Search
Close this search box.

Penyampaian CARE Indonesia di Forum OECD: Membangun Kepercayaan dan Memperkuat Mekanisme Pengaduan di Industri Garmen

Cerita

Rasa aman pekerja untuk menyampaikan masalah di tempat kerja menjadi hal yang sangat penting untuk diupayakan. Hal inilah yang menjadi inti pembelajaran yang dibagikan CARE Indonesia dalam forum Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) 2026. Melalui pengalaman mendampingi pabrik garmen di Indonesia, CARE Indonesia menunjukkan, keberadaan sistem saja tidak cukup; yang paling menentukan adalah kepercayaan pekerja terhadap sistem tersebut.

Awalia Murtiana, Program Manager CARE Indonesia, menjelaskan pada forum tersebut, terdapat perusahaan yang sebenarnya telah memiliki mekanisme pengaduan. Namun, dalam praktiknya, sistem tersebut sering kali tidak digunakan secara optimal. Pekerja cenderung menahan diri untuk melapor dan baru menyampaikan keluhan ketika situasi sudah sangat berat atau tidak lagi dapat ditoleransi.

“Persoalan utama bukan terletak pada kurangnya prosedur atau kebijakan, melainkan pada bagaimana sistem itu dirasakan oleh para pekerja sehari-hari. Banyak pekerja merasa ragu terhadap kerahasiaan laporan, khawatir akan munculnya rumor di tempat kerja, atau takut menghadapi konsekuensi setelah melapor. Kondisi ini menunjukkan, mekanisme pengaduan bukan sekadar perangkat teknis, tetapi juga ruang sosial yang sangat dipengaruhi oleh relasi kuasa, budaya kerja, dan rasa aman,” ujarnya di forum OECD, Jumat (13/2), yang dilakukan secara daring dan diikuti oleh lebih dari 90 peserta yang tergabung dalam CARE Impact Partner.

Menurut Awalia, untuk memahami situasi tersebut secara lebih mendalam, CARE Indonesia melakukan serangkaian pendekatan partisipatif di pabrik-pabrik mitra, yakni diskusi kelompok bersama pekerja, pemetaan pemangku kepentingan, penilaian internal pabrik, serta survei untuk melihat bagaimana mekanisme pengaduan benar-benar berjalan di lapangan.

“Intervensi difokuskan pada perbaikan sistem secara menyeluruh melalui proses co-creation, yaitu merancang solusi bersama manajemen dan pekerja agar perubahan benar-benar dimiliki oleh pihak pabrik. Proses ini dimulai dengan memperkuat pemahaman mengenai kesetaraan gender, risiko kekerasan berbasis gender di tempat kerja, serta regulasi ketenagakerjaan yang menjadi dasar perlindungan pekerja,” imbuhnya.

Pada forum tersebut, Awalia turut menyampaikan, pengetahuan saja tidak cukup untuk mendorong perubahan perilaku. Oleh karena itu, pekerja dan manajemen juga didampingi untuk membangun keterampilan praktis, seperti komunikasi asertif, fasilitasi dialog, negosiasi, serta penanganan dan dokumentasi kasus.

“Perubahan penting lainnya terjadi pada struktur mekanisme pengaduan di dalam pabrik. Komite Bipartit diperkuat sebagai platform resmi yang mempertemukan pekerja dan manajemen dalam menyelesaikan persoalan bersama. CARE Indonesia juga mendukung pembentukan satuan tugas khusus yang menangani kasus kekerasan berbasis gender secara rahasia dan berpusat pada penyintas,” imbuhnya.

Awalia menjelaskan, perubahan pada pekerja perlahan mulai terlihat. Mereka menjadi lebih percaya diri menggunakan saluran pengaduan dan mulai memahami kepada siapa mereka dapat berbicara ketika menghadapi masalah. Bagi CARE Indonesia, peningkatan ini justru menjadi indikator positif.

“Ketika pekerja mulai melapor, itu berarti sistem mulai dipercaya. Selain meningkatnya pelaporan, hubungan antara pekerja dan manajemen juga menunjukkan perubahan. Komunikasi menjadi lebih terbuka dan saling menghormati, dokumentasi kasus menjadi lebih tertata, dan komite yang sebelumnya pasif mulai berfungsi sebagai ruang dialog yang aktif. Di salah satu pabrik, pekerja bahkan mulai langsung mendekati anggota komite karena mereka akhirnya mengetahui jalur komunikasi yang jelas,” jelas Awalia.

Ia juga menyampaikan, dampak dari perubahan ini tidak hanya dirasakan oleh pekerja, tetapi juga oleh perusahaan. Penguatan mekanisme pengaduan membantu meningkatkan kepatuhan yang tidak lagi berhenti pada dokumen administratif, melainkan tercermin dalam praktik sehari-hari. Lingkungan kerja yang lebih terbuka juga mendukung stabilitas operasional dan kualitas produksi, menunjukkan, perlindungan pekerja dan keberlanjutan bisnis berjalan beriringan.

“Melalui pengalaman ini, sistem yang efektif membutuhkan kepercayaan. Ketika pekerja percaya bahwa suara mereka didengar dan ditangani secara aman, mekanisme pengaduan tidak lagi menjadi formalitas, tetapi menjadi alat nyata untuk menciptakan tempat kerja yang lebih adil dan aman bagi semua,” pungkas Awalia.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

CARE Response Sumatera Bangkit: Memulihkan Akses Air Bersih dan Kebutuhan Dasar Penyintas di Aceh dan Sumatera Barat

Cerita

Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang, tanah longsor, dan erosi tepi sungai melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.  Hasil asesmen kebutuhan cepat dan asesmen gender yang dilakukan CARE Indonesia pada Desember 2025 lalu menunjukan, 76 persen masyarakat di Aceh Tamiang mengalami kesulitan akses air bersih serta kebutuhan harian seperti peralatan kebersihan, alat rumah tangga, makanan dan kebutuhan sanitasi, termasuk kebutuhan sanitasi perempuan seperti pembalut. Keterbatasan air bersih disebabkan karena sumur-sumur tertutup lumpur saat banjir terjadi. BNPB menyebutkan, per Jumat (27/2), sekitar 270.779 rumah di Provinsi Aceh dan Sumatera Barat mengalami kerusakan yang turut berdampak pada barang-barang pribadi masyarakat.

CARE Indonesia bersama mitra menyalurkan bantuan yang responsif gender dan disesuiakan dengan kebutuhan keluarga penyintas, seperti paket makanan, alat dapur, paket kebersihan, bedding kit, alat kebersihan rumah, dignity kit, dan air bersih beserta komponen pendukung bagi para penyintas yang terdampak di Provinsi Aceh dan Sumatera Barat.

Pada Kamis (29/1), sejumlah masyarakat berkumpul di Balai Nagari Pagadih, Kecamatan Palipuh, Kabupaten Agam. CARE Indonesia bersama Palang Merah Indonesia Sumatra Barat (PMI Sumbar) pagi itu mendistribusikan bantuan bagi 20 kepala keluarga yang terdampak tanah longsor. Nagari atau desa yang berpenduduk sekitar 2.200 jiwa ini dilanda tanah longsor pada awal Desember 2025 yang menyebabkan setidaknya 20 rumah mengalami kerusakan berat dan sempat terisolasi selama dua pekan karena akses jalan tertutup material longsor.

Nismawati, orang tua tunggal dari 4 anak asal Nagari Pagadih, bercerita rumahnya kini sudah tidak bisa ditinggali lagi akibat terkena longsoran tanah. Demikian juga berbagai kebutuhan rumah tangga miliknya turut rusak dan tidak lagi dapat digunakan.

“Waktu itu hujan turun dari sore hari dan saya melihat tanah di sekitar rumah mulai bergeser, sehingga saya memutuskan untuk menginap di tempat saudara. Keesokan harinya sekitar pukul enam pagi saya kembali untuk melihat kondisi rumah, ternyata sudah tertutup tanah. Sekarang rumah dan barang-barang saya sudah tidak bisa dipakai lagi,” ujarnya.

Nismawati menjelaskan paket bantuan yang berisi peralatan memasak, bahan makanan, dan alat kebersihan diri yang diterima dari CARE Indonesia sangat membantu kesehariannya. “Barang-barang ini akan menggantikan peralatan dirumah saya yang semuanya sudah rusak. Kemudian, dari bantuan ini saya bisa mengirimkan makanan untuk anak saya yang paling kecil, yang sedang bersekolah SMA di tempat lain. Kalau tiga anak saya lainnya sudah berkeluarga dan tidak tinggal di sini. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada CARE Indonesia dan PMI,” katanya sembari tersenyum.

Peristiwa banjir bandang pada akhir November 2025 menyebabkan kerusakan pada Bendungan Batang Kuranji. Akibatnya, sejumlah wilayah di Kota Padang mengalami krisis air. Banjir itu turut merusak pipa jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang yang digunakan masyarakat, serta menyebabkan sumur menjadi kering. Masyarakat yang mengalami krisis air harus mengandalkan suplai air yang didistribusikan melalui kendaraan tangki.

Meri Susanti, salah satu warga yang terdampak krisis air sejak awal Desember 2025, menyampaikan bahwa dirinya hanya bisa mengandalkan bantuan suplai air yang disediakan oleh CARE bersama PMI. Pasalnya, sumur miliknya ikut terdampak dan menjadi kering akibat banjir bandang. Sumur tersebut sempat digali kembali, tetapi hasilnya tetap nihil.

“Sejak air mengering, saya dan keluarga hanya bisa mengandalkan bantuan dari PMI dan CARE Indonesia untuk mandi, memasak, dan mencuci. Jarak lokasi titik distribusi air untuk saya dan masyarakat di sekitar sini juga tidak terlalu jauh, hanya sekitar 100 meter. Jadi ini sangat membantu bagi kami di sini,” ujarnya.

Hingga Rabu (25/2), CARE Indonesia bersama PMI Sumbar telah mendistribusikan 3.335.505 liter air bersih dan menyediakan 20 unit tandon air di Kota Padang. Bantuan air bersih ini telah menjangkau 286.117 jiwa. CARE Indonesia dan PMI Sumbar juga telah mendistribusikan 450 peralatan memasak, 650 paket bahan makanan, dan 790 alat kebersihan diri kepada 832 kepala keluarga (KK) yang menjangkau 3.568 jiwa di Provinsi Sumatera Barat.

Kebutuhan Peralatan Rumah Tangga Sementara Bisa Memenuhi Kebutuhan Khairunisa di Aceh Tamiang

Khairunisa, warga Dusun Damai, Kecamatan Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, yang juga merupakan orang tua tunggal dari 1 anak ini mengatakan, rumahnya terendam air sedalam kira-kira empat meter yang menyebabkan kerusakan pada berbagai peralatan pribadi. Menurutnya, bantuan berupa bedding kit dan dignity kit dari CARE Indonesia sangat berguna untuk menggantikan barang-barang di rumah yang telah rusak dan hanyut oleh banjir.

“Sewaktu hujan itu, air perlahan semakin naik hingga membuat rumah saya jebol. Ketika keesokan harinya saya melihat rumah, barang-barang sudah hanyut semua. Sekarang saya mengungsi ke rumah kakak yang dihuni 8 orang dewasa dan 3 balita. Paket bantuan yang salah satu isinya kelambu sangat membantu kami, terutama anak balita saya, terhindar dari nyamuk di malam hari,” ujarnya, Senin (16/2).

Ia juga menyampaikan bahwa banjir turut merusak sumur miliknya. Karena itu, Khairunisa sangat terbantu dengan bantuan air bersih yang didistribusikan oleh CARE Indonesia.

“Bantuan air ini sangat berguna bagi kami karena di sini kami belum memiliki akses air bersih yang memadai. Terlebih lagi saat bulan Ramadan, air semakin dibutuhkan oleh masyarakat.”

Di Kabupaten Aceh Tamiang, CARE Indonesia berkolaborasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Tamiang dan Geusaba untuk mendistribusikan bantuan. Hingga Kamis (26/2), CARE Indonesia bersama mitra telah mendistribusikan 995 paket bedding kit dan 1.755 paket dignity kit kepada 203 KK yang mencakup 449 jiwa.

Sebanyak 100 ribu liter air bersih telah didistribusikan kepada 3.517 KK yang mencakup 17.588 jiwa di Aceh Tamiang. Perangkat pendukung penyediaan air bersih seperti 12 unit tandon air, 9 unit pemurni air, 20 unit selang, 9 unit pompa air, 17 unit penyedot air, 6 unit generator listrik, serta layanan pembersihan sumur turut diberikan. Sebanyak 12 unit jamban darurat untuk laki-laki dan perempuan juga dibangun di Kecamatan Kuala Simpang.

Kebutuhan keluarga penyintas di Sumatera Barat dan Aceh dari pengamatan kami saat ke lokasi, masih jauh dari cukup. Bantuan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, peralatan rumah dan kebersihan serta kebutuhan harian masih diperlukan. Saat ini, tambahan 620 paket bantuan kebersihan dan kebutuhan dasar bagi para penyintas di Kabupaten Aceh Tamiang sedang disiapkan CARE Indonesia untuk kemudian didistribusikan kembali bersama mitra.

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika