Search
Close this search box.

Membangun Akses Air Bersih yang Inklusif dan Ramah Gender

Share it with others

Air menjadi aspek penting bagi kehidupan dan juga merupakan hak bagi manusia. Dalam kajian yang disampaikan CARE International, disebutkan sekitar 2,6 miliar orang di dunia tidak memiliki akses air minum yang layak. Fenomena ini menyebabkan ketimpangan karena perempuan dan anak perempuan kerap kali bertugas mengambil air dari sumur atau sumber air lain untuk rumah tangga yang tidak memiliki akses air. Di Indonesia, menurut Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, per Maret 2025 sebanyak 28 juta rakyat Indonesia kesulitan mendapatkan akses air bersih.

Air bersih dan sanitasi bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga persoalan hak asasi manusia dan keadilan sosial. Dalam lembar fakta World Water Day 2026 disebutkan bahwa dengan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait air, layanan menjadi lebih inklusif, berkelanjutan, dan efektif. Ketika air tersedia dekat dengan rumah, perempuan dan anak perempuan memiliki akses dan waktu lebih banyak melakukan aktivitas lain seperti bersekolah, bekerja, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Awalia Murtiana, Portfolio Manager CARE Indonesia, menyampaikan bahwa pendekatan yang dilakukan CARE Indonesia menjunjung nilai dan pendekatan pembangunan yang menempatkan perempuan sebagai aktor utama perubahan. Oleh karena itu, program yang dijalankan mendorong pembangunan yang inklusif serta memastikan perempuan memiliki akses yang setara.

“Di Kabupaten Sumbawa Barat, CARE Indonesia bersama dengan AMMAN dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat pernah melaksanakan program penyediaan air bersih dalam upaya penurunan stunting. Penyediaan air bersih ini juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan air anak dan ibu hamil KEK,” ujarnya.

Lebih lanjut, Awalia juga menyampaikan bahwa perempuan memiliki pengetahuan lokal yang penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Ketika perempuan dilibatkan sebagai pemimpin komunitas, menjadi bagian dari komite atau pengelola air, penggerak perubahan, solusi yang dihasilkan sering kali lebih berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

“Akses air yang mudah bagi perempuan memungkinkan mereka hidup lebih sehat, aman, dan bermartabat, sekaligus membuka peluang lebih besar untuk kemandirian ekonomi serta partisipasi dalam pengambilan keputusan di masyarakat,” imbuhnya.

CARE International juga menyebutkan, dalam situasi krisis seperti bencana, beban perempuan dalam menyediakan air bagi kebutuhan domestik meningkat dan memperbesar risiko keselamatan. Hal ini terjadi karena perempuan kerap dibebankan dalam mengurus keperluan air di rumah tangga. Sehingga, aspek keaman dan kemudahan dalam mengakses air di lokasi krisis menjadi sangat penting untuk disesuaikan agar lebih mudah.

Aspek dalam penyediaan air bersih yang CARE Indonesia lakukan, turut disesuaikan dengan kondisi penyintas, dengan cara memastikan akses air yang aman dan inklusif bagi kelompok rentan, khususnya perempuan. CARE Indonesia bersama mitra memastikan titik pengambilan air sesuai dengan standar Sphere.

Meri Susanti, menjadi salah satu warga yang terdampak krisis air sejak awal Desember 2025 di Kota Padang mengandalkan bantuan suplai air bersih yang disediakan oleh CARE Indonesia bersama PMI Sumbar. Menurutnya, bantuan air yang yang disalurkan sangat membantunya dalam memenuhi kebutuhan harian dan mudah diakses.

“Jarak lokasi titik distribusi air untuk saya dan masyarakat di sekitar sini juga tidak terlalu jauh, hanya sekitar 100 meter. Jadi ini sangat membantu bagi kami di sini. Kalau pun jadwal truk pengangkut air datangnya malam, kami ibu-ibu juga merasa aman waktu mengambil air,” imbuhnya.

Melalui Sumatera Bangkit Response, CARE Indonesia bersama PMI memastikan akses air bersih bagi penyintas banjir di Sumatra Barat dan Aceh melalui distribusi air dan penyediaan fasilitas pendukung. Hingga akhir Februari 2026, sebanyak 3.335.505 liter air bersih telah disalurkan kepada 286.117 jiwa di Kota Padang, serta 100.000 liter untuk 3.517 kepala keluarga (17.588 jiwa) di Aceh Tamiang, dilengkapi tandon, alat pemurni, dan pembersihan sumur.

World Water Day menegaskan, perempuan memegang peran besar namun sering tidak diakui. Karena itu, pemberdayaan dan pelibatan perempuan dalam pengelolaan air menjadi kunci untuk menghadirkan akses yang lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan bagi semua. Ketika perempuan dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya air, akses menjadi lebih aman, dekat, dan sesuai kebutuhan komunitas.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Cerita Terkait Lainnya