Search
Close this search box.

Catatan Perjalanan: Upaya Scale-Up Usaha Kelompok Perempuan, Dari Musi Banyuasin Mencari Ilmu Hingga ke Pulau Jawa

Share it with others

Di Kabupaten Musi Banyuasin, produk kerajinan anyaman dari lidi sawit dikatakan menjadi salah satu produk unggulan kabupaten yang telah masuk dalam katalog eleoktronik milik Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin. Para perempuan yang menjadi pengrajin anyaman lidi sawit tersebut berasal dari beberapa desa, dan masing-masing dari sosok pengrajin tersebut adalah anggota dari Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP).

Iswandi Gunata, Field Officer CARE Indonesia yang bertugas di Kabupaten Musi Banyuasin menjelaskan, anyaman dari lidi sawit dipilih menjadi usaha yang paling banyak dijalankan oleh KUEP karena kemudahan bahan baku yang berasal dari pelepah sawit tidak terpakai, sehingga membantu mengelola limbah yang biasanya menumpuk di area perkebunan sawit dan diubah menjadi produk seni yang juga bernilai ekonomi karena banyak diminati pembeli.

Tidak hanya mengembangkan usaha dari sisa pelepah sawit, menurut Iswandi, anggota KUEP pun ada yang berinisiatif membuat usaha yang memanfaatkan limbah lain seperti tandan buah kosong sawit untuk budidaya jamur merang, hingga budidaya maggot dari Black Flies Soldiers (BSF) untuk mengurai sampah organik rumah tangga. Tingginya antusiasme anggota KUEP mengembangkan usaha yang ramah lingkungan dan menerapkan prinsip ekonomi sirkular ini menurut Iswandi mendapat dukungan dan apresiasi banyak pihak, salah satunya pihak perusahaan perkebunan sawit yakni PT Hindoli serta dari Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin.

“Pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga bisa menjadi sumber penghidupan bagi kelompok perempuan. Hal inilah yang diharapkan bisa mendapatkan dukungan serta kolaborasi dari berbagai pihak seperti pemerintah setempat dan PT Hindoli yang selama ini selalu mendukung pemberdayaan perempuan,” ujarnya.

Lebih lanjut menurut Iswandi, besarnya potensi pengembangan usaha kerajinan dan pengelolaan limbah dengan prinsip ekonomi sirkular yang dilakukan KUEP, memperkuat dukungan multipihak sehingga dilakukan studi ajar dan pelatihan untuk menambah tidak hanya pemahaman kelompok perempuan tapi juga dukungan replikasi dan scale-up usaha yang berkelanjutan.

Selama Januari 2026, perjalanan mencari ilmu ke dua lokasi di pulau Jawa pun dijalankan. “Perjalanan pertama dengan studi ajar ke Maggot Center di Kota Depok. Kami dapat dukungan dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Musi Banyuasin Oktarizal, Staf Khusus Bupati Musi Banyuasin Mualimin Pardi Dahlan, dan Manager CSR PT Hindoli untuk meihat langsung bangaimana penerapan ekonomi sirkular di maggot center ini,” katanya.

Tanggapan positif disampaikan baik dari perwakilan Pemerintah Kabupaten Muba maupun dari pihak perusahaan. Menurut Iswandi, kesempatan melihat langsung bagaimana Maggot Center yang bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Beji Timur berhasil melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik, memberikan perspektif baru pada peserta yang ikut studi ajar.

“Pembelajaran dari Depok membuka perspektif kami bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga bisa menjadi sumber penghidupan bagi kelompok perempuan. Hal inilah yang kemudian akan dirumuskan kembali secara bersama dan lintas sektor serta memberi keyakinan bahwa upaya yang dilakukan bersama berbagai pihak terkait dapat berjalan lebih terintegrasi, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya perempuan. Salah satu anggota KUEP di Muba sudah mengembangkan usaha budidaya maggot tapi memang belum dibuat terintegrasi. Harapannya, akan ada dukungan multipihak untuk mengembangkan usaha pengelolaan maggot ini, yang bisa terintegrasi dengan kebun gizi dan ternak yang dikelola oleh kelompok maupun perseorangan,” ujarnya.

Perjalanan mencari ilmu kedua dikisahkan Iswandi tidak kalah seru, yakni mendampingi 10 pengrajin anyaman lidi sawit perempuan dari 5 desa ke Kabupaten Kulon Progo.

Perjalanan para pengrajin perempuan dari Desa Karya Maju, Desa Sumber Agung, dan Desa Cipta Praja di Kecamatan Keluang, serta Desa Banjar Jaya dan Desa Sri Mulyo di Kecamatan Tungkal Jaya dikatakan Iswandi tidak mengenal lelah. Para pengrajin perempuan digambarkan Iswandi bahkan tidak ada kekhawatiran sedikitpun menaiki pesawat melintasi pulau, demi meningkatkan kualitas dan variasi produk anyaman yang selama ini sudah mereka produksi serta bisa menjangkau pasar lebih luas.

“Ini adalah momen yang sangat kami tunggu. Saya melihat ibu-ibu pengrajin sangat antusias dalam mengikuti setiap instruksi dan sangat teliti saat praktik. Di sana kami melihat beragam produk anyaman dengan variasi bahan dasar seperti rotan, serat gedebong pisang, pandan, dan eceng gondok,” tuturnya.

Antusiasme para pengrajin perempuan anggota KUEP ini dikatakan Iswandi selalu tinggi di setiap sesi pelatihan. Ketika jari-jari perempuan pengrajin bergerak lincah menyelipkan material ke setiap celah hingga menghasilkan kerajinan yang indah, senyum dan canda diantara mereka tidak henti dilontarkan, menambah semangat sesi praktik.

“Saya memperhatikan dengan saksama bagaimana ibu-ibu pengrajin ini sangat serius dalam belajar. Selama pelatihan mereka tidak pernah mengeluh, justru selalu penasaran dengan materi selanjutnya yang akan dipelajari. Tidak hanya kemampuan yang diharapkan terasah, tetapi juga kepercayaan diri pengrajin untuk terus berkarya,” tuturnya.

Tak terasa, lima hari waktu belajar di Kulon Progo pun usai dan rombongan harus kembali ke Musi Banyuasin. Iswandi menjelaskan, setelah pelatihan ini para pengrajin perempuan dari anggota KUEP akan mulai mengolah lidi sawit yang dipadukan dengan rotan, serat gedebong pisang, pandan, maupun eceng gondok.

Perjalanan menuntut ilmu kali ini tidak hanya menambah pemahaman, namun juga menginspirasi untuk membuat hasil baik yang sudah berjalan di desa dari upaya kelompok perempuan lebih besar dan lebih berdampak.

“Ketika perempuan diberi ruang, keterampilan, dan dukungan, mereka mampu menciptakan perubahan serta dampak ekonomi yang positif. Dukungan multipihak dan kegigihan kelompok perempuan pasti bisa membuat usaha yang ramah lingkungan jadi berkelanjutan dengan prinsip ekonomi sirkular. Bagi saya, proses ini bukan hanya soal hasil akhir berupa produk, tetapi tentang bagaimana perempuan saling belajar, saling menguatkan, dan membangun kemandirian ekonomi bersama, serta diperkuat dengan adanya lingkungan yang suportif,” pungkasnya.

 

Penulis: Kukuh Akhfad
Editor: Swiny Adestika

Cerita Terkait Lainnya