Search
Close this search box.

Dari Temanggung untuk Dunia: Memperkuat Usaha dan Kepemimpinan Petani Kopi Perempuan

Share it with others

Kunjungan The Big Heart Foundation (TBHF) bersama NAMA Women Advancement (NAMA) ke komunitas petani kopi di Desa Kaloran, Kabupaten Temanggung, pada 17 September 2026 membuka ruang bagi perempuan untuk menyampaikan harapan tentang masa depan usaha mereka. Peningkatan keterampilan, pengolahan hasil panen, dan akses pasar yang lebih luas menjadi bagian penting dari aspirasi tersebut.

Kunjungan yang didampingi CARE Indonesia itu berlangsung di tengah upaya anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Makmur Lestari memperkuat kemampuan budi daya, pengelolaan keuangan, dan kelembagaan kelompok. Bagi ketua kelompok, Nartiyah, dukungan ini memberikan bekal untuk mengembangkan potensi kopi sekaligus memperkuat peran perempuan dalam usaha keluarga.

Nartiyah dan anggota kelompok selama ini terlibat dalam pekerjaan kebun, mulai dari pemupukan hingga panen dan penjemuran. Pengalaman tersebut menjadi modal penting, tetapi mereka masih membutuhkan pengetahuan dan peralatan yang lebih memadai untuk meningkatkan kualitas hasil panen.

“Selama ini kami terlibat di perkebunan kopi, mulai dari pemupukan, panen, hingga penjemuran biji kopi. Semua ini kami lakukan berdasarkan pengetahuan turun-temurun dari pendahulu. Sehingga, kami merasa perlu adanya pelatihan tentang budi daya kopi agar mendapatkan pengetahuan yang terkini dan inovasi lainnya,” katanya.

Melalui pendampingan, anggota kelompok memperoleh pembelajaran tentang budi daya kopi, pengelolaan keuangan, kesetaraan gender, dan penguatan kelompok. Nartiyah merasakan manfaatnya dalam merencanakan kebutuhan keluarga dan menjalankan usaha.

“Kami bersyukur dapat pendampingan seperti dari CARE Indonesia untuk budidaya, juga pelatihan lain termasuk budidaya kopi, pengelolaan keuangan, gender dan penguatan kelompok,” ujarnya.

“Sekarang saya semakin memahami tentang perencanaan keuangan, baik dalam bisnis dan juga di keluarga berkat pelatihan yang kami dapatkan. Selain itu, kami juga semakin mengerti tentang bisnis di industri kopi, sehingga anggota kami semakin banyak yang terlibat langsung di perkebunan kopinya masing-masing,” imbuh Nartiyah.

Kehadiran TBHF dan NAMA juga memberikan kesempatan bagi kelompok untuk membicarakan harapan pengembangan pengolahan kopi. Menurut Nartiyah, rencana fasilitas pengolahan dapat membuka peluang bagi petani untuk menjual produk pada tahap yang lebih lanjut dan memperoleh nilai tambah dari hasil kebun mereka.

“Selama ini petani menjual ceri merah jenis robusta dengan harga sekitar Rp 15 ribu per kilogram. Jika nantinya akan ada pabrik pengolahan, petani dapat menjual greenbean bahkan roastbean dengan harga sekitar Rp60 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram tergantung pasar. Tambahan nilai jual ini akan sangat menguntungkan masyarakat, termasuk petani perempuan,” katanya.

Peluang peningkatan pendapatan tersebut tetap bergantung pada mutu produk, biaya pengolahan, dan akses pembeli. Karena itu, pengembangan fasilitas perlu berjalan bersama peningkatan keterampilan petani dan kesiapan kelompok mengelola usaha.

Nartiyah berharap para petani dapat memahami pasar kopi secara lebih luas, termasuk pasar internasional. Selama ini, informasi harga yang mereka ketahui terutama berasal dari tengkulak. Akses informasi dan hubungan dengan calon pembeli diharapkan dapat memperluas pilihan pemasaran, seiring upaya meningkatkan kualitas kopi.

“Menurut kami, pelatihan budi daya dan pascapanen sangat diperlukan bagi petani agar mendapatkan pengetahuan baru dan inovasi tentang pengembangan kopi. Sehingga kualitas kopi yang kami hasilkan juga berstandar internasional,” tuturnya.

Harapan tentang keberlanjutan usaha kopi juga disampaikan Prilia, petani kopi muda sekaligus sekretaris KUB Makmur Lestari. Ia melihat pendampingan sebagai kesempatan untuk menarik lebih banyak perempuan muda dan generasi berikutnya ke dalam usaha kopi. Menurutnya, kesiapan masyarakat mengoperasikan peralatan dan memahami proses kerja perlu dibangun sebelum fasilitas pengolahan hadir.

“Saya kalau di kebun itu bantu memupuk, memetik, dan kalau sudah dipanen saya juga bantu menjemur. Menurut saya, pendampingan dan pelatihan yang diberikan juga menarik anak muda dan ibu muda untuk terjun ke perkebunan kopi. Selama ini anak muda masih jarang yang mau ikut kerja di kebun, karena menurut mereka hasilnya kurang terlihat cepat, tapi dengan pelatihan dan pendampingan ini, saya yakin anak muda akan mau lebih banyak terlibat di kebun. Saya berharap sebelum adanya pabrik, masyarakat terlebih dahulu diberikan peningkatan kapasitas dalam menjalankan alat, sistem kerja di pabrik, dan juga budi daya kopi,” imbuhnya.

Perubahan yang dirasakan Prilia juga menyentuh kehidupan rumah tangga. Ia menuturkan bahwa pembelajaran kesetaraan gender yang melibatkan laki-laki mulai mendorong pembagian pekerjaan domestik yang lebih baik di keluarganya dan keluarga anggota kelompok.

“Selama saya ikut dalam berbagai pelatihan dan pendampingan dari NAMA dan CARE ini, saya dan anggota lainnya banyak mendapat ilmu baru, seperti tentang pengelolaan keuangan, baik untuk bisnis dan juga keluarga. Bahkan, suami saya dan ibu-ibu anggota kelompok ikut mendapatkan pelatihan tentang kesetaraan gender yang membuat suami-suami ikut mengerjakan tugas domestik rumah tangga seperti menyapu dan tidak lagi meminta istri menyiapkan makanan saat sudah beristirahat,” jelasnya sambil tersenyum.

Pengalaman Prilia memperlihatkan pentingnya menghubungkan penguatan usaha dengan dukungan di rumah tangga. Pembagian tanggung jawab domestik yang lebih setara dapat memberi perempuan ruang untuk mengikuti pelatihan, mengelola usaha, dan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok.

Bagi Nartiyah dan Prilia, langkah selanjutnya adalah memperkuat keterampilan, menjaga kualitas kopi, dan mempersiapkan kelompok untuk memanfaatkan peluang pengolahan serta pemasaran. Harapan menjangkau pasar yang lebih luas tumbuh bersama keyakinan bahwa perempuan dan anak muda dapat mengambil peran lebih besar dalam pengembangan usaha kopi di desanya.

“Terima kasih pada semua pihak seperti NAMA, The Big Heart dan CARE. Sampai saat ini kami masih tidak percaya jika kopi yang ada di desa kami bisa menarik minat pihak dari luar negeri. Sehingga mereka menunjukkan kepedulian dan komitmen untuk ikut mengembangkan komunitas petani kopi, khususnya petani kopi perempuan di sini,” pungkas Nartiyah.


Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Cerita Terkait Lainnya