Search
Close this search box.

Kebun Gizi: Mewujudkan Pola Makan Sehat dari Pangan Lokal untuk Keluarga

Cerita

Memenuhi kebutuhan gizi anak bukan hanya tentang menyediakan makanan, tetapi juga tentang memastikan setiap keluarga memiliki akses terhadap pangan bergizi yang aman, berasal dari lokasi setempat, dan dikelola secara berkelanjutan. Di Indonesia, tantangan pemenuhan gizi masih nyata, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 prevalensi stunting nasional turun menjadi sekitar 19,8 persen tahun 2024, namun masih merupakan isu serius yang perlu diatasi.

Upaya pemenuhan gizi keluarga dilakukan CARE Indonesia bersama mitra melalui pembuatan kebun gizi berbasis komunitas yang dikelola kelompok perempuan. Pengelolaan kebun gizi telah dilakukan di Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Kabupaten Nagekeo. Kebun gizi adalah lahan yang dikelola secara kolektif oleh kelompok masyarakat sering kali difasilitasi oleh perempuan untuk menanam berbagai jenis pangan lokal bergizi seperti sayuran, buah-buahan, umbi, dan tanaman protein nabati. Hasil kebun ini menjadi sumber asupan gizi yang bisa langsung dimanfaatkan untuk keluarga dan komunitas, serta sisa panen kerap dijual yang hasil penjualannya menjadi tambahan pendapatan keluarga anggota kelompok perempuan yang mengelola.

Pangan Lokal untuk Gizi Seimbang

Pangan lokal yang segar dan beragam membantu memenuhi standar pemenuhan gizi anak yang dianjurkan pemerintah Indonesia melalui pola makan beragam, bergizi seimbang, dan aman. Dengan mengolah bahan-bahan dari kebun gizi, keluarga dapat menyajikan makanan yang kaya vitamin, mineral, dan serat. Sesuai dengan anjuran menu empat bintang yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kebun ini secara langsung menjawab kebutuhan nutrisi anak dengan menyediakan bahan makanan bergizi di lingkungan terdekat. Dari sisi ekonomi, kebun gizi mendukung kemandirian keluarga melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang menghasilkan manfaat nyata dalam konsumsi dan pendapatan.

Lebih penting lagi, kebun gizi membantu membangun kesadaran bersama bahwa pemenuhan gizi adalah hasil kolaboratif antara akses pangan yang baik, pendidikan gizi keluarga, serta dukungan komunitas. Dengan menanam, memanen, mengolah, dan mengonsumsi pangan dari kebun sendiri, keluarga Indonesia dapat melangkah menuju kehidupan yang lebih sehat, kuat, dan produktif.

Kebun Gizi dan Ekonomi Sirkular

Lebih dari itu, kebun gizi juga mendukung ekonomi sirkular di komunitas: hasil panen yang tidak langsung dikonsumsi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah atau dijual untuk meningkatkan pendapatan kelompok. Limbah organik dari konsumsi rumah tangga pun dapat dijadikan kompos untuk memperkaya tanah, menciptakan siklus produksi yang efisien dan ramah lingkungan.

Kebun gizi yang dikelola, diintegrasikan dengan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk menguraikan sampah organik rumah tangga. Maggot yang dikelola oleh kelompok perempuan ini diolah menjadi pupuk, pakan ternak, dan budi daya ikan.

Perempuan memainkan peran sangat penting dalam memastikan kebutuhan gizi keluarga terpenuhi. Dalam banyak komunitas, perempuan tidak hanya bertanggung jawab menyiapkan makanan, tetapi juga menjadi pengelola kebun gizi, pembelajar utama tentang praktik gizi, serta katalis bagi perubahan perilaku makan yang lebih sehat. Partisipasi perempuan dalam kebun gizi juga membuka ruang bagi mereka untuk memperkuat kapasitas organisasi, mengambil keputusan, serta memperluas jejaring sosial dan ekonomi.

Implementasi kebun gizi berbasis komunitas sangat relevan dengan tema Hari Gizi Nasional: “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”. Masyarakat, termasuk kelompok perempuan tidak hanya semakin berdaya dengan penambahan kemampuan pengelolaan kebun gizi terintegrasi, juga dapat memaksimalkan potensi pangan yang tumbuh di sekitar, sekaligus menjadi tambahan pendapatan rumah tangga.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Kelompok Perempuan dalam KUBE Perkenalkan Produk Olahan Rumahan di gelaran UMKM Kec. Pangalengan

Galeri

Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Community Development Forum (CDF) perkebunan Pasir Malang dan Malabar turut meramaikan gelar UMKM pada Peringatan Hari Desa Nasional yang diselenggarakan Pemerintah Kab. Bandung di Desa Banjarsari (23/01). Dalam kesempatan ini, KUBE yang menjadi bagian dari program kolaborasi CARE Indonesia bersama para mitra memperkenalkan berbagai produk olahan, seperti buah kering, teh, dan aneka camilan hasil usaha kelompok.

Melalui kegiatan ini, KUBE mulai memperluas jangkauan pasar ke luar desa, langkah ini diharapkan dapat mendorong penjualan dan meningkatkan ekonomi anggota, terutama perempuan. Ke depannya, pemasaran akan diperkuat melalui kanal toko online serta kerja sama dengan pengelola rest area di sekitar Kec. Pangalengan, Kab. Bandung.