Search
Close this search box.

Refleksi Perjalanan CDF: Mewujudkan Kesejahteraan Pekerja Perkebunan Teh

Galeri

Anggota Community Development Forum (CDF) Malabar, Pasir Malang, dan Kanaan mengungkapkan tentang berbagai hal yang telah diperoleh selama mengikuti forum tersebut yang disampaikan pada agenda Mid Term Review Dissemination Workshop yang diselenggarakan oleh CARE Indonesia pada Kamis, (10/7) di Hotel Grand Sunshine Soreang, Kabupaten Bandung. Di agenda ini bertujuan untuk merefleksikan kemajuan, tantangan, serta pembelajaran yang telah diperoleh selama CDF telah terbentuk. Harapannya, melalui kegiatan ini dapat ditemukan solusi agar CDF semakin memberi dampak kepada para pekerja di perkebunan teh, sehingga kesejahteraan para pekerja teh semakin meningkat.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang yang terdiri dari anggota CDF, perwakilan kantor regional PT. Perkebunan Nusantara, PT. Kapebe Chakra, Kepala Desa Banjarsari, Kepala Desa Margaluyu, Kepala Desa Indragiri, dan perwakilan dari Ethical Tea Partnership (ETP).

Perkuat Kesiapsiagaan Dalam Respon Kebencanaan Melalui Kerjasama dengan PMI Sulawesi Selatan

Galeri

Upaya meningkatkan kesiapsiagaan dalam merespon bencana dan situasi darurat terus dilakukan CARE Indonesia. Melalui penandatanganan kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Sulawesi Selatan (11/07), komitmen untuk tingkatkan kesiapan respon tanggap darurat diimplementasikan dengan menyediakan, menyimpan, dan mendistribusikan paket bantuan di daerah rawan bencana.

Selain penandatanganan kerja sama, PMI Sulawesi Selatan juga turut menerima dana untuk pemeliharaan logistik serta 140 paket kebersihan diri berisikan ember, sabun batang, pasta gigi, sikat gigi, sampo, detergen, pembalut, jeriken, dan gayung. Kedepannya, seluruh paket akan didistribusikan saat situasi kedaruratan terjadi dan melihat kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana, termasuk perempuan dan anak.

Enam Desa di Kab. Sigi Berkomitmen Ciptakan Ruang Aman Bagi Perempuan dan Anak

Galeri

6 desa yang didampingi KARSA Institute dan CARE Indonesia yakni Desa Rarampadende, Pesaku, Ngatabaru, Pombewe, Wisolo dan Ramba di Kabupaten Sigi berkomitmen untuk dukung terciptanya ruang aman bagi perempuan dan anak melalui penetapan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) dan peluncuran program Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) (18/06). Kegiatan ini bagian dari program Penguatan Ketangguhan Perempuan dan Pemuda, dengan dukungan UN Women, Pemerintah Kab. Sigi dan didanai dari Korean International Cooperation Agency (KOICA).

Deklarasi menjadi DRPPA menunjukkan komitmen keenam desa mendukung perlindungan pada perempuan dan anak dengan tersedianya layanan desa yang inklusif hingga tata kelola pemerintah yang responsif gender. Kedepannya, setiap desa akan mendorong penguatan program SAPA dan satuan tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) di tingkat desa sebagai bentuk memberikan ruang aman bagi perempuan dan anak.

Penguatan kapasitas bagi Kader DASHAT untuk dorong percepatan penurunan stunting di Kab. Bandung

Galeri

129 kader Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) dari Desa Margamukti dan Desa Sukamanah, Kab Bandung ikuti peningkatan kapasitas untuk dorong percepatan penurunan stunting di Kabupaten Bandung (3-4/07). Kegiatan ini merupakan kolaborasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bersama CARE Indonesia dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bandung untuk dorong pemenuhan gizi bagi anak dengan kondisi stunting, wasting, dan underweight serta ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK).

Seluruh kader mendapat penguatan tentang pemenuhan gizi keluarga khususnya untuk mengurangi prevalensi stunting hingga penyusunan menu dan praktik penyediaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan. Kedepannya kader DASHAT akan memberikan PMT Pemulihan pada 368 anak dengan kondisi stunting, wasting, dan underweight serta 27 ibu hamil dengan kondisi KEK, selain itu akan dilakukan juga edukasi dan sosialisasi mengenai pola pengasuhan yang baik hingga perilaku hidup bersih dan sehat.

Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana, CARE Indonesia dan PMI Sulsel Jalin Kemitraan Perkuat Distribusi Bantuan

Berita

Jakarta, 10 Juli 2025 – Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik menjadi negara yang rentan terhadap bencana. World Risk Report (WRR) tahun 2023 menempatkan Indonesia urutan kedua negara di dunia dengan risiko bencana tertinggi, dengan indeks risiko bencana sebesar 43,4 persen. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan sendiri dalam proses tanggap darurat bencana. CARE Indonesia (Yayasan CARE Peduli/YCP) bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Sulawesi Selatan memperkuat kesiapsiagaan dengan menyediakan, menyimpan, dan mendistribusikan stok preposisi (preposition stock) di daerah rawan bencana.

Dr. Abdul Wahib Situmorang, CEO CARE Indonesia menyampaikan, komitmen CARE Indonesia untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana dilakukan secara cepat, tepat, serta memperhatikan aspek gender termasuk kesetaraan akses perempuan dan laki-laki serta kelompok rentan.

“Kerja sama ini juga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan darurat lokal serta memperkuat mekanisme logistik dan koordinasi kemanusiaan lokal,” katanya.

Lebih lanjut Abdul menjelaskan, upaya memperkuat distribusi kesiapsiagaan bencana ini juga melibatkan penyedia produk dan jasa lokal yang telah diberi pelatihan Humanitarian Logistics and Supply Chain oleh CARE Indonesia, 13 sampai 15 Mei 2025. Menurut Abdul, peningkatan kapasitas dilakukan untuk menjamin kualitas, kesesuaian standar kebersihan dan kelengkapan isi sesuai spesifikasi yang ditentukan CARE Indonesia.

“Kami memastikan penentuan paket bantuan kedaruratan juga memperhatikan kesetaraan akses untuk perempuan dan laki-laki dan kebutuhan kelompok rentan. Sebanyak 140 hygiene kit atau paket kebersihan diri berisikan ember, sabun batang, pasta gigi, sikat gigi, sampo, detergen, pembalut, jeriken, dan gayung telah kami serahkan ke PMI Sulawesi Selatan untuk disimpan di gudang penyimpanan. Terdapat juga dana pemeliharaan sebesar Rp10 juta,” jelas Abdul.

Dr. Adnan Purichta Ichsan, SH., MH. Ketua PMI Sulawesi Selatan menyambut baik kerja sama ini, karena menurutnya kolaborasi ini menjadi sarana untuk berbagi pengetahuan dan memperkuat kerja bersama dalam mengelola logistik dan stok bantuan darurat. Adnan menambahkan, distribusi paket bantuan, salah satunya hygiene kit akan dilakukan secara tepat sasaran sesuai asesmen lapangan, serta memperhatikan kebutuhan masyarakat, termasuk perempuan dan kelompok rentan jika bencana terjadi.

“Kami akan melakukan pemeriksaan kondisi barang secara berkala, termasuk pengecekan tanggal kedaluwarsa dan kondisi kemasan. Pencatatan mutase stok seperti barang masuk atau keluar dan jumlah barang yang tersisa,” tuturnya.

Lebih lanjut, Adnan juga menjelaskan jika kerja sama ini dilakukan sejak Mei 2025 sampai Desember 2027, atau hingga seluruh paket telah didistribusikan. “Proses pendistribusian ini juga ditentukan bedasarkan situasi darurat dan hasil asesmen kebutuhan,” pungkasnya.

Membangun Ketangguhan Ekonomi Perempuan Tangguh di Masa Peremajaan Sawit

Galeri

Empat perwakilan dari 13 Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) menjadi narasumber untuk menceritakan cerita baik dalam diskusi teras dengan tema “Cerita Resiliensi Kelompok Perempuan Menjawab Tantangan Masa Peremajaan Perkebunan Sawit” di Kota Palembang (26/20).

Kegiatan yang dihadiri oleh 20 orang jurnalis dari berbagai media massa nasional dan lokal di Sumatera Selatan untuk mendengarkan dan menyebarkan kisah inspiratif dari kelompok perempuan. Agenda ini merupakan inisiatif Yayasan CARE Peduli (YCP) bersama dengan PT. Cargill.

Melalui kegiatan ini, perwakilan KUEP membagikan pandangan tentang peran dan dampak KUEP, pemanfaatan lidi sawit menjadi kerajinan, hingga proses pendampingan korban kekerasan berbasis gender. Kegiatan ini turut dihadiri oleh CEO YCP, Abdul Wahib Situmorang dan Director of Corporate, Government and Community Relation Cargill.

Panduan Praktis Bergambar: Dukungan untuk Penyintas Kekerasan Berbasis Gender (KBG)

Publikasi,  Uncategorized

Menanam Harapan, Memanen Perubahan: Cerita Perempuan Desa Penggerak Ketahanan Pangan

Cerita

Di bawah terik matahari Desa Tegal Mulyo, Kecamatan Keluang, Musi Banyuasin suara cangkul berpadu dengan tawa ibu-ibu yang tengah merawat kebun mereka. Mereka bukan hanya menanam sayur. Mereka sedang menanam harapan, untuk keluarga, untuk anak-anak, dan untuk masa depan desa mereka.

Kebun gizi menjadi salah satu pilar dalam program korabolasi antara PT. Cargill, Yayasan CARE Peduli, dan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin. Upaya ini dilakukan sebagai cara untuk memenuh nutrisi rumah tangga melalui kebun gizi. Hingga Maret 2025, sudah terdapat 222 kebun gizi yang terdiri dari 11 Kebun desa, 15 Kebun dusun, 86 Kebun RT, 110 Kebun pekarangan di 13 desa lokasi program. Selain untuk dikonsumsi oleh keluarga, hasil panen dari kebun gizi ini juga dijual kepada masyarakat. Pendapatan sekali panen pada Januari sampai Maret 2025 rata-rata berjumlah sekitar Rp378 ribu.

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Bougenville, Siti Asih yang ada di Desa Tegal Mulyo, menceritakan proses terbentuknya cikal bakal kebun gizi yang merupakan program dari pemerintah setempat. “Dikasih bibit, peralatan, dan modal. Tujuannya ya, untuk kegiatan ibu-ibu PKK, supaya bisa bantu tambah penghasilan dan juga buat konsumsi sendiri,” katanya.

Kebun ini dikelola bergotong royong oleh sekitar 20 anggota aktif dari total 30. Setiap dusun bertugas satu hari dalam seminggu, sementara hari ketujuh digunakan untuk berkumpul bersama. Dalam kebun itu tumbuh berbagai tanaman seperti kangkung, kacang panjang, jagung, hingga pisang, dan lengkeng. Sayangnya, tak semua hasil bisa dinikmati, karena ada satu “tamu tak diundang” yang rajin datang kera liar yang gemar mengambil buah.

Meski begitu, gerakan ini menginspirasi ibu-ibu lain di desa untuk membuat kebun gizi mandiri di rumah. Dukungan dari desa pun mengalir, mulai dari bantuan bibit hingga budidaya lele sebagai sumber protein tambahan.

“Ada yang nanam cabai, bayam di pot dan polybag. Karena tanah di sini masih bagus, jadi bisa tanam macam-macam. Kalau musim kemarau memang air susah, tapi alhamdulillah kebun kami dekat sungai, jadi bisa ambil air untuk menyiram,” jelasnya.

Kebun gizi ini juga bertujuan untuk mewujudkan ketahanan pangan yang turut dicanangkan oleh pemerintah Indonesia. Sehingga mendapat jaminan ketersediaan, keterjangkauan, dan keamanan pangan bagi seluruh masyarakat.

Sejalan dengan itu, Ketua KWT Desa Sidomulyo, Khalifah turut menyampaikan, keterlibatan warga menjadi tantangan tersendiri. Namun melalui pendekatan persuasif dan edukatif seperti pelatihan pertanian serta usaha pertanian. Kemudian, para anggota KWT mendapatkan peningkatan kapasitas untuk meningkatkan kualitas kebun gizi yang dikelolanya. Melalui pendekatan ini, masyarakat mulai memahami manfaat langsung dari kebun gizi, seperti penghematan pengeluaran rumah tangga dan peningkatan gizi keluarga.

Menurutnya, dengan adanya kebun gizi ini bisa menghemat biaya yang dikeluarkan untuk berbelanja sayur. Bahkan, menurutnya berkat dukungan dari pemerintah desa, YCP, dan PT. Cargill program kebun gizi ini bisa meringankan ekonomi masyarakat setempat. Hasil kebun sebagian dibagikan kepada anggota dan warga sekitar, terutama jika ada yang sedang sakit atau mengalami musibah.

“Kami bisa menghemat belanja sayur, bahkan dari hasil kebun gizi kami mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp600 ribu per bulan. Kami juga punya dana sosial. Kalau ada yang kecelakaan, kami jenguk dan bantu,” pungkas Khalifah.

Penulis: Kukuh A. Tohari

Perempuan Tangguh Pelestari Mangrove di Desa Berakit

Cerita

Keberadaan mangrove merupakan aspek penting dalam perlindungan kawasan pesisir dan ekosistemnya. Kabupaten Bintan di Provinsi Kepulauan Riau memiliki kawasan bakau yang menjadi tumpuan bagi keanekaragaman hayati serta mata pencaharian nelayan setempat. Yayasan CARE Peduli, dengan dukungan dari Traveloka, telah menanam 50.000 tanaman mangrove di area seluas 14.000 hektare di Desa Berakit. Kelompok perempuan di desa ini memegang peran penting dalam proses pembibitan, penanaman, hingga pengawasan pertumbuhan mangrove.

Dalam program ini, keterlibatan perempuan sangat signifikan melalui Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Melati dan Tenggiri, serta Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas). Ketiga kelompok ini secara rutin melakukan pengawasan serta pengukuran perkembangan bibit dan mangrove yang telah ditanam.

Ayunarti, Ketua KUEP Tenggiri, menjelaskan bahwa dalam proses penanaman mangrove, ia bersama anggota KUEP lainnya berupaya memastikan mangrove yang ditanam dapat tumbuh dengan baik. Salah satu upaya tersebut adalah menyediakan jalur khusus bagi nelayan yang melintas atau mencari ikan di sekitar area penanaman.

“Sewaktu menanam mangrove, kami menyediakan jalur untuk nelayan dari darat menuju laut, karena biasanya mereka berjalan kaki atau menggunakan sampan untuk melaut. Kami juga rutin mengimbau nelayan agar tidak menebar jaring di area mangrove yang baru ditanam,” ujarnya.

Selain memberikan informasi kepada nelayan, Ayunarti dan anggota kelompok perempuan lainnya juga kerap menyosialisasikan pentingnya menjaga kelestarian mangrove kepada masyarakat luas. Menurutnya, pelestarian mangrove adalah tanggung jawab bersama.

“Kalau kita terus melestarikan mangrove, ke depannya tempat itu akan menjadi habitat ketam dan kepiting. Maka dari itu, harus dijaga baik-baik. Dulu masyarakat belum paham, banyak mangrove ditebang untuk dijadikan arang. Sekarang, pemerintah sudah melarang penebangan mangrove, jadi memang harus dilestarikan demi anak cucu,” tegasnya.

Senada dengan itu, Rahmadeni, anggota Pokmaswas Srikandi Desa Berakit, menjelaskan bahwa selain memantau perkembangan mangrove, mereka juga bertugas mengedukasi masyarakat tentang batas-batas wilayah yang diperbolehkan untuk aktivitas mencari ikan.

“Saat ini, kami memperkenalkan kepada masyarakat mengenai batas-batas wilayah laut yang boleh dan tidak boleh digunakan untuk mencari ikan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Rahmadeni menyampaikan bahwa Pokmaswas aktif mengajak masyarakat untuk menanam dan melindungi mangrove bersama-sama. Ia menambahkan bahwa Pokmaswas bersama masyarakat dan KUEP secara rutin melakukan pengukuran terhadap 50.000 mangrove yang telah ditanam.

“Pokmaswas juga mengukur ketinggian mangrove yang sudah ditanam maupun bibit yang masih berada di persemaian. Sampai saat ini, dari 50 ribu mangrove yang ditanam, rata-rata memiliki ketinggian 50 cm, dengan tingkat keberhasilan hidup mencapai 100 persen,” jelasnya.

Program yang dijalankan oleh Yayasan CARE Peduli, berkolaborasi dengan Yayasan Ecology dan didukung oleh Traveloka, bertujuan mendukung pencapaian target *Net Zero Emission* Indonesia pada tahun 2060. Program ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menghijaukan kembali lebih dari 12 juta hektare hutan yang terdegradasi secara bertahap demi terwujudnya ekonomi hijau dan biru, ketahanan pangan, iklim, serta ketangguhan masyarakat.

Penulis: Kukuh A. Tohari

Kolaborasi Wujudkan Desa Inklusi yang Mendukung Keterlibatan Perempuan dan Anak Muda

Galeri

Untuk mewujudkan lingkungan yang inklusif, sebanyak 136 orang dari enam desa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah mengikuti pelatihan dan pembentukan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA). DRPPA merupakan desa yang mengintegrasikan perspektif gender dan hak anak dalam tata kelola pemerintahan, pembangunan, serta pembinaan dan pemberdayaan secara terencana, menyeluruh, dan berkelanjutan.

Program yang dilakukan di Desa Ngata Baru, Pombewe, Wisolo, Ramba, Pesaku, dan Rarampadende merupakan upaya Yayasan CARE Peduli bersama KARSA Institute yang didukung oleh UN Women dan didanai oleh KOICA untuk mendorong perempuan dan anak muda untuk aktif dalam forum-forum pengambilan keputusan dan menjadi lebih tangguh.