Di sebuah ruang pertemuan di Palembang, dipenuhi meja-meja pameran kecil. Di atasnya berjajar produk anyaman lidi sawit, aneka camilan dalam toples seperti abon ikan dan ayam, berbagai variasi keripik, hingga jamur merang segar baru dipanen. Di sekeliling meja, para pengurus koperasi, pengurus dan anggota Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP), pelaku usaha ritel, perwakilan Dekranasda serta tamu dari perusahaan besar, duduk berhadapan. Hari itu bukan sekadar pameran, melainkan hari ketika upaya memperkuat ekonomi keluarga para perempuan-perempuan desa yang tergabung dalam beberapa KUEP di Musi Banyuasin melalui usaha kelompok akan diuji oleh pasar: apakah produk mereka cukup layak untuk naik ke rak toko kota, atau bahkan pabrik nasional.
22 calon mitra usaha dan pemilik toko dari Palembang hadir untuk satu tujuan, yakni melihat langsung, mencicipi, dan menilai apakah produk-produk rumahan dari usaha para perempuan di 13 KUEP di Musi Banyuasin layak masuk ke etalase mereka. Dan jawabannya, di hari itu ditandatangani 15 Perjanjian Kerja Sama Suplai Barang.
Mulai Dari Jamur Merang Segar Hingga Kerajinan Ditawarkan
Pertemuan dimulai dengan penjelasan bahwa produk yang diproduksi 13 kelompok perempuan atau KUEP ini dijual melalui wadah 3 koperasi yang anggotanya berasal dari 4 KUEP di 3 kecamatan berbeda. Terdapat 3 kategori produk yang diperkenalkan yakni produk camilan, produk kerajinan dan produk segar hasil panen.
Lisa, Ketua Koperasi Sekawan mandiri dari Kecamatan Sungai Lilin memulai dengan penjelasan kategori produk camilan. Ia menjelaskan, keunggulan produk camilan seperti abon ikan, abon ayam dan berbagai kripik adalah dari bahan baku yang seluruhnya berasal dari komoditas unggulan di 4 desa dan juga sudah memiliki perizinan seperti PIRT.
“Semua bahan baku produk camilan ini dari 4 desa yang ada di Kecamatan Sungai Lilin, sehingga dijamin kesegarannya. Sebelumnya kami hanya menjual disekitaran desa dan dengan dukungan dari CARE Indonesia juga PT Hindoli kami dapat mengembangkan variasi produk dari usaha kelompok. Harapannya bapak dan ibu pengusaha yang hadir di sini tertarik dan mau bekerjasama dengan kami,” ujar Lisa.
Selanjutnya kategori produk kerajinan dijelaskan oleh Siti, perwakilan Koperasi Srikandi Tangguh Berjaya dari Kecamatan Keluang. Kerajinan dari lidi sawit dikenalkan Siti sebagai produk unggulan dari 4 desa yang memiliki berbagai bentuk yang dibuat dengan anyaman tangan dari para anggotanya, dengan pewarnaan alami.
“Pembuatan kerajinan dengan menganyam tangan. Bahan bakunya berasal dari pelepah sawit yang tidak terpakai yang diserut menjadi lidi baru kemudian dianyam. Ibu-ibu anggota kelompok kami membuat kerajinan dengan banyak bentuk dan memberikan warna serta melapisinya pun dengan bahan-bahan alami. Kami berharap Bapak dan Ibu mau bekerjasama dengan koperasi kami dan turut menjual kerajinan ini,” ujar Siti.
Penjelasan dilanjutkan untuk kategori produk segar hasil panen berupa jamur merang oleh Fuji. Menurut Fuji, jamur merang yang semula tumbuh liar disekitar kebun sawit kini memiliki kualitas yang lebih baik karena dibudidaya secara khusus di 9 kumbung dan 2 kumbung percontohan yang tersebar di beberapa desa.
“Dari 2 kumbung hasil panen jamur merang sudah laku terjual di sekitar desa. Banyak peminat karena hasil panen yang dinilai baik. Di akhir bulan ini ditargetkan 9 kumbung akan siap panen jamur merang. Dari hasil panen di 9 kumbung ini harapannya bapak dan ibu berkenan bekerjasama dan memasarkannya,” jelas Fuji.
Ketertarikan yang Tak Terduga
Bagi para calon mitra usaha, produk dari kelompok perempuan ini bukan barang asing. Justru sebaliknya, banyak yang menyatakan sudah lama mencari pemasok lokal yang bisa diandalkan.
Salah satunya adalah Amanda Brownies. Jaringan toko oleh-oleh yang cukup dikenal di Palembang hari itu diwakili oleh Tomi Kurniawan, Koordinator Regional Amanda Group wilayah Sumatera. Menurut Tomi, ketertarikan mereka pada produk camilan dari kelompok perempuan KUEP tidak datang dari sekadar basa-basi kemitraan. Ia menegaskan bahwa perusahaannya menyambut baik kerja sama ini sesuai arah perusahaan yang ingin tumbuh dan berkembang bersama UMKM. Tomi juga menyampaikan tawaran penjemputan langsung produk yang dirasa seperti angin segar yang mengubah anggapan jauhnya jarak dari desa ke kota.
“Kami sangat menyambut baik ada binaan khususnya dari Sumatera Selatan. Ibu-ibu tidak perlu pusing untuk transportasi karena kami akan menjemput langsung produk karena mobil kami keluar-masuk ke Jambi. Selagi itu masih jalur kami akan kami ambil produknya dan akan kami bawa kepabrik kami kemudian akan kami didistribusikan. Untuk masalah harga, akan kita sesuaikan. Kami ingin sekali tumbuh dan berkembang bareng UMKM karena kami dahulu dari UMKM juga. Kami akan jual produk ibu di toko kami. Kita akan sesuai skema yang ada. Ayok kita sama-sama duduk bareng,” ungkap Tomi.
Sambutan serupa datang dari Ekenedi Wiranata, pengelola Kriya Sriwijaya sekaligus bagian dari Dekranasda Sumatera Selatan yang menaungi galeri kerajinan tangan, songket, dan anyaman dari seluruh provinsi. Ia menyampaikan dukungannya terhadap produk anyaman KUEP karena melihat nilai di baliknya. Ketika muncul pertanyaan soal harga yang dinilai lebih tinggi dari pasar lokal, Ekenedi justru memberi perspektif baru dimana menurutnya harga kerajinan tangan memang tidak bisa dipukul rata karena tergantung tingkat kerumitan dan segmen pasar yang dituju.
“Kalau kita di Kriya Sriwijaya ada segmen pasar dari kalangan kelas menengah dan ada juga yang berasal dari segmen kelas tinggi. Tidak ada masalah hanya produknya saja yang disesuaikan dengan segmen yang cocok dipasar. yang ada disana, mungkin bisa dibuat juga anyaman dipadukan dengan songket agar ada kombinasi, Produk ibu-ibu yang sudah lulus kurasi bisa kita suplay dan jika ada kegiatan promosi lain seperti pameran, akan dilibatkan. Yang terpenting produk kerajinan harus rapi dan keseragaman harus sama meskipun dibuat oleh kelompok yang berbeda, serta tau fungsi dari tiap produk juga dari bahannya yang alami. Faktor keamanan bahan baku juga diperhatikan, misalnya jika untuk keranjang buah berarti dari bahan yang tidak bahaya,” katanya.
Mengubah Keraguan Menjadi Kepercayaan
Tentu, jalan menuju kesepakatan tidak datang tanpa pertanyaan kritis dari sisi calon mitra, namun justru di sinilah letak keseriusan terlihat. Perwakilan dari Resto Mie Ayam Abang Kaif menanyakan langsung soal jaminan kesegaran jamur merang selama pengiriman. Pemilik Dapur Ncha ingin tahu apakah tersedia harga khusus untuk pembelian partai besar. Sementara Dewi Mardalena, pelaku usaha anyaman, secara terbuka mempertanyakan selisih harga katalog dengan harga pasar di tokonya.
Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab satu per satu oleh perwakilan KUEP dan Koperasi Perempuan. Selain itu, Rasyid Rasiki, Project Manager Yayasan CARE Peduli yang telah mendampingi 13 kelompok perempuan ini sejak 2022 dengan dukungan dari PT Hindoli pun turut mengikuti sesi diskusi dan menjelaskan perjalanan pemberdayaan ekonomi para kelompok perempuan hingga akhirnya bisa memproduksi berbagai variasi produk.
“Produk yang kini berhadapan dengan para calon mitra di kota Palembang ini datang dari perjalanan panjang. Kami bekerja bersama para perempuan dan tokoh desa dengan dukungan dari PT Hindoli, dengan tujuan menguatkan para perempuan dari sisi ekonomi. Produk anyaman misalnya, dibuat dengan pemikiran agar limbah lidi sawit dari program peremajaan kebun kelapa sawit yang semula dianggap tak bernilai, bisa diubah menjadi anyaman. Begitu pula dengan berbagai produk unggulan lainnya. Cita-citanya suatu saat bisa menembus pasar ekspor,” ujar Rasyid.
Riska Wahyuni, Manager CSR PT Hindoli yang telah empat tahun mendanai kerja kolaborasi dengan CARE Indonesia ini, turut menegaskan bahwa perjalanan ini bukan hal yang mudah dan ia bangga dengan capaian yang ada.
“Para calon mitra bisa terus memberi masukan kepada KUEP, agar produk-produk yang semula terkesan hanya anyaman dari lidi, bisa dikenal luas hingga ke Kota Palembang bahkan luar provinsi,” ujarnya.

Suara dari Desa yang Kini Didengar Kota
Di sisi lain meja, para perempuan pelaku usaha ini pun menjawab kepercayaan itu dengan keyakinan yang sama besarnya. “Usaha kami sudah berjalan tiga tahun namun perputarannya masih terbatas di des. Harapannya produk abon dan aneka camilan berbahan baku lokal dari beberapa desa ini bisa menarik kerjasama dengan banyak toko dan merambah pasar di tingkat provinsi,” ujar Lisa, Ketua Koperasi Sekawan Perempuan Mandiri asal Kecamatan Sungai Lilin.
Harapan itu pun terjawab hari itu juga. Koperasinya menjadi salah satu dari tiga koperasi produsen yang menandatangani kesepakatan terbanyak, mencakup mitra seperti Amanda Brownies, Kerupuk 301, Dapur Ncha, Mie Ayam Abang Kaif, hingga Waroeng Pekhaha.
Ketika Kesepakatan Bukan Sekadar Tanda Tangan
Dari 22 calon mitra yang hadir, 15 di antaranya langsung menandatangani Perjanjian Kerja Sama Suplai Barang dengan tiga koperasi produsen perempuan asal Musi Banyuasin, yakni Koperasi Produsen Srikandi Tangguh Berjaya Keluang, Koperasi Produsen Sekawan Perempuan Mandiri Sungai Lilin, dan Koperasi Produsen Srikandi Tungkal Mandiri Tungkal Jaya.
Sistem konsinyasi disepakati sebagai skema utama, dengan pembayaran dilakukan 14 hari setelah barang diterima dan terjual. Ini menjadi sebuah mekanisme yang dirancang agar risiko tidak sepenuhnya dibebankan kepada kelompok perempuan yang baru merintis jangkauan pasar mereka.
Tidak hanya itu, sinyal ketertarikan akan produk KUEP pun diberikan oleh para calon mitra yang belum menandatangani kesepakatan. Beberapa toko menyampaikan secara langsung permintaan pengiriman sampel produk sebelum memutuskan kerja sama jangka panjang. Minat serupa juga disampaikan pelaku usaha songket dan anyaman retail di Palembang yang menyebutkan kebutuhan spesifik produk, mulai dari model anyaman yang lebih ekonomis untuk pasar volume besar, hingga gagasan kolaborasi produk anyaman lidi dengan songket sebagai identitas kerajinan khas Sumatera Selatan di masa depan.
Temu bisnis menjadi saksi bahwa ketika produk rumahan desa dikemas dengan kualitas yang konsisten dan didampingi dengan tepat, pasar kota tidak hanya menerima tapi justru mencari dan mengapresiasi.
Ketertarikan para calon mitra terhadap produk anyaman, camilan, dan jamur merang dari kelompok perempuan di Musi Banyuasin bukan sekedar pertemuan, melainkan awal dari rantai pasok baru yang menghubungkan desa dengan konsumen di ibu kota provinsi, dan berpotensi menembus pasar yang lebih luas lagi.
Bagi perempuan-perempuan anggota 13 KUEP di Kab. Musi Banyuasin yang hari itu membawa hasil karya tangan mereka ke Palembang, mengantongi satu hal pasti, yakni perjalanan dari dapur dan teras rumah mereka di desa menuju rak-rak toko kota bukan lagi sekadar mimpi, melainkan kesepakatan yang sudah ditandatangani, dan siap dikirim.
Penulis: Swiny Adestika