Melalui KUPAS, mekanisme simpan pinjam berbasis kelompok yang mengadaptasi prinsip Village Savings and Loan Association (VSLA) membantu perempuan pekerja informal mengubah penghasilan yang tidak menentu menjadi tabungan, modal usaha, perlindungan ekonomi, dan ruang untuk memimpin.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, para perempuan pemilah sampah di Tegallega, Bogor, telah menyusuri jalan untuk mengumpulkan botol plastik, kardus, dan barang bekas yang masih memiliki nilai jual. Semakin berat hasil yang mereka bawa pulang, semakin besar peluang memenuhi kebutuhan keluarga pada hari itu.

Namun, selama bertahun-tahun, penghasilan tersebut hampir selalu habis pada hari yang sama. Esok pagi, kehidupan dimulai kembali dari nol. Bagi Santi, salah satu anggota kelompok, menabung dahulu terasa seperti sesuatu yang hanya mungkin dilakukan oleh orang yang memiliki uang lebih.

Perubahan tidak dimulai dari pinjaman besar atau sistem yang rumit. Perubahan dimulai dari pertemuan rutin dan kesediaan menyisihkan Rp5.000.

Modal pertama adalah kepercayaan
Melalui Kelompok Usaha Perempuan Sejahtera atau KUPAS, anggota belajar menyusun aturan bersama, memilih pengurus secara demokratis, mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta menabung sesuai kemampuan. Di Tegallega, mereka mulai menyisihkan Rp5.000 hingga Rp10.000. Bagi banyak anggota, itulah pertama kalinya sebagian penghasilan tidak langsung habis, tetapi disimpan untuk masa depan.

Dana kelompok disimpan dalam kotak kas dengan tiga kunci yang dipegang oleh tiga orang berbeda. Mekanisme sederhana ini memastikan tidak ada satu orang yang menguasai uang kelompok. Pertemuan yang konsisten, aturan yang transparan, dan tanggung jawab bersama perlahan mengubah keraguan menjadi rasa percaya.

Desain ini sangat relevan bagi perempuan pekerja informal. Mereka tidak perlu menunggu memiliki pendapatan tetap, aset, atau “uang lebih” untuk mulai membangun ketahanan finansial. Mereka dapat memulai dari jumlah yang mungkin, melalui sistem yang dipahami dan dimiliki bersama.

Ketika perempuan mengelola keputusan
Ketika tabungan mulai terkumpul dan dukungan modal tersedia, kelompok dapat memberikan pinjaman kepada anggotanya. Namun, perubahan terpenting bukan hanya tersedianya dana.

Untuk pertama kalinya, para perempuan sendiri ikut menentukan siapa yang dapat meminjam, berapa jumlahnya, dan bagaimana pengembaliannya dilakukan. Pertemuan kelompok menjadi ruang untuk menyampaikan pendapat, menilai rencana usaha, menyelesaikan persoalan, dan mengambil keputusan yang memiliki konsekuensi nyata.

Di sinilah kekuatan VSLA terlihat. Ia bukan hanya instrumen keuangan, tetapi juga ruang bagi perempuan untuk berlatih memimpin.

Kepemimpinan tidak selalu dimulai dari jabatan besar. Ia dapat dimulai dari memegang salah satu kunci kotak kas, mencatat transaksi dengan jujur, memimpin pertemuan, atau berani menyampaikan apakah sebuah pinjaman layak diberikan.

Melalui proses tersebut, perempuan tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai penerima manfaat. Mereka menjadi penabung, peminjam, pengelola modal, pelaku usaha, dan pengambil keputusan.

Ketika pinjaman kecil membuka pilihan baru
Dana yang dikelola kelompok kemudian menjadi modal produktif. Santi membuka warung kopi sederhana. Di Bintara Jaya, anggota menggunakan pinjaman untuk membeli karung dan timbangan, menambah barang bekas untuk disortir, berjualan gorengan, atau membuka usaha nasi uduk.

Nurhayati menggunakan pinjaman KUPAS untuk membeli lemari pembeku. Peralatan itu membuatnya dapat menyimpan bahan baku lebih lama dan menambah variasi dagangan, termasuk es mambo, es kulkul, dan makanan lainnya.

Bagi keluarga dengan penghasilan harian yang tidak pasti, akses terhadap dana kelompok juga menyediakan pilihan yang lebih aman ketika kebutuhan mendadak datang. Biaya pengobatan, kebutuhan sekolah, atau gerobak yang rusak sering kali mendorong keluarga meminjam kepada bank keliling atau rentenir dengan biaya yang memberatkan.

KUPAS menawarkan jalan lain: mekanisme pinjaman yang dikelola dekat dengan anggota, berdasarkan aturan dan kepercayaan yang mereka bangun sendiri.

Daya lenting ekonomi bukan berarti keluarga tidak lagi menghadapi guncangan. Daya lenting berarti mereka memiliki lebih banyak pilihan ketika guncangan itu datang.

Bukti di balik cerita
Hingga Juli 2026: 212 anggota | 10 kelompok | 91% perempuan | Rp47,2 juta tabungan | Rp165,88 juta pinjaman | 90% tingkat pengembalian | Rp242 juta modal usaha tahap pertama dan kedua tersalurkan.

Usaha yang berkembang mencakup perdagangan makanan, sembako dan gas, pengumpulan barang rongsok, bank sampah, hidroponik, pertanian, peternakan ayam petelur, budidaya ikan dan maggot, serta katering dan makanan ringan.

Angka-angka tersebut memperlihatkan sesuatu yang sering terlewat dalam kebijakan dan pendanaan pembangunan: perempuan pekerja informal bukan hanya kelompok rentan. Ketika tersedia sistem yang sesuai, mereka mampu menabung, mengelola pinjaman, menjaga pengembalian, dan mengembangkan usaha.

Persoalannya bukan ketiadaan kapasitas. Persoalannya adalah masih terbatasnya akses terhadap mekanisme keuangan yang cocok dengan pendapatan tidak tetap dan realitas kehidupan mereka.

Menghubungkan ketahanan ekonomi dan kesetaraan gender
KUPAS tidak berhenti pada tabungan dan pinjaman. Sebanyak 20 sesi kesetaraan gender telah dilaksanakan untuk membahas hak perempuan, pembagian peran yang lebih adil, beban ganda antara mencari penghasilan dan mengasuh keluarga, serta partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan.

Hal ini penting karena akses terhadap uang belum otomatis menghasilkan pemberdayaan. Perempuan perlu memiliki suara dalam menentukan bagaimana uang digunakan, usaha dikembangkan, dan risiko keluarga dikelola.

Sebaliknya, pelatihan kepemimpinan tanpa pijakan ekonomi sering kali tidak cukup untuk mengubah posisi perempuan dalam rumah tangga dan komunitas.

VSLA membantu menghubungkan keduanya yaitu akses terhadap sumber daya dan kuasa untuk mengambil keputusan.

Modal saja tidak cukup
Pengalaman KUPAS memberikan pelajaran penting bagi donor, pemerintah, dan sektor swasta: penyaluran modal satu kali tidak cukup untuk menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Beberapa kelompok harus menyesuaikan rencana usaha karena keterbatasan lahan. Risiko pencurian ternak dan aset juga memengaruhi pilihan usaha. Karena itu, tabungan dan modal perlu disertai pendampingan usaha, pencatatan keuangan, pengelolaan risiko, serta fasilitasi gender yang berkelanjutan.

Untuk diperluas, model ini perlu mempertahankan unsur-unsur yang membuatnya bekerja: setoran yang fleksibel dan terjangkau, tata kelola yang transparan, keputusan yang berada di tangan anggota, modal yang dapat berputar, serta pendampingan yang sabar dan kontekstual.

Investasi pada infrastruktur sosial perempuan
Bagi donor dan pengambil keputusan, pengalaman KUPAS menawarkan alasan kuat untuk melihat VSLA bukan sekadar sebagai kegiatan simpan pinjam.

Model ini merupakan investasi pada infrastruktur sosial dan ekonomi yang dibutuhkan perempuan berpendapatan rendah untuk menghadapi krisis, mengembangkan aset, mengurangi ketergantungan pada utang mahal, dan mengambil bagian lebih besar dalam keputusan yang memengaruhi hidup mereka.

VSLA tidak menggantikan perlindungan sosial atau layanan keuangan formal. Namun, ia dapat menjadi jembatan yang praktis bagi kelompok yang selama ini sulit dijangkau oleh keduanya—termasuk perempuan pemilah sampah dan pekerja informal lainnya.

Perubahan itu dapat dimulai dari jumlah yang sangat kecil. Seperti disampaikan Santi, “Menabung itu justru untuk kami yang uangnya pas-pasan, supaya ada yang tersisa untuk hari depan.”

Dari Rp5.000 tumbuh tabungan. Dari tabungan tumbuh usaha. Dari usaha tumbuh pilihan dan rasa aman.

Dan ketika perempuan mengelola proses itu bersama, tumbuh sesuatu yang lebih besar:

kepemimpinan dan ketangguhan yang berakar dari komunitas sendiri.