Bagi keluarga nelayan dan pembudidaya rumput laut di Gugus Kepulauan Tamparang, Sulawesi Selatan, kebutuhan ekonomi ditopang dan tak pernah lepas dari laut. Di balik setiap siklus tanam, perempuan ikut menggerakkan roda ekonomi keluarga.
Salah satunya Daeng Alang, warga Dusun Kampung Beru, Desa Minasa Baji. Usaha rumput laut telah ia jalani sejak menikah. Proses panennya bergantung pada jenis yang ditanam. Hasil panen dikeringkan lalu dijual ke pengepul yang disebut punggawa di kampung.
“Sehari-hari saya sebagai ibu rumah tangga, petani rumput laut, ibu dari 2 anak. Rumput laut yang kami budi daya biasanya kadang umur 10 atau 15 hari, tergantung dari kesuburan dan pertumbuhan rumput laut yang ditanam. Kalau jenis Kotoni antara 20 sampai 25 hari,” perempuan,” tutur Daeng Alang.
“Harganya sekarang 6.000 rupiah per kilogram, sementara Kotoni 22.000 per kilogram,” katanya.
Persoalannya, bibit pun kerap dipinjam dari punggawa, sehingga keluarga sulit lepas dari lingkaran utang. Situasi itu mulai bergeser ketika ia bergabung dengan kelompok perempuan yang didampingi CARE Indonesia melalui proyek POWERE (Participation of Women in Renewable Energy). Sejak Desember 2025, anggota bertemu setiap pekan dan menabung Rp5.000 hingga Rp10.000, nominal kecil agar semua anggota bisa ikut. Saldo dihitung terbuka di hadapan anggota.
“Karena saya tertarik dengan cara menabungnya yang terbuka, dan ingin belajar menabung. Saya belajar menyisihkan uang untuk dapat digunakan untuk usaha mata pencaharian rumput laut,” ujarnya.
Menurutnya, selama mengikuti kelompok ia merasakan manfaat berupa kebiasaan menyisihkan uang. Selain itu, kelompok ini juga membuka ruang yang sebelumnya tak ada di dusunnya.

“Saya mendapatkan pengetahuan seperti membicarakan keputusan secara bersama-sama, karena sebelumnya di dusun kami tidak pernah ada kelompok perempuan yang bertemu setiap minggu,” ungkapnya.
Menurutnya, uang dari tabungan akan digunakan untuk membeli bibit rumput laut agar ia tidak selalu meminjam dari punggawa. Daeng juga menjelaskan jika mendapat pengetahuan tentang usaha, membuat catatan keuangan kelompok yang tertib, dan motivasi untuk menabung. Bahkan, ia turut mendapatkan ilmu baru tentang pengolahan rumput laut. Melalui agenda itu ia jadi tahu jika rumput laut juga bisa dijadikan bahan tambahan untuk membuat kue.
“Waktu pelatihan mengolah rumput laut, kami belajar menggunakan bahan rumput laut sebagai tambahan untuk membuat makanan dan minuman seperti bakso, cendol, tahu isi rumput laut, bakwan isi rumput laut,” pungkasnya.
Daeng juga menjelaskan, jika keterlibatannya dalam kelompok tidak hanya menambah pengetahuannya tentang pengolahan rumput laut. Tetapi juga informasi tentang pemanfaatan energi terbarukan yang seperti sampan bertenaga listrik. Menurutnya, pengetahuan baru ini bisa bermanfaat baginya dan perempuan lain dalam budi daya rumput laut.
“Kami mendapatkan berbagai pengetahuan baru, seperti menabung dan pembuatan makanan yang berbahan dasar rumput laut yang sebelumnya tidak kami mengerti. Di sini kami juga jadi mengerti ada perahu yang bertenaga listrik. Kami tentunya berharap hal ini bisa menunjang usaha kami dan tidak terlalu bergantung pada minyak untuk bahan bakar perahu,” pungkasnya.
Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika