Perempuan memiliki peran penting dalam industri kopi. Menurut data International Coffee Organization (ICO), perempuan berkontribusi hingga 70 persen tenaga kerja dalam produksi kopi global, mulai dari perawatan tanaman, panen, hingga pengolahan pascapanen. Namun, kontribusi tersebut sering kali belum diikuti dengan akses yang setara terhadap pelatihan, kepemimpinan, maupun pengambilan keputusan dalam usaha kopi.

International Trade Centre (ITC) dalam laporan Women in Coffee: The Case of Indonesia mencatat, keterlibatan perempuan di sektor kopi Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan dalam mengakses pelatihan, kepemimpinan kelompok, jaringan usaha, dan pengambilan keputusan. Padahal, perempuan juga memiliki pengetahuan, pengalaman, dan potensi yang besar untuk mengembangkan usaha maupun mengambil peran yang lebih luas dalam komunitas kopi.

Eri Nuryanti, petani kopi dari Desa Kemiri, Kabupaten Temanggung, menjadi salah satu perempuan yang sehari-hari terlibat langsung dalam pengelolaan kebun kopi milik keluarganya. Selain mengurus rumah tangga, ia juga terlibat dalam kegiatan pra-panen tanaman kopi robusta di kebun. 

“Di kebun kopi saya biasanya melakukan perawatan tanaman seperti pemupukan, penyiangan, pemangkasan ranting yang sudah tidak produktif, sampai ikut memanen saat musim panen tiba,” ujarnya.

Aktivitas tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya selama bertahun-tahun. Kebun kopi yang dikelola keluarganya berada di beberapa lokasi berbeda di sekitar desa. Baginya, merawat tanaman kopi bukan hanya membantu perekonomian keluarga, tetapi juga menjadi pekerjaan yang sudah melekat dalam kehidupannya.

Selain mengelola kebun kopi, Eri juga aktif dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Makmur Lestari. Di kelompok tersebut, ia dipercaya menjadi bagian pemasaran untuk usaha ternak lele yang sedang dikembangkan bersama anggota lainnya. Menurutnya, keberadaan kelompok usaha memberikan banyak manfaat karena menjadi ruang belajar sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi perempuan.

“Dengan adanya kelompok usaha, kami bisa belajar bersama, saling berbagi pengalaman, dan memperkuat ekonomi melalui penggabungan modal serta pembagian hasil usaha,” katanya.

Menurut Eri, keberadaan kelompok usaha memberi ruang bagi perempuan untuk belajar dan saling mendukung. Melalui kelompok, anggota dapat mengakses modal, berdiskusi mengenai usaha, serta berbagi pengalaman dalam mengelola ekonomi keluarga.

“Dengan adanya kelompok usaha, kami bisa memperkuat kemandirian ekonomi melalui penggabungan modal dan pembagian hasil usaha,” jelasnya.

Eri juga mengikuti berbagai pelatihan yang difasilitasi CARE Indonesia bersama mitra. Selain membahas pengembangan usaha, pelatihan tersebut mencakup kepemimpinan, penjelasan terkait gender dan kesetaraan gender, serta pencegahan kekerasan berbasis gender.

“Saya mendapatkan nilai tambah. Selain meningkatkan keterampilan, saya juga mendapat pengalaman baru dan menjadi lebih percaya diri untuk mengembangkan usaha yang saya jalankan,” ujarnya.

Sustainable Agriculture Portfolio Manager CARE Indonesia, Agus Tri Wahyuono menjelaskan, penguatan kapasitas yang didapatkan oleh Eri merupakan salah satu upaya dalam membangun sektor kopi yang lebih inklusif, aman, dan memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan maupun laki-laki untuk berpartisipasi dan berkembang. Program yang berjalan di Kabupaten Temanggung, Garut, dan Jember ini akan berupaya untuk meningkatkan pemahaman komunitas di perkebunan kopi tentang kesetaraan gender, kepemimpinan, komunikasi inklusif, hingga pencegahan dan penanganan awal kekerasan berbasis gender.

“Di sini tidak hanya perempuan yang dilibatkan tetapi juga melibatkan laki-laki sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya kesetaraan gender. Melalui pendekatan ini diharapkan dapat mendorong terciptanya pembagian peran yang lebih adil dalam rumah tangga maupun pengelolaan usaha kopi,” imbuhnya.

Agus menyebutkan, industri kopi tidak hanya ditentukan oleh kualitas hasil panen, tetapi juga oleh kemampuan komunitas untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan bebas dari diskriminasi gender. Menurutnya, ketika perempuan memiliki akses terhadap pengetahuan, kepemimpinan, dan peluang ekonomi, mereka tidak hanya memperkuat kesejahteraan keluarga, tetapi juga menjadi penggerak penting bagi kemajuan komunitas dan keberlanjutan sektor kopi di masa depan.

“Kami berharap perempuan tidak hanya terlibat dalam aktivitas produksi kopi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kapasitas, memimpin, serta berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di tingkat kelompok maupun komunitas,” pungkas Agus.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika