Laporan Women Respond dari CARE mengungkap peran kelompok simpan pinjam dalam menghadapi tekanan ekonomi dan memberi pelajaran penting bagi penguatan perempuan
Kelompok berbasis komunitas yang menerapkan sistem menabung dan mengelola dana pinjaman bagi anggotanya, tetap menjadi tempat mencari dukungan para perempuan di berbagai lokasi, ketika krisis menekan penghasilan dan kebutuhan keluarga. Namun, pulihnya kegiatan kelompok belum selalu berarti kehidupan anggotanya ikut pulih.
Temuan ini mengemuka dalam laporan CARE, Women Respond: What Women Told Us in 2025, yang diterbitkan pada 30 September 2026. Bagi Indonesia, temuan tersebut relevan untuk memahami peran kelompok simpan-pinjam perempuan dan dukungan yang mereka perlukan agar dapat terus berkembang.
“Meski di bawah tekanan sebesar ini, saya tetap menabung setiap bulan di kelompok. Bagi saya, kelompok tabungan adalah satu-satunya jaring pengaman,” pernyataan seorang partisipan perempuan di Kolombia yang menggambarkan arti kelompok tabungan bagi anggotanya.
Pendekatan Village Savings and Loan Association (VSLA) yang dijalankan CARE di berbagai negara, membuka akses para anggota yang mayoritas adalah perempuan untuk bisa menabung, mengakses pinjaman, dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Kepercayaan dan kesepakatan bersama menjadi dasar pengelolaan dana tersebut.
Women Respond merupakan inisiatif CARE untuk mendengarkan pengalaman perempuan menghadapi guncangan dan krisis serta memastikan prioritas mereka menjadi dasar program. Putaran pertama survei pada 2025 menjangkau 3.560 anggota VSLA di Burundi, Kolombia, Etiopia, Mali, Niger, Suriah, dan Vietnam; 85 persen di antaranya perempuan. Putaran kedua menjangkau 3.069 anggota di enam negara. Pemberdayaan kelompok simpan-pinjam yang digerakkan oleh perempuan di Indonesia belum termasuk dalam survei ini, tetapi pengalaman kelompok dampingan CARE Indonesia memberikan konteks lokal untuk membaca temuannya.
Laporan tersebut memperlihatkan tekanan yang berat terhadap penghidupan. Tiga dari empat perempuan yang disurvei kesulitan memperoleh penghasilan yang cukup. Banyak yang mengurangi makan untuk menghadapi kesulitan ekonomi. Di Burundi, rata-rata pendapatan bulanan perempuan turun dari 39 dolar AS sebelum krisis menjadi 18 dolar AS pada 2025.
Dalam kondisi itu, tabungan membantu anggota memenuhi kebutuhan, sementara kelompok menyediakan dukungan yang dapat menjangkau masyarakat sekitar lain, di luar keanggotaannya. Seorang anggota di Suriah menceritakan, “Kami saling meminjamkan uang, berbagi makanan, dan membantu siapa pun yang membutuhkan. Kami juga memakai sebagian uang kami untuk menolong warga sekitar kami, bahkan yang bukan anggota kelompok.”
Ada tanda membaiknya aktivitas kelompok. Proporsi kelompok yang dilaporkan bertemu secara rutin meningkat dari 47 persen pada putaran pertama menjadi 60 persen pada putaran kedua. Namun, pada periode yang sama, proporsi anggota yang meminjam untuk kebutuhan dasar, seperti pangan dan kesehatan, meningkat dari 36 persen menjadi 47 persen. Angka ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan rumah tangga di tengah keterbatasan sumber daya kelompok.
Temuan ini menjadi cara penting memahami ketangguhan. Kelompok yang tetap berjalan dapat menjadi sumber pertolongan bagi anggotanya yang masih membutuhkan dukungan untuk memulihkan penghasilan. Menurunnya kemampuan menabung atau meningkatnya pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari perlu dibaca sebagai tanda tekanan yang harus direspon.
Di Indonesia, pengalaman Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) dampingan CARE Indonesia, memperlihatkan bagaimana prinsip simpan-pinjam bersama diterapkan dalam kehidupan anggota. Pada 2025, tercatat 48 kelompok di Musi Banyuasin, Pangalengan, Likupang, Sigi, Bintan, dan Sumbawa Barat. Dari 1.140 anggota, sebanyak 1.096 orang atau lebih dari 96 persen adalah perempuan.
Selain modal awal sekitar Rp1,06 miliar, kelompok di enam wilayah tersebut menghimpun tabungan anggota sekitar Rp858 juta. Pinjaman tersalurkan mencapai sekitar Rp1,63 miliar sepanjang 2025. Kelompok juga menghimpun dana sosial sekitar Rp18,46 juta untuk membantu menghadapi kebutuhan darurat. Angka-angka ini menggambarkan sumber daya yang dikelola bersama dan dapat diakses anggota untuk berbagai keperluan.
Bagi Supriatin, anggota KUEP Mombine Sintuvu Maroso di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, manfaatnya terasa melalui pinjaman tanpa bunga yang dapat digunakan untuk usaha rumahan. Kedekatan kelompok juga memudahkan anggota mengakses dana.
“Kami sebagai anggota sangat terbantu dengan adanya fasilitas simpan pinjam yang ada di KUEP. Hal ini dimanfaatkan oleh anggota kami sebagai tambahan modal usaha rumahan bagi sebagian anggota KUEP. Karena dekat dengan rumah jadi kami tidak perlu jauh ke kota untuk mengambil uang,” jelas Supriatin.
Di Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Lisa, Ketua Koperasi Sekawan Mandiri, menjelaskan bagaimana modal KUEP mendukung usaha camilan dari para anggota kelompoknya seperti abon ikan, abon ayam, dan keripik. Dengan bahan baku yang berasal dari komoditas unggulan empat desa, dukungan KUEP menghubungkan usaha anggota dengan sumber daya ekonomi setempat.
“Semua bahan baku produk camilan ini dari 4 desa yang ada di Kecamatan Sungai Lilin, sehingga dijamin kesegarannya. Sebelumnya kami hanya menjual disekitaran desa dan dengan dukungan modal dari kelompok juga dampingan dari CARE Indonesia dan mitra, kami dapat mengembangkan variasi produk dari usaha kelompok,” ujar Lisa.
Pengalaman Lisa menunjukkan pentingnya mempertemukan akses modal dengan pendampingan usaha. Dana yang tersedia memberi ruang untuk mengembangkan produk, sementara dukungan lanjutan diperlukan agar usaha dapat menjangkau pasar dan menghasilkan pendapatan yang lebih stabil.
Di Desa Serawet, Sulawesi Utara, Wisye, anggota KUEP Rhizopora, menghubungkan harapan meningkatkan penghasilan dengan upaya menjaga pesisir. Ia bersama anggota kelompok memanfaatkan dana pinjaman KUEP untuk memperkuat usaha mencari dan menjual hasil tangkapan ikan dan kepiting, sekaligus kegiatan kelompoknya dalam menanam dan menjaga mangrove di sekitar desanya.
“Kami ingin penghasilan bertambah, tapi juga menjaga laut agar tetap lestari. Maka dari itu kami bergabung dengan KUEP untuk belajar tentang pengelolaan keuangan dan mencari peluang usaha lainnya,” ujar Wisye.
Senada dengan Wisye, Yeni yang juga anggota KUEP Rhizopora menyampaikan, “Dulu kami harus pinjam perahu orang lain, sekarang tidak lagi karena sudah ada bantuan perahu untuk kelompok. Bantuan ini sangat membantu aktivitas kami, karena kami tidak perlu lagi meminjam perahu milik orang lain untuk membawa bibit mangrove, mencari ikan, dan kepiting. Harapannya, dengan adanya bantuan alat tangkap dan perahu, hasil tangkapan kami saat melaut bisa meningkat. Nantinya, hasil tangkapan kelompok ini akan dijual ke pengepul untuk dikirim ke Kota Manado.”
Women Respon menyimpan temuan yang patut dicermati. Ketika krisis menekan, isu kepemimpinan dan kesetaraan perempuan cenderung bergeser ke urutan bawah karena kebutuhan mendesak lebih dulu dipenuhi. Karena itu, kelompok seperti KUEP dengan pendekatan VSLA, penting bukan hanya sebagai tempat menabung. Di sana perempuan belajar mengelola keuangan, mengambil keputusan bersama, dan berani bersuara. Itu adalah modal yang tidak tercatat di buku kas, tetapi menentukan seberapa kuat sebuah keluarga menghadapi guncangan berikutnya.
Anggota perempuan VSLA di Vietnam merangkumnya dengan tajam, “Orang sering berkata laki-laki membangun rumah dan perempuan membangun rumah tangga, tetapi ketika krisis datang, beban rumah tangga itu menjadi sangat berat. Kelompok simpan pinjam adalah cara perempuan berbagi beban itu bersama-sama.”
Baca lengkapnya Women Respond di https://www.care.org/resources/women-respond-report-2025/
Penulis: Swiny Adestika
Editor: Dr. Abdul Wahib Situmorang