Sembari duduk di tempat tinggal sementara yang dibangun setelah banjir, Sri Wahyuni bercerita tentang hari ketika air datang begitu cepat dan membuatnya harus meninggalkan rumah bersama suami dan kedua anaknya.
Banjir yang terjadi pada 26 Desember 2025 di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, membuat rumah Sri terendam. Dalam situasi yang serba terburu-buru, ia dan keluarganya hanya sempat menyelamatkan satu unit motor dan dokumen penting sebelum mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Air naik begitu cepat, sehingga saya dan keluarga langsung mengungsi ke bangunan masjid di dekat rumah yang berada di dataran tinggi. Di sana saya bersama puluhan tetangga tinggal dan berlindung. Barang yang bisa kami selamatkan hanya satu unit motor dan dokumen penting. Sisanya hilang diterjang banjir, termasuk rumah tempat saya tinggal sebelumnya,” ujarnya saat menceritakan kondisi awal banjir, Jumat (28/8).
Tidak banyak barang yang bisa dibawa Sri ketika mengungsi. Akibatnya, ia dan keluarga harus meminjam berbagai peralatan dari tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama berada di pengungsian.
“Kami tidak sempat membawa barang-barang untuk mengungsi. Ini cukup menyulitkan kami untuk memenuhi kebutuhan selama banjir terjadi. Untungnya, saya bersama tetangga yang lain saling membantu memenuhi kebutuhan sementara. Begitu kami kembali ke rumah, barang-barang yang tersisa sudah rusak dan tidak bisa digunakan,” tuturnya.
Pengalaman Sri dalam situasi bencana menunjukkan, kebutuhan yang terlihat sederhana dapat menjadi persoalan ketika seseorang harus meninggalkan rumah secara tiba-tiba. Peralatan untuk memasak, penerangan, hingga perlengkapan kebersihan menjadi penting ketika keluarga harus menjalani aktivitas sehari-hari dalam kondisi yang serba terbatas.
Kondisi serupa juga dialami Ferdinandus, salah satu penyintas gempa bermagnitudo 7,7 di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 membuat Ferdinandus dan keluarganya khawatir untuk kembali beraktivitas di dalam rumah karena gempa susulan masih terjadi.
“Setelah gempa pertama kali, saya dan istri memutuskan untuk mendirikan tenda di halaman rumah karena takut untuk beraktivitas di rumah. Meski udara dingin dan ada nyamuk, kami tetap tidur di luar supaya merasa aman,” ujarnya.
Pria berusia sekitar 50 tahun itu juga bercerita bahwa istrinya harus memasak di halaman rumah menggunakan tungku batu. Mereka memilih memasak di luar karena khawatir menggunakan kompor di dalam rumah ketika gempa susulan masih terjadi.
“Untuk memasak juga kami lakukan di luar, karena khawatir kalau tiba-tiba terjadi gempa sewaktu memasak. Saya juga khawatir dan tidak mau terjadi kebakaran. Bisa saja nanti kompornya jatuh atau tertimpa sesuatu yang bisa menyebabkan kebakaran,” katanya.
Bagi Sri dan Ferdinandus, bencana tidak hanya membuat mereka kehilangan atau meninggalkan rumah. Aktivitas sehari-hari yang sebelumnya dilakukan dengan mudah berubah menjadi tantangan. Kegiatan sehari-hari yang sederhana seperti memasak, mendapatkan penerangan, atau menjaga kebersihan, membutuhkan penyesuaian ketika sebagian besar barang yang dimiliki tidak dapat digunakan.
Kondisi Sri membuatnya menjadi salah satu penerima CARE Package for Emergency (CP4E) di Kab. Aceh Tamiang. Paket bantuan yang berisi berbagai perlengkapan, dapat ia dan keluarganya gunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar dalam masa pemulihan paska bencana banjir.
Bagi Sri, beberapa barang di dalam paket terasa sangat berarti karena berkaitan langsung dengan keterbatasan yang ia alami ketika mengungsi. Salah satunya adalah peralatan memasak.
“Di dalam paket ada pisau. Mungkin benda ini tidak begitu dipikirkan saat kondisi darurat, tetapi sangat merepotkan ketika tidak ada. Sewaktu kami mengungsi cukup kesusahan dalam memasak karena tidak ada pisau. Kami memakai benda di sekitar seperti batu untuk memotong buah sementara waktu,” katanya sembari mengingat kembali momen saat mengungsi.
Pengalaman tersebut membuat Sri menyadari bahwa bantuan dalam kondisi bencana tidak selalu harus berupa barang besar. Perlengkapan sederhana yang mudah digunakan dapat membantu keluarga menjalankan kembali aktivitas sehari-hari ketika sebagian besar barang yang mereka miliki hilang atau tidak dapat digunakan.

Hal yang sama dirasakan Ferdinandus. Menurutnya, barang-barang yang terdapat dalam CP4E yang ia terima, merupakan perlengkapan yang dibutuhkan dalam keadaan darurat. Ia juga menilai tas CP4E praktis dibawa karena berbagai kebutuhan dikemas menjadi satu.
“Dalam kondisi darurat kita cukup kesusahan untuk mengumpulkan barang yang lengkap menjadi satu wadah yang praktis dan mudah dibawa. Tapi kalau paket bantuan dari CARE ini mudah dibawa oleh siapa saja, seperti saya atau istri,” imbuhnya.
CP4E telah dibagikan CARE Indonesia bersama mitra kepada 425 keluarga penerima manfaat di Kabupaten Aceh Tamiang, Sigi, dan Nagekeo. Paket bantuan dikurasi dengan seksama sesuai standar Sphere berisikan berbagai kebutuhan darurat, antara lain perlengkapan kebersihan, peralatan memasak, lampu, tali, terpal, dan perlengkapan lainnya. Seluruh perlengkapan dikemas dalam satu tas punggung dan dua tas jinjing samping sehingga mudah dibawa baik oleh satu maupun beberapa orang bersamaan.
Untuk membantu penerima memahami fungsi dan cara penggunaan setiap perlengkapan, CP4E juga dilengkapi dengan kertas petunjuk penggunaan. Bagi Sri, petunjuk tersebut membuatnya lebih mudah memahami cara menggunakan berbagai alat yang tersedia. Penjelasan dari petugas CARE Indonesia juga turut membantunya.
“Sangat mudah sekali untuk memakai berbagai alat yang ada di dalam CP4E. Terdapat kertas petunjuk dan juga ada penjelasan dari petugas,” ujarnya.
Ferdinandus juga merasa terbantu karena penerima dapat menghubungi CARE Indonesia apabila mengalami kendala dengan barang yang diterima. Menurutnya, akses tersebut penting bagi keluarga yang masih berada dalam kondisi sulit setelah bencana.
“Kami sebagai penerima bisa bertanya atau memberi kabar kalau barang yang kami terima rusak atau ada kendala saat menggunakan alatnya, bisa langsung menghubungi CARE Indonesia melalui kontak yang diberikan. Ini sangat memudahkan dan membantu kami sebagai penerima yang sedang berada di kondisi sulit,” pungkasnya.
Bagi Sri dan Ferdinandus, bantuan tersebut bukan sekadar kumpulan barang yang diterima setelah bencana. Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian, perlengkapan sederhana yang mudah dibawa dan digunakan dapat membantu mereka kembali menjalankan aktivitas sehari-hari, sedikit demi sedikit.
Penulis: Kukuh A. Tohari
Editor: Swiny Adestika