preloader

Keadilan Gender & Inklusi Sosial

Martabat, Kesehatan dan
Kepemimpinan Pekerja (WDHL)

Tantangan: Banyak diskriminasi dan pelecehan seksual berbasis gender terjadi di tempat kerja. Mempromosikan kesetaraan gender di tempat kerja menjadi penting bagi perempuan untuk mendapatkan hak-haknya, perlindungan maternitas dan kebutuhan kesehatan mereka, memiliki martabat di tempat kerja, dan agar suaranya didengar. Komitmen YCP untuk mengurangi kemiskinan dan memberdayakan perempuan dan anak perempuan secara konsisten menempatkan hal ini sebagai inti dari semua pekerjaannya, dan terus berupaya mengembangkan pendekatan pemberdayaan yang inovatif untuk perempuan dan anak perempuan yang dapat mengubah hidup mereka.

Tinjauan Program: WDHL berfokus pada peningkatan martabat dan kesejahteraan pekerja pabrik perempuan, terutama pada hasil kesehatan di lingkungan kerja mereka, dan di komunitas tempat para pekerja tinggal. Kami memberikan pelatihan dan peningkatan pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan, literasi keuangan dan keterampilan kepemimpinan kepada sekitar 990 pekerja garmen perempuan, dengan memfasilitasi pembentukan kelompok Aksi EKATA (Pemberdayaan, Pengetahuan, dan Transformatif) sebagai platform mereka untuk menyuarakan keprihatinan dan mengejar kesejahteraan dan martabat.

Dampak yang Kami Hasilkan: Pekerja perempuan diberdayakan dalam memahami hak-hak mereka di lingkungan kerja, menyuarakan keprihatinan mereka, berpartisipasi secara aktif dalam diskusi, dan meningkatkan keterampilan kepemimpinan mereka. Pekerja perempuan juga mengalami peningkatan kesehatan dan kesejahteraan baik di tempat kerja maupun di rumah. Hingga saat ini, terdapat 24 kelompok EKATA yang dibentuk di Sukabumi dan 23 kelompok EKATA di Purwakarta yang aktif membahas tantangan sehari-hari yang mereka hadapi, mengidentifikasi solusi dari masalah tersebut, dan mengubahnya menjadi tindakan.

Lokasi Program:
Sukabumi dan Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat

Bersama Menuju Keadilan
(BUKA)

Tantangan: Tenaga kerja di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Kurangnya perlindungan hak-hak pekerja, kerja paksa dan terikat, ketidaksetaraan gender di tempat kerja, kurangnya jaminan kerja bagi pekerja kontrak, serta kemiskinan yang berkepanjangan dan kurangnya jaminan sosial yang dialami oleh pekerja. Selain itu, perempuan sering ditemukan di tempat kerja yang kebebasan berserikatnya jauh dari terjamin. Disini, serikat pekerja memiliki peran penting dalam mempromosikan pekerjaan yang layak untuk semua.

Tinjauan Program: Melalui pelatihan dan pendampingan dalam analisis data, proses negosiasi berbasis bukti, serta pengarusutamaan gender dalam serikat pekerja, program Menuju Keadilan Bersama (BUKA) berupaya membawa pekerja dan serikat pekerja mereka untuk memiliki posisi tawar yang lebih baik, melalui proses negosiasi yang lebih berbekal informasi. Kami juga menyediakan kegiatan peningkatan kapasitas tentang kepemimpinan bagi perempuan dan pelatihan manajemen database pada data yang terbuka dan tersedia untuk umum.

Dampak yang Kami Hasilkan: Pekerja dapat menegosiasikan kondisi lingkungan tempat kerja yang lebih baik, memenuhi hak-hak mereka dan peluang profesional melalui Perjanjian Kerja Bersama (CBA) yang lebih responsif gender. Program ini menjangkau 60.373 penerima manfaat baik pekerja pabrik perempuan maupun laki-laki (72% perempuan dan 28% laki-laki) di 11 pabrik di Sukabumi dan 10 pabrik di Bandung Raya.

Lokasi Program:
Sukabumi, Cimahi, Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Pemberdayaan Dia
Kebanggaan Kita Selamanya (HOPE)

Tantangan: Selama bertahun-tahun, teh dan kopi telah menjadi tanaman perdagangan yang dominan di Indonesia. Sementara perempuan melakukan sebagian besar kerja lapangan, laki-laki menjadi penerima manfaat utama. Bias lokal dan norma sosial-budaya mengikat perempuan pada peran patuh dalam rantai pasokan. Hambatan struktural membatasi akses perempuan ke sumber daya produktif dan mengecualikan mereka dari pengambilan keputusan keuangan dan lainnya di tingkat rumah tangga dan masyarakat. Terlebih, perempuan yang memiliki akses keuangan rumah tangga seringkali tidak dibekali dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola anggaran rumah tangga.

Tinjauan Program: Program Pemberdayaan Dia, Kebanggaan Kita Selamanya (HOPE) memberikan pengetahuan, keterampilan, kepercayaan diri, dan alat untuk membangun kapasitas ekonomi, kemampuan kepemimpinan, dan pemberdayaan yang dibutuhkan oleh perempuan pemetik teh. Kami bekerja untuk memberi mereka literasi keuangan, serta meningkatkan kesadaran mereka tentang kesetaraan gender dan hak-hak mereka untuk berpartisipasi dan membuat keputusan terkait kesehatan dan kesejahteraan mereka.

Dampak yang Kami Hasilkan: Kami mematahkan hambatan berbasis gender di masyarakat karena 1.750 wanita dan anak perempuan yang terlibat langsung dengan program ini bekerja untuk mengoptimalkan pendapatan rumah tangga mereka, memperkuat kepercayaan diri dan keterampilan kepemimpinan, dan membangun rumah yang sehat. Para perempuan pemetik teh ini lebih mampu menyuarakan pendapatnya dan berpartisipasi dalam situasi pengambilan keputusan, serta meningkatkan pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Lokasi Program:
Desa Sukaluyu, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Kemajuan Pribadi dan
Peningkatan Karir (PACE)

Lihat lebih dari 2.500 siswa mengalami Hari Wisuda P.A.C.E pada Peringatan Hari Anak Kabupaten Bandung 2019

Tantangan: Anak perempuan dan remaja perempuan menghadapi banyak tantangan di komunitas miskin di Kabupaten Bandung, terutama jika mereka tidak memiliki kualifikasi pendidikan. Mereka lebih cenderung melakukan pekerjaan informal yang dibayar rendah atau tidak dibayar dan rentan terhadap perlakuan yang buruk, pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gender secara umum. Mereka juga lebih mungkin menderita kesehatan yang buruk karena rendahnya nilai gizi dari sebagian besar makanan yang mereka mampu beli. Mereka yang putus sekolah cenderung berasal dari keluarga miskin yang tidak mampu membayar biaya transportasi ke dan dari sekolah, atau yang membutuhkan anak-anak mereka untuk bekerja untuk menghidupi adik-adiknya.

Tinjauan Program: Program Kemajuan Pribadi dan Peningkatan Karir (PACE) memberikan modul pengembangan pribadi kepada siswa sekolah menengah pertama, dengan fokus pada siswa perempuan agar lebih percaya diri dan akan lebih siap untuk berkomunikasi dan membuat keputusan yang kuat dengan keluarga mereka tentang sekolah dan masa depan mereka. Tahap I dari P.A.C.E. Program berhasil melibatkan 2.565 anak perempuan, 50 guru di 15 sekolah di 4 kecamatan, dan Tahap II melibatkan 3.188 anak perempuan, 132 laki-laki dan 74 guru sebagai fasilitator, dilaksanakan di 27 sekolah di 10 kelurahan di Kabupaten Bandung.

Dampak yang Kami Hasilkan: Para anak perempuan yang terlibat dalam program ini diberdayakan melalui peningkatan harga diri dan kepercayaan diri mereka. Mereka mengembangkan keterampilan pribadi yang lebih baik, termasuk keterampilan memecahkan masalah, komunikasi dan kemampuan kepemimpinan serta kemampuan untuk merawat diri sendiri dengan lebih baik. Kami percaya bahwa P.A.C.E. Program merupakan landasan penting untuk meningkatkan jumlah perempuan yang percaya diri dan tangguh di Indonesia untuk mengembangkan potensi mereka dan memiliki masa depan yang lebih baik.

P.A.C.E. Program ini juga diadaptasi dan dikembangkan oleh pemerintah daerah di bawah Dinas Pendidikan, diintegrasikan ke dalam program ‘Pendidikan untuk kehidupan yang lebih baik’ untuk mengurangi jumlah kasus perkawinan anak, meningkatkan akses pendidikan bagi anak perempuan dan menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Lokasi Program:
Baleendah, Dayeuhkolot, Banjaran, Pameungpeuk, Soreang, Ciwidey, Katapang, Margahayu, Kecamatan Pasirjambu dan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Mempromosikan Dunia yang Berkelanjutan
dan Aman Pangan (PROSPER)

Tantangan: Indonesia memiliki jumlah anak stunting terbesar kelima di dunia, dengan lebih dari satu dari setiap tiga anak stunting. Meski adanya penurunan angka kemiskinan di Indonesia, gizi buruk belum berkurang secara signifikan. Tingginya angka stunting dan gizi buruk didorong oleh terbatasnya akses terhadap sumber air dan fasilitas sanitasi yang layak, kebersihan yang buruk yang mengakibatkan infeksi bakteri, dan kurangnya kesadaran akan kebiasaan makan yang sehat yang menyebabkan rendahnya asupan gizi pada anak. Selain itu, anak perempuan paling terpengaruh oleh kurangnya fasilitas sanitasi, berisiko dilecehkan dan dipermalukan jika mereka tidak dapat menggunakan fasilitas pribadi.

Tinjauan Program: Program Mempromosikan Dunia yang Berkelanjutan dan Aman Pangan (PROSPER) berinvestasi pada generasi berikutnya melalui intervensi yang memperkuat kesehatan mereka. Kami memberikan pelatihan kepada siswa SD sebagai Dokter Kecil untuk menjadi kader di sekolah mereka untuk mendidik teman sebayanya tentang praktik sehat dan higienis. Program ini juga berfungsi untuk meningkatkan kapasitas pemerintah dan LSM dalam mendukung sekolah dengan pembangunan dan rehabilitasi fasilitas air dan sanitasi. PROSPER tahap kedua juga mencakup kegiatan tambahan yang berfokus pada pelatihan gender serta pemberdayaan ekonomi bagi perempuan penjual makanan di sekolah.

Dampak yang Kami Hasilkan: Program meningkatkan ketahanan pangan dan gizi serta mengurangi diare dan penyakit menular di kalangan siswa sekolah dasar, guru, orang tua dan masyarakat. Sebanyak 75.422 penerima manfaat langsung dan tidak langsung dijangkau melalui PROSPER I, dan total 14.251 lebih orang melalui PROSPER II menjangkau untuk meningkatkan akses air bersih dan sanitasi, meningkatkan praktik kebersihan dan meningkatkan kebiasaan makan sehat di kalangan siswa, guru dan masyarakat, dengan pengelolaan sanitasi yang lebih peka gender di masyarakat.

Lokasi Program:
Kabupaten Serang, Banten; Kabupaten Kota Makassar dan Bone, Sulawesi Selatan

Pengelolaan Risiko Bencana

Pemulihan Sulawesi Tengah

Lihat bagaimana program tanggap darurat kami berdampak pada komunitas

Pada 28 September 2018, Sulawesi Tengah dilanda gempa berkekuatan 7,4 skala richter yang memicu tsunami dan menyebabkan likuifaksi dan tanah longsor di Kota Palu, dan wilayah di Kabupaten Donggala, Parigi Moutong, dan Sigi. Diperkirakan 53.182 rumah tangga atau 172.635 orang mengungsi di Sulawesi Tengah dan terlindung di lebih dari 400 lokasi di Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong. Inisiatif tanggap darurat dan pemulihan YCP berfokus pada pemenuhan kebutuhan jangka panjang segera dari orang-orang yang terkena dampak bencana di sektor-sektor utama: Air, Sanitasi dan Kebersihan (WASH); Penampungan, Bantuan Tunai; Mata Pencaharian dan Ketahanan Pangan.

Setelah kegiatan tanggap darurat YCP di wilayah tersebut, dukungan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas WASH di sekolah, fasilitas umum, dan area umum terus berlanjut hingga tahap pemulihan. YCP memulai program dukungan pemulihannya menjelang akhir tahun 2019 di Sigi dan Donggala, dengan fokus mendukung mata pencaharian masyarakat di daerah pesisir dan pedalaman. Pendanaan dari SHO membantu masyarakat yang terkena dampak untuk memperkuat ketahanan mereka terhadap risiko di masa depan dengan memberi mereka mata pencaharian alternatif. Program DEC berfokus pada akses ke air bersih dan peningkatan fasilitas sanitasi untuk kesehatan yang lebih baik. Program dari ADH memberikan kesempatan bagi perempuan dan pemuda untuk memulihkan mata pencahariannya, meningkatkan ketahanan pangan masyarakat, dan pengurangan risiko bencana. Pendanaan dari MOFALUX memulihkan mata pencaharian masyarakat di empat sektor penting di daerah tersebut; Usaha Kecil Menengah, pertanian, peternakan dan perikanan.

Respons COVID-19

Penyediaan WASH, Komunikasi Risiko dan Perlengkapan Pelindung

Fase awal dari respons difokuskan pada tindakan perlindungan dan pencegahan di area tempat kami saat ini beroperasi. Tanggapan tersebut termasuk penyediaan materi komunikasi risiko, fasilitas cuci tangan, alat pelindung seperti APD dan masker, sabun tangan dan pembersih. Kami juga memberikan bantuan kepada Satgas COVID-19 dengan penyediaan alat pelindung dan makanan berprotein tinggi untuk petugas kesehatan, memfasilitasi pengaturan fasilitas isolasi berbasis masyarakat dan pelatihan tenaga kesehatan.

Lokasi: Jakarta, Serang, Bandung, Sukabumi, Purwakarta, Bone, Kota Kupang, Kupang, Timor Tengah Selatan, Palu, Sigi dan Dongggala.

Menjamin Ketahanan Pangan

Berkurangnya atau hilangnya pendapatan akibat dampak ekonomi COVID-19 sangat berdampak pada masyarakat yang rentan, khususnya ibu hamil dan menyusui, anak-anak dan lansia. Untuk mengurangi konsekuensi kerawanan pangan yang semakin parah, YCP memberikan bantuan kepada kelompok rentan ini dalam beberapa bentuk. Di Sigi (Sulawesi Tengah), kami memberikan voucher makanan kepada para pengungsi gempa 2018 yang masih tinggal di pengungsian sementara. Kami juga memberi mereka sarana untuk sumber makanan yang cepat menghasilkan, seperti pertanian ramah lingkungan yang menggabungkan sayuran tumbuh (aquaponik) dan budidaya ikan air tawar. Untuk mengatasi kekurangan gizi bagi perempuan, anak-anak dan lansia di Serang dan Bone, kami meluncurkan bantuan berupa voucher tunai untuk menyediakan makanan bergizi yang dapat mereka beli di toko dan pasar yang telah ditentukan. YCP bekerja dengan firma FinTech lokal untuk memastikan distribusi bantuan yang efisien dan bertanggung jawab.

Uang untuk Bekerja dan Mata Pencaharian Alternatif

Dampak ekonomi COVID-19 sangat berdampak pada lapangan kerja dan mata pencaharian masyarakat, baik di sektor formal maupun informal, menyebabkan berkurangnya dan hilangnya pendapatan bagi banyak keluarga miskin di Indonesia. YCP mengatasi kesulitan mereka melalui beberapa pendekatan. Di NTT, kami memberikan bantuan kepada masyarakat desa melalui skema cash-for-work yang difokuskan pada pembangunan infrastruktur desa dan fasilitas masyarakat. Sementara itu, di Sukabumi dan Purwakarta kami menyediakan modal dan uang tunai bagi pekerja garmen perempuan yang di-PHK dan perempuan di masyarakat untuk memproduksi dan menjual masker yang dapat digunakan kembali untuk didistribusikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten setempat dan masyarakat. Menyadari tantangan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak selama pandemi, kami membantu perempuan dan pemuda di Sulawesi Tengah yang baru pulih dari gempa bumi tahun 2018 dengan peluang mata pencaharian, termasuk menghubungkan mereka ke pasar yang lebih luas dan meningkatkan keterampilan kewirausahaan mereka.

Kemitraan untuk Ketahanan (PfR)

Simak kisah Jupiter dari Oekiu, Nusa Tenggara Timur. Bagi Jupiter, ketahanan berarti tekun dengan mengadopsi solusi kreatif untuk beradaptasi dengan kekeringan.

Tantangan: Indonesia adalah salah satu negara paling rawan bencana di dunia. Diperburuk oleh perubahan iklim, meningkatnya intensitas bencana seperti kekeringan dan banjir menimbulkan berbagai risiko bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang paling rentan hidup dalam kemiskinan. Dari menurunnya pasokan air hingga berkurangnya hasil pertanian, dampak tersebut terus mengancam ketahanan pangan dan mata pencaharian anggota masyarakat.

Tinjauan Program: Kemitraan untuk Ketahanan (PfR) Indonesia bertujuan untuk mengurangi dampak bencana alam dan dampak perubahan iklim terhadap mata pencaharian anggota masyarakat. Program ini bekerja di tingkat lokal, kabupaten, provinsi, nasional dan internasional dengan fokus khusus pada kerja sama dengan masyarakat di tingkat desa dalam manajemen risiko bencana. Fase pertama PfR Indonesia bekerja dengan masyarakat untuk membantu mengidentifikasi strategi mitigasi risiko untuk beradaptasi dan mengurangi dampak buruk perubahan iklim terhadap kehidupan dan mata pencaharian mereka. Berdasarkan pembelajaran dan praktik terbaik dari tahap pertama, tahap kedua PfR sekarang berfokus pada pembangunan kapasitas masyarakat untuk mengintegrasikan strategi mitigasi risiko dalam rencana dan anggaran pembangunan daerah. Kegiatan berbasis masyarakat ini dilengkapi dengan dukungan dan advokasi kepada pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggaran guna mendukung kegiatan mitigasi.

Dampak yang Kami Hasilkan: Program ini telah menjangkau 2.843 penerima manfaat langsung dan 1.320.074 penerima manfaat tidak langsung secara total agar tahan terhadap dampak perubahan iklim. Ini berhasil meningkatkan kapasitas mereka untuk beradaptasi dan mengurangi risiko bencana terhadap mata pencaharian mereka. Melalui advokasi dan dukungan, pemerintah daerah juga telah menyiapkan kebijakan yang sensitif gender dan ramah IRM (Integrated Risk Management) untuk mendukung anggota masyarakat dalam mengelola risiko.

Lokasi Program: Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
Situs web: https://www.partnersforresilience.nl/en/

Pendukung Kesiapsiagaan Bencana
Pemerintah dan Masyarakat
(SINERGi)

Tantangan:  Urbanisasi yang pesat di Indonesia membuka pintu untuk berbagai manfaat. Namun, pembangunan perkotaan juga memiliki risiko tertentu, termasuk meningkatnya eksposur aset dan orang terhadap risiko bencana. Sebagai salah satu negara paling rawan bencana di dunia, diperkirakan sekitar 110 juta orang, sekitar 42 persen dari populasi, di sekitar 60 kota di Indonesia terpapar bencana alam. Berdasarkan hal ini, peningkatan kesadaran untuk mengurangi kerentanan komunitas yang terkena dampak menjadi perlu.

Tinjauan Program: Program Pendukung Kesiapsiagaan Bencana Pemerintah dan Masyarakat (SinerGi) berjalan sebagai pendekatan konsorsium, dilaksanakan di DKI Jakarta. SinerGi berfokus pada serangkaian pelatihan yang telah berhasil dilakukan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan masyarakat, dengan fokus yang kuat pada perempuan. Program tersebut bertujuan untuk memberdayakan perempuan, meningkatkan kapasitas perempuan sebagai agen perubahan dalam mengelola risiko. Program ini juga memperkuat ketahanan kelembagaan melalui peningkatan kapasitas kelompok masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan risiko bencana.

Dampak yang Kami Hasilkan: Program ini berhasil meningkatkan ketahanan masyarakat dengan mengelola risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Penerapan SinerGi memperkuat kapasitas masyarakat, masyarakat sipil dan swasta dalam Manajemen Risiko Bencana untuk melindungi perempuan anak dan penyandang disabilitas. Ini juga telah meningkatkan kebijakan manajemen risiko bencana untuk kesiapsiagaan, respon dan pemulihan yang efektif, dan telah berhasil menjangkau 6.717 orang yang paling terkena dampak dengan dampak perubahan iklim, termasuk banjir besar, gempa bumi dan bencana lainnya. Proyek telah memberikan simulasi tanggap darurat COVID 19 untuk membentuk satgas kesiapsiagaan darurat berbasis komunitas.

Lokasi Program:
Kapuk, Rawa Buaya, dan Cengkareng, Jawa Barat.