Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, menyisihkan uang untuk tabungan bukan perkara mudah.  Kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran mendadak kerap membuat uang yang sudah dikumpulkan harus digunakan kembali. Kondisi ini juga dialami Rusmiati dan Surtinah, anggota Kelompok Usaha Perempuan Sejahtera (KUPAS) yang juga bekerja sebagai waste pickers perempuan di Rusun Pinus Elok, Jakarta.

Namun, selama menjadi anggota KUPAS yang didampingi CARE Indonesia dan Mahija Parahita Nusantara, bagi keduanya, kebiasaan menabung kini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan usaha. Menurut Rusmiati sebelum bergabung dengan KUPAS, ia tidak terbiasa menabung karena penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Melalui kelompok ini, ia mulai memiliki kesempatan mengakses pinjaman modal dan mengembangkan usaha gorengan.

“Saya menabung supaya bisa meminjam untuk tambahan modal usaha karena tidak ada bunga. Menabung di KUPAS mudah dan terpercaya. Ada pembimbingnya dari CARE, anggotanya terpercaya, dan kotak untuk menyimpan uang juga aman,” katanya.

Dengan tambahan modal, Rusmiati dapat meningkatkan produksi dan memperluas pemasaran. Dagangannya tidak hanya dijual secara langsung, tetapi juga dititipkan di warung-warung sekitar.

“Awalnya gorengan saya cuma pisang goreng, tahu isi, dan bakwan. Setelah ada KUPAS, saya mendapatkan tambahan pinjaman modal. Jadi, saya bisa menitipkan gorengan ke warung-warung,” imbuhnya.

Menurut Rusmiati, pemberdayaan melalui kelompok yang ia ikuti di KUPAS tidak hanya meningkatkan ekonomi pribadi, tapi juga membawa peningkatan ekonomi dan kapasitas lebih luas ke komunitas waste pickers di sekitarnya.

Selain berjualan gorengan, Rusmiati mengembangkan budi daya sayuran hidroponik bersama dua rekannya dalam KUPAS. Mereka menanam pakcoy dan kangkung, lalu menawarkan hasil panen melalui grup percakapan warga dan berkeliling di lingkungan rusun. Pendapatan dari panen awal menurutnya, belum dibagikan sebagai keuntungan karena masih digunakan untuk membeli bibit dan perlengkapan tanam.

“Kami mulai menanam sayur sejak Juli dan sekarang sudah satu kali panen dengan total pendapatan Rp100.000. Hasilnya kami putar lagi untuk modal membeli bibit. Kira-kira pada panen ketiga nanti kami sudah bisa mendapat keuntungan yang dibagi bertiga,” ujarnya.

Peningkatan pendapatan juga dirasakan Surtinah. Sebelumnya Surtinah hanya bisa menyimpan sebagian uang hasil usaha warungnya di rumah. Namun, simpanannya tersebut sering terpakai ketika muncul kebutuhan mendadak, seperti membayar listrik atau biaya sekolah.

Ketika Surtinah menjadi anggota KUPAS, ia pun memiliki tabungan yang lebih konsisten serta mendapat ilmu baru untuk mencatat keuangan baik untuk keuangan rumah tangga maupun keuangan kelompok. Surtinah mendapat tanggung jawab untuk mengelola rekening kelompok dan menyetorkan uang ke bank ketika simpanan sudah terkumpul. Menurut Surtinah, kepercayaan anggota KUPAS juga ditopang oleh pengelolaan tabungan yang tercatat dan transparan dari serial pelatihan yang ia ikuti.

Surtinah menambahkan, pencatatan dilakukan dalam tiga buku, sementara kotak penyimpanan dilengkapi sistem kunci yang dipegang beberapa pengurus. Melalui KUPAS, ia berusaha mempertahankan kebiasaan menabung dengan menyisihkan Rp10.000 setiap minggu.

“Uangnya kami kumpulkan, lalu dicatat dalam pembukuan. Pembukuannya bukan cuma satu, tetapi tiga. Setelah itu uang disimpan di brankas dan kuncinya dipegang bertiga. Kalau uangnya sudah banyak, tugas saya menyetorkannya ke bank. Walaupun satu minggu Rp10.000, saya usahakan harus menabung,” jelasnya.

Kepercayaan yang dibangun melalui KUPAS turut membuka kesempatan bagi Surtinah dan anggota lainnya mengembangkan usaha bersama. Sejak Agustus, ia mengelola budi daya lele dan nila bersama tiga anggota lainnya dengan modal kelompok sebesar Rp4,5 juta. Usaha tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum memasuki panen pertama. Dalam pengelolaannya, Surtinah bersama suaminya memberi pakan ikan pada pagi dan sore hari.

“Dulu saya sempat beternak lele sendiri di rumah. Setelah berkumpul di KUPAS, kami membentuk kelompok usaha dan mencoba budi daya lele bersama. Usaha ini juga dibantu suami saya, terutama untuk membeli bibit dan pakan,” tuturnya.

Dukungan suami juga terlihat dalam pembagian pekerjaan rumah tangga. Menurut Surtinah, pelibatan suaminya dalam pelatihan terkait kesetaraan gender yang dilakukan CARE, membuat suaminya mau lebih sering terlibat dan bekerja sama mengurus kebutuhan warung, termasuk berbelanja dan mengangkut barang.

Surtinah menambahkan, keterlibatan suaminya pun meningkat dalam membantu pekerjaan domestik, seperti mencuci piring dan pakaian terlebih ketika kondisi tubuhnya kurang sehat. Kerja sama ini membantunya menjalankan kegiatan ekonomi sekaligus tetap mengurus rumah tangga.

“Kalau badan sedang enak, pekerjaan rumah saya kerjakan sendiri. Tapi kalau kondisi saya kurang enak badan, suami jadi lebih memahami dan membantu, seperti mencuci piring dan pakaian. Pada dasarnya, tugas di rumah tetap kami kerjakan bersama,” kata Surtinah.

Bagi Rusmiati dan Surtinah, pendampingan dan keterlibatan dalam kelompok perempuan seperti KUPAS, termasuk upaya penguatan ekonomi melalui menabung, bukan sekadar usaha untuk konsisten menyimpan uang, melainkan langkah untuk membuka akses terhadap ilmu baru, koneksi baru, tambahan modal dan kesempatan mengembangkan usaha baik individu maupun usaha bersama. Melalui dukungan kelompok, pengelolaan keuangan yang lebih teratur, serta kerja sama di rumah, keduanya berupaya membangun ketahanan ekonomi keluarga secara bertahap.

Penulis: Kukuh Akhfad

Editor: Swiny Adestika