Perjalanan Waste-Pickers Perempuan Tegallega Menambah Penghasilan dengan Menabung
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, para waste-pickers perempuan di Kecamatan Tegallega, Bogor sudah memulai hari. Mereka menyusuri jalan demi jalan, mengumpulkan botol plastik, kardus bekas, dan barang rongsok lain yang masih memiliki nilai jual. Semakin berat timbangan yang dibawa pulang, semakin besar pula peluang para perempuan ini membawa uang untuk kebutuhan keluarga hari itu.
Namun hidup mereka selalu berjalan dalam lingkaran yang sama. Uang hasil memulung langsung habis untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Besok pagi, semuanya dimulai lagi dari nol.
Santi, salah satu dari 19 anggota kelompok perempuan disana, menggantungkan hidup dari memulung, mengumpulkan barang bekas, dan berdagang kecil-kecilan. Selama bertahun-tahun, mereka terbiasa bekerja keras hanya untuk bertahan hidup, tanpa pernah benar-benar memiliki kesempatan merencanakan masa depan atau menikmati hasil jerih payahnya sendiri. “Bagi kami, menabung rasanya hanya bisa dilakukan orang yang punya uang lebih,” ungkap Santi.
Belajar Percaya, Lima Ribu Rupiah Sekalipun Berarti
Ketika mereka pertama kali diperkenalkan dengan Kelompok Usaha Perempuan Sejahtera (KUPAS) melalui pendekatan simpan pinjam, respons yang muncul justru dipenuhi keraguan.
“Uang kami saja pas-pasan, bagaimana mau ditabung?” begitu pertanyaan yang mewakili kegelisahan banyak anggota, termasuk Siti.
Bukan hanya soal uang. Mereka juga mempertanyakan siapa yang akan memegang kas kelompok, bagaimana jika uang hilang, atau apakah semua anggota bisa dipercaya saat meminjam. Kepercayaan ternyata menjadi modal pertama yang harus dibangun.
Pendekatan dimulai dengan serangkaian pertemuan rutin tiap minggu. Para anggota belajar saling mengenal, menyusun aturan bersama, memilih pengurus secara demokratis, hingga mengenal sistem kotak kas dengan tiga kunci yang dipegang oleh tiga orang berbeda. Perlahan, rasa saling percaya mulai tumbuh.
Dari pertemuan sederhana, titik balik terjadi. Kelompok perempuan sepakat bertemu untuk menabung secara bersama. Setiap anggota bersedia menyisihkan Rp5.000–Rp10.000 dari hasil memulung pada hari itu. Nilainya mungkin kecil. Namun bagi banyak dari mereka, itulah pertama kalinya uang hasil kerja keras tidak langsung habis dibelanjakan, melainkan disimpan sebagai milik bersama untuk masa depan.
Saat Perempuan Mulai Mengambil Keputusan
Bulan pun berganti, tabungan kelompok mulai bertambah hingga cukup untuk memberikan pinjaman kepada anggotanya sendiri. Bagi orang lain, pinjaman kecil mungkin terlihat biasa, namun bagi kelompok ini, maknanya sangat besar.
Untuk pertama kalinya, keputusan tentang siapa yang berhak meminjam dan berapa besar pinjaman ditentukan oleh para anggota perempuan itu sendiri. Bukan oleh pasangan, bukan oleh pengepul, dan bukan oleh pihak luar.
Pertemuan rutin ini pun maknanya semakin dalam. Tidak lagi sekadar tempat menabung, tetapi menjadi ruang belajar, berdiskusi, dan saling mendukung. Perempuan yang sebelumnya lebih banyak diam mulai berani menyampaikan pendapat, berbagi ide usaha, hingga bersama-sama merancang langkah berikutnya.
Lebih dari Sekedar Menabung, Kotak Kas Membuka Kesempatan Baru
Bulan kelima kebersamaan kelompok, tabungan terus bertambah, dukungan modal usaha dari CARE Indonesia berkolaborasi dengan Mahija dengan pendanaan dari The Coca Cola Foundation pun membuka peluang yang sebelumnya terasa mustahil.
Para anggota mulai membangun usaha bersama sekaligus mengembangkan usaha individu. Ada yang memperbesar usaha barang rongsok, ada yang memulai usaha ultra mikro, hingga membuka warung kopi sederhana untuk menambah penghasilan keluarga, seperti yang dilakukan Santi.
“Dengan hasil berdagang kopi kecil-kecilan, saya akhirnya punya keuntungan yang cukup untuk membeli baju dan kosmetik,” ujar Santi sambil tersenyum.
Bagi sebagian orang, membeli pakaian atau kosmetik mungkin hal biasa. Namun bagi Santi, itu menjadi simbol bahwa hasil kerja kerasnya kini tidak hanya cukup untuk bertahan hidup, tetapi juga memberi ruang untuk memenuhi keinginan yang selama ini selalu dikalahkan oleh kebutuhan.
Kini pandangannya tentang menabung pun berubah. “Dulu saya pikir menabung itu untuk orang yang punya uang lebih. Sekarang saya sadar, menabung itu justru untuk kami yang uangnya pas-pasan, supaya ada yang tersisa untuk hari depan.”
Sri, Ketua KUPAS Tegallega pun merasakan perubahan yang sama. Baginya, terbesar bukan hanya soal bertambahnya uang kas kelompok tapi soal perempuan saling menguatkan untuk berdaya bersama.
“Yang membedakan kumpulan ini dengan perkumpulan lain adalah kami punya tujuan bersama. Bukan hanya menyimpan uang, tetapi membuat uang itu berkembang. Kami juga didampingi belajar mengelola usaha, berdiskusi, dan saling menguatkan. Walaupun hasil usahanya belum besar, manfaatnya sudah sangat terasa bagi kelompok,” ujar Sri.
Kini, kotak kas untuk menabung yang dulu dipenuhi keraguan telah berubah menjadi simbol kepercayaan dan kebersamaan. Dari setiap lembar uang lima atau sepuluh ribu rupiah yang disisihkan, tumbuh keberanian untuk bermimpi lebih jauh.

Saat Rasa Percaya dan Kebersamaan Menjadi Jalan Waste-Pickers Perempuan di Bintara Menguatkan Ekonomi
Selama bertahun-tahun, para waste-pickers perempuan di Bintara Jaya terbiasa hidup dari penghasilan memulung yang tidak menentu. Ada hari ketika barang bekas yang berhasil dikumpulkan cukup banyak sehingga bisa membawa pulang uang lebih. Namun, tak jarang hasil seharian memulung hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga.
Ketika kebutuhan mendadak datang seperti kebutuhan obat anak yang sakit, gerobak rusak, atau kebutuhan sekolah, pilihan berhutang jadi jalan tercepat, baik ke tetangga, pengepul, bank keliling, bahkan rentenir. Para perempuan ini sadar resiko bunga dari pinjaman sering kali membuat mereka semakin sulit keluar dari lingkaran utang.
Dalam kondisi seperti itu, gagasan membentuk kelompok yang dikelola oleh perempuan untuk simpan pinjam terdengar mustahil. Banyak yang mempertanyakan keamanan uang mereka. Sebagian lainnya merasa tidak mungkin bisa menyisihkan uang karena setiap rupiah yang diperoleh selalu habis untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun, tidak ada yang dipaksa untuk langsung percaya. Melalui pendampingan yang dilakukan CARE Indonesia berkolaborasi dengan Mahija dengan pendanaan dari The Coca Cola Foundation, para waste-pickers perempuan dikenalkan dengan pendekatan membangun Kelompok Usaha Perempuan Sejahtera (KUPAS) serta bertemu secara rutin setiap minggu.
Berbagai pelatihan pun dijalankan dalam pertemuan itu seperti belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran uang dalam keluarga, mengenalkan kebiasaan menabung, pengenalan kesetaraan gender melalui edukasi hak-hak perempuan dalam kehidupan sehari-hari, serta diskusi tentang membangun usaha bersama dan tantangan yang mereka hadapi. Kekompakan antar individu dalam kelompok pun meningkat seiring berjalannya pertemuan kelompok.
Yuyun, salah satu anggota kelompok perempuan menyatakan, menumbuhkan rasa percaya ke sesama anggota serta terhadap konsep simpan-pinjam jadi tantangan utama di awal. Kekhawatiran atas hilangnya uang yang mereka tabung atau tidak dikelola dengan baiknya tabungan, dirasakan hampir oleh semua anggota. “Yang paling sulit di awal itu karena orang belum percaya. Saya sampai kecil hati karena sudah mengajak orang-orang, tetapi mereka masih curiga dan tidak mau datang,” ujar Yuyun.
Pertemuan rutin mingguan menurut Yuyun jadi cara ampuh mendekatkan para anggota. Adanya kesepakatan bersama atas aturan pengelolaan simpan pinjam oleh kelompok pun membuat rasa percaya sedikit demi sedikit tumbuh.
Menurutnya, cara penyimpanan dana tabungan yang aman dan transparan melalui sistem penyimpanan uang menggunakan brankas dengan beberapa gembok yang dipegang kuncinya oleh 3 pengurus yang berbeda, membuat anggota merasa lebih tenang bahkan semakin banyak yang ingin menjadi anggota kelompok.
“Setelah beberapa minggu berjalan, mereka melihat sendiri kalau uangnya aman dan kegiatannya benar-benar ada. Kalau sekiranya ketua kelompok mau bawa kabur, nggak bisa. Salah satu kuncinya saya yang pegang. Uangnya juga ada di rumah kami. Jadi akhirnya mereka percaya. Akhirnya yang tadinya tidak mau ikut, sekarang ikut bergabung juga,” ujar Yuyun.
Rasa Percaya yang Membangun Kebiasaan Menabung dan Usaha Bersama
Rasa saling percaya antar anggota kelompok serta melihat transparansi pengelolaan simpan pinjam yang terbangun dari pertemuan rutin itu, sedikit demi sedikit menumbuhkan kebiasaan menabung dari tiap anggota. Nominal tabungan yang dibebaskan sesuai kemampuan membuat konsistensi bertumbuh dan para anggota perempuan pun tidak merasa terbebani target setoran tabungan.
Tidak bisa dipungkiri, bagi pengurus kelompok, sempat ada keraguan para anggota akan mau menabung secara rutin. Sebagai ketua kelompok, Ria melihat kondisi sebagian besar anggota memiliki penghasilan tidak menentu dan sering kali habis untuk kebutuhan sehari-hari sehingga ia paham bahwa menyisihkan uang setiap minggu untuk ditabung akan sulit.
Namun, seiring berjalannya waktu, keraguan tersebut perlahan pudar. Menurut Ria, para anggota perempuan konsisten menunjukkan komitmen menabung sesuai kemampuan. Bagi banyak anggota, ini merupakan pengalaman pertama memiliki tabungan yang benar-benar mereka sisihkan untuk masa depan.
“Awalnya saya juga ragu, apakah ibu-ibu mau nabung terus. Karena saya tahu kondisi mereka seperti apa. Tapi ternyata sampai sekarang mereka tetap menabung sesuai kemampuan masing-masing. Bukan cuma nabung, kami juga jadi belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran. Ada banyak ilmu baru yang kami dapat selama ikut kelompok,” jelas Ria.
Nurhayati, salah satu anggota KUPAS merasa senang bisa memiliki tabungan karena biasanya uang penghasilan langsung habis tiap hari tanpa sisa. Menurutnya, meski nominal tabungan belum bisa mengubah drastis ekonomi keluarga, tapi konsistensi menyisihkan uang peghasilan untuk ditabung bersama kelompok membuatnya memiliki tujuan dan keyakinan adanya dana yang setiap saat bisa membantu anggota yang sedang membutuhkan.
“Kalau ada sisa uang dagangan, saya sisihkan ke tabungan kelompok. Saya anggap itu uang yang tidak dipakai dulu. Jadi kalau suatu saat butuh sekali, saya masih punya simpanan,” ungkap Nurhayati.
Dana tabungan kelompok yang terkumpul ditambah dana hibah menjadi sumber pemberian pinjaman bagi para anggota kelompok untuk mengembangkan usaha kecil yang sudah dijalankan.
Ada anggota yang melakukan pinjaman untuk membeli tambahan karung dan timbangan agar bisa mengumpulkan lebih banyak barang bekas, ada pula anggota yang membeli barang bekas lebih banyak lagi agar bisa disortir untuk mendapatkan keuntungan. Pinjaman sebagai tambahan modal berjualan gorengan setelah selesai memulung, serta membuka usaha nasi uduk untuk sarapan dan makanan ringan juga dilakukan anggota.
Memanfaatkan dana pinjaman untuk mengembangkan usaha dilakukan Nurhayati. Pembelian lemari pembeku (freezer) yang ia dapatkan dari dana pinjaman KUPAS dilakukan untuk menambah variasi produk makanan yang ia jual, sekaligus sebagai tempat penyimpanan bahan baku agar tidak cepat busuk. “Karena ada freezer, dagangan jadi bertambah. Saya bisa jual es mambo, es kulkul, dan makanan lainnya,” ungkapnya.
Dari Kelompok Perempuan Membuka Harapan Terbebas Lilitan Hutang
Adanya tabungan sesuai kemampuan anggota KUPAS serta akses meminjam tanpa bunga yang menjerat seperti menumbuhkan harapan perbaikan ekonomi bagi anggota KUPAS, termasuk Saumi.
Ia mengakui, mengajukan pinjaman pada Bank keliling dan rentenir memang menjadi solusi tercepat ketika kebutuhan mendesak datang, walau dengan bunga yang tinggi. Ia pun menyadari bunga yang tinggi dari pinjaman Bank keliling dan rentenir membuat banyak keluarga sulit keluar dari utang.
Namun, dengan wajah berseri, Saumi tidak menyesali keputusannya menjadi anggota KUPAS karena menurutnya, melalui tabungan dan dana kelompok yang dikelola bersama, ia mulai melihat jalan lain yang lebih aman dan lebih manusiawi untuk menutupi kekurangan dana kebutuhan harian.
“Kalau ada kebutuhan mendadak, biasanya orang larinya ke bank keliling. Tapi bunganya besar dan memberatkan. Dengan adanya kelompok ini, kami punya harapan supaya pelan-pelan tidak terus bergantung ke sana,” ungkap Saumi.
Adanya KUPAS dengan metode peminjaman yang dibangun dari rasa saling percaya para anggota menjadi titik penting yang mendorong komitmen tinggi para anggota untuk mengembalikan dana pinjaman sesuai kesepakatan. Ria, Ketua KUPAS Bintara Jaya menyampaikan, meski sempat ragu menerima individu yang terlilit hutang menjadi anggota karena takut tidak bisa mengembalikan pinjaman, kesetaraan dan kesempatan yang diberikan kelompok malah semakin menguatkan kebersamaan.
“Awalnya kami sempat ragu karena ada anggota yang memang punya banyak pinjaman di luar. Tapi ternyata setelah mendapatkan pinjaman dari kelompok, dia justru semangat mengangsur dan sangat kooperatif,” ujar Ria.
Senada dengan Ria, Saumi juga menyampaikan bahwa kesempatan yang diberikan bagi semua anggota semakin menguatkan komunikasi di dalam kelompok dan mendorong komitmen para anggota memenuhi kewajibannya dari menabung sampai membayar utang teratur.
“Kami jadi belajar bahwa tidak semua orang yang sedang kesulitan harus langsung dianggap tidak mampu mengelola pinjaman. Kadang mereka hanya butuh kesempatan yang lebih adil,” kata Saumi.
Penulis: Meiry Nasution & Kukuh
Editor: Swiny Adestika