Search
Close this search box.

Puluhan Perempuan di Musi Banyuasin Ikuti Pelatihan Kepemimpinan

Galeri

26 perempuan dari Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) dan coordinator tim posko pendamping Kekerasan Berbasis Gender (KBG) pada 13 desa di Kabupaten Musi Banyuasin mengikuti pelatihan kepemimpinan bagi perempuan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan CARE Indonesia (YCP) didukung oleh mitra untuk mewujudkan kepemimpinan perempuan melalui keterampilan komunikasi hingga manajemen konflik.

Seluruh peserta mendapatkan penguatan tentang kepemimpinan berbasis gender melalui diskusi, studi kasus, dan simulasi tentang cara memimpin kelompok agar menjadi contoh dan dorongan anggota kelompok untuk berkembang. Setelah kegiatan ini, peserta menyusun rencana tindak lanjut berupa rencana kerja selama satu tahun kedepan, termasuk menyusun rencana kerja sama dengan pihak lain, upaya untuk merangkul merangkul dan mengembangkan kelompoknya agar lebih besar serta memberikan dampak baik bagi masyarakat.

Sembilan Desa di Kabupaten Sumbawa Barat Deklarasikan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak

Galeri

Sembilan desa yang ada di Kecamatan Maluk dan Jeraweh di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mendeklarasikan diri dan berkomitmen untuk menjadi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) pada Selasa (27/05). Komitmen ini mendukung target Pemerintah KSB dalam percepatan penurunan prevalensi stunting. Kesembilan desa tersebut adalah Desa Belo, Beru, Goa, Dasan Anyar, Maluk, Benete, Bukit Damai, Mantun, dan Pasir Putih. Menurutnya, DPRRA bertujuan untuk mewujudkan desa yang mengintegrasikan perspektif gender dan hak anak dalam berbagai aspek kehidupan.

Harapannya, program yang dilakukan oleh Yayasan CARE Peduli (YCP) yang didukung oleh AMMAN dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) upaya yang dilakukan ini dapat memberikan dampak pada penurunan prevalensi stunting di KSB dan berkontribusi pada tingkat nasional.

Sepakat, Sembilan Desa di Kabupaten Sumbawa Barat Deklarasikan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak

Berita

Sembilan desa yang ada di Kecamatan Maluk dan Jeraweh di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mendeklarasikan diri dan berkomitmen untuk menjadi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) pada Selasa (27/5). Komitmen ini mendukung target Pemerintah KSB dalam percepatan penurunan prevalensi stunting. Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat menyampaikan, prevalensi stunting di wilayah tersebut pada tahun 2024 berjumlah 7,37 persen. Jumlah ini menurun jika dibandingkan pada tahun 2023 yang berada pada angka 10,5 persen.

Muhammad Ikraman, Project Manager Yayasan CARE Peduli (YCP) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyampaikan, kesembilan desa tersebut adalah Desa Belo, Beru, Goa, Dasan Anyar, Maluk, Benete, Bukit Damai, Mantun, dan Pasir Putih. Menurutnya, DPRRA bertujuan untuk mewujudkan desa yang mengintegrasikan perspektif gender dan hak anak dalam berbagai aspek kehidupan.

“Sampai bulan Maret 2025 telah diterbitkan Peraturan Desa (Perdes) DRPPA di 16 desa intervensi program. YCP dan pemerintah desa memandang bahwa salah satu faktor penyebab stunting adalah perkawinan anak usia dini dan anemia pada remaja putri. Hal ini sekaligus mendorong Desa layak Anak,” katanya.

Lebih lanjut, Ikraman mengemukakan, pernikahan dini dan melahirkan anak bagi remaja bisa memicu kasus kematian dan morbiditas ibu yang lebih tinggi serta kematian neonatal dan bayi. Selain itu, kehamilan selama masa remaja dikaitkan dengan risiko masalah kesehatan yang lebih tinggi seperti anemia, infeksi menular seksual melahirkan anak dengan kondisi berat badan lahir rendah (BBLR) yang berpotensi besar pada stunting.

“Melihat permasalahan tersebut, YCP yang didukung PT. Amman Mineral menggandeng Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Nusa Tenggara Barat dan KSB serta pihak-pihak terkait lainnya. YCP ingin mendorong agar semua desa mempunyai perdes DRPPA dengan melakukan pendampingan penysunan Perdes tentang DRPPA, pembentukan Forum Anak Desa dan PPATBM (Perlindungan Perempuan dan Anak Berbasis Masyarakat),” imbuh Ikraman.

Pada kesempatan yang sama, Hairul, Sekretaris Daerah (Sekda) KSB yang mewakili Bupati Sumbawa Barat memberikan apresiasi upaya yang dilakukan oleh YCP dan PT. Amman Mineral dalam pencegahan dan penurunan stunting di derah tersebut. Menurutnya, upaya yang dilakukan untuk mengentaskan stunting melalui berbagai komponen, yakni gizi dan kesehatan masyarakat, penguatan ekonomi dan penguatan suara perempuan.

“AMMAN dan YCP telah memfasilitasi kita semua untuk menyusun perdes DRPPA melalui inisiatif BPD (Badan Permusyawaratan Desa). Sehingga kita bisa membentuk PPATBM, Pos SAPA (pengaduan) dan Forum Anak Desa. Pada kesempatan ini juga semua kepala desa telah membaca dan mengucapka komitmennya untuk mewujudkan DRPPA. Oleh sebab itu komitmen harus kita jaga dan memberikan perlindungan yang utuh pada anak dan perempuan,” jelasnya.

Hairul berharap, upaya menurunkan angka stunting di KSB dapat terus berjalan dengan baik. Sehingga bisa berkontribusi pada berkurangnya stunting di tingkat provinsi dan tentunya turut mendukung program nasional pemerintah Republik Indonesia.

“Saat ini kita melihat bahwa stunting di KSB adalah yang paling terendah di Propinsi NTB yaitu 10,5 persen tahun 2023 menurut SKI atau EPPGBM 7,10 persen tahun 2025. Saat ini kita sedang mendeklarasikan DRPPA untuk mewujudkan Ruang Bersama Merah Putih yang merupakan program Presiden Prabowo,” jelas Hairul.

Dimas Purnama, Manager Social Impact PT. Amman Mineral menyampaikan terima kasih kepada YCP sebagai mitra yang telah menyusun program kegiatan secara berkelanjutan dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan program pemerintah. Menurutnya, DRPPA merupakan bagaian dari upaya pencegahan stunting di KSB. “Program ini merupakan perwujudan komitmen AMMAN yang kuat dalam pemberdayaan masyarakat dan mendukung program pemerintah dalam rangka membangun sumber daya manusia. Selain program penurunan stunting kami juga mendorong terbangunnya DRPPA,” ujarnya.

Hartati, salah seorang perempuan asal Desa Maluk mengapresiasi deklarasi yang dilakukan oleh pemerintah desanya. Menurutnya, dengan adanya deklarasi ini menjadi bentuk komitmen dari pemerintah setempat untuk menjamin hak-hak perempuan dan anak, serta memberikan mereka akses yang sama terhadap pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pelayanan dasar lainnya.

“Kami sangat mengapresiasi keputusan yang dibuat oleh pemerintah desa, karena desa kami menjadi bagian dari desa yang mendekalarasikan DRPPA. Komitmen yang dibacakan oleh para kades memberikan harapan yang lebih cerah, untuk kami bisa berpatisipasi di ruang publik dan ekonomi di desa, untuk untuk kesejahteraan keluarga,” pungkasnya.

Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika

Perempuan di Perkebunan Teh Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Publikasi

Video Kreatif Jadi Alat Penyadartahuan Pencegahan Stunting

Cerita

Yayasan CARE Peduli yang didukung oleh PT Amman Mineral menyelenggarakan lomba video kreatif bertema “Ayo Cegah Stunting”. Lomba yang diikuti oleh 61 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia ini dibuat dengan tujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kondisi stunting dan berbagai penyebab serta cara mencegah stunting.

Bagus, salah satu pemenang lomba video asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan mengangkat tema tentang keterlibatan suami dalam mengurus anak pada rumah tangga dalam video yang dibuatnya. Menurutnya, seorang ayah memiliki posisi yang sangat penting dalam pencegahan stunting pada anak.

“Saya baru saja menjadi seorang ayah. Jadi saya memahami bagaimana pentingnya dukungan dari suami untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kemudian juga bukan hanya tentang menyediakan gizi yang baik untuk anak, tetapi juga memberikan dukungan emosional ke istri,” katanya.

Bagus yang juga merupakan seorang content creator video animasi menyampaikan, melalui video yang dibuat, harapannya bisa menjadi pengingat jika peran dari suami dalam mengurus anak sangat besar sekali dampaknya.

“Pada video itu dibuka dengan dialog seorang ayah yang bilang mencari nafkah saja sudah cukup. Kemudian ada seorang kakek yang bilang kalau itu saja tidak cukup. Seorang suami harus ikut mengerjakan pekerjaan rumah tangga, harus hadir di sisi istri supaya kesehatan mentalnya terjaga,” imbuhnya.

Bagus berharap, kedepannya banyak pihak yang memahami jika suami juga memiliki peran dalam pekerjaan rumah tangga. Semoga video yang saya buat ini juga bisa menjadi alat pembelajaran awal bagi orang-orang untuk lebih memahami peran laki-laki dalam ruamh tangga.

“Semoga semakin banyak laki-laki yang tergerak untuk ikut mengerjakan urusan domestik, karena dukungan suami kepada istri menjadi salah satu aspek penting dalam pencegahan anak dalam kondisi stunting,” ujarnya.

Vinita Aliyah, pemenang juara satu lomba video yang masih duduk di bangku kelas 7 di SMP 1 Cangkuang di Kabupaten Bandung menjelaskan alasannya mengikuti lomba ini karena tergerak dengan keadaan di lingkungan sekitarnya masih banyak anak yang mengalami kekurangan gizi. Hal ini mendorongnya untuk menyampaikan informasi agar masyarakat bisa mengetahui tentang permasalahan bagi pertumbuhan anak yang bisa masuk dalam kondisi stunting dan upaya untuk mencegahnya.

“Di sekitar tempat tinggal saya masih banyak anak yang mengalami kekurangan gizi. Lalu saya juga berharap masyarakat mengetahui kalau stunting bukan hanya menyebabkan tubuh pendek, tetapi juga mempengaruhi kecerdasan anak di masa depan,” jelasnya.

Vinita menjelaskan, dalam proses pembuatan video ia membutuhkan waktu selama satu pekan untuk mengumpulkan data, menulis lirik, mengambil video, dan editing. Menurutnya, yang paling menjadi tantangan adalah proses menulis lirik lagu yang diseuaikan dengan data.

“Untuk proses pembutatannya dimulai dari mengumpulkan ide dan data selama dua hari, kemudian mengambil rekaman suara lagu selama dua hari dan editing video selama tiga hari. Semua ini saya kerjakan dengan bantuan dari ibu,” katanya saat menjelaskan proses pembuatan video.

lebih lanjut, Vinia berharap masyarakat semakin sadar jika stunting juga bisa dihindari dengan mencegah pernikahan dini. Kemudian, 1.000 hari pertama kehidupan menjadi fase yang sangat penting bagi perkembangan anak. “Pernikahan usia anak harus dicegah. Menurut saya ini juga merenggut hak anak, terlebih lagi anak perempuan. Pasangan di pernikahan udia anak juga dikhawatirkan belum bisa memenuhi gizi anaknya dengan baik,” pungkas Vinia.

Menurut hasil Survei Status Gizi Nasional (SSGN) tahun 2022, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,6 persen. Artinya Indonesia masih di atas 20 persen yang dianggap kronis dan memerlukan penanganan lebih seksama.

Melalui program percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Yayasan CARE Peduli yang didukung oleh PT. Amman Mineral melakukan intervensi spesifik dengan memberikan makanan tambahan (PMT) sejak tahun tahun 2023 hingga 2024 di Kabupaten Sumbawa Barat. Sebanyak 372 anak dengan kondisi stunting, 47 anak dengan kondisi wasting, dan 17 anak dengan kondisi underweight telah menerima PMT pemulihan selama 90 hari tiap periodenya tanpa jeda yang berjalan pada bulan Desember 2023 sampai Maret 2024 dan Juni sampai September 2024. Hasilnya adalah, sebanyak 30 persen anak yang mendapatkan intervensi PMT pemulihan keluar dari status stunting, dan 87 persen lainnya mengalami peningkatan berat badan lebih dari 200 gram per bulan.

Tidak hanya itu, peningkatan pengetahuan mengenai pemenuhan gizi dan pendampingan kepada para orang tua terkait pengasuhan juga dilakukan bersamaan dengan PMT agar pemenuhan gizi bisa tetap berjalan setelah PMT selesai. PMT pemulihan juga diberikan pada 29 ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK), 16 anemina, dan 23 orang ibu menyusui yang berat badannya bertambah selama 30 hari dalam dua periode pada tahun 2023 dan 2024. Hasilnya, 83 persen ibu hamil dengan kondisi KEK berhasil keluar, 88 persen tidak lagi anemia, dan 81 persen berhasil bertambah berat badannya.

Intervensi sensitif juga dijalankan di KSB melalui berbagai peningkatan kapasitas seperti pemahaman peran dan kesetaraan gender, pelatihan komunikasi dan kepemimpinan, pemberdayaan ekonomi kelompok peremouan dengan pembentukan Kelompok Usaha Mandiri Perempuan (KUMP), pelatihan penyediaan kebun gizi pekarangan rumah, penyediaan akaea air bersih, pelibatan dan edukasi kelas remaja serta literasi keuangan. Berbagai upaya ini menjadi implementasi yang holistik dalam mencegah kondisi stunting, wasting & underweight pada anak serta kondisi Kekurangan Energi Kronik (KEK) dan Anemia pada ibu hamil.

Kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat pun dilakukan. Melalui upaya memberikan perlindungan pada perempuan dan anak, Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) di sah kan. Komitmen DRPPA di 16 desa yang CARE Indonesia dampingi mencakup peningkatan pemberdayaan perempuan di bidang kewirausahaan, peningkayan peran ibu dan keluarga, termasuk ayah, dalam pengasuhan dan pendidikan anak, menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, menurunkan pekerja anak dan mencegah perkawinan anak. Langkah ini juga sejalan dengan upaya mewujudkan Ruang Bersama Merah Putih di KSB yang juga menjadi fokus pemerintah Indonesia.

Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika

KUEP Sebagai Ruang untuk Perempuan di Kabupaten Sigi Mandiri Ekonomi

Galeri

Anggota Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) di Desa Pesaku, Ngata Baru, dan Pombewe di Kabupaten Sigi sedang melakukan transaksi simpan pinjam di KUEP yang mereka ikuti di masing-masing desa tersebut. Pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu upaya untuk penguatan ketangguhan bagi perempuan dan anak muda di Kabupaten Sigi.

Saat ini ketiga KUEP tersebut memiliki total anggota sebanyak 75 orang yang telah aktif melakukan simpan pinjam sejak bulan Januari 2025. Melaui simpan pinjam di KUEP, anggotanya bisa mengajukan pinjaman tanpa bunga yang dapat digunakan sebagai tambahan modal usaha yang dijalankannya.

Program ini merupakan kolaborasi antara Yayasan CARE Peduli (YCP) dan KARSA Institute yang didukung oleh UN Women yang didanai melalui KOICA. Pemberdayaan ekonomi perempuan, peningkatan kapasitas dan partisipasi perempuan di tingkat desa dilakukan. KUEP diinisiasi sebagai wadah pemberdayaan disamping penguatan pemahaman terkait kesetaraan gender.

Penguatan Tim Tanggap Darurat CARE Indonesia

Galeri

CARE Indonesia sebagai organisasi kemanusiaan terus dukung persiapan respon situasi kedaruratan dan kebencanaan. Melalui pelatihan internal (19-21/05) di Jakarta, 22 anggota tim tanggap darurat CARE Indonesia tingkatkan kesiapsiagaan dalam respon kebencanaan melalui diskusi dan simulasi jika terjadi bencana.

Simulasi kebencanaan angin topan tropis, gempa bumi, hingga konflik sosial dilakukan untuk melatih tim tanggap darurat CARE Indonesia dalam hadapi berbagai situasi darurat.

Perkuat Kolaborasi bersama mitra dan vendor dalam respon kedaruratan

Galeri

15 Peserta perwakilan mitra dari PMI serta vendor dari yang bekerja sama dengan CARE Indonesia di 5 provinsi mengikuti peningkatan kapasitas dalam respon kebencanaan (13-15/05) di Jakarta. Kegiatan ini merupakan inisiasi CARE Indonesia bersama CARE USA untuk mempersiapkan mitra dan vendor untuk berkolaborasi dalam melakukan respon kebencanaan di Indonesia.

Pemahaman tentang kebutuhan dan distribusi logistik dalam merespon kebencanaan didapatkan para peserta melalui sesi diskusi, simulasi, dan analisis kasus. Kebutuhan logistik saat terjadi bencana pun perlu disesuaikan untuk mengurangi beban masyarakat khususnya perempuan sebagai kelompok yang lebih rentan jika terjadi bencana.

KUEP di Desa Pesaku: Ruang Penguatan Diri dan Kelompok Bagi Perempuan 

Cerita

Sekelompok ibu rumah tangga asal Desa Pesaku, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah bergerak bersama ingin membawa perubahan bagi diri dan keluarga mereka. 25 orang perempuan memulai perubahan melalui pembentukan kelompok bernama Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Mombine Sintuvu Maroso, untuk mendapatkan peningkatan kapasitas dan pemberdayaan ekonomi keluarga.

Fadlun yang merupakan anggota KUEP Mombine Sintuvu Maroso tidak pernah membayangkan dirinya mampu berbicara dalam suatu forum. Menurutnya, keberaniannya berbicara di forum didapatkan setelah menjadi anggota KUEP. “Dulu saya hanya diam kalau di forum, takut salah ngomong. Tetapi sekarang saya berani karena terbiasa berbicara. Di pertemuan kelompok kami bisa saling sampaikan usulan dan tidak saling menyalahkan,” kata Fadlun sembari tersenyum.

Menurut Fadlun, KUEP bukan hanya tempat untuk melakukan simpan pinjam saja, tetapi juga sebagai ruang bagi perempuan Desa Pesaku untuk belajar. Dukungan dari suami dalam mengikuti KUEP juga meningkatkan semangatnya untuk belajar. “Suami juga mendukung untuk ikut KUEP. Katanya ini jadi tempat yang baik untuk belajar seperti pengelolaan keuangan dan juga belajar tentang peran dan akses setara antara laki-laki dan perempuan atau kesetaraan gender,” imbuhnya.

Senada dengan Fadlun, Supriatin yang juga anggota KUEP Mombine Sintuvu Maroso mengatakan, KUEP menjadi wadah yang memberikan solusi ekonomi keluarga dengan memberikan pinjaman dana tanpa bunga. Beberapa anggota kelompok memanfaatkan kemudahan tersebut sebagai modal usaha. “Kami sebagai anggota sangat terbantu dengan adanya fasilitas simpan pinjam yang ada di KUEP. Hal ini dimanfaatkan oleh anggota kami sebagai tambahan modal usaha rumahan bagi sebagian anggota KUEP. Karena dekat dengan rumah jadi kami tidak perlu jauh ke kota untuk mengambil uang,” jelas Supriatin.

Menurut Supriatin, segala manfaat yang didapatnya bersama dengan 24 orang anggota lainnya membuat para perempuan yang ada di Desa Pesaku ingin bergabung dengan KUEP. Meski begitu, ia bersama anggota lainnya menegaskan akan selektif dalam menerima anggota yang sesuai dengan peraturan yang telah disepakati bersama. “Saya dan ibu-ibu lainnya sering menyampaikan tentang kegiatan di KUEP, seperti pengenalan tentang pentingnya kesetaraan gender di rumah tangga dan lingkungan, serta pengelolaan keuangan. Informasi ini saya sampaikan kalau sedang ngobrol atau bercengkrama sehari-hari. Dari yang saya sampaikan, maka banyak ibu-ibu lain yang mau jadi anggota KUEP,” tuturnya.

Siti Utami, Facilitator Officer KARSA Institute menyampaikan, upaya penguatan ketangguhan bagi perempuan dan anak muda di Kabupaten Sigi merupakan kolaborasi antara Yayasan CARE Peduli (YCP) dan KARSA Institute yang didukung oleh UN Women yang didanai melalui KOICA. Pemberdayaan ekonomi perempuan, peningkatan kapasitas dan partisipasi perempuan di tingkat desa dilakukan. KUEP diinisiasi sebagai wadah pemberdayaan disamping penguatan pemahaman terkait kesetaraan gender.

Menurut Siti Utami, perkembangan para anggota KUEP Mombine Sintuvu Maroso bisa terjadi karena seluruh anggotanya saling mendukung dan memiliki semangat belajar yang tinggi. “Pertemuan KUEP ini dilakukan sebanyak dua kali dalam sebulan. Nah tiap kali pertemuan lokasinya selalu berganti sesuai dengan kesepakan seluruh anggota. Mereka juga sepakat untuk membawa makanan tiap kali mengadakan pertemuan. Hal-hal ini merupakan inisiatif dari para anggota, tanpa ada dorongan dari pihak eksternal,” tuturnya.

Lebih lanjut, Utami menjelaskan dalam KUEP terdapat dana sosial yang ditujukan untuk anggota yang tertimpa musibah. Dana ini diambil dari iuran anggotan KUEP sebanyak Rp5.000 yang disetorkan tiap kali pertemuan. “Ada salah satu anggota KUEP yang tertimpa musibah bernama Ibu Nurhayati. Suami beliau baru saja meninggal dunia. Sehingga ia mendapatkan bantuan dana sosial dari KUEP sebesar Rp200.000,” ucapnya.

Karmila, Ketua KUEP Mombine Sintuvu Maroso menjelaskan, dana sosial merupakan salah satu aspek penting yang tertulis dalam peraturan KUEP. Sehingga wajib dilakukan oleh seluruh anggota yang bergabung ke dalam kelompok. “Walaupun ini wajib, tapi dana sosial tidak memberatkan kami sebagai anggotanya, karena jumlah iurannya terbilang kecil. Lalu manfaatnya juga sangat baik dan bisa meringankan beban anggota yang terkena musibah,” jelas Karmila.

Kemudian, Karmila menjelaskan jika pada bulan Juni 2025 akan dilaksanakan pertemuan penutupan siklus yang agendanya membagikan sisa tabungan kepada seluruh anggota dan evaluasi kelompok serta perencanaan untuk siklus selanjutnya. Termasuk dengan rencana untuk menjalankan usaha kelompok KUEP.

“Rencananya kami akan melakukan menutup siklus KUEP yang sudah berjalan selama enam bulan ini. Di situ kami juga akan evaluasi hal apa saja yang kurang dan perlu ditingkatkan dalam kelompok kedepannya. Kami juga akan membahas rencana usaha keripik singkong dan keripik pisang. Usaha ini dipilih karena di tempat kami banyak bahan bakunya dan bisa didapatkan dengan harga murah,” tutup Karmila.

Penulis: Kukuh A. Tohari

Editor: Swiny Adestika

Upaya Kelompok Perempuan di Kabupaten Bintan Lestarikan Mangrove dan Tingkatkan Ekonomi Keluarga

Galeri

Lebih dari 42.000 bibit mangrove yang disemai oleh Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Srikandi, Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Melati dan Tenggiri, Serta Kelompok Usaha Masyarakat Panglong, kini telah ditanam di kawasan konservasi Taman Wisata Perairan (TWP) di Desa Berakit, Kab. Bintan (26/04-12/05).

Dengan dukungan Traveloka, CARE Indonesia, dan Yayasan Ecology, kelompok perempuan merawat mangrove dari pembibitan, persemaian, penanaman hingga perawatan dan pemantauan terhadap kondisi mangrove yang telah ditanam.