Solusi teknis berbiaya terjangkau, kebijakan K3 yang adaptif, serta pelibatan pekerja, termasuk pekerja perempuan, menjadi fondasi penting bagi terwujudnya industri yang sehat, produktif, dan adaptif terhadap perubahan iklim.

 

Bagi pekerja yang menghabiskan berjam-jam di area produksi, suhu yang semakin panas bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan. Udara yang pengap dapat membuat tubuh lebih cepat lelah, konsentrasi menurun, dan kebutuhan untuk beristirahat serta mengonsumsi air menjadi semakin penting, seperti yang disampaikan pada salah satu penelitian di The Journal of Climate Change and Health tahun 2023.

Di sisi lain, bagi perusahaan, perubahan kondisi lingkungan kerja akibat cuaca ekstrem juga menghadirkan tantangan tersendiri. Kondisi ini perlu ditempatkan sebagai bagian dari isu keselamatan dan kesehatan kerja, perlindungan tenaga kerja, produktivitas, serta keberlanjutan operasional Perusahaan, seperti yang tertuang dalam salah satu hasil penelitian di Current Environment Health Reports tahun 2026.

Abdul Wahib Situmorang, CEO Yayasan CARE Peduli (CARE Indonesia) menjelaskan, industri padat karya di Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat sistem perlindungan pekerja, termasuk pekerja perempuan yang umumnya ditempatkan di lini produksi dan bagian pekerjaan yang rentan terkena paparan panas cukup tinggi, sekaligus meningkatkan ketangguhan bisnis.

“Perlindungan pekerja dari suhu ekstrem bukan sekadar tambahan biaya atau persoalan kenyamanan. Ini merupakan investasi strategis pada kesehatan dan martabat pekerja, kesinambungan produksi, reputasi perusahaan, dan daya saing industri. Yang dibutuhkan bukan hanya intervensi sesaat, tetapi sistem yang terintegrasi ke dalam SOP K3, pengelolaan sumber daya manusia, layanan kesehatan kerja, serta dialog antara manajemen dan pekerja,” ujar Abdul dalam sesi diskusi interaktif yang diselenggarakan bersama anggota Gather, Exchange & Navigate (GEN) Network (27/8) yang berasal dari pebisnis khususnya sektor garmen.

Abdul menambahkan, pendekatan yang efektif harus mempertemukan tiga kepentingan yang sering kali dipandang terpisah yakni perlindungan pekerja, pencapaian produktivitas, dan keberlanjutan usaha. Padahal, kata Abdul, ketiganya justru dapat saling memperkuat ketika perusahaan menggunakan data lapangan, mendengarkan pengalaman pekerja, dan menerapkan solusi yang sesuai dengan karakteristik setiap fasilitas produksi.

Adaptasi yang dijalankan para pelaku usaha khususnya di pabrik garmen diakui memiliki tantangan dan pertimbangan yang mendalam. Hasil polling yang dijalankan selama diskusi menunjukkan, ada pertimbangan mengenai biaya, karakteristik bangunan, proses produksi, target kerja, hingga bagaimana memastikan fasilitas yang sudah tersedia dapat berfungsi secara konsisten.

Sekitar 63 persen peserta menyebut keterbatasan anggaran sebagai salah satu pertimbangan utama dalam meningkatkan kenyamanan kerja. Sebanyak 19 persen melihat kebutuhan akan pemahaman teknis yang lebih spesifik untuk menangani peningkatan suhu ruangan, sementara 13 persen menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan penyesuaian waktu istirahat dan hidrasi dengan target produksi. Sekitar 6 persen lainnya menekankan pentingnya koordinasi dan pemeliharaan fasilitas teknis secara lebih konsisten.

Angka-angka tersebut menggambarkan keputusan nyata yang harus diambil perusahaan setiap hari: menentukan prioritas investasi, memilih solusi yang sesuai dengan kondisi fasilitas, serta memastikan bahwa perubahan yang dilakukan tetap dapat berjalan di tengah tuntutan operasional.

Pengalaman Pekerja Perempuan Dijadikan Dasar Perancangan Solusi
Dampak suhu ekstrem di tempat kerja khususnya area pabrik dari hasil diskusi menunjukkan, tidak selalu dirasakan secara sama oleh seluruh pekerja. Jenis pekerjaan, lokasi stasiun kerja, durasi paparan, beban kerja, penggunaan alat pelindung, kondisi kesehatan, serta akses terhadap air minum, toilet, dan waktu istirahat dapat memengaruhi tingkat risiko yang dihadapi masing-masing pekerja.

Dalam diskusi mengemuka bahwa di industri garmen dengan jumlah pekerja perempuan yang umumnya lebih besar, perlu memberikan perhatian lebih terutama pada aspek kesehatan. Pekerja perempuan memiliki kondisi dan kebutuhan kesehatan yang dapat berbeda pada berbagai tahap kehidupan, termasuk ketika sedang hamil, menyusui, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.

“Pekerja perempuan bukan kelompok yang homogen. Dampak paparan panas dapat berbeda menurut tahap kehidupan, kondisi kesehatan, jenis pekerjaan, beban kerja, penggunaan alat pelindung, serta akses terhadap air minum, toilet, dan waktu istirahat,” kata Raihan Zahrah, Gender Officer CARE Indonesia.

Zahra menambahkan, pekerja termasuk pekerja perempuan dapat dilibatkan untuk memetakan titik-titik panas di area produksi, mengevaluasi kebijakan istirahat, memberikan masukan mengenai akses air dan fasilitas sanitasi, serta menilai apakah langkah mitigasi yang diterapkan benar-benar membantu.

“Bagi perusahaan, masukan tersebut bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pekerja. Pengalaman pekerja juga dapat menjadi sumber informasi penting untuk memahami apa yang terjadi di lapangan dan menemukan solusi yang benar-benar dapat diterapkan dalam rutinitas operasional,” ujar Zahra.

Solusi Sederhana, Dampak yang Berarti
Menghadapi suhu ekstrem juga tidak selalu berarti perusahaan harus melakukan perubahan besar dalam waktu singkat. Dalam diskusi interaktif bersama anggota GEN, mengemuka bahwa langkah pertama adaptasi dapat dimulai dengan memahami kondisi fasilitas. Pemetaan dan pemahaman di mana sumber panas berada, kapan suhu mencapai titik tertinggi, bagaimana udara bergerak di dalam bangunan, area mana yang paling padat, dan bagaimana pola kerja memengaruhi paparan pekerja.

Para peserta diskusi memahami bahwa setiap fasilitas produksi memiliki karakteristik yang berbeda. Sumber panas, desain bangunan, kepadatan pekerja, jenis mesin, hingga pola kerja tidak selalu sama. Karena itu, solusi untuk mengurangi paparan panas juga tidak dapat menggunakan pendekatan yang seragam.

Noni Cintia, Compliance Specialist PT Dasan Pacific menyampaikan, bahwa di area pabriknya, fasilitas gedung yang lebih luas terasa lebih panas. Sementara gedung lebih kecil lebih sejuk padahal memiliki tinggi bangunan yang sama. Dalam diskusi ia menyatakan bahwa lebih memahami bahwa perbedaan suhu bisa jadi disebabkan area gedung yang lebih luas tidak memiliki penaung sehingga terkena langsung paparan matahari yang menyebabkan terasa lebih panas.

Menurutnya, dari masukan selama diskusi, modifikasi adanya penaung di area gedung yang terpapar matahari langsung mungkin bisa jadi solusi. “Memang area gedung pabrik yang kecil itu tidak terpapar langsung matahari karena tertutup bangunan lain dan ada penaung. Saya jadi paham mengapa ada perbedaan suhu di dua bangunan,” ujarnya.

Armia Afliqoini, Chief Compliance PT Pan Brothers turut menyampaikan bahwa di area pabrik sudah menjalankan dua sistem pendinginan berbeda. “Di factory kami ada dua sistem yang sudah dijalankan. Kami bangun cooling system dengan air yang disesuaikan juga dengan area barat dan timur dari bangunan pabrik. Namun ada kendala dengan humidity yang jadi lebih tinggi sehingga berpotensi munculnya jamur. Nah, karena adanya tantangan dari kenaikan kelembapan itu, maka sistem kedua dibuat berbeda. Kami melakukan sedot suhu panas dan diarahkan keluar ruangan jika terdeteksi peningkatan suhu. Namun kami belum mendapatkan standar perhitungan yang bisa dijadikan referensi,” ujarnya.

Armia menambahkan, dari diskusi bersama CARE Indonesia dan anggota GEN lainnya, ia mendapatkan rekomendasi solusi bertingkat untuk mendinginkan suhu mulai dari pemasangan exhaust fan atau AC, melakukan penyedotan kelembapan secara rutin termasuk ide penearapan Raised Floor sehingga ada ruang di bawah lantai untuk menyalurkan udara panas, hingga pemasangan Air Handling Unit (AHU) untuk kontrol suhu dalam ruangan tertutup. Armina juga menyebutkan, dari diskusi juga didapatkan informasi mengenai perhitungan dari Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pengkondisian ruangan dan suhu.

Selama diskusi, berbagai usulan pendekatan bagi perusahaan dibahas, sehingga memberikan ruang untuk memulai dari apa yang paling mungkin dilakukan. Usulan implementasi adaptasi seperti perbaikan ventilasi silang dan aliran udara, pengaturan ulang posisi mesin dan stasiun kerja, penyediaan area istirahat yang lebih sejuk, hingga akses air minum yang lebih mudah dapat menjadi bagian dari solusi.

Menurut Abdul, adaptasi suhu ekstrem juga bisa dilakukan dengan pola kerja, seperti pengaturan waktu istirahat, rotasi pekerja di area dengan risiko panas tinggi, maupun penggunaan teknologi pendinginan tertentu sesuai kondisi bangunan dan lingkungan.

“Perlindungan pekerja dari suhu ekstrem bukan sekadar tambahan biaya atau persoalan kenyamanan. Ini merupakan investasi strategis pada kesehatan dan martabat pekerja, kesinambungan produksi, reputasi perusahaan, dan daya saing industri. Dengan kata lain, adaptasi tidak selalu harus dimulai dari investasi besar. Yang terpenting adalah intervensi benar-benar bisa mengurangi paparan panas dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang,” ujar Abdul.

Abdul menambahkan, CARE merekomendasikan, investasi teknis perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem perusahaan. “Investasi teknis juga harus berjalan bersama dengan penguatan sistem. Hasil pengukuran suhu dan pengalaman pekerja perlu digunakan untuk memperbarui SOP K3, protokol layanan kesehatan kerja, prosedur respons terhadap gejala terkait panas, serta pengaturan target dan jadwal kerja, sehingga upaya ini jadi bagian dari cara perusahaan mengelola tempat kerja,” ujar Abdul.

Dari Tantangan Menjadi Pembelajaran Bersama
Perubahan menuju tempat kerja yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Abdul menjelaskan, berdasarkan kerja bersama yang telah dilakukan CARE, kolaborasi jadi kunci. Menurutnya, perusahaan membutuhkan dukungan pemerintah, pekerja, asosiasi industri, penyedia teknologi, dan organisasi masyarakat sipil.

Ia menyebutkan, pemerintah dapat membantu melalui panduan K3 yang adaptif dan sensitif gender, insentif dan akses pembiayaan, serta layanan konsultasi dan pendampingan teknis. Di sisi lain, dunia usaha memiliki ruang untuk mulai melakukan langkah-langkah yang berada dalam kendalinya seperti memetakan risiko, mendengarkan pekerja, menguji solusi, mengukur hasil, dan mengintegrasikan praktik yang efektif ke dalam sistem perusahaan.

“Platform kolaboratif seperti GEN Indonesia juga dapat menjadi ruang bagi perusahaan untuk belajar satu sama lain. Bagi pelaku bisnis, berbagi pengalaman berarti mereka tidak harus selalu memulai dari nol. Solusi yang berhasil diterapkan di satu fasilitas dapat menjadi inspirasi bagi fasilitas lain, sementara pengalaman mengenai pendekatan yang kurang efektif dapat membantu perusahaan lain menghindari investasi yang tidak tepat,” ujarnya.

Menurut Abdul, pembelajaran yang didapat dari kolaborasi akan memiliki arti ketika diterjemahkan menjadi perubahan nyata. “Diskusi dan pelatihan, pada akhirnya, bukanlah tujuan akhir. Pembelajaran perlu masuk ke dalam SOP K3, pengelolaan sumber daya manusia, layanan kesehatan kerja, mekanisme dialog antara pekerja dan manajemen, hingga perencanaan investasi perusahaan,” ujar Abdul.

Ketika Pekerja Aman, Bisnis Lebih Tangguh
Pada akhirnya, percakapan tentang suhu ekstrem di tempat kerja adalah percakapan tentang bagaimana industri dapat mempersiapkan diri menghadapi risiko yang terus berubah, tanpa mengorbankan kesehatan dan keselamatan orang-orang yang menjalankan roda produksinya setiap hari.

Bagi pekerja, termasuk pekerja perempuan, tempat kerja yang lebih aman berarti memiliki akses terhadap air minum, waktu istirahat yang memadai, fasilitas yang mendukung kesehatan, serta ruang yang aman untuk menyampaikan kebutuhan dan kekhawatiran.

Bagi perusahaan, perlindungan tersebut dapat menjadi bagian dari strategi untuk menjaga produktivitas, mengurangi gangguan operasional, dan membangun ketahanan bisnis dalam menghadapi perubahan iklim.

Bagi CARE Indonesia, seperti yang disampaikan Abdul, di situlah letak pentingnya kolaborasi. Bukan sekadar mendorong perusahaan untuk beradaptasi, tetapi bersama-sama menemukan cara agar adaptasi tersebut dapat bekerja bagi pekerja sekaligus bagi keberlanjutan bisnis.

“Ketika suhu terus meningkat, industri yang paling tangguh bukan selalu industri yang memiliki investasi terbesar. Bisa jadi, industri yang paling siap adalah mereka yang mau mendengarkan, memahami risiko, mencoba solusi yang tepat guna, dan menjadikan perlindungan pekerja sebagai bagian dari cara mereka membangun bisnis untuk masa depan,” pungkas Abdul.