perdamaian dan memperkuat ketangguhan masyarakat, termasuk perempuan dan pemuda dilaksanakan oleh CARE Indonesia bersama KARSA Institute dengan dukungan UN Women dan pendanaan dari KOICA di Desa Ngatabaru, Pombewe, Pesaku, Rarampadende, Wisolo, dan Ramba di Kabupaten Sigi.

Pembentukan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) berhasil memperkuat peran dan kepemimpinan perempuan di tingkat desa serta berkontribusi pada peningkatan pendapatan rumah tangga. Selain itu, penguatan jejaring pemuda lintas desa mendorong pemuda menjadi aktor utama dalam membangun perdamaian, dengan peran aktif dalam pencegahan konflik dan mendukung perdamaian yang berkelanjutan di masyarakat.

Dukung tempat kerja aman dan nyaman dengan penerapan HRDD dan GRDD di perusahaan

Galeri

20 staf perwakilan manajemen PT Gunung Salak Sukabumi di Ka. Sukabumi ikuti pelatihan Gender Responsive Due Diligence (GRDD) dan Human Rights Due Diligence (HRDD) (19/01). Dengan dukungan dari CARE Indonesia bersama para mitra, manajemen perusahaan mendapatkan pemahaman tentang penerapan prinsip responsif gender dan hak asasi manusia di perusahaan.

Pelatihan berlangsung interaktif melalui pemaparan materi, permainan dan studi kasus untuk membantu peserta memahami peran HRDD dan GRDD dalam mendorong pemberdayaan pekerja, termasuk pekerja perempuan, menciptakan tempat kerja yang aman dan bebas kekerasan berbasis gender, serta mendukung keberlanjutan usaha. Setelah pelatihan, manajemen berkomitmen menyusun rencana tindak lanjut dalam memperkuat penerapan HRDD dan GRDD pada kebijakan serta praktik perusahaan.

Catatan Perjalanan: Upaya Scale-Up Usaha Kelompok Perempuan, Dari Musi Banyuasin Mencari Ilmu Hingga ke Pulau Jawa

Cerita

Di Kabupaten Musi Banyuasin, produk kerajinan anyaman dari lidi sawit dikatakan menjadi salah satu produk unggulan kabupaten yang telah masuk dalam katalog eleoktronik milik Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin. Para perempuan yang menjadi pengrajin anyaman lidi sawit tersebut berasal dari beberapa desa, dan masing-masing dari sosok pengrajin tersebut adalah anggota dari Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP).

Iswandi Gunata, Field Officer CARE Indonesia yang bertugas di Kabupaten Musi Banyuasin menjelaskan, anyaman dari lidi sawit dipilih menjadi usaha yang paling banyak dijalankan oleh KUEP karena kemudahan bahan baku yang berasal dari pelepah sawit tidak terpakai, sehingga membantu mengelola limbah yang biasanya menumpuk di area perkebunan sawit dan diubah menjadi produk seni yang juga bernilai ekonomi karena banyak diminati pembeli.

Tidak hanya mengembangkan usaha dari sisa pelepah sawit, menurut Iswandi, anggota KUEP pun ada yang berinisiatif membuat usaha yang memanfaatkan limbah lain seperti tandan buah kosong sawit untuk budidaya jamur merang, hingga budidaya maggot dari Black Flies Soldiers (BSF) untuk mengurai sampah organik rumah tangga. Tingginya antusiasme anggota KUEP mengembangkan usaha yang ramah lingkungan dan menerapkan prinsip ekonomi sirkular ini menurut Iswandi mendapat dukungan dan apresiasi banyak pihak, salah satunya pihak perusahaan perkebunan sawit yakni PT Hindoli serta dari Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin.

“Pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga bisa menjadi sumber penghidupan bagi kelompok perempuan. Hal inilah yang diharapkan bisa mendapatkan dukungan serta kolaborasi dari berbagai pihak seperti pemerintah setempat dan PT Hindoli yang selama ini selalu mendukung pemberdayaan perempuan,” ujarnya.

Lebih lanjut menurut Iswandi, besarnya potensi pengembangan usaha kerajinan dan pengelolaan limbah dengan prinsip ekonomi sirkular yang dilakukan KUEP, memperkuat dukungan multipihak sehingga dilakukan studi ajar dan pelatihan untuk menambah tidak hanya pemahaman kelompok perempuan tapi juga dukungan replikasi dan scale-up usaha yang berkelanjutan.

Selama Januari 2026, perjalanan mencari ilmu ke dua lokasi di pulau Jawa pun dijalankan. “Perjalanan pertama dengan studi ajar ke Maggot Center di Kota Depok. Kami dapat dukungan dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Musi Banyuasin Oktarizal, Staf Khusus Bupati Musi Banyuasin Mualimin Pardi Dahlan, dan Manager CSR PT Hindoli untuk meihat langsung bangaimana penerapan ekonomi sirkular di maggot center ini,” katanya.

Tanggapan positif disampaikan baik dari perwakilan Pemerintah Kabupaten Muba maupun dari pihak perusahaan. Menurut Iswandi, kesempatan melihat langsung bagaimana Maggot Center yang bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Beji Timur berhasil melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik, memberikan perspektif baru pada peserta yang ikut studi ajar.

“Pembelajaran dari Depok membuka perspektif kami bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga bisa menjadi sumber penghidupan bagi kelompok perempuan. Hal inilah yang kemudian akan dirumuskan kembali secara bersama dan lintas sektor serta memberi keyakinan bahwa upaya yang dilakukan bersama berbagai pihak terkait dapat berjalan lebih terintegrasi, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya perempuan. Salah satu anggota KUEP di Muba sudah mengembangkan usaha budidaya maggot tapi memang belum dibuat terintegrasi. Harapannya, akan ada dukungan multipihak untuk mengembangkan usaha pengelolaan maggot ini, yang bisa terintegrasi dengan kebun gizi dan ternak yang dikelola oleh kelompok maupun perseorangan,” ujarnya.

Perjalanan mencari ilmu kedua dikisahkan Iswandi tidak kalah seru, yakni mendampingi 10 pengrajin anyaman lidi sawit perempuan dari 5 desa ke Kabupaten Kulon Progo.

Perjalanan para pengrajin perempuan dari Desa Karya Maju, Desa Sumber Agung, dan Desa Cipta Praja di Kecamatan Keluang, serta Desa Banjar Jaya dan Desa Sri Mulyo di Kecamatan Tungkal Jaya dikatakan Iswandi tidak mengenal lelah. Para pengrajin perempuan digambarkan Iswandi bahkan tidak ada kekhawatiran sedikitpun menaiki pesawat melintasi pulau, demi meningkatkan kualitas dan variasi produk anyaman yang selama ini sudah mereka produksi serta bisa menjangkau pasar lebih luas.

“Ini adalah momen yang sangat kami tunggu. Saya melihat ibu-ibu pengrajin sangat antusias dalam mengikuti setiap instruksi dan sangat teliti saat praktik. Di sana kami melihat beragam produk anyaman dengan variasi bahan dasar seperti rotan, serat gedebong pisang, pandan, dan eceng gondok,” tuturnya.

Antusiasme para pengrajin perempuan anggota KUEP ini dikatakan Iswandi selalu tinggi di setiap sesi pelatihan. Ketika jari-jari perempuan pengrajin bergerak lincah menyelipkan material ke setiap celah hingga menghasilkan kerajinan yang indah, senyum dan canda diantara mereka tidak henti dilontarkan, menambah semangat sesi praktik.

“Saya memperhatikan dengan saksama bagaimana ibu-ibu pengrajin ini sangat serius dalam belajar. Selama pelatihan mereka tidak pernah mengeluh, justru selalu penasaran dengan materi selanjutnya yang akan dipelajari. Tidak hanya kemampuan yang diharapkan terasah, tetapi juga kepercayaan diri pengrajin untuk terus berkarya,” tuturnya.

Tak terasa, lima hari waktu belajar di Kulon Progo pun usai dan rombongan harus kembali ke Musi Banyuasin. Iswandi menjelaskan, setelah pelatihan ini para pengrajin perempuan dari anggota KUEP akan mulai mengolah lidi sawit yang dipadukan dengan rotan, serat gedebong pisang, pandan, maupun eceng gondok.

Perjalanan menuntut ilmu kali ini tidak hanya menambah pemahaman, namun juga menginspirasi untuk membuat hasil baik yang sudah berjalan di desa dari upaya kelompok perempuan lebih besar dan lebih berdampak.

“Ketika perempuan diberi ruang, keterampilan, dan dukungan, mereka mampu menciptakan perubahan serta dampak ekonomi yang positif. Dukungan multipihak dan kegigihan kelompok perempuan pasti bisa membuat usaha yang ramah lingkungan jadi berkelanjutan dengan prinsip ekonomi sirkular. Bagi saya, proses ini bukan hanya soal hasil akhir berupa produk, tetapi tentang bagaimana perempuan saling belajar, saling menguatkan, dan membangun kemandirian ekonomi bersama, serta diperkuat dengan adanya lingkungan yang suportif,” pungkasnya.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Siaran Pers: Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dan Penguatan Jejaring Pemuda Perkuat Ketangguhan di Enam Desa Kabupaten Sigi

Berita

Upaya membangun perdamaian dan ketangguhan masyarakat termasuk kelompok perempuan dan pemuda dilakukan CARE Indonesia bersama KARSA Institute, didukung UN Women dengan pendanaan dari KOICA, di enam desa, yakni Desa Ngatabaru, Pombewe, Pesaku, Rarampadende, Wisolo dan Ramba, Kabupaten Sigi. Pemberdayaan ekonomi melalui pembentukan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) berhasil memperkuat peran dan kepemimpinan perempuan di desa sekaligus menambah pendapatan keluarga. Selain itu, pendekatan kesetaraan gender yang diimplementasikan di enam desa tersebut dikatakan berhasil memperkuat kesetaraan relasi dan akses di tingkat rumah tangga, komunitas bahkan di tingkat desa yang ditandai dengan ditetapkannya enam desa tersebut ditambah dua desa tetangga, yakni Desa Launca dan Desa Moa, menjadi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA). Tidak hanya itu, penguatan jejaring pemuda lintas desa berhasil menjadikan pemuda sebagai aktor pencipta perdamaian yang mencegah terjadinya konflik.

Dr. Abdul Wahib Situmorang, CEO CARE Indonesia menjelaskan, upaya mendorong ketangguhan dan perdamaian di masyarakat kerap kali luput melibatkan perempuan dan pemuda. Menurutnya, perempuan hadir sebagai penyangga ketangguhan sosial namun sering kali tidak diakui secara formal, sementara pemuda kerap dianggap sebagai aktor di dalam konflik, dengan energi, kerentanan, dan ambiguitas peran.

“CARE bersama KARSA dan mitra melihat, penguatan dan pelibatan perempuan serta pemuda menjadi kunci untuk mendorong resiliensi masyarakat terutama di Kabupaten Sigi yang kita ketahui merupakan wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam dan dinamika konflik sosial. Pendekatan dengan perspektif kesetaraan gender diimplementasikan, yang diselaraskan juga dengan praktik desa, tata kelola lokal serta pemanfaatan ruang-ruang informal dan digital. Hasil baik ini diharapkan dapat memperkaya kerangka Humanitarian–Development–Peace (HDP) Nexus serta bisa terus berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Mutmainah, anggota Badan Permusyawarahan Desa (BPD) Ramba mengatakan edukasi dan pendampingan mengenai kesetaraan gender yang ia dan suami dapatkan membawa perubahan baik pada pelaksanaan peran domestik di rumah mereka. Menurutnya, pemahaman tentang kesetaraan gender pun menjadi pertimbangan yang ia sampaikan sebagai pengurus BPD dalam membuat perencanaan dan penganggaran desa.

“Pengingkatan kapasitas yang saya ikuti seperti kepemimpinan dan berbicara di publik ini berpengaruh terhadap peran saya sebagai BPD Ramba. Edukasi kesetaraan gender yang melibatkan saya dan suami pun memperkuat kesetaraan terutama dalam pembagian peran dan tugas di rumah ya. Saya juga menjadi lebih memahami tentang tentang kebutuhan perempuan dan laki-laki dalam pembangunan desa,” ujarnya saat mengikuti Workshop Pembelajaran Implementasi Program We Nexus, pada Kamis (29/1) di Hotel Best Western Coco Palu, Kota Palu.

Mutmainah menambahkan, penguatan peran perempuan di desa semakin ia rasakan setelah ia tergabung menjadi anggota KUEP di Desa Ramba. Menurutnya, KUEP membuat perempuan di Desa Ramba tidak hanya belajar pengelolaan keuangan, tapi juga mendapat tambahan modal untuk usaha dari simpan-pinjam yang diberlakukan di KUEP yang bisa menambah pendapatan keluarga.

“Keberadaan KUEP juga menjadi solusi simpan-pinjam bagi saya. Kami merasa terbebas dari tekanan tanggung renteng, karena sistem dan desain simpan pinjam di KUEP disepakati bersama. Bahkan di KUEP di Desa Ramba, pada siklus ke-2 ini modal nya sudah mencapai 46.850.000 Rupiah,” ujar Mutmainah.

Senada dengan Mutmainah, Sandi, Perwakilan Pemuda dari Desa Rarampadende turut menyampaikan kegembiraannya terlibat dalam upaya memperkuat perdamaian dan ketangguhan masyarakat di desanya. Menurut Sandi, pemuda jarang sekali dilibatkan secara intensif dalam dialog atau forum-forum di desa, sehingga ia senang bisa mendapatkan edukasi terkait kesetaraan gender, penciptaan perdamaian serta ikut serta dalam kegiatan kepemudaan lintas desa.

“Kegiatan kemah pemuda dan forum-forum diskusi informal yang dilakukan membuat saya jadi lebih mengenal teman-teman dari desa lain. Sebelumnya saya lebih sering bergaul dengan teman-teman satu desa saja, tapi sekarang kami punya grup untuk bisa saling berbagi informasi. Pertemanan kami pun bertambah ya di media sosial. Dari grup dan medsos itulah kami membuat pekan olahraga antar desa agar pertemanan kami semakin kuat dan tidak ada lagi konflik antar desa kedepannya,” ujarnya.

Rahmat Saleh, Ketua Dewan Pengurus Karsa Institute menuturkan, pelibatan pemuda dan pemberdayaan ekonomi kelompok perempuan telah mendapat dukungan dari pemerintah desa setempat serta lembaga terkait lainnya. Menurutnya, operasional dari KUEP, kelanjutan DRPPA serta kegiatan kepemudaan telah masuk dalam perencanaan desa.

“Pemerintah desa, termasuk dinas terkait turut memandang penting keberlanjutan dalam pelibatan pemuda dan pemberdayaan kelompok perempuan di enam desa ini untuk resiliensi masyarakat. Kelompok pemuda dan perempuan yang sudah terbentuk, seperti usaha kelompok serta model simpan-pinjam di KUEP, Kelompok Siaga Bencana (KSB), satgas untuk posko PPA di desa, forum kepemudaan desa serta implementasi DRPPA kedepannya akan juga didukung dari perencanaan desa serta pendampingan teknis dari dinas terkait,” ujarnya.

Mohamad Rizal Intjenae, Bupati Kabupaten Sigi menyambut baik perubahan dan ketangguhan yang terbentuk di masyarakat desa, terutama pemuda dan peremuan. Ia menyampaikan, hasil dari kerja kolaborasi yang sudah berjalan di enam desa ini sejalan dengan aspek pencegahan yang menjadi fokus Pemerintah Kabupaten Sigi, dalam menangani situasi krisis.

“Pemkab Sigi berfokus pada tiga aspek, yakni pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi yang berkelanjutan terkait situasi krisis. Mitigasi yang kami lakukan melibatkan berbagai pihak termasuk kalangan muda dan perempuan. Kolaborasi CARE Indonesia dan Karsa di enam desa ini sudah sangat baik dan sejalan dengan fokus kami. Ini menjadi pembelajaran yang sangat baik. Pemkab menyambut baik dan mendukung untuk terus memperkuat pemberdayaan perempuan dan penguatan ketangguhan jejaring pemuda tidak hanya di enam desa ini tapi juga untuk seluruh desa di Sigi,” katanya.

Kebun Gizi: Mewujudkan Pola Makan Sehat dari Pangan Lokal untuk Keluarga

Cerita

Memenuhi kebutuhan gizi anak bukan hanya tentang menyediakan makanan, tetapi juga tentang memastikan setiap keluarga memiliki akses terhadap pangan bergizi yang aman, berasal dari lokasi setempat, dan dikelola secara berkelanjutan. Di Indonesia, tantangan pemenuhan gizi masih nyata, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 prevalensi stunting nasional turun menjadi sekitar 19,8 persen tahun 2024, namun masih merupakan isu serius yang perlu diatasi.

Upaya pemenuhan gizi keluarga dilakukan CARE Indonesia bersama mitra melalui pembuatan kebun gizi berbasis komunitas yang dikelola kelompok perempuan. Pengelolaan kebun gizi telah dilakukan di Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Kabupaten Nagekeo. Kebun gizi adalah lahan yang dikelola secara kolektif oleh kelompok masyarakat sering kali difasilitasi oleh perempuan untuk menanam berbagai jenis pangan lokal bergizi seperti sayuran, buah-buahan, umbi, dan tanaman protein nabati. Hasil kebun ini menjadi sumber asupan gizi yang bisa langsung dimanfaatkan untuk keluarga dan komunitas, serta sisa panen kerap dijual yang hasil penjualannya menjadi tambahan pendapatan keluarga anggota kelompok perempuan yang mengelola.

Pangan Lokal untuk Gizi Seimbang

Pangan lokal yang segar dan beragam membantu memenuhi standar pemenuhan gizi anak yang dianjurkan pemerintah Indonesia melalui pola makan beragam, bergizi seimbang, dan aman. Dengan mengolah bahan-bahan dari kebun gizi, keluarga dapat menyajikan makanan yang kaya vitamin, mineral, dan serat. Sesuai dengan anjuran menu empat bintang yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kebun ini secara langsung menjawab kebutuhan nutrisi anak dengan menyediakan bahan makanan bergizi di lingkungan terdekat. Dari sisi ekonomi, kebun gizi mendukung kemandirian keluarga melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang menghasilkan manfaat nyata dalam konsumsi dan pendapatan.

Lebih penting lagi, kebun gizi membantu membangun kesadaran bersama bahwa pemenuhan gizi adalah hasil kolaboratif antara akses pangan yang baik, pendidikan gizi keluarga, serta dukungan komunitas. Dengan menanam, memanen, mengolah, dan mengonsumsi pangan dari kebun sendiri, keluarga Indonesia dapat melangkah menuju kehidupan yang lebih sehat, kuat, dan produktif.

Kebun Gizi dan Ekonomi Sirkular

Lebih dari itu, kebun gizi juga mendukung ekonomi sirkular di komunitas: hasil panen yang tidak langsung dikonsumsi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah atau dijual untuk meningkatkan pendapatan kelompok. Limbah organik dari konsumsi rumah tangga pun dapat dijadikan kompos untuk memperkaya tanah, menciptakan siklus produksi yang efisien dan ramah lingkungan.

Kebun gizi yang dikelola, diintegrasikan dengan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk menguraikan sampah organik rumah tangga. Maggot yang dikelola oleh kelompok perempuan ini diolah menjadi pupuk, pakan ternak, dan budi daya ikan.

Perempuan memainkan peran sangat penting dalam memastikan kebutuhan gizi keluarga terpenuhi. Dalam banyak komunitas, perempuan tidak hanya bertanggung jawab menyiapkan makanan, tetapi juga menjadi pengelola kebun gizi, pembelajar utama tentang praktik gizi, serta katalis bagi perubahan perilaku makan yang lebih sehat. Partisipasi perempuan dalam kebun gizi juga membuka ruang bagi mereka untuk memperkuat kapasitas organisasi, mengambil keputusan, serta memperluas jejaring sosial dan ekonomi.

Implementasi kebun gizi berbasis komunitas sangat relevan dengan tema Hari Gizi Nasional: “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”. Masyarakat, termasuk kelompok perempuan tidak hanya semakin berdaya dengan penambahan kemampuan pengelolaan kebun gizi terintegrasi, juga dapat memaksimalkan potensi pangan yang tumbuh di sekitar, sekaligus menjadi tambahan pendapatan rumah tangga.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Kelompok Perempuan dalam KUBE Perkenalkan Produk Olahan Rumahan di gelaran UMKM Kec. Pangalengan

Galeri

Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Community Development Forum (CDF) perkebunan Pasir Malang dan Malabar turut meramaikan gelar UMKM pada Peringatan Hari Desa Nasional yang diselenggarakan Pemerintah Kab. Bandung di Desa Banjarsari (23/01). Dalam kesempatan ini, KUBE yang menjadi bagian dari program kolaborasi CARE Indonesia bersama para mitra memperkenalkan berbagai produk olahan, seperti buah kering, teh, dan aneka camilan hasil usaha kelompok.

Melalui kegiatan ini, KUBE mulai memperluas jangkauan pasar ke luar desa, langkah ini diharapkan dapat mendorong penjualan dan meningkatkan ekonomi anggota, terutama perempuan. Ke depannya, pemasaran akan diperkuat melalui kanal toko online serta kerja sama dengan pengelola rest area di sekitar Kec. Pangalengan, Kab. Bandung.

Kelompok Wanita Tani di Kab. Musi Banyuasin Siap Dukung Pasokan Dapur MBG

Galeri

Kelompok Wanita Tani (KWT) di 13 desa di Kab. Musi Banyuasin dipersiapkan sebagai pemasok dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), upaya ini dapat mendorong pendapatan anggota kelompok sekaligus menjamin kualitas pangan untuk menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Persiapan dilakukan melalui lokakarya integrasi kebun KWT sebagai penyedia komoditas pangan dapur SPPG (20/01), kegiatan ini merupakan kerja bersama PT Cargill, CARE Indonesia, dan Pemerintah Kab. Musi Banyuasin.

Selain KWT, Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) di 13 desa juga dilibatkan dalam mendukung pasokan dapur SPPG melalui usaha peternakan ayam, budidaya ikan dan budidaya jamur merang agar bahan pangan lebih beragam. Kedepannya lahan kebun KWT akan ditambah bersamaan dengan persiapan lainnya seperti peningkatan kapasitas anggota KWT dan persiapan kerja sama antara KWT, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta SPPG.

Studi Ajar Pengembangan Usaha Ekonomi Sirkular di Musi Banyuasin

Galeri

Mendorong replikasi dan pengembangan skala usaha berbasis ekonomi sirkular dari usaha kelompok perempuan di Kab. Musi Banyuasin terus dilakukan CARE Indonesia bersama PT. Cargill dan Pemerintah Kab. Musi Banyuasin. Studi ajar diikuti perwakilan Pemerintah Kab. Musi Banyuasin dan perwakilan PT. Hindoli ke maggot center dari program CARE Indonesia bersama mitra di Kota Depok (13-14/01), untuk meningkatkan pemahaman tentang integrasi pengelolaan sampah organik dengan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) serta pengelolaan ternak dan kebun nutrisi pekarangan dengan maggot sebagai pakan dan pupuk.

Kunjungan melihat integrasi usaha di Maggot Center ini ditargetkan dapat diimplementasikan pada usaha berbasis ekonomi sirkular yang sudah dijalankan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) di Kab. Musi Banyuasin sebagai peningkatan pendapatan rumah tangga.

Kolaborasi Lintas Sektor Dorong Kepemimpinan Perempuan dalam Pemulihan Mangrove

Galeri

Perkuat peran, kapasitas, dan jejaring perempuan dalam pemulihan lanskap mangrove, sejalan dengan arah kebijakan Ekonomi Biru dan prioritas nasional dalam rehabilitasi ekosistem pesisir pesisir dan mangrove. Kick-off Program PERISAI Mangrove (PERempuan Sebagai Agen dan Inisiator Pemulihan Landskap Mangrove) yang dilaksanakan CARE Indonesia dengan dukungan Ford Foundation (13/1) dihadiri perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pemerintah Kabupaten Tojo Una-una,Direktur Regional Ford Foundation dan lembaga sipil (CSO), dan komunitas perempuan.

Kedepannya, jejaring PERISAI Mangrove akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memperkuat kerja sama dalam perlindungan mangrove yang dilakukan oleh kelopok perempuan.