Yayasan CARE Peduli (CARE Indonesia), berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), menyalurkan 200 paket bantuan darurat kepada keluarga terdampak gempa bumi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
Gempa bumi tektonik dangkal yang terjadi di lepas pantai sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada Jumat, 15 Agustus 2026 pukul 05:58 WITA telah menyebabkan korban jiwa, kerusakan rumah dan fasilitas umum, serta memaksa ribuan warga meninggalkan tempat tinggal mereka.
Berdasarkan data Forum Pengurangan Risiko Bencana Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT hingga Senin, 17 Agustus 2026 pukul 19.00 WITA, 70 orang dilaporkan meninggal dunia, 305 orang mengalami luka-luka, dan lebih dari 19.000 jiwa mengungsi. Lebih dari 7.000 rumah serta 744 fasilitas umum dan infrastruktur dilaporkan mengalami kerusakan.
CEO Yayasan CARE Peduli (CARE Indonesia), Dr. Abdul Wahib Situmorang, menyampaikan, CARE Indonesia terus berkoordinasi dengan pemerintah dan berbagai mitra kemanusiaan serta memantau kebutuhan keluarga terdampak, termasuk kebutuhan perempuan, anak, lansia, dan kelompok yang berada dalam kondisi paling rentan.
“Dalam situasi darurat, bantuan bukan hanya perlu tiba dengan cepat, tetapi juga harus menjawab kebutuhan nyata setiap anggota keluarga. Karena itu, respons CARE juga memperhatikan kebutuhan perempuan dan anak, termasuk kebutuhan kebersihan, kesehatan menstruasi, air bersih, perlindungan, serta kondisi tempat tinggal sementara,” ujar Abdul.
Menurut Abdul, distribusi bantuan awal juga akan diikuti dengan asesmen kebutuhan cepat serta asesmen terkait kesetaraan gender dan perlindungan. “Kami ingin memastikan bahwa langkah berikutnya tidak semata-mata berdasarkan asumsi. Kami akan mendengarkan langsung keluarga terdampak, perempuan, anak dan masyarakat untuk memahami kebutuhan yang paling mendesak dan memastikan respons selanjutnya semakin tepat, inklusif, dan sesuai dengan kondisi di lapangan,” tambahnya.
Paket bantuan tersebut dirancang untuk membantu memenuhi sejumlah kebutuhan dasar keluarga selama masa tanggap darurat, meliputi:
- Paket kebersihan dan kebutuhan personal, antara lain pasta dan sikat gigi, sampo, sabun, pakaian dalam, pembalut, serta perlengkapan kebersihan lainnya;
- Paket penerangan tenaga surya untuk membantu keluarga yang tinggal di lokasi dengan akses penerangan terbatas;
- Perlengkapan penyimpanan dan penyaringan air, termasuk ember, jeriken, kain penyaring, dan corong lipat;
- Peralatan memasak, antara lain pisau, gelas, wajan, dandang, tungku, dan piring;

Distribusi bantuan direncanakan berlangsung hingga akhir Agustus 2026 dengan koordinasi bersama pemerintah daerah, posko penanganan darurat, dan jejaring kemanusiaan setempat.
Air Bersih dan Perlengkapan Dasar Masih Sangat Dibutuhkan
Densy, penyintas perempuan dari Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, menyampaikan, ketika gempa terjadi ia segera berlari keluar rumah bersama anak-anaknya. Sebagian bangunan rumahnya mengalami kerusakan, sementara tempat penampungan air keluarga juga rusak. Lebih lanjut Densy menyampaikan, gempa susulan membuat keluarganya belum merasa aman untuk kembali tinggal di dalam rumah. “Saat gempa saya masih di kamar. Getarannya langsung besar, jadi saya dan anak-anak segera keluar. Ada bagian rumah yang rusak dan bak penampungan air juga rusak sehingga air bersih masih sulit,” ujar Densy.
Densy menambahkan, untuk sementara, keluarganya tinggal di bangunan sederhana dari bambu di dekat rumah dan berpindah ke lokasi pengungsian ketika malam hari karena merasa kondisi belum
aman.
“Listrik dan jaringan telepon sudah kembali, tetapi kebutuhan seperti obat-obatan, alas tidur, peralatan memasak, perlengkapan kebersihan dan kebutuhan perempuan masih sulit didapatkan,” tambahnya.
Kolaborasi untuk Memastikan Bantuan Tepat Sasaran
Asisten Deputi Penanganan Bencana Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Merry Efriana menyampaikan, pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur dapat terpenuhi secara cepat dan tepat.
“Kami, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), sangat mengapresiasi dukungan Yayasan CARE Peduli melalui 200 CARE Package untuk masyarakat terdampak gempa di Nagekeo. Bantuan ini sangat berarti untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarga penyintas, khususnya mereka yang masih mengungsi dan belum dapat kembali beraktivitas secara normal,” pungkasnya.