Search
Close this search box.

Menjaga Pesisir dari Akar Mangrove: Kisah Perempuan Desa Palaes Merawat Sumber Penghidupan di Likupang

Share it with others

Air laut bergerak perlahan mengikuti pasang surut, sementara akar-akar mangrove mencengkeram lumpur, menahan daratan agar tetap utuh. Mangrove yang ada di Kabupaten Minahasa Utara merupakan yang paling luas di Provinsi Sulawesi Utara, yaitu 4.861,79 hektare berdasarakan data Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Tondano,

Wenon Tumundo, perempuan asal pesisir Desa Palaes, Kecamatan Likupang Barat, Sulawesi Utara, bersama anggota kelompok perempuan jadi salah satu sosok perempuan penggerak, berperan aktif melestarikan hutan mangrove di desanya dengan menjadi anggota Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Lolaro. Bagi Wenon, mangrove bukan sekadar tanaman pesisir, tetapi juga perlindungan, sumber penghidupan, sekaligus warisan bagi generasi berikutnya.

Kehadiran mangrove memberi dampak nyata dalam hidupnya. Ketika wisatawan datang menikmati pesisir, Wenon memiliki peluang tambahan untuk berjualan makanan ringan seperti pisang goreng, bakwan, dan lainnya kepada wisatawan yang mendatangi area mangrove “Saya ikut pelestarian mangrove karena ingin membangun desa dan melestarikan hutan ini untuk anak cucu ke depan,” ujarnya.

Menjadi anggota KUEP menunjukan komitmen Wenon menjaga mangrove. Bersama kelompoknya, ia terlibat langsung dalam proses panjang menumbuhkan mangrove, mulai dari mencari bibit hingga menanamnya kembali di alam. Ia menyampaikan, pencarian bibit mangrove perlu upaya tersendiri menggunakan perahu, menyusuri kawasan mangrove untuk mencari bibit yang layak. Setelah dikumpulkan, bibit dibawa ke area pembibitan untuk disemai selama tiga hingga enam bulan.

“Bibit harus disiram secara rutin karena lokasi pembibitan tidak selalu memiliki sumber air alami. Untuk melindungi tanaman muda dari panas matahari langsung, kami juga menggunakan jala paranet sebagai pelindung. Area pembibitan juga berfungsi sebagai pusat pencatatan; setiap bibit dihitung dan dipantau pertumbuhannya sebelum dipindahkan ke lokasi tanam,” imbuhnya.

Menurut Wenon, keterlibatannya dalam proses penanaman mangrove membuat dirinya semakin memahami jenis-jenis mangrove yang hidup di sekitar tempat tinggalnya. Di desanya terdapat delapan jenis mangrove yang tumbuh, dan jenis-jenis itulah yang ditanam bersama kelompoknya. Selain Rhizophora, dua jenis lain yang ditanam adalah Ceriops dan Bruguiera, meski Rhizophora tetap dominan karena paling sesuai dengan substrat berlumpur di wilayah tersebut.

“Kami juga belajar tentang jenis mangrove yang ada di sini agar kami bisa mengetahui jenis apa yang cocok dan mampu bertahan hidup. Kami dilatih untuk mengetahui bahwa sedimentasi tanah di sini hanya cocok untuk jenis tertentu. Karena itu, kami jadi lebih memahami apa yang dimiliki,” ujarnya.

Perjalanan Wenon bersama rekan-rekannya dalam melestarikan mangrove tidaklah mudah. Ia menemui berbagai tantangan saat mencari bibit maupun ketika menanam, mulai dari medan yang cukup berat hingga keberadaan satwa liar di sekitar mangrove.

“Kalau mencari bibit memang gampang-gampang susah. Kami harus masuk lorong-lorong hutan mangrove menggunakan perahu. Kalau air pasang, kami juga kesulitan menanam mangrove. Kadang kami juga melihat buaya, tentu saja kami harus berhati-hati. Tapi kami tetap melakukannya dengan suka cita. Terkadang, kami membawa radio dan bakar ikan bersama setelah mencari bibit atau menanam. Meski capek, tapi hati senang dan tenang karena bisa bantu jaga mangrove,” ujarnya.

Program konservasi kawasan hutan mangrove yang menempatkan kelompok perempuan sebagai aktor utama ini dijalankan CARE Indonesia bersama Yayasan Bumi Tangguh (YBT) dengan dukungan Asian Venture Philanthropy Network (AVPN). Pelestarian mangrove dilakukan dengan penanaman 50.000 bibit mangrove di zona penyangga Kawasan Konservasi Perairan (KKP) sekaligus melakukan pemberdayaan baik pemberdayaan pengetahuan, hingga pemberdayaan ekonomi pada perempuan di 3 desa yang menjadi lokasi program.

Fikri Buhamid, staf lapangan Yayasan Bumi Tangguh (YBT), menyampaikan bahwa berkat usaha gigih kelompok perempuan dalam mencari dan merawat bibit mangrove, saat ini sudah ada belasan ribu mangrove yang ditanam.

“Saat ini, sudah ada sekitar 16.731 mangrove yang ditanam oleh kelompok perempuan di tiga desa, yakni Desa Palaes, Serawet, dan Desa Minaesa. Mangrove-mangrove ini diharapkan bisa menjadi habitat berbagai hewan seperti ikan, udang, burung, kepiting, dan tarsius. Bahkan, hutan mangrove di sini juga dihuni buaya dan ular,” imbuh Fikri.

Fikri menyebutkan dengan kesadaran masyarakat yang semakin meningkat, upaya untuk mengingatkan sebagian orang yang masih melakukan aktivitas yang dapat merusak mangrove terus dilakukan. Hal inilah yang masih menjadi tugasnya bersama kelompok perempuan untuk memberi pemahaman kepada masyarakat luas. Kawasan mangrove di tiga desa tersebut masih tergolong asri dan mampu berfungsi menghalau gelombang dengan baik.

“Contohnya di Desa Minaesa, masih ada sebagian aktivitas masyarakat yang bisa merusak mangrove. Namun, kepedulian masyarakat lainnya untuk merawat mangrove juga terus bertumbuh. Hal itulah yang akan terus kami upayakan. Kami berharap seiring berjalannya waktu, program ini dapat memberi dampak dan perubahan pada pemahaman masyarakat di ketiga desa dalam menjaga mangrove dan satwa yang menghuninya,” pungkasnya.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Cerita Terkait Lainnya